Dream Online Awal Mula

Dream Online Awal Mula
Episode 37 Arc Dark Eye : Monca Monca Guild


__ADS_3

Sampai di kantor Mira memberi tahu Ligar untuk rapat penting di kantor desa bersama dengan beberapa perwakilan desa bawahnya. Michel ikut bersama dengan Mira dan Ligar dalam rapat , ia tidak hanya menonton disudut. Tapi, ia juga proaktif dalam rapat. Ada banyak perdebatan yang membuat situasi beberapa kali menjadi panas. Tapi, semua diam ketika Mira berteriak untuk menenangkan suasana.


Sekarang, tidak ada jalan bagi setiap orang untuk memilih jalan teraman. Ikut atau mati itulah pilihan dimiliki oleh para warga Desa Mor saat ini. Di akhir karena tidak menemukan jalan sepakat Mira akhirnya mengatakan dengan jelas untuk siapapun yang tidak setuju atau memiliki rencana lebih baik di persilahkan untuk bicara. Mendengar hal itu semua perwakilan desa hanya bisa terdiam dan kemudian setuju untuk mengikuti rencana yang telah disusun.


Selesai rapat Mira tampak termenung di kursinya. Michel melihat itu kemudian ia berbicara


‘’Jangan khawatir, semua kan baik-baik saja’’ kata Michel menghibur Mira


‘’Aku harap begitu. Tapi, jika aku salah mereka semua akan mati’’ keluh Mira menatap ke warga desa yang ada di luar ruangan.


‘’Jangan berkata begitu, aku yakin kau akan berhasil. anak itu tidak akan bertindak jika ia tidak yakin akan berhasil. IQnya dari kecil sudah di atas 200, jangan pernah meragukan kemampuan dan keyakinannya’’ jelas Michel tentang Lara anaknya


‘’200?, bagaimana kau tau dia sejenius itu?’’ kata Mira terkejut klaim Michel tetang Lara dan curiga pasti hubungan keduanya tidak sedangkal yang terlihat


‘’haha… aku ibunya, tidak ada yang tahu tentang anakku di dunia ini selain aku,  ibunya’’ jelas Michel bangga


‘’Oh kau ibunya pantas saja,… Apa!!!, tidak… tidak mungkin. kau pasti berbohong’’ Mira terkejut tidak percaya dengan apa yang ia lihat.


‘’Haha…. kaget kan, gadis perawan super cantik dan rupawan ini sebenarnya sudah kepala lima sekarang’’ Michel menonjolkan setiap bagian tubuhnya yang masih kecang dan layaknya wanita berumur 20 tahunan


‘’Nenek!!!’’ teriak Mira terkejut dan Ligar yang juga mendengar dengan jelas matanya terbelalak tidak percaya.


‘’Brengsek, dari mananya aku yang terlihat seperti nenek. Aku baru 51 tahun saat ini, aku masih seorang muda, cantik, polos dan energik’’ Michel berkata membantah sebutan nenek padanya dengan membusung dadanya yang masih kencang dan berisi


‘’Adik cantik, tolong ajari aku untuk menjadi seperti kamu’’ Mira untuk sejenak melupakan hal sebelumnya dan sekarang mengemis pada Michel.


‘’Mudah, kau hanya perlu sering-sering menghisap darah perjaka saat bulan purnama’’ Mata Michel melirik Ligar dengan tatapan bernafsu.


‘’sialan, penyihirrrrrrr…. pergi dariku’’ Ligar berlari kencang di seluruh kantor desa . ia dikejar oleh michel yang tampak menggodanya dengan ekspresi seperti iblis ganas yang siap menghisap setiap tetes darah di tubuhnya.

__ADS_1


‘’jangan lari perjaka, aku butuh setetes darahmu’’ teriak michel mengejar di belakang


‘’Tidak …, Penyihir aku tidak kan membiarkanmu mendekat’’ Ligar berlari lebih kencang


‘’hahaha… kejar terus, tangkap dia, aku akan memberikan setengah darahnya padamu’’


Mira berlari mengejar Ligar yang melarikan diri dari kejaran michel. Ligar tampak benar-benar ketakutan dengan michel yang seperti sucubus mengejar mangsanya layaknya seperti dalam film horor yang biasa ia tonton. ia menggunakan banyak skill untuk melarikan diri dari Michel serta Mira kakak perenpuannya.


