
‘’Alexandria?… kenapa kau ingin aku ke sana?’’ Bege tidak terlalu terkejut dengan itu dan kemudian bertanya pada Lara
"Paduka memiliki sedikit informasi tentang kedekatan yang mulia dengan kaisar Alexandria Isac Morgan, saya berharap yang bisa membantu saya meyakinkan yang mulia Isac untuk meyakinkan orang-orang kita untuk bergerak" kata Lara serius
‘’Sebelum ini saya tidak punya keyakinan untuk mengalahkan mata gelap. Tapi, ketika saya melihat langsung kondisinya, saya paham kita bisa mengalahkannya, Mata Gelap tidak sekuat yang legenda katakan dulu. Jika dulu dia adalah Galaksi sekarang ia seperti sebuah kelereng yang rapuh. Kita bisa mengalahkan sebelum ia pulih lebih jauh’’ jelas lara lagi dengan nada tenang dan serius
‘’Bagaimana kau yakin dia melemah sekarang? ’’ Bege mengerti maksud Lara dan kemudian bertanya lagi
‘’Aku sudah masuk langsung ke dalam sarangnya, ia benar-benar telah melemah jauh saat ini. dia seperti sedang sekarat sekarang, kita tidak bisa membiarkan dia pulih. jika tidak, benua dan seluruh manusia akan benar-benar hancur olehnya’’ jelas lara
Lara tidak punya harapan untuk ini, ia hanya berpikir dengan Bege membantunya, maka kemungkinan akan semakin besar untuk memuluskan rencananya untuk mengalahkan Mata Gelap. Bege tampak sedikit berpikir saat ini, sangat terlihat jelas ia juga sebenarnya tidak ingin mahkluk berbahaya seperti Mata Gelap berkembang dan menghancurkan benua yang juga akan berimbas ke kaumnya.
Monca tidak tau apa tujuan Lara sebelumnya, tapi sekarang ia mengerti mengapa lara ke Platos adalah melakukan pengamatan untuk melihat kemungkinan apakah mata gelap bisa di kalahkan atau tidak. Dia tahu Lara hanya beberapa menit di tempat itu dan keluar setelahnya, Monca tidak berpikir hanya dengan waktu sesingkat itu Lara bisa menentukan apakah mereka punya kesempatan atau tidak untuk mengalahkan Mata Gelap.
Karena Monca tidak apapun terkait yang di bicarakan Lara dan Bege, ia hanya diam dan mengamati situasi. Setelah beberapa saat keheningan terjadi setelah pernyataan Lara sebelumnya, akhirnya Bege mengambil keputusan.
‘’Aku percaya padamu, kita akan segera berangkat ke Alexandria besok pagi, tentu saja dengan konvoi dan iring-iringan. Hehe… sudah lama kami tidak membuat pertunjukan, sekarang sudah saatnya memberikan orang itu sedikit kejutan’’ Bege terkikik sangat jahat ketika ia mengingat sesuatu
Lara tidak berpikir Bege adalah raja yang baik jika ia melihat ini, tapi melihat apa yang dilakukannya sangat jelas Bege adalah pemimpin yang sangat sempurna untuk para Elf Pohon. Disisi lain tidak ada penghianatan di mata semua kaumnya, mereka semua memandang Bege layaknya tuhan mereka. Sebagai orang yang berpengalaman Lara jelas mengetahui Bege sebenarnya sangat mampu memimpin sebuah Ras.
‘’Tapi malam ini kalian harus berkemah diluar, kau tau aturan disini tidak ada pria yang boleh masuk’’ kata Bege dengan santai dan sedikit bercanda
‘’Paduka tidak perlu khawatir, kami akan mengikuti semua pengaturan paduka’’ kata lara dengan hormat. Ketika pembicaraan selesai, Lara dan lainnya di kawal menuju sebuah tenda diluar pemukiman Para Elf Pohon. Walaupun itu hanya tenda darurat semua masih terasa sangat nyaman, para prajurit Elf Pohon berjaga di depan untuk memastikan keamanan mereka. Monca dan orang-orangnya memutuskan offline sementara waktu dan akan online lagi beberapa jam ke depan.
