
Hari ini Dion kembali berangkat bekerja, dan pemandangan meja makan pagi itu terasa sangat baru.
Kini semua penghuni rumah berkumpul bersama, melaksanakan sarapan pagi.
"Oh iya Mas, kapan mau antar aku ke rumah sakit?" Tanya Melati.
Dion yang tengah mengunyah seketika tersedak, lagi-lagi dengan spontan Rissa dan Melati menyodorkan segelas air secara bersamaan pada suami mereka.
Melati dan Rissa menatap satu sama lain, dan sudah jelas gelas mana yang akan Dion ambil. Ya, Dion mengambil gelas dari tangan Melati.
Seperti biasa, Rissa menelan pil pahit kembali.
"Kenapa aku ini, selalu saja tidak bisa menahan diri."
"Kalau makan hati-hati, Mas."
Dion mengangguk, "iya."
"Memangnya rencana program bayi tabung tidak bisa di tunda dulu, sayang?" Tanya Dion.
Melati menatap suaminya dengan tidak suka, "kenapa harus di tunda? Kamu tidak mau memangnya kita segera punya anak?" Tanyanya dengan nada kesal.
Dion membujuk, "bukan begitu maksud Mas. Maaf kalau Mas salah bicara," ucapnya.
"Pokoknya aku tidak mau menunda lagi, aku ingin segera hamil, Mas." Melati merajuk.
Bi Ai dan Rissa hanya diam, mereka tak ingin ikut menimpali urusan percakapan Dion dan Melati.
"Kalau Mas tidak mau mengantarku, aku akan pergi di temani Rissa saja." Melati menambahkan.
Rissa mengangkat wajahnya, menatap Melati dengan bingung. Rissa sekilas melirik suaminya, mengisyaratkan untuk meminta bantuan. Ia tak tahu harus berbuat apa, terlebih Rissa mengetahui kondisi Melati yang sebenarnya.
"Kamu mau kan temani aku ke rumah sakit, Sa?" Tanya Melati.
"Emm, i-iya, Mbak." Rissa menjawab seadanya.
Dion melirik ke arah Rissa, ia tampak mencari cara untuk mengajak istri keduanya berkompromi.
"Aku harus berbicara tentang ini pada Rissa," gumam Dion dalam hatinya.
***
Dion berpamitan pada Melati, setelah itu ia segera berangkat ke cafe.
Rissa hanya bisa memandang suaminya di balik jendela rumah, ia hanya bisa mendoakan Dion dalam diam.
Dari jauh Bi Ai memperhatikan majikannya itu, ia merasa kasihan pada Rissa.
"Sabar ya, Non. Bibi yakin suatu saat Non Rissa juga akan bahagia," ucap Bi Ai dalam hatinya.
Setelah keluar dari komplek rumahnya, Dion menepikan mobilnya terlebih dulu.
Ia mengambil ponselnya, dan berniat untuk memberi pesan pada Rissa.
"Sa, aku minta tolong. Kalau Melati mengajakmu ke rumah sakit, bawa dia ke rumah sakit yang sudah aku tentukan. Jangan banyak bertanya, ikuti saja apa yang aku katakan. Kamu hanya cukup mengantar Melati saja, jangan banyak menyarankan apapun pada Melati. Aku akan kirim alamat rumah sakitnya padamu, kalian hati-hati di jalan." _Dion.
Pesan terlah terkirim, Dion berharap Rissa bisa membantunya dengan baik.
Setelah mengirim alamat Rumah sakit pilihannya, Dion segera kembali menyalakan mobilnya melaju menuju cafe.
Di rumah, Rissa yang baru saja selesai beres-beres telah di hampiri oleh Melati.
"Sa, antar aku ke rumah sakit."
__ADS_1
Rissa terpaksa mengangguk, dan meminta izin untuk bersiap-siap.
Tidak ingin Melati menunggu lama, Rissa bersiap dengan tergesa.
"Ayo, Mbak."
Melati mengangguk, dan segera pergi bersama Rissa.
Di depan rumah, taksi yang telah di pesan Melati sudah menunggu.
Taksi pun melaju dengan kecepatan sedang, setelah Rissa dan Melati masuk ke dalamnya.
"Kita mau kemana, Mbak?" Tanya supir taksi.
"Jalan saja dulu, Pak. Nanti saya tunjukkan arahnya," pinta Melati.
Rissa membuka tasnya, berniat untuk mengambil ponselnya. Namun, Rissa tak dapat menemukan ponsel miliknya di dalam tas.
"Kenapa, Sa?" Tanya Melati.
"Ponselku ketinggalan Mbak," sahut Rissa.
"Lalu bagaimana? Mau putar balik?" Tanya Melati.
Rissa sebenarnya membutuhkan ponselnya, ia berniat untuk mengubungi Dion dan menanyakan apa yang harus dilakukannya. Namun, ia juga merasa tidak enak jika harus meminta untuk pitar balik.
"Tidak usah, Mbak. Tidak apa-apa kok," tolak Rissa.
"Kalau mau putar balik juga tidak apa, Sa. Takutnya ada yang menghubungimu," ujar Melati.
Rissa menggelengkan kepalanya, "tidak usah Mbak," jawabnya.
Melati menganggukkan kepalanya, "ya sudah kalau begitu."
***
"Ya ampun, kenapa Rissa tidak membaca pesan dariku." Dion tampak kebingungan.
Jika satu jam kedepan Rissa tak juga membalas pesannya, ia berniat untuk kembali menyusul istri-istrinya.
Namun, ia juga sedikit dilema karena melihat kondisi cafe yang ramai pengunjung.
