Dream Online Awal Mula

Dream Online Awal Mula
Episode 4 Rahasia Terbongkar


__ADS_3

‘’Ayo masuk, jangan hanya berdiri disana’’teriak Pendeta yang kini sudah berdiri di depan pintu gereja menatap Lara yang terpaku. Lara yang mendengar suara itu segera berjalan mengikuti Pendeta masuk kedalam gereja.


Gereja Anggelia terlihat agak kurang terawat. genteng di atasnya penuh dengan lubang-lubang. Jika ada hujan terjadi, air dipastikan akan membanjiri gereja. selain itu bangku jamaat mulai rapuh. tidak ada lilin atau lampu sihir penerangan yang menyala dan membuat susana gereja agak menyeramkan.


Lara merasa hal ini sangatlah wajar, karena ini adalah sebuah gereja ditempat perkampungan yang miskin yang akansepi pengunjung. tidak banyak yang bisa diharapkan dari para jamaat perkampungan miskin kecuali keluhan atas kehidupan mereka.


‘’Bagaimana malam disini’’ tanya Lara dengan santai tanpa menyinggung kondisi fisik gereja.


‘’Tidak masalah, aku menggunakan sihir cahaya untuk membuat penerangan yang bisa bertahan sampai pagi’’ kata Pendeta dengan wajah gembira dengan apa yang dikatakan Lara.


mendengar hal yang ditanyakan Lara, Pendeta mengerti bahwa Lara telah menerima undangannya masuk ke gereja untuk menjadi Student nya. Lara masih ingat kalau Student adalah sebuah job atau pekerjaan untuk seseorang yang masih dalam proses belajar di gereja, bisa dikatakan Student adalah dasar untuk menjadi seorang Paladin atau Priest dalam game yang ia mainkan sekarang.


‘’Ada berapa Student disini?’’  tanya Lara lagi, kali ini Pendeta agak tidak enak menyebutkan bahwa tidak ada Student disini dan Lara adalah satu-satunya saat ini.


Lara mengerti melihat ekspresi Pendeta dan sendiri sebenarnya juga tidak peduli dengan hal itu. Bagi Lara ini adalah sebuah keberuntungan untuk bisa menjadi Student di gereja setelah penolakan berkali-kali yang ia terimanya sebelum ini.


‘’Aku mengerti, apa saja fasilitas yang ada disini?’’ tanya Lara dan membuat Pendeta lebih lega karena Lara mengerti dan tidak mempermasalahkan apa yang ia sedikit khawatirkan.


‘’Untuk para Student yang belajar disini kami akan memberi makan gratis tiga kali sehari pagi, siang dan malam. kamu juga bisa mengakses semua buku yang ada di ada di perpustakaan gereja dan serta mendapat satu kamar gratis untuk menginap’’ kata Pendeta pada Lara dengan semangat


‘’lalu apa ada tugas lain untukku?’’ Lara ingat para Student biasanya disuruh melakukan banyak hal bahkan seperti budak. Lara tidak mau terjebak sehingga ia menanyakan hal tersebut pada Pendeta.


‘’Kau hanya perlu belajar’’ kata Pendeta sangat yakin. Lara tahu bagaimana gereja bekerja dan ia menjadi sangat tertarik dengan Pendeta didepannya yang bahkan tidak memberi dia tugas apapun selain belajar.


Lara berdiri menatap mata Pendeta, ia menemukan sebuah harapan tertuju padanya selain itu juga ada kerelaan dan keputusasaan di matanya.

__ADS_1


‘’Baik.. dimana kamarku?’’ tanya Lara untuk terakhir kalinya.


‘’Mari ikuti aku’’ Pendeta berjalan dan masuk ke sebuah ruangan dan lorong yang pendek. Lara berhenti di depan sebuah pintu bersamaan dengan Pendeta yang juga berhenti dan membuka pintu tersebut.


Pendeta berkata banyak hal tentang beberapa masalah dengan kondisi kamar. Disisi lain Lara mendengarkan dan tidak melakukan protes sedikitpun.


Saat Pendeta berdiri di pintu untuk keluar Pendeta tiba-tiba bertanya sesuatu pada Lara yang sedang mengecek tempat tidurnya.


‘’Mengapa kamu tidak menanyakan tujuanku?’’ kata Pendeta


‘’Aku telah banyak melihat banyak orang dalam hidupku, aku tidak tahu niat Pendeta. Aku pun tidak akan bertanya jika Pendeta tidak ingin mengatakannya.Tapi aku tahu Pendeta tidak memiliki niat buruk kepadaku dan aku bisa melihat harapan tertuju padaku dari mata Pendeta’’ kata Lara mencoba menduduki kasur tua untuk mengujinya


‘’Bagaimana kau bisa yakin aku orang yang baik’’ kata Pendeta serius dan terjadi keheningan sesaat yang kemudian Lara berbicara unuk membalas Pendeta.