Tapi, saat ia akan selamat keluar dari kantor desa, ia selalu selangkah lebih lambat dari Michel dan terpaksa berbalik masuk kedalam sampai akhirnya ia tertangkap dan diikat di tiang kemudian Michel dan Mira menggodanya. Setelah selesai bermain seperti anak kecil mereka bertiga tertawa bersama. Hal benar-benar membuat pikiran dan beban di hati mereka lebih santai.


Hari berlalu dengan cepat, Lara beranjak dari kursinya. ia baru saja online kambali dan keadaan di luar tampak sangat ramai dengan warga desa yang ingin mengikuti Mira dan Ligar untuk pergi dari desa.


Lara melihat ada banyak player yang ikut dalam kelompok Ligar. sementara itu di sisi Mira hanya ada beberapa player wanita yang mengikutinya. Tentu ada lebih banyak player yang memutuskan bertahan di atas tembok karena mereka ingin berpartisipasi dalam raid monster dan mencari peluang.


Sementara player yang tidak begitu yakin dapat bersaing dengan player lainnya yang lebih dominan. akhirnya mundur mengikuti Ligar ke Alexandria atau Mira dan Michel ke Hutan Mor untuk mencari peluang yang lebih baik dan tentunya lebih aman.


Lara memberi instruksi bagi para suster termasuk Ijah dan Mila yang bekerja di kuil untuk mengikuti Mira dan sementara waktu melepaskan pakaian suster mereka sekaligus memberi peringatan untuk bertindak seperti warga biasa lainnya.


Lara melihat Michel pergi bersama dengan Mira. Tujuan mereka berdua adalah Hutan Mor. Disisi lain Ligar juga telah masuk ke dalam sebuah gua bawah tanah yang kemudian sengaja ditutup agar monster Mata Gelap dapat tidak masuk dan menemukan mereka. Lara melihat awan gelap semakin dekat dan dekat setiap waktu yang merupakan pertanda bahwa para monster Mata Gelap semakin dekat ke arah Desa Mor. Melihat posisinya, Lara sadar sebagian besar para Mata Gelap yang baru tiba mengarah ke Duran.


Duran akan segera hancur pasti, korban akan berjatuhan. Lara mengerti ia telah salah berpikir bahwa keturunan Duran masih seperti apa yang apa yang diceritakan orang-orang tentang mereka. Tapi, melihat dan mendengar apa yang terjadi di Duran saat ini, ia mengerti bahwa semangat pahlawan itu sudah pudar. Yang tersisa hanyalah kesombongan dan kesemena-menaan serta jiwa seorang pengecut.


Tindakan para keturunan Duran untuk mengorbankan ratusan ribu warganya untuk meloloskan diri dari kejaran para monster Mata Gelap benar-benar membuat jijik Lara. Ia juga membenci dirinya yang percaya dengan cerita heroik Harun sebagai keturunan Duran yang tertera dalam buku-buku yang ia temukan di duran sebelumnya.


Lara tidak ingin menunggu para monster Mata Gelap datang untuk membunuhnya. Karena itu, ia mulai keluar dari gerbang desa untuk melanjutkan rencananya. Lara menangkap bahwa Giezmen mengikutinya dari belakang bersama dengan beberapa orang yang sepertinya adalah rekan-rekan satu Guildnya.


‘’Pendeta, tunggu’’ Giezmen memanggil dari kejauhan. Lara melihat kebelakang, terkejut dan pura-pra tidak tau bahwa ia telah di ikuti. Giezmen mendekat ke arahnya dan langsung mengenalkan teman-temannya


‘’Ini si coklat Jose dan si biru herman untuk yang berambut mohawk warna ungu disana Mismis dan untuk yang kuning di sebelahnya Lick’’ Giezmen memperkenalkan lara juga setelahnya. Lara hanya mengangguk dan kemudian Giezmen melanjutkan

