Dua Cincin

Dua Cincin
Akhir Cerita


__ADS_3

Hari ini, hari dimana sidang perceraian Melati dan Dion di mulai. Sudah hampir satu jam, tetapi Dion tak kunjung hadir.


Melati beberapa kali mencari keberadaan suaminya itu, namun satu sisi, ketidakhadiran Dion akan menguntungkan untuknya.


Jika Dion tidak hadir ke persidangan, otomatis akan mempercepat perceraian antara Melati dan Dion.


Waktu begitu cepat berlalu, Dion tak kunjung menampakkan batang hidungnya.


Persidangan hari itu, berlalu tanpa kehadiran Dion.


"Mel, kamu tidak cari tahu kenapa Dion tidak datang?" Tanya Ayah Melati.


Melati menggeleng, "untuk apa, Yah? Toh dengan dia tidak datang, itu akan mempercepat proses perceraian kita berdua."


Ayah Melati mengangguk, wajahnya kini menunduk.


"Ayah kenapa?" Tanya Melati yang memperhatikan perubahan sikap Ayahnya.


"Maaf, Mel. Gara-gara Ayah kamu harus mengalami hal seperti ini," sesal sang Ayah pada anaknya.


Melati menghela nafasnya, ia berusaha untuk terlihat baik-baik saja di depan Ayahnya.


"Ayah, sudahlah jangan seperti ini. Ini memang sudah takdirku, aku tidak apa-apa. Do'akan saja, semoga kedepannya hidupku akan jauh lebih baik," pinta Melati pada Ayahnya.


Ayah Melati mengangguk, lalu ia memeluk anaknya.


"Terima kasih, Nak. Ayah akan selalu mendo'akan yang terbaik untukmu, selalu."


***


Di rumah Ibu Anna, Dion masih tidak keluar dari kamarnya. Ia masih mengurung diri, menyesali setiap apa yang telah ia lakukan.


Dion menatap kosong jendela kamar, terdengar mulutnya yang terus berucap kata maaf.


Ibu Anna masih terus mencoba untuk membujuk anaknya, ia terus mengetuk pintu dan memanggil anaknya.


"Yon, buka pintunya, Nak. Ini Ibu," pinta sang Ibu.


Tidak ada sahutan dari dalam, membuat Ibu Anna semakin cemas akan kondisi anaknya.

__ADS_1


"Ya Allah, kenapa semuanya jadi seperti ini. Aku tidak ingin terjadi apapun pada anakku," batin Ibu Anna.


Ibu Anna berniat untuk menghubungi Melati, ia bermaksud untuk meminta bantuan pada menantunya itu.


Ibu Anna berusaha menghubungi Melati, hingga sambungan telepon mereka berdua terhubung.


"Assalamu'allaikum, Mel. Ini Ibu," ucap Ibu Anna.


"Iya kenapa?" Tanya Melati tanpa basa basi di balik ponsel.


"Mel, Ibu minta maaf. Maafkan kesalahan Ibu," ujar Ibu Anna.


Terdengar helaan nafas di seberang sana, "sudahlah Bu, tidak usah di bahas lagi. Lagipula aku sudah memaafkan," tutur Melati.


Ibu Anna terisak, "Mel, Ibu tidak tahu harus bagaimana lagi. Ibu bingung, dari kemarin Dion tidak mau keluar dari kamar, dia hilang kendali." Ibu Anna menuturkan apa yang sebenarnya terjadi.


"Ibu tahu, Ibu sudah melakukan banyak kesalahan padamu. Tapi Ibu tidak tahu harus meminta tolong kepada siapa lagi," ujar Ibu Anna.


"Bu, aku memang sudah memaafkan kalian, tapi bukan berarti aku mau terlibat dengan semua urusan kalian lagi. Aku sudah lepas tangan, urusanku dengan Mas Dion sudah selesai. Jadi aku mohon, jangan pernah hubungi aku lagi. Apalagi hanya untuk Mas Dion," jawab Melati. Jauh dalam lubuk hatinya, ada perasaan khawatir pada Dion. Namun Melati harus bisa menahannya, ia tak ingin kembali membasahi lukanya yang hampir mengering.


"Dan satu lagi, hari ini adalah hari pertama sidang perceraianku dengan Mas Dion. Karena Mas Dion tidak hadir, otomatis pengadilan akan lebih cepat mengabulkan permohonan ceraiku," tambah Melati.


Ibu Anna dapat memahami perasaan Melati saat ini, ia juga tak bisa memaksa Melati untuk kembali pada anaknya.


Kini, sang Ibu hanya bisa meratapi nasib anaknya yang malang. Ia semakin di buat bersalah, karena penyebab Dion seperti sekarang itu adalah dirinya.


