Dua Cincin

Dua Cincin
Jalan Yang Harus Di Pilih


__ADS_3

Sepulang dari cafe, Dion selalu mampir untuk melihat kondisi sang Ibu. Semenjak kejadian itu, ia merasa dibuat bersalah.


Dion tidak bermaksud untuk menyakiti hati Ibunya, namun permintaan Ibunya hari itu begitu membuatnya terkejut hingga tak dapat berpikir jernih.


Saat tiba di rumah Ibunya, Dion segera berjalan menuju kamar Ibu Anna.


Dion sempat berpapasan dengan Rissa ketika menaiki anak tangga, sekilas ia melirik Rissa yang sama sekali tak menoleh kearahnya.


"Bagaimana keadaan Ibuku?"


Pertanyaan Dion berhasil membuat Rissa mengentikan langkahnya, suasana berubah dingin.


"Pak Dion bisa lihat langsung bagaimana kondisi Ibu saat ini," jawab Rissa tanpa melihat kearah Dion.


"Aku hanya ingin memastikan, apa kau menjaga Ibu dengan baik atau tidak." Dion menegaskan ucapannya.


Rissa menarik nafasnya, mencoba untuk tidak terpancing emosi ketika menghadapi Dion.


"Pak Dion tenang saja, saya cukup tahu diri untuk terus berbakti pada Ibu."


Rissa menjawab seadanya, dan melanjutkan kembali langkahnya.


Dion menyipitkan matanya, ia tidak menyukai sikap Rissa yang pergi ketika ia masih ingin berbicara. Namun kali ini Dion memilih untuk tak memperpanjang masalah, ia memutuskan untuk segera menuju kamar Ibunya.


"Assalamuallaikum, Bu." Dion menyapa Ibunya dengan suara pelan.


Setelah menutup pintu kamar dan mendapat jawaban dari sang Ibu, ia segera berjalan mendekati tempat tidur Ibunya.


"Ibu apa kabar?" Tanya Dion dengan lembut.


Ibu Anna masih merasa kecewa pada anaknya, namun ia memilih untuk mejaga kesehatannya daripada bertengkar lagi dengan sang anak.


"Ibu baik, kamu sendiri?" Tanya Ibu Anna.


Dion tersenyum, "alhamdulillah kalau begitu, Dion juga baik."


Ibu Anna diam, tak menjawab atau bertanya lagi pada Dion.


"Bu, Ibu masih marah?" Tanya Dion.


"Ibu tidak marah, tapi Ibu kecewa." Ibu Anna menjawab seadanya.


Dion menghela nafasnya, wajahnya tertunduk.


"Apa yang bisa Dion lakukan untuk membuat Ibu memaafkan Dion?" Tanya Dion sembari membujuk Ibunya.


"Seorang cucu," jawab Ibu Anna dengan singkat dan jelas.


Dion terdiam, ia tak bisa menimpali perkataan Ibunya yang satu itu.


"Bu, Ibu kan tahu bagaimana kondisi Melati. Memberikan cucu untuk Ibu tidak mudah," jawab Dion dengan hati-hati.


Ibu Anna menoleh kearah Dion, menatap anaknya dengan tatapan memohon.


"Jika kamu menikah dengan Rissa, Ibu pasti bakalan dapat cucu dengan cepat."


"Bu, siapa yang menjamin kalau aku menikah dengan Rissa dan dia akan dengan mudah mengandung anakku?" Tanya Dion.


Ibu Anna merubah posisinya, ia kini duduk dan bersandar dipunggung tempat tidur.


"Kita lakukan saja pemeriksaan ke Dokter kandungan, jika hasilnya menyatakan bahwa Rissa sehat, kau harus menikah dengannya. Dan hal itu tidak bisa kamu hindari!" Sahut Ibu Anna.


Dion terdiam, mencerna permintaan Ibunya. Entah mengapa, wajah pucat sang Ibu membuatnya tak kuasa untuk menolak dan dengan terpaksa ia menyetujui permintaan Ibunya.


"Baiklah, aku akan melakukan apa yang Ibu mau. Tapi jika ada satu hal sedikit saja yang menggangu kesehatannya, aku tidak akan menikahinya."


"Ibu setuju," jawab Ibu Anna dengan cepat.


***


Dion dan Ibunya kini tengah menyantap makan malam bersama, sebenarnya Dion hendak pulang dan berniat untuk makan bersama istrinya. Namun, Ibu Anna memohon untuk Dion meluangkan waktunya sedikit lagi.


