
Dion tertunduk lesu, berulang kali ia membaca ulang permintaan yang di tuliskan oleh istri keduanya.
"Kenapa rasanya aku enggan untuk menyetujui semua ini," gumam Dion.
Ya, dengan menahan sakit Rissa berusaha menyelesaikan semua permintaan yang di tujukan kepada suaminya.
Dalam surat itu, Rissa menuliskan beberapa hal untuk Dion.
~ *Surat Permohonan ~
Dengan ini aku meminta kepada suamiku untuk menyetujui beberapa hal.
Perlakukan aku layaknya seorang istri.
Hal ini berlaku sampai aku melahirkan seorang anak, hingga usia anak tersebut 6 bulan.
Suamiku boleh meminta haknya padaku.
Aku tidak akan menuntut apapun kepada suamiku
Selama itu aku berharap suamiku dapat berlaku adil.
Setelah aku melahirkan dan anakku berusia 6 bulan, aku mohon ceraikan aku dengan cara yang semestinya*.
Hanya itu saja yang aku permintaanku, aku tunggu persetujuanmu.
Tanda tangan di atas materai yang sudah aku sediakan.
Terimakasih, tertanda, istri keduamu. Rissa.
Dion meremas surat permohonan itu, ia benar-benar bingung harus melakukan apa.
***
Beberapa hari telah berlalu, namun Rissa masih belum mendapat persetujuan dari suaminya.
Ia menunggu dengan sabar, ia juga tidak mendesak Dion tentang permintaannya.
"Bi, biar aku yang siapkan makanannya," ujar Rissa pada Bi Ai.
Bi Ai mengangguk, dan Rissa pun segera menyiapkan makanan untuk semua anggota keluarga.
Tanpa Rissa sadari, Dion telah berdiri di belakangnya. Rissa yang tak mengetahui keberadaan Dion, tanpa sengaja menubruk tubuh suaminya ketika hendak memundurkan langkahnya.
"Astagfirulloh," ucap Rissa yang hampir terjatuh.
Dion dengan sigap menangkap tubuh istrinya, seketika mata mereka beradu untuk persekian detik.
__ADS_1
"Ma-maaf, Mas. Aku tidak sengaja," ucap Rissa sembari kembali berdiri dan sedikit menjauh dari suaminya.
"Tidak apa-apa," sahut Dion sembari menatap istrinya.
"Mbak Melati mana, Mas? Makanan sudah siap," tanya Rissa.
"Melati masih di kamar mandi," jawab Dion singkat. Rissa menganggukkan kepalanya, suasana saat ini terasa canggung. Rissa berniat untuk pergi ke dapur, menghindari suaminya yang dirasa bersikap dingin padanya.
Rissa terkejut ketika Dion menahan lengannya, ia segera menepis dan berbalik kearah Dion lagi.
"Mas, kalau Mbak Melati lihat bagaimana?" Sontak pertanyaan itu keluar dari mulut Rissa.
Dion masih terlihat datar, "kenapa memangnya kalau Melati lihat?" Tanyanya.
Rissa mengerutkan keningnya, ia merasa aneh dengan sikap suaminya.
"Kenapa Mas Dion santai sekali menanggapi ucapanku?" Batin Rissa bertanya-tanya.
Ia tak mengungkapkan rasa penasarannya, Rissa segera berlalu menuju dapur meninggalkan Dion yang masih menatapnya.
"Aku punya cara sendiri untuk menyikapi permintaanmu, Sa." Dion bergumam.
"Mas!"
Dion terkejut, Melati tiba-tiba saja menepuknya dari belakang.
Melihat suaminya terperanjat, Melati bisa menyimpulkan kalau suaminya tengah melamun.
"Kenapa berdiri disini?" Tanya Melati.
Di balik pintu dapur, Rissa mendengar percakapan antara suami juga madunya.
"Ternyata kamu terlihat santai di depanku, nyatanya baru begitu saja kamu sudah gugup didepan Mbak Melati, Mas."
Rissa kembali keluar dari dapur, membawakan minuman untuk Dion dan Melati.
"Sarapan dulu Mbak, Mas," pinta Rissa.
Melati mengangguk, dan mendudukkan tubuhnya dikursi. Ia juga mengajak Rissa dan Bi Ai untuk sarapan bersama.
Ketika semua tengah menikmati makanan masing-masing, tiba-tiba saja ponsel Rissa berbunyi.
"Maaf, aku izin mengangkat telepon."
Dion dan Melati mengizinkan, dan Rissa pun mengangkat panggilan teleponnya saat itu juga.