"Berpikir positif, Yon. Semua pasti akan baik-baik saja," ucapnya. Berusaha untuk menenangkan hatinya yang jelas tengah gusar.
"Mbak, kita ke rumah sakit ini?" Tanya Rissa setelah turun dari taksi.
"Iya, Sa. Aku punya kenalan dokter kandungan disini," jawab Melati.
Rissa mengangguk, dalam hatinya ia merasa takut.
"Ponselku ketinggalan, tadinya aku ingin menanyakan pada Mas Dion apa yang harus aku lakukan. Bagaimana kalau Mbak Melati tahu yang sebenarnya."
"Mbak... Apa tidak sebaiknya Mbak menelepon Mas Dion dulu?" Tanya Rissa. Ia berusaha mengulur waktu.
Melati terdiam, "kamu benar juga. Ya sudah, aku coba hubungi Mas Dion dulu," ujar Melati.
Melati kini tengah menghubungi suaminya, sesuai dengan apa yang Rissa harapkan.
"Semoga Mas Dion bisa mencegah Mbak Melati. Aku benar-benar takut jika semuanya terbongkar," gumam Rissa dalam hatinya.
"Halo, Mas." Melati menyapa.
"Iya, sayang. Ada apa?" Tanya Dion di balik ponsel.
__ADS_1
"Aku cuma mau kasih tahu, kalau sekarang aku sudah ada di Rumah sakit X bersama Rissa." Melati menuturkan.
"Apa? Kenapa kamu pergi ke Rumah sakit X"? Tanya Dion dengan terkejut.
"Loh, kenapa memangnya, Mas? Aku punya kenalan Dokter kandungan disini, aku sudah membuat janji, jadi tidak usah mengantri."
Dion menutup sambungan teleponnya, dan segera melaju menuju rumah sakit dimana istrinya akan berkonsultasi.
"Rissa kenapa tidak mencegah Melati! Astaga, bagaimana kalau Melati tahu yang sebenarnya?" Dion tampak begitu ketakutan. Dengan terburu-buru, Dion segera meninggalkan cafe.
"Gimana, Mbak?" Tanya Rissa dengan was-was.
"Mas Dion mematikan teleponku, dia juga seperti terkejut mendengar aku pergi ke rumah sakit ini." Melati menjawab.
"Apa yang harus aku lakukan, Mas Dion pasti sekarang menyusul kesini." Rissa mencari cara.
"Mbak, gimana kalau kita tunggu Mas Dion dulu?" Rissa menyarankan, mencoba untuk menahan Melati.
"Kenapa harus menunggu Mas Dion? Aku ingin segera masuk, Sa. Lagipula kita bisa menunggu Mas Dion sembari berkonsultasi, kan."
Rissa kehilangan akal, ia bingung harus menjawab apa. Melati kini berjalan masuk ke dalam rumah sakit, Rissa dengan cepat menyusul madunya.
"Ya Allah bagaimana ini?" Rissa benar-benar kebingungan.
"Mbak, sebaiknya kita tunggu Mas Dion disini dulu. Biar Mas Dion juga tahu perkembangan Mbak Melati," bujuk Rissa.
"Tidak usah di tunggu, Sa. Lagipula Mas Dion tidak bilang mau kesini, kok." Melati menukas.
"Tapi, Mbak..."
"Sudah ah, kita masuk. Dokter Radit pasti sudah menunggu," ajak Melati.
Melati berjalan sembari menyeret Rissa masuk ke dalam ruangan, dengan perasaan takut Rissa mengikuti langkah kaki madunya.
"Mas, cepat datang. Aku harus bagaimana?" Rissa berharap suaminya datang tepat waktu.
***
Melati telah masuk ke dalam ruangan, sedangkan Rissa ia memilih untuk menunggu di luar.
Dengan cemas, ia menanti kedatangan suaminya.
Di dalam ruangan, Melati tengah berkonsultasi pada Dokter kenalannya.
"Dokter Radit, aku ingin program bayi tabung." Melati mengutarakan maksudnya. Ia memang sudah mengenal Dokter Radit sebelumnya, jadi wajar jika saat ini mereka tak terlihat formal.
Dokter Radit menganggukkan kepalanya, dan hendak menjelaskan terlebih dulu tentang program tersebut.
"Bayi tabung atau in fitro vertilization (IVF) merupakan suatu pilihan alternatif bagi seorang wanita yang ingin punya anak. Bayi tabung dilakukan dengan cara menggabungkan telur dan ****** di luar tubuh. Kemudian, sel telur yang sudah dibuahi dan sudah dalam fase siap akan dipindahkan ke dalam rahim wanita. Begitulah penjelasan sederhana tentang bayi tabung." Dokter Radit menjelaskan.
"Nah, untuk sekarang mungkin saya harus periksa dulu kondisi rahim kamu, Mel." Dokter Radit menambahkan.
Melati mengangguk, dan mengikuti Dokter Radit yang menyuruhnya untuk berbaring di ranjang yang telah di sediakan.
Setelah melihat Melati siap, Dokter Radit segera melakukan tindakan ultrasonografi atau yang lebih di kenal dengan USG.
Raut wajah Dokter Radit seketika berubah, mendapati kondisi Melati saat ini.
"Loh, kok..." Dokter Radit mengulang tindakannya.
"Kenapa Dok?" Tanya Melati dengan penasaran.
Dokter Radit terdiam, menatap Melati dengan penuh keseriusan.
__ADS_1
Melati yang melihat ekspresi Dokter Radit, sontak di buat penasaran olehnya.