"Bu, habis ini aku pulang, yah. Kasihan Melati pasti nungguin Dion," ujar Dion.


"Iya, tapi ada hal yang ingin Ibu pastikan satu lagi." Ibu Anna menyudahi acara makannya dan memanggil Rissa untuk menghampirinya.


Rissa tampak berjalan mendekati majikannya, berbeda dengan Dion yang sudah dapat menebak apa yang akan dibicarakan oleh Ibunya.


"Ibu manggil Rissa?" Tanya Rissa dengan sopan.

__ADS_1


Ibu Anna tersenyum sembari menganggukkan kepalanya.


"Duduk, Sa."


Rissa sempat merasa tidak enak, namun ia memutuskan untuk menuruti perintah majikannya.


"Ada apa ya, Bu?" Tanya Rissa.


"Besok, kamu harus ikut Ibu dan Dion pergi. Kamu mau, kan?" Tanya Ibu Anna.


Rissa terlihat kebingungan, dan lebih memilih untuk kembali bertanya pada majikannya.


"Maaf, pergi kemana, Bu?" Tanya Rissa.


"Pokoknya kamu ikut saja, besok juga kamu pasti tahu. Dan ada satu lagi yang ingin Ibu bicarakan sama kamu," ujar Ibu Anna.


"Apa itu, Bu?" Tanya Rissa dengan penasaran. Di bawah meja makan, Rissa memaikan jemarinya, tanda ia merasa gugup dengan situasi yang tengah dihadapinya.


"Kamu dan Dion akan segera menikah," ucap Ibu Anna dengan pasti.


Rissa terkejut, sama hal nya dengan Dion.


"Bu, kenapa Ibu bicara seperti itu? Ini semua kan belum pasti," sahut Dion.


Ibu Anna menatap Rissa dengan Dion secara bergantian.


"Tapi Ibu yakin, kalian akan menikah."


Dion maupun Rissa tak menimpali perkataan Ibu Anna, Rissa hanya bisa pasrah dengan apa yang diucapkan oleh majikannya.


"Apa ini takdirku? Ya Allah, beri aku petunjukmu." Rissa membatin.


"Perempuan ini, dia bahkan tak menolak atau berbicara apapun. Apa yang sebenarnya dia pikirkan? Apa semua karena uang?" Dion bertanya-tanya dan bahkan telah berprasangka buruk pada Rissa.


***


Dion baru saja sampai di rumah, ia melihat Melati yang menunggunya di teras rumah hingga tertidur di kursi.


Dion berjalan mendekati istrinya, dan berjongkok dihadapan Melati.


"Maaf membuatmu menunggu lama," ucap Dion.


Sesampainya di dalam kamar, Dion segera membaringkan Melati diatas tempat tidur.


Sekilas ia menatap wajah istrinya, sungguh perasaannya kini kembali berkecamuk.


"Maafkan aku Mel, aku berada dalam pilihan sulit. Aku tidak ingin mengkhianatimu, tapi aku juga tidak bisa melihat Ibuku kecewa." Dion menundukkan kepalanya, hatinya begitu teriris-iris.


Dion berdiri, dan berjalan menuju kamar mandi. Saat Dion tengah membersihkan tubuhnya, Melati terbangun. Ia merasakan Dion yang menggendongnya, dan perasaannya kembali bertanya-tanya.


"Mas, sebenarnya apa yang kamu sembunyikan dariku? Mengapa aku merasa kau sedang menutupi suatu hal dariku," tanya Melati dalam hatinya.


Ia segera kembali memejamkan matanya, memilih untuk berpura-pura tidur lagi.


Dion segera memakai pakaian tidurnya, dan berjalan menuju tempat tidur.


Dion mengusap kening istrinya, sebelum ia ikut memejamkan matanya.


Pagi hari, seperti biasa Dion tengah sarapan bersama istrinya.


Dion selalu menyempatkan untuk makan bersama istrinya, walaupun dalam keadaan buru-buru.


"Sayang, aku boleh keluar rumah tidak?" Tanya Melati.


Sembari mengunyah, Dion menjawab pertanyaan istrinya.


"Mau kemana memangnya?" Tanya Dion.


"Emm, jalan-jalan saja. Ke pusat perbelanjaan atau kemana gitu. Aku butuh refreshing Mas," jawab Melati.


Sebenarnya Dion ingin istrinya berada dirumah, namun ia juga tak tega jika menolak permintaan Melati.


"Ya sudah boleh, tapi jangan kecapean yah."