Lara kembali dari game ia keluar untuk olah raga, hari ini hari minggu ia melihat Rin berlari dan karena mereka saling kenal mereka berlari bersama. Para pria yang mereka lewati melirik kearah Rin dan membenci Lara yang tampak begitu dekat dengannya bahkan tertawa riang saat Lara mengatakan hal-hal lucu. Setelah beberapa keliling mereka berhenti. lara dan Rin duduk untuk beristirahat sejenak.
Di kota ini semua orang menikmati hari mingu dengan olah raga dan melakukan kegiatan yang positif. Melihat orang-orang makin Ramai Lara dan Rin kembali berolahraga, setelah berlari beberapa keliling mereka kembali ke dan berpisah setalah sampai di rumah mereka masing-masing. Lara masuk dan ia melihat Misha duduk menonton Tv. Menemukan Misha yang tidak sadar dengan keberadaanya, Lara segera menghampirinya dengan mengendap-ngendap kemudian menangkapnya dari belakang.
__ADS_1
‘’Menonton TV?’’ tanya lara sambil mencium pipi istrinya
‘’Kau bau, cepat mandi sana Sasha pun tidak ingin bersamamu’’ protes Misha
‘’Haha… baiklah aku akan mandi’’ lara melepas Misha dan berniat berlari ketika berjalan lebih jauh ia merasakan pinggangnya di peluk dari belakang
‘’Katanya aku bau?’’ goda lara ke istrinya
‘’’tidak, aku suka bau keringatmu’’ kata Misha, terus memeluk lara dan lebih mendekatkan wajahnya ke punggung Lara dengan manja.
‘’kenapa?’’ lara bertanya dengan lembut
‘’ayo kita jalan-jalan berdua hari ini ‘’ Misha meminta dengan suara lemah
‘’jalan… ayo kau mau kemana’’ Lara melepaskan pelukan istrinya dan berbaik semua berkata dengan semangat
‘’hoho… baiklah kita akan memborong semuanya’’ kata Lara
‘’apa!!! aku ikut’’ suara Michel terdengar dari kamarnya dan berlari keluar
‘’tidak… ibu tidak bisa ikut, ini kencan kami berdua. ah bagaimana jika aku beri ibu uang dan..’’
‘’10 miliyar ibu ingin 10 miliyar’’ potong Michel tanpa menunggu Lara menyelesaikan kata-katanya
‘’untuk apa ibu uang sebanyak itu?. Tidak, aku akan memberi ibu 10 Jt’’ tanya lara
‘’tidak, 10 miliyar atau ibu harus ikut’’
__ADS_1
‘’10 jt atau tidak sama sekali’’ kata lara dengan tenang tidak takut dengan gertakan ibunya
‘’ahhhh baik, 10 juta. Transfer pada ibu nanti’’ Michel mengalah dan berlari ke kamarnya untuk mengganti pakaiannya.
Michel sebenarnya mendapat miliyaran setiap bulan dari Lara. Tapi, ia tidak pernah membelanjakannya karena ia sudah bertekad untuk menyimpannya untuk hadiah kelahiran cucunya nanti. ia selalu berharap ia bisa memberikan hadiah besar pada cucunya. Karena ia sudah bertekad, ia tidak akan mengkhianatinya. sehingga ia hanya bisa membelanjakan uang dari investasinya pada Magna ayahnya sendiri. Sayangnya sekarang keuntungan dari investasi tersebut belum datang dan ia sangat tersiksa dengan itu, apalagi setelah merk favoritnya mengeluarkan produk terbarunya.
