
Di rumah sakit, Rissa tengah mendapatkan tindakan. Dengan berat hati, janin yang ada di kandungannya harus di keluarkan sesegera mungkin.
Dengan di dampingi oleh sang mertua, Rissa pasrah menjalani semuanya.
"Sa, kamu siap?" Tanya Dokter Radit.
Rissa hanya bisa mengangguk pasrah, ia tak bisa berbuat banyak dengan apa yang kini tengah menimpanya.
"Sebentar lagi operasinya akan di mulai, kamu tenang, yah. Aku akan berusaha sebaik mungkin demi kamu," tutur Dokter Radit. Perkataannya terdengar sangat tulus, Dokter Radit sangat mengkhawatirkan Rissa saat ini.
Operasi pun segera di langsungkan, kini Rissa tengah tak sadarkan diri.
Di luar ruangan, Ibu Anna menunggu dengan cemas. Kecemasannya pun bertambah ketika Dion tak juga datang menemui mereka, sungguh Ibu Anna di buat kecewa oleh anaknya.
Saat tengah menunggu, tak lama Dion datang. Ia memburu Ibunya yang tengah terduduk lesu, Dion segera duduk di samping Ibunya.
"Bu," ucapnya.
Ibu Anna menoleh, bahkan beliau tak menampakkan ekspresi ramah pada anaknya.
"Buat apa kamu kesini?" Tanya Ibu Anna dengan sinis.
Dion menahan nafasnya, rasanya ia paham dengan sikap yang di tunjukkan oleh Ibunya.
"Bu, aku minta maaf. Aku..."
"Cukup, Yon. Kamu tidak perlu minta maaf sama Ibu, kamu harusnya minta maaf sama istri kamu, Rissa." Ibu Anna menegaskan.
Dion terdiam, ia memang harus meminta maaf pada istri keduanya itu. Terlebih, kondisi Rissa memang tengah memprihatinkan saat ini.
"Rissa bagaimana, Bu?" Tanya Dion.
Ibu Anna menghela nafasnya, sangat berat untuknya kehilangan calon cucu untuk kedua kalinya.
"Rissa sedang melakukan kuret sekarang," jawab Ibu Anna dengan lemah.
Dion mengusap wajahnya kasar, ia sangat menyesali dengan apa yang terjadi pada Rissa.
"Andai ini semua tidak terjadi, mungkin Rissa tidak akan mengalami hal ini. Maafkan aku, Sa. Maafkan Papah, Nak." Dion mengutuk dirinya sendiri, lagi-lagi ia gagal menjaga calon buah hatinya.
***
"Aku telah bertekad untuk tak menanyakan dimana dan bagaimana kamu saat ini, aku memilih untuk tidak peduli, karena aku tidak ingin merasa kecewa dengan apa yang akan ku dengar nanti."
Walau kini Rissa tengah tak sadarkan diri, namun hatinya masih mampu untuk merasakan apa yang terjadi.
Saat ini, ia hanya ingin menenangkan dirinya. Ia tak ingin menuntut apapun dari suaminya, karena ia merasa tak akan ada gunanya untuk sekadar memohon.
Dokter Radit telah menyelesaikan tugasnya, kini ia harus mengabari keluarga Rissa.
Dokter Radit keluar dari ruangan, dan telah di sambut oleh Ibu Anna juga Dion.
"Dit, gimana Rissa?" Tanya Dion.
Dokter Radit membuka maskernya, ia bersiap untuk memberi penjelasan pada Dion.
"Operasi berjalan lancar. Kondisi Rissa juga stabil, hanya saja untuk saat ini dia masih tidak sadarkan diri." Dokter Radit menjelaskan.
Dion dan Ibu Anna sedikit lega, setidaknya satu hal buruk telah di lalui Rissa.
"Kapan kita bisa melihat Rissa, Dok?" Tanya Ibu Anna.
"Mungkin satu atau dua jam lagi, saat ini Rissa membutuhkan waktu untuk beristirahat. Sebentar lagi dia juga akan di pindahkan ke ruang rawat," sahut Dokter Radit.
__ADS_1
Dion dan Ibu Anna menganggukkan kepalanya, mereka harus sabar menunggu kondisi Rissa dan berharap agar pulih dengan cepat.
"Yon, bisa kita bicara?" Tanya Dokter Radit.
Dion mengangguk, "Bu, aku bicara dulu dengan Dokter Radit." Dion meminta izin pada Ibunya, dan sudah pasti Ibu Anna mengizinkan dua pria itu untuk berbicara.
Dokter Radit membawa Dion ke sudut ruangan, ada hal yang sangat ingin dia sampaikan pada Dion.
"Ada apa?" Tanya Dion.
Dokter Radit menatap Dion dengan serius, "ini tentang Rissa."
Dion mengerutkan keningnya, "Rissa? Ada apa dengan Rissa?" Tanya Dion.
"Begini. Maaf kalau aku ikut campur tentang urusan rumah tangga kalian, tapi hal ini memang harus aku sampaikan." Dokter Radit mengawali pembicaraannya.
"Sepertinya aku rasa Melati telah tahu tentang kau dan Rissa, mungkin juga Melati tidak bisa menerima kenyataan. Aku pikir juga, kau terlalu berat pada Melati. Untuk itu, aku memohon dengan sangat padamu, tolong biarkan Rissa memilih kebahagiaannya sendiri." Dokter Radit menambahkan.
Dion terkejut, ia mencerna kemana arah pembicaraan Dokter Radit.