‘’Aku pun pernah dalam posisi itu, saat itu aku tidak punya banyak harapan dan dalam keputusasaan. Namun seseorang datang memberiku harapan. mungkin ini adalah cara yang takdir berikan padaku untuk membalas harapan yang orang itu berikan padaku’’ jelas Lara agak mengenang masa lalunya.


Dengan pernyataan itu Pendeta terkejut dan tanpa sadar ada sebuah titik air turun dari matanya jatuh ke pipinya. Ia sangat berterima kasih pada orang yang memberi Lara harapan dan sekarang Lara memberi harapan itu padanya sebagai balasan.


‘’Terima kasih..’’ Pendeta akhirnya berbicara setelah sesaat diam kemudian keluar menutup pintu kamar. Lara melihat gerakan Pendeta ia tersenyum sambil menghela nafas panjang.


Lara Offline ia baru bermain beberapa jam . Saat ini di Dream Online sedang malam dan tidak banyak yang bisa ia lakukan, staminanya juga sudah terkuras sejak berkeliling kota Duran. Selain itu perutnya sendiri sudah di dera keroncongan dan harus di isi. Lara keluar dari kamar dan kemudian berbicara.


‘’Ibu belum tidur?..’’ Lara melihat Michel yang duduk di sofa dan terlihat sedang sibuk merajut sesuatu. ini adalah pekerjaan Michel sehari-hari , ia merajut tas, syal, atau kaos kaki untuk di jual secara online.


Lara sendiri sudah tidak bekerja karena usaha dimana ia bekerja sebelumnya telah bangkrut dan untuk mencari pekerjaan dengan kondisinya sangat lah sulit .

__ADS_1


Tapi Lara bukannya tidak berpenghasilan, ia memiliki deposito di bank. Bahkan tanpa bekerja sekali pun, Lara lebih dari cukup untuk membiayai hidupnya dan ibunya dengan baik. Ketika melihat Ibunya masih bekerja bahkan hingga larut Lara merasa tidak terlalu nyaman di hatinya. Michel menyadari perasaan anaknya dengan melihat ekspresinya kemudian berkata.


‘’Ibu tidak bisa terus bergantung padamu.. ibu masih muda ingin membeli tas, gaun, perhiasan dan sebagainya’’ kata Michel


‘’Kenapa ibu tidak pakai saja uang di kartu yang aku berikan’’ Lara berbicara membalas ibunya dengan nada sedikit tidak puas.


‘’Ibu tidak ingin menggunakan uang untuk pernikahanmu’’ balas Michel dan terus melanjutkan pekerjaannya


‘’Pernikahan?...  siapa?.. aku…? aku tidak punya kekasih bagaimana aku bisa menikah.. jangan..jangan ibu…’’ Lara terkejut dan sedikit takut


‘’Haha… ibu mendaftarkan mu ke kontak Jodoh.. ibu memasang fotomu di internet berikut semua data tentangmu. setelah beberapa hari beberapa gadis merespon cukup baik’’ Michel tampak sedikit bersemangat menatap Lara


‘’Cukup baik?... mereka hanya ingin memeras kita. Bu, Aku tau ibu khawatir padaku tapi..’’ Lara berbicara dan kemudian Michel memotong


‘’Aku sudah menyusun jadwal kencan untukmu, kebetulan Brenda rumahnya tidak jauh dari sini. Jadi, ibu minta dia untuk datang ke restoran Jo huan lantai 5 besok jam malam’’ kata Michel


‘’Siapa Brenda?...apa!!… tunggu… tunggu.. restoran apa!!?’’ Lara hampir lemas saat berbicara


Ketika nama Brenda di sebutkan, Lara tidak terlalu terkejut. Tapi, saat nama Restoran di sebutkan, Lara benar-benar hampir lemas mendengarnya. Lara tahu restoran Jo Huan itu adalah restoran Bintang Lima yang sangat terkenal di daerah tempat Lara tinggal.


‘’Restoran Jo huan jam 19.00’’ Tegas Michel lebih jelas dengan menekankan suaranya


‘’Ibu.. aku sudah sulit membuat karakterku yang buruk rupa dan miskin. tidaklah ibu lihat sekarang pembaca di rumah bingung karena ibu‘’ keluh Lara


‘’Haha.. kau pikir pembaca bodoh, kau memakai produk GTX 5.0. walaupun itu tidak baru tapi harganya paling tidak 20-35 juta dolar di pasaran’’ Michel membongkar semua rahasia Lara

__ADS_1


__ADS_2