Dream Online Awal Mula

Dream Online Awal Mula
Episode 19 Arc Dark Eye : Desa Platos Dan Kuil Dewi Luna


__ADS_3

Lara menjadi khawatir setelah membaca surat itu dan kemudian karena ia tidak tau apa yang harus ia lakukan dia pun memutuskan untuk offline.


***


Dua Hari berlalu, sekarang Lara dan lainnya telah pindah kembali ke daerah lautan dan membeli hunian yang memiliki rating tertinggi. Lara dan semua sekarang tinggal di perumahan yang elite dengan dua lantai yang didalamnya memiliki lima kamar sebuah Dapur dan satu ruang Tamu selain itu ada juga halaman depan dan halaman belakang yang bisa digunakan untuk berbagai fungsi.


Berbeda dengan ketika berada di wilayah daratan di lautan semua terlihat sangat damai dan tenang begitupun semua semua tetangga disekitar terlihat sangat ramah dan baik hati.


Sasha juga tampak senang bermain dengan anak sebayanya tanpa perlu khawatir pada orang-orang yang ia temui seperti ketika di wilayah daratan. Semua tetangga menyambut mereka dengan baik. Ketika mereka baru sampai ke rumah hampir semua tetangga disekitar membantu kepindahan.


***


Karena ini adalah hari dimana Lara sampi di desa Platos ia langsung online ketika ia memiliki kesempatan. saat kemali ke Dream Lara menemukan dirinya masih berada di dalam kereta dan sekarang ia sudah memasuki daerah penggunungan Platos tidak banyak Player/pemain yang sampai ke sini saat ini karena lokasinya yang sangat jauh dari kota serta medannya yang sedikit sulit untuk dilewati.


Jalan menuju gunung yang terjal dan sedikit berbatu membuat kuda harus lebih exstra berusaha untuk untuk melangkah maju, beberapa kali roda kereta tersangkut yang membuat kusir harus turun dan membuat sesuatu untuk membuat roda berputar dan kereta kembali berjalan.


Desa Platos adalah desa kecil dengan penduduk asli tidak lebih dari 1000 kepala keluarga disini kebanyakan adalah penambang belerang, mereka setiap hari akan naik gunung untuk menambang belerang dan kemudian pulang setelah sore dan langsung menjual hasil tambang ke pengepul.


Harga jual Belerang sama sekali tidak sebanding dengan usaha untuk mendapatkannya membuat sebagian besar warga desa Platos hidup dalam kemiskinan yang parah.


Kondisi tanah yang gersang dan berbatu membuat para warga desa Platos tidak bisa bercocok tanam yang membuat mereka hanya bisa menggantungkan hidup mereka dari hasi penambangan belerang.


Lara turun dari kereta ia melihat kuil dimana ia bertugas di luar sudah ada dua suster yang menyambut Lara yang sepertinya sudah di beritahu bahwa Lara akan tiba hari ini. Lara berjalan ke arah kuil melihat setiap bagian Kuil dari luar setelah ia masuk ke komplek Kuil dua suster yang sudah menunggu berbicara untuk menyambut.


‘’Pendeta anda pasti lelah mari saya antarkan anda ke ruangan anda’’ kata suster yang tampak masih muda dan cantik di dekat Lara


Lara hanya mengikuti langkahnya saat ia masuk ia melihat kondisi kuil ternyata lebih parah dari yang terlihat dari luar. Atapnya yang sudah penuh dengan lubang seperti gereja Anggelia, bangku untuk jama’at pun sudah rusak parah, ditambah lagi kondisi patung dewi Luna yang sudah tidak begitu baik belum lagi area di dekat patung kondisinya sangat memperihatinkan.


Melihat itu Lara merasa ini memiliki PR yang sangat besar yang harus ia lakukan. Setelah sekilas melihat kondisi ruang utama kuil Lara masuk ke pintu di belakang menyusul suster dan kemudian masuk kedalam kamar. Saat pintu terbuka Lara terkejut bahwa ruangan terasa berbeda dari kondisi terlihat di ruang utama dan luar kuil


‘’Ini kamar pendeta’’ kata suster melihat Lara yang terbungkus topeng besi

__ADS_1


‘’Kenapa ruangan ini begitu terawat sementara ruangan utama begitu menyedihkan?’’ tanya Lara


‘’Itu… pendeta terdahulu yang kini pindah kekota dekat kekasisaran mengatur ini’’ kata salah satu suster tampak terkejut dengan ke tidak puasan Lara sementara yang satunya tampak gugup setelah Lara mengatakan ke tidak puasannya tersebut. Lara melihat ekspresi mereka kemudian langsung mengerti apa yang sebenarnya terjadi.


‘’Kalian tidak usah lagi mengantarku berikan aku laporan keuangan 5 tahun sebelum ini dan aku minta dalam 1 jam sudah ada dimeja saya’’ Lara memberi perintah dengan tegas.


‘’Pendeta mohon ampun.. tolong maaf kami aku terpakasa, ayahku sedang sakit dan tidak ada yang bisa aku lakukan selain mengikuti perintah pendeta Mika’’ Kata salah satu yang berdiri di pintu


‘’Pendeta tolong ampuni aku, aku tidak bermaksud untuk mengambil uang kuil, pendeta Mika mengancam akan membunuh keluargaku jika aku menolak’’ kata suster yang tunduk dan memang kaki Lara meminta ampunan.