Melati mengangguk dengan senang, akhirnya ia memiliki kesempatan untuk keluar rumah tanpa ditemani oleh Dion.


"Terimakasih, Mas."


"Sama-sama," jawab Dion.

__ADS_1


***


"Mas pergi dulu," ucap Dion.


Melati mengangguk, dan memperhatikan suaminya yang berjalan masuk ke dalam mobil.


Setelah suaminya pergi, Melati segera masuk kedalam rumah dan bersiap-siap.


Dion melajukan mobilnya bukan pada jalan yang biasanya, ia kini tengah menuju sebuah rumah sakit yang telah disepakati bersama Ibunya.


Dion harap-harap cemas, ia berharap Melati tidak mengetahui rencananya.


Sesampainya disana, Ibu Anna dan Rissa telah sampai lebih dulu.


"Sudah lama, Bu?" Tanya Dion.


"Tidak juga. Ya sudah kita masuk sekarang," Ibu Anna meminta.


"Bu, maaf kalau Rissa banyak tanya. Tapi kenapa kita kesini?" Tanya Rissa.


"Perempuan ini, pura-pura tidak tahu atau bagaimana?" Tanya Dion dalam hatinya.


"Kita masuk dulu yah, Ris." Ibu Anna menggandeng Rissa dan berjalan masuk.


Rissa hanya bisa menurut, beberapa kali ia mengedarkan pandangannya.


"Sebenarnya mereka mau membawaku kemana?" Tanyanya dalam hati.


Kini mereka berhenti disebuah ruangan, Rissa sekilas membaca tulisan yang menempel di pintu.


"Dokter spesialis kandungan?" Gumamnya dalam hati.


"Kita masuk, Sa, Yon." Ibu Anna membuka pintu dan menyapa Dokter kenalannya.


"Pagi, Dokter Ira." Ibu Anna menyapa. Rupanya Ibu Anna memang benar-benar telah mempersiapkan semuanya, bahkan ia telah menghubungi kenalan dokternya agar dapat melakukan tes dengan lancar.


"Pagi, Bu. Mari masuk," pinta Dokter Ira.


"Duduk, Bu, Pak." Dokter Ira menambahkan.


Ibu Anna dan Rissa duduk di hadapan meja Dokter, sedangkan Dion ia duduk terpisah di pinggir ruangan.


"Ada yang bisa saya bantu, Bu?" Tanya Dokter Ira.


"Begini, Dok. Saya ingin memeriksakan kesehatan rahim menantu saya," ucap Ibu Anna.


Rissa terkejut, bukan karena Ibu Anna yang menyebutnya sebagai menantu tetapi karena permintaan majikannya untuk memeriksakan kesehatan rahimnya.


"Oh, boleh. Kalau begitu, silahkan ikut saya. Tidur disana, yah." Dokter Ira mengintruksikan dan Rissa hanya menurut.


Dokter menutup tirai untuk menutupi area pemeriksaan, dan Rissa kini tengah terbaring merasakan sebuah alat yang meggelincir diaras perutnya.


"Kita USG dulu ya, Bu."


Rissa mengangguk, ia benar-benar gugup saat ini.


Rissa melihat dokter Ira yang tersenyum menatap layar kecil di depannya.


"Wah, cantik rahimnya." Dokter Ira tersenyum, dan Rissa hanya bisa membalasnya dengan rasa canggung.


"Selesai, Bu. Kita duduk lagi yuk," pinta Dokter Ira.


"Gimana Dok kondisi rahimnya?"


Bukan Ibu Anna yang bertanya, melainkan Dion. Ia dibuat penasaran dengan hasil pemeriksaannya.


"Hasilnya bagus, Pak. Rahim istri Bapak bagus dan sehat," terang Dokter Ira.


Dion terdiam, sedangkan Ibu Anna pasti kini tengah berbahagia. Akhirnya keinginannya akan segera terwujud.


"Jadi Rissa bisa hamil, Dok?" Tanya Ibu Anna.


"Bisa dong, Bu. Dengan menjaga pola makan, atau melakukan program hamil kemungkinan Ibu Rissa untuk mengandung sangat besar," jawab Dokter Ira.


Dion hanya bisa pasrah, sama halnya dengan Rissa. Artinya Dion memang harus menikahi Rissa, ia tak mungkin untuk menolak keinginan Ibunya lagi.


"Ya Allah, mengapa Engkau memberikan aku jalan yang seperti ini?" Dion tertunduk lesu.


Rissa hanya terdiam, menerima semua yang akan terjadi pada dirinya.

__ADS_1


__ADS_2