Sekarang ia melompat ke kendaraannya dan memacunya secepat mungkin ke Mall untuk melampiaskan kekesalannya. Lara dan misha berangkat beberapa saat kemudian dan mereka membawa Sasha bersama. mereka bertiga berjalan-jalan ke Mall dan mencoba berbagai macam permainan yang ada. Mereka bertiga bersenang-senang dan berbelanja banyak hal. Kemudian setelah tengah hari mereka bertiga kembali ke rumah dengan membawa tas belanjaan besar.
Lara kembali online di saat malam hari setelah makan makan malam. ia menemukan semua orang telah berkumpul bersama dan bersiap berangkat. ketika Lara muncul semua orang segera bersiap untuk berangkat. Para Elf menggunakan Griffin untuk terbang ke Alexandria dan ini adalah salah satu kemapuan alami Elf Pohon.
Griffin itu muncul sebagai totem di tubuh mereka saat sejak mereka Lahir. Tentu saja Griffin tidak langsung Dewasa dan langsung bisa terbang. Para Griffin akan mengikuti perkembangan Elf Pohon. Saat Elf dewasa para Griffin pun menjadi dewasa, saat itu sayap Griffin tumbuh dengan sempurna.
Dengan sayap mereka yang telah berkembang sempurna, maka saat itulah mereka bisa terbang ke langit. Jika Griffin mati maka Elf akan kehilangan setengah kehidupannya sebagai taruhan untuk menyelamatkan hidup mereka yang saling terhubung satu sama lain dan jika Elf mati maka saat itu Griffin akan mati juga.
Lara naik kereta perang milik Raja Pohon dan terbang di udara seperti seorang santa claus. Bege langsung memacu 2 Griffin miliknya, Lara sempat tersentak ke belakang sesaat saat kereta perang berakselerasi . Lara terkejut dengan kecepatan Griffin yang benar-benar luar biasa cepat dan lara sempat berpikir untuk memilikinya suatu hari nanti.
Sesaat kemudian di ibu kota segera terjadi keributan. Setiap orang melihat ada banyak Monster datang menembus pertahanan magis milik kekaisaran Alexandria. Dari langit terlihat para monster memiliki penunggang di belakang mereka dengan armor lengkap dan mengkilat.
Acara-acara televisi di hentikan untuk menampilkan kejadian tersebut. Di dalam berita terdengar lonceng-lonceng tanda bahaya terdengar sangat keras ke seluruh ibukota. Para prajurit berlarian di dalan-jalan menuju tembok pertahanan dengan terburu-buru dan warga ibukota dengan cepat bergerak untuk melakukan evakuasi. Suasana terlihat agak mencekam sekarang, tapi belum ada serangan yang terjadi. Para pemain yang berada di ibukota juga terlihat berlarian menuju ke Guild petualang untuk mengambil misi pertempuran.
‘’Bege… apa kau tidak bosan memamerkan orang-orang mu padaku’’ suara terdengar di langit ibukota alexandria tampaknya berasal dari istana kekaisaran. Seketika orang-orang berhenti Bergerak dan melihat ke langit
‘’Isac aku selalu mengatakan mengkilat itu baik. Bagaimana konvoi ku kali ini kau suka?’’ Bege membalas
‘’lumayan… masuklah, kau sangat disambut saat ini’’
‘’hoho aku tidak akan sungkan kalau begitu …’’ Bege memacu Griffinnya menuju ke istana kekaisaran. tidak ada prajurit yang bergerak menghalangi para Elf pohon untuk masuk ke dalam setelah percakapan tersebut. Para Griffin mendarat yang kemudian menghilang kembali menjadi totem ke tubuh pemilik mereka. Bege membiarkan pasukannya membentuk formasi di luar istana, ia tidak berniat untuk memamerkan pasukannya di depan semua orang yang melihatnya. Melihat apa yang di lakukan Raja Pohon Lara hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya. Bege benar-benar bukan raja yang baik, dia memanfaatkan orangnya untuk membusungkan dadanya lebih ke depan.
__ADS_1