__ADS_1


‘’Tujuan pendeta kemana?’’ tanya Giezmen dengan lebih ramah


‘’Aku akan ke Gunung Platos untuk menyelesaikan apa yang telah aku buat’’ jelas lara dengan tenang


‘’Menyelesaikan apa yang telah pendeta buat?’’ Giezmen bingung tapi ia tau Platos adalah tempat munculnya para monster


‘’Aku akan kembali untuk menguji teoriku itu saja’’’ lara tidak mengatakan dengan  tujuannya secara eksplisit. Tapi, Giezmen bisa menangkap bahwa rencana itu sebenarnya sangat berbahaya


‘’Platos daerah yang sangat berbahaya, pendeta tidak bisa kesana’’ Giezmen tampak agak khawatir


Melihat ketulusan dari Giezmen, Lara semakin yakin apa yang di tampilkan Giezmen  sekarang adalah gambaran asli dari sifat aslinya. Lara cukup menyukai itu dan memutuskan memberinya sedikit peluang


‘’Terima kasih atas ketulusan mu. Tapi, aku harus menyelesaikan ini segera mungkin. Jika kalian mau ikut aku akan sedikit memberi kalian sebuah peluang yang bagus’’ terang lara untuk menggoda mereka untuk ikut bersamanya


‘’Peluang?.. peluang apa Pendeta?’’ Giezmen bingung dengan pernyataan Lara


‘’Platos adalah sebuah gunung tapi juga bisa dikatakan bukan. Gunung Platos adalah sebuah segel yang di bentuk seperti gunung. Untuk membuat segel sebesar Gunung Platos membutuhkan batu sihir yang sangat kuat. aku tidak tau tingkatnya. ya… paling tidak tingkat Tier I kelas epik atau mungkin kelas legenda. Aku bisa memberimu kesempatan untuk mengambilnya saat sampai nanti. Tapi, aku tidak bisa berjanji seberapa besar kemungkinan kau bisa memilikinya’’ kata lara dengan cukup jelas


‘’ini…’’ Giezmen melirik kearah teman-temannya yang tampak sangat bersemangat saat mendengar apa yang dikatakan lara. Giezmen sendiri ragu ia bisa mendapatkan apa yang dikatakan Lara jika hal itu memang benar ada. Tapi, sebagai kapten ia tidak bisa memutuskan sendiri. Ia mencoba memanggil atasannya kemudian sedikit menjelaskan apa yang dikatakan Lara.


‘’Ketua, bagaimana?’’ Geizmen meminta pendapat dan kemudian seketika suara wanita terdengar meledak seperti bom karena marah.


‘’Ayam Bodoh… tunggu aku. Benson, buat jalan kita akan menyusul kelompok ayam bodoh Giezmen’’ lara hampir tertawa mendengar itu karena ia merasa seperti ia akan bertemu ibunya ketika masih muda.


‘’Ketua…’’ Gizmen tampak malu marahi oleh seorang wanita di depan bawahannya dan Lara. Walaupun begitu, ia juga tidak bisa berbuat banyak apapun.


‘’Diam, aku sedang melawan monster sialan ini. Monyet, dia belum juga mati . Benson!!!… aku bersumpah akan membunuhmu, kenapa kau bawa satu kuda?, bawa delapan’’ suara wanita itu seperi singa betina, ia begitu marah pada pria bernama Benson


‘’Monca aku ada ide, kita rampok kereta itu saja, ukurannya pas untuk kita berdelapan dengan 6 kuda seharusnya lebih cepat’’ suara seorang pria terdengar memberi saran

__ADS_1


‘’hahaha… Benson!!! kau dengar itu, aku tidak mau tau kau harus mendapatkan kereta kuda itu CEPAT!!!!’’ suara Monca melengking memerintah


Suara pertarungan beberapa kali terdengar disusul kemudian terdengar suara teriakan wanita itu lagi. setelah cukup lama terdengar jelas bagaimana wanita itu melempar orang-orang di kereta ke kerumunan monster untuk mengalihkan perhatian. Giezmen disisi lain terus menjelaskan apa yang penemuannya beberapa sebelumnya dan karena ia menyebutkan nama Lara, wanita itu langsung memerintahkan Giezmen untuk meminta Lara berbicara langsung padanya.


__ADS_2