Melati memasukkan ponselnya ke dalam tas, ia semakin meyakinkan hatinya untuk berpisah dengan Dion.


"Ayah, kalau kita pindah rumah, bagaimana?" Tanya Melati pada Ayahnya.


Ayah Melati mengerutkan keningnya, kenapa tiba-tiba Melati mengajaknya untuk pindah rumah.


"Pindah rumah? Tapi kenapa, Nak?" Tanyanya.


"Ayah, aku hanya ingin menjauh saja dari masa laluku. Aku ingin suasana baru, kita bisa pindah ke tempat yang lebih sejuk." Melati mencoba untuk membujuk.


Ayah Melati sempat terdiam, sepertinya ia tengah memikirkan keinginan anaknya itu.


"Boleh Ayah pikirkan dulu?" Tanya Ayah Melati.

__ADS_1


Tak ada pilihan selain Melati menyetujui keinginan Ayahnya, ia memberi waktu untuk Ayahnha berpikir.


Setelah semua urusan selesai, Melati bersama sang Ayah kembali pulang.


***


Seminggu setelah itu, Melati tidak lagi mendengar kabar tentang Dion maupun Rissa. Pengadilan juga sudah meresmikan perceraian antara Dion dan Melati, di sebabkan karena Dion yang tidak pernah datang ke persidangan.


Terakhir, Dion di kabarkan mendapat penanganan seriua akan kondisinya. Fisik Dion yang sebelumnya tampak sehat dan bugar, kini berubah kurus seperti tak terurus. Dion juga lebih suka mengurung diri di dalam kamar, Ibu Anna dengan sabar terus memantau kondisi mental anaknya.


Hal yang tidak terduga juga datang dari tempat usahanya, pendapatan Cafe milik Dion turun drastis, Dion juga sudah tidak pernah mengunjungi tempat usahanya itu. Ara yang selama ini bolak balik dari Cafe ke rumah Dion, sekadar untuk melaporkan hasil perharinya.


Sungguh, bak sudah terjatuh tertimpa tangga pula. Kehidupan Dion berubah, peristiwa pahit dalam rumah tangganya telah membuat ia kehilangan akal sehatnya.


Takdir Tuhan memang tidak akan pernah bisa di tebak, bahkan kenyataan selalu tidak sesuai dengan keinginan.


Memiliki keluarga yang harmonis kini hanyalah angan semata bagi Dion dan Melati.


Dua makhluk yang dulunya saling membutuhkan, kini menjadi dua orang asing yang saling melupakan.


Keinginan Melati untuk pindah rumah juga di setujui Ayahnya, kini mereka berdua pindah ke tempat yang lebih tenang. Tentunya tidak ada yang tahu tempat tinggal Melati dan sang Ayah saat ini, bahkan tetangga mereka sekalipun.


Kabar terakhir yang di dapat, Melati mulai bangkit dengan membuka usaha di bidang kuliner. Tampaknya kehidupan Melati sudah mulai membaik, bahkan lebih dari saat ia bersama Dion.


***


Saat menikah Allah melipat gandakan rezeki. Dia menitipkan istri dan anak dalam tanggung jawab kita, maka Dia juga menitipkan rezeki mereka di tangan kita. Jika sebelumnya kita miskin Allah akan mencukupkan rezeki setelah menikah.


"Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian diantara kamu dan orang-orang yang layak (menikah) dari hamba-hamba sahayamu yang laki-laki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan, jika mereka miskin maka Allah akan menjadikannya kaya dari kurniaNya karena Allah itu adalah Maha Luas PemberianNya lagi Maha Mengetahui" (Q.S.An Nur : 32).


Kesuksesan seorang suami tidak terlepas dari dukungan dan doa-doa yang dipanjatkan oleh istrinya.


Istri yang bahagia akan menjadi partner yang mendukung kesuksesan suaminya, menjadikan rumah tangga laksana surga yang dipenuhi rahmat dan kasih sayang.


Sebaliknya istri yang tersakiti akan membuat rumah tangga menjadi muram, jauh dari kasih sayang, penuh pertengkaran seakan seperti neraka. Rumah tangga yang runyam adalah kesukaan setan yang tidak berhenti menggoda sampai terjadi perceraian. Perceraian meskipun halal tapi sangat dibenci Allah. Jika Allah sudah benci dengan kita bagaimana Dia akan menurunkan rezeki dan nikmat kepada kita?


Wahai para suami. Cintailah istrimu. Setia dan sayangi dia yang menjadi tanggung jawabmu. Engkau telah menerima tanggung jawab dari ayahnya saat menikahinya, dan kelak di akhirat engkau akan ditanya Allah tentangnya. Pada detik engkau memperlakukan wanitamu dengan penuh syukur maka perbaikan rezekimu dimulai.


***

__ADS_1


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=TAMAT\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


__ADS_2