Lara tidak terkejut dengan itu ia tau mereka mengatakan yang sebenarnya, karena jika tidak mereka sekarang tidak akan memakai pakaian yang rombeng dan penuh dengan jahitan seperti sekarang. Namun kesalahan adalah kesalahan dan ada konsekuensi dari setiap perbuatan yang telah dilakukan baik itu benar atau salah.


‘’Aku tidak akan melaporkan kalian tapi sebagai hukuman aku akan memotong uang jasa kalian sampai kalian membayar lunas uang yang kalian ambil’’ kata Lara


‘’Pendeta…’’ Kedua Suster tampak tidak puas dengan itu tapi kemudian setelah Lara mengatakan ancamannya yang lain mereka menurutinya


‘’Tidak ada… sekarang pilih patuhi hukuman atau masuk penjara ‘’ kata Lara dengan tegas


‘’Bagus… besok pagi aku minta laporan yang aku inginkan jangan coba menipu atau hukuman akan menjadi dua kali lebih berat’’ Lara mengancam


‘’Baik pendeta’’ kedua suster segera beranjak dan mundur mereka tampak dikejar anjing untuk menemukan dan memberikan laopran yang Lara minta sekaligus melarikan diri takut Lara merubah pikirannya dan membuat mereka di penjara.


Melihat itu Lara hanya geleng-geleng kemudian ia menyusun barang-barang yang ia perlukan di meja. Lara mengeluarkan perabotan yang cukup berhaga dari kamarnya dan saat pagi tiba ia memerintahkan dua suster disana menjualnya ke pasar dan uangnya digunakan untuk renovasi bangku para jama’at dan juga atap kuil yang sudah tidak layak.


Sepanjang malam Lara membaca buku sampai akhirnya ia pun kemudian tertidur di meja belajarnya. Malam berganti menjadi pagi  yang cerah, Lara melihat beberapa warga datang untuk berdoa dan berkonsultasi dan Lara tidak menolak setiap yang datang padanya untuk meminta pencerahan dan berkat.


Lara menerima beberapa orang pada saat yang sama sementara Dua suster bawahannya sudah tidak terlihat di kuil, mereka berdua saat ini masih di pasar untuk menjual semua barang-barang berharga di gereja dan membayar beberapa tukang untuk merenovasi kuil.


‘’Pendeta.. ibuku memintaku untuk menikah dengan pria yang tidak aku cintai, aku tidak tau apa yang harus aku lakukan. Jika aku memilih pacarku yang aku cintai maka ibuku akan kecewa dan jika aku memilih pilihan ibuku aku takut aku tidak akan bahagia’’ kata wanita yang menangis di depan Lara


‘’Bagaimana orang pilihan ibumu itu?’’tanya Lara lagi

__ADS_1


‘’Dia adalah anak dari teman ibuku kami sudah berteman dan saling kenal cukup lama’’


‘’Dia orang yang baik? Lalu bagaimana dengan pacarmu sepeti apa dia?’’ kata Lara


‘’Pacarku juga sama baiknya… pendeta aku harus bagaimana?’’ kata wanita itu tanpa ragu


‘’Begitu… sebentar’’ Lara menulis sebuah tulisan dan menyimpannya dalam amplop, Lara memberikan dua amplop ke wanita itu dan kemudian berbicara


‘’Berikan yang ini pada pacarmu dan yang ini pada temanmu lihat reaksi mereka dan kau akan tau siapa mereka’’kata Lara dengan tenang


‘’Apa ini?’’ wanita itu berkata


‘’Kau akan tau ketika mereka membukanya jangan sendirian saat memberikan surat ini dan biarkan ia memebacanya dan tunggu’’ kata Lara


‘’Aku mengerti terima kasih pendeta’’ wanita itu berbicara


Saat wanita beranjak ia langsung keluar kuil bersama seorang pria yang Lara tidak tau apa itu pacarnya atau orang pilihan ibunya tapi orang itu penuh dengan tipuan dan kebohongan. Hari kembali berganti dan kali ini wanita itu tampak datang dengan wajah lebam kearah Lara


‘’Pendeta terima kasih aku tidak tau dia orang yang seperti itu,  sekarang aku memilih pilahan ibuku dia sangat baik dan sabar’’ kata wanita itu dengan wajahnya yang babak belur sepertinya ia telah di pukuli oleh seseorang dan Lara tau siapa itu.


‘’Haha… kau masih berterima kasih setelah babak belur begitu?’’ tanya Lara merasa agak aneh dan lucu


‘’Tidak apa jika aku tetap pada pendirianku sebelumnya aku benar-benar akan menyesal seumur hidup luka kecil ini tidak berati apa-apa’’ balas wanita itu tanpa ragu


‘’Haha.. baguslah selama kau senang, saranku cepat-cepatlah menikah tidak baik berpacaran lama-lama’’kata lara sediki memelankan suaranya


‘’Bagaimana pendeta tau aku..’’ wanita itu terkejut melihat Lara yang seperti membaca pikirannya.


‘’Haha.. mudah ditebak.. aku telah melihat pria pilihan ibumu itu sekarang, dia memiliki keberuntuangan yang besar. Sayang jika kau akan kehilangan pria seperti itu, sulit untuk hidup dengan baik saat ini’’ kara Lara pada wanita itu dengan sedikit membungkukkan badannya dan berbisik di sebagian besar kata.


‘’Aku mengerti.. aku akan meminta dia menikahiku secepat mungkin’’ wanita itu berbisik membalas Lara

__ADS_1


‘’Pergilah jangan buat kantong uang besarmu menunggu dan melirik yang lain’’ kata Lara mengusir wanita itu pergi


__ADS_2