"Tunggu, maksudmu apa? Apa maksud kau untuk aku membiarkan Rissa memilih kebahagiaannya?" Tanya Dion.
Dokter Radit menjawab dengan tegas dan tanpa basa basi, "kau pasti tahu apa maksudku. Tidak mungkin untuk Rissa bertahan dengan laki-laki yang membagi hatinya," sahut Dokter Radit.
Dion tertawa sinis, "oh aku mengerti, jadi maksudmu kau yang lebih pantas untuk Rissa?" Tanya Dion.
"Kenyataan saat ini mungkin bisa mewakili pertanyaan darimu," jawab Dokter Radit.
"Dengar, Dit. Sampai kapanpun aku tidak akan membiarkan Rissa pergi dengan mudah dariku," sahut Dion.
Dokter Radit mengepalkan tangannya, "jadi kau tetap ingin serakah? Kau mengutamakan kepentinganmu, daripada kebahagiaan Rissa?" Tanya Dokter Radit.
"Itu bukan cinta, Yon!" Seru Dokter Radit.
Dokter Radit berbalik, hendak meninggalkan Dion. Namun langkahnya terhenti, dan ia kembali berbalik ke arah Dion.
Lalu ia pergi meninggalkan Dion yang mematung, kali ini Dokter Radit tidak akan tinggal diam.
Dion terdiam, ia mengacak rambutnya dengan kasar.
"Apa yang harus aku lakukan? Aku tidak ingin kehilangan Melati, tapi bagaimana dengan Rissa?"
Dion benar-benar di buat kebingungan, langkah apa yang harus ia ambil saat ini.
***
Sudah hampir dua jam lebih, dan Rissa juga telah berada di ruang rawat.
Ibu Anna dengan sabar menunggu menantunya sadar, walau tubuh rentanya terasa letih saat ini.
"Bu, biar Dion yang jaga Rissa. Ibu istirahat ya," bujuk Dion.
Ibu Anna mengangguk, ia memang harus mengistirahatkan tubuhnya.
"Ibu di sofa, yah. Jaga Rissa," ucap Ibu Anna.
Dion beralih menjaga Rissa, ia duduk di kursi yang berada di samping tempat tidur istrinya.
"Sa..."
Dion mengelus lembut pipi Rissa.
Perlahan, jari lentik Rissa bergerak. Matanya mulai terbuka sedikit demi sedikit, ia tengah mengumpulkan nyawanya.
__ADS_1
Dion menyadari gerakan tangan Rissa, ia segera membantu Rissa untuk mengumpulkan kesadarannya.
"Sa, kamu sudah sadar?" Tanya Dion.
Rissa mulai membuka matanya, ia mengedarkan pandangannya, memperhatikan sekelilingnya.
"Sa," panggil Dion dengan pelan.
Dion dengan cepat memanggil Dokter, ia harus memastikan kondisi istrinya saat ini.
Tak butuh waktu lama, Dokter Radit datang di temani seorang perawat.
"Dit, tolong periksa Rissa."
Dokter Radit mengangguk, dan segera memeriksa kondisi Rissa.
"Sa, apa yang kamu rasakan sekarang?" Tanya Dokter Radit.
"Pusing, Dok." Rissa menjawab dengan lemah.
Dokter Radit mengerti, "itu wajar. Sebentar lagi juga pasti pusingnya hilang."
Rissa mengangguk, "makasih, Dok."
Dion menyela, ia mendekatkan dirinya pada Rissa."
"Sa, gimana kamu sekarang? Sudah enakan?" Tanya Dion.
Rissa diam, ia memilih untuk memalingkan wajahnya dari sang suami.
Dion menyadari kalau Rissa kini tengah kecewa padanya, namun ia tak ingin tinggal diam.
"Sa, kamu kenapa? Kamu marah?" Tanya Dion.
Rissa masih tak menjawab, rasanya ia tak ingin mendengar apapun dari suaminya saat ini.
"Sa..."
"Yon, tolong beri Rissa waktu. Jangan menekannya, dia baru saja sadar." Dokter Radit menambahkan.
Ibu Anna terlalu kelelahan, ia bahkan masih terjaga dalam tidurnya.
"Dit, aku harus bicara dengan istriku!" Seru Dion.
"Tapi, Yon..."
"Tolong keluar!" Pinta Rissa.
Dion dan Dokter Radit menatap Rissa, mereka mempertanyakan siapa yang di minta Rissa untuk keluar.
Namun dengan yakinnya, Dion merasa bahwa Rissa hanya ingin di temani olehnya.
"Kau dengar, Dit? Rissa memintamu keluar, aku suaminya dan sudah pasti kalau yang di minta Rissa untuk tetap disini adalah..."
Ucapan Dion terhenti, ketika Rissa memperjelas permintaannya.
"Dokter Radit tolong, suruh Mas Dion untuk keluar. Aku sedang tidak ingin bertemu dengannya," pinta Rissa, perlahan air matanya menetes.
Dokter Radit melirik ke arah Dion, "aku rasa, aku tidak harus mengulang permintaan istrimu, bukan?" Dokter Radit menyindir dengan halus.
Dada Dion bergemuruh, sejujurnya ia sangat kesal saat ini. Namun, ia harus menahan emosinya demi kesehatan Rissa.
Dengan berat, Dion melangkah pergi keluar ruangan.
__ADS_1
"Sekecewa itu kamu padaku, Sa? Sampai kau tidak ingin melihatku."
Dion merasakan kehancuran yang tak berujung, dalam waktu bersamaan, ia harus kehilangan oleh orang-orang yang di sayanginya.