"Halo assalamu'allaikum, maaf ini siapa, yah?" Tanya Rissa. Ia tak mengenali nomor yang menghubunginya itu.
"Wa'allaikumsalam. Ini aku, Radit." Seseorang menjawab di balik ponsel.
"Radit? Apa ini Dokter Radit?" Tanya Rissa memastikan.
__ADS_1
"Ya, aku Dokter Radit. Tapi kamu panggil aku Radit saja," pinta Dokter Radit.
"Oh, iya baiklah. Maaf, ada apa Dokter meneleponku?" Tanya Rissa. Ia masih canggung jika harus memanggil Dokter Radit tanpa gelar yang di sandangnya.
"Ah ini aku hanya ingin tahu kabarmu saja. Emm, apa aku mengganggu?" Tanya Dokter Radit.
"Oh, begitu. Aku baik, Dok. Emm, apa ada hal lain yang ingin di bicarakan, Dok? Kebetulan aku sedang dimeja makan bersama Mas Dion dan Mbak Melati, tidak enak jika mengganggu sarapan mereka." Rissa menuturkan.
"Oh, Melati sudah ada di rumahnya? Kalau begitu aku akan datang berkunjung, maaf kalau sudah menggangu kamu, Sa."
"Iya tidak apa-apa, Dok. Nanti saya sampaikan ke Mbak Melati kalau Dokter mau kesini," ucap Rissa.
"Terimakasih, ya sudah kalai begitu. Assalamuallaikum," ucap Dokter Radit. Ia menyudahi panggilannya kepada Rissa.
Rissa segera menaruh kembali ponsel miliknya, dan beralih menatap Melati.
"Mbak, kata Dokter Radit dia mau datang mengunjungi Mbak." Rissa menyampaikan niat Dokter Radit.
"Benarkah? Tumben dia mau datang berkunjung." Melati mengira-ngira niat Dokter Radit yang sebenarnya.
"Apa jangan-jangan dia hanya modus, Sa." Melati Menambahkan.
"Modus? Bagaimana maksud, Mbak?" Tanya Rissa.
"Iya, modus. Pura-pura bilang mau datang mengunjungiku padahal sebenarnya dia mau ketemu sama kamu," tebak Melati.
Entah mengapa, tiba-tiba Dion tersedak. Semua beralih menatap Dion, dan Melati dengan cepat membantu suaminya yang tengah terbatuk.
"Hati-hati, Mas." Melati menepuk punggung suaminya.
Dion menghela nafasnya, sedari tadi ia benar-benar tidak nyaman mendengar istri keduanya yang tengah menerima panggilan telepon dari lelaki lain.
"Rissa apaan sih, kenapa dia bisa kenal dengan Dokter Radit. Dan darimana Dokter Radit tahu nomor Rissa?"
Dion benar-benar merasa kesal.
"Sejak kapan kamu kenal dengan Dokter Radit?" Tanya Dion dengan raut wajah tak terbaca.
Melati melirik suaminya, untuk apa juga Dion menanyakan hal pribadi Rissa.
"Emm kemarin Dokter Radit kerumah, untuk melihat kondisi Mbak Melati. Karena Mbak Melati tidak ada di rumah, jadi Dokter Radit meminta nomorku. Katanya sih biar bisa memberi kabar kalau nanti beliau mau datang lagi." Rissa menjelaskan.
"Tuhkan benar kataku, dia itu punya niat terselubung sama kamu, Sa." Melati kembali berasumsi.
Dion bertambah kesal, dengan cepat ia menyudahi acara makannya.
"Aku sudah selesai, aku ke kamar dulu, yah." Dion berpamitan. Hatinya benar-benar panas saat ini, namun ia tak bisa meluapkan kekesalannya saat itu juga.
Rissa dan Melati juga Bi Ai yang sedari tadi hanya jadi penonton, menatap punggung Dion yang meninggalkan meja makan tanpa menghabiskan makanannya terlebih dulu.
"Mas Dion kenapa?" Tanya Rissa dalam hati.
__ADS_1
"Waduh, kayaknya ada yang cemburu." Bi Ai bergumam dalam batinnya.
Melati juga merasa aneh dengan sikap suaminya, namun ia lebih tertarik dengan niatan Dokter Radit kepada Rissa. Melati bahkan sempat terlintas untuk mendekatkan Rissa dengan Dokter Radit, mengingat Dokter Radit adalah lelaki baik. Melati sudah mengenal Dokter Radit lumayan lama, dan Melati rasa Rissa dengan Dokter Radit memiliki kecocokan.