Dua Cincin

Dua Cincin
Dilema Rissa


__ADS_3

Dion berdiri, nafasnya bergemuruh. Tatapannya masih tajam menuju Rissa, sang ibu juga ikut berdiri mensejajarkan tubuhnya.


"Apa Ibu yakin ingin memilih dia?" Tanya Dion.


"Ibu sangat yakin, Rissa anak yang baik. Dan dia memperlakukan Ibu dengan sangat baik," jawab Ibu Anna penuh penekanan.


"Kenapa harus dia? Apa tidak ada yang lebih baik, yang sederajat dengan kita?" Tanya Dion.


"Cukup, Dion. Ibu tidak pernah mengajarkanmu untuk berbicara tidak pantas seperti itu!" Seru Ibu Anna.


"Bu, bagaimana aku tidak bicara seperti itu. Dia, wanita yang tidak jelas asal usulnya. Keluarganya saja tidak tahu seperti apa," sahut Dion.


Rissa menatap Dion dengan kesal, ia tak bisa hanya tinggal diam seperti ini lagi.


"Maaf, Pak Dion yang terhormat. Saya sadar siapa saya, dan saya juga tahu saya tidak sebanding dengan kalian. Tapi satu yang harus anda tahu, jangan pernah bawa-bawa keluarga saya. Anda kira saya mau menerima usulan ini? Bahkan saya sendiri tidak tahu apapun tentang apa permasalahan Ibu dan Pak Dion!" Seru Rissa sembari menahan air matanya yang mulai merembas.


"Halah, jangan pura-pura polos. Kamu pasti sengaja kan membujuk Ibu untuk memintaku menikah lagi lalu Ibu tidak memiliki pilihan dan lalu memilihmu!" Seru Dion.


"Dion cukup, Ibu bilang cukup! Rissa tidak tahu apapun, Ibu bahkan belum membicarakan duduk perkaranya pada Rissa." Ibu Anna benar-benar marah melihat sikap anaknya yang mulai kasar.


Tiba-tiba saja, Ibu Anna memegangi dadanya. Nafasnya tersengal, matanya mulai terpejam menahan rasa sakit.


"Bu, Ibu kenapa?" Tanya Rissa sembari memegangi tubuh majikannya.


Dion pun ikut panik, terlebih ketika melihat sang ibu yang mulai kehilangan kesadarannya.


"Astagfirulloh, Bu." Dion panik.


Ia langsung menidurkan Ibunya di atas sofa, dan meminta Rissa untuk membawakan minyak hangat.


Rissa berlari kearah dapur, mencari kotak kesehatan.


Setelah mendapat apa yang ia cari, Rissa lembali berlari menghampiri Dion dan majikannya.


"Bu, sadar, Bu." Dion mengusapkan minyak hangat pada kening ibunya.


Sayup-sayup Dion mendengar suara lirih sang ibu, "Ibu hanya ingin kamu bahagia, Nak. Ibu juga ingin segera punya cucu," ucapnya dengan lemah.


Dion menangis, ia memeluk ibunya sembari meminta maaf.

__ADS_1


"Bu, maafin Dion. Maaf gara-gara Dion Ibu jadi seperti ini."


***


Sebulan setelah kejadian itu, Ibu Dion jatuh sakit. Hal itu mengharuskan Dion untuk bolak-balik menjenguk Ibunya, dan tanpa Dion sadari, ia hampir tak pernah menanyakan lagi tentang rencana istrinya untuk program bayi tabung.


Melati yang merasa perhatian suaminya berkurang, sebisa mungkin tetap menahan dirinya agar tampak seperti biasa.


Namun, sesekali ia juga merasa kesal karena Dion tak lagi seperti biasanya.


"Besok sudah harus kontrol lagi," gumam Melati sembari menaruh majalah yang sedari tadi ia baca ke atas meja.


Melati melihat Dion yang hendak berjalan mendekatinya, suaminya telah rapih dengan pakaian kerjanya.


"Sayang, aku berangkat dulu." Dion mengecup pelan kening istrinya, lalu berlalu meninggalkanya.


"Mas," panggil Melati membuat Dion menghentikan langkahnya.


"Iya, kenapa?" Tanya Dion.


Melati berjalan mendekati suaminya, wajahnya menampakkan raut kekesalan.


Dion menganggukkan kepalanya, tanpa mengeluarkan suara.


"Hemm, memangnya tidak ada orang yang jagain Ibu?" Tanya Melati lagi.


Dion menyipitkan matanya, mencerna pertanyaan istrinya.


"Ada, tapi kan aku juga harus memastikan kondisi Ibu secara langsung."


Melati menghembuskan nafasnya, "akhir-akhir ini kamu berubah," akhirnya Melati mengungkapkan apa yang selama ini dipendamnya.


"Berubah bagaimana maksudnya?" Tanya Dion.


Melati menatap mata suaminya, "kamu lebih mementingkan Ibumu, dan lupa padaku." Melati merengek.


Dion terperangah, ia tak habis pikir dengan perkataan yang baru saja istrinya katakan.


"Mel, jelas aku mementingkan Ibu. Beliau sakit sekarang," sahut Dion dengan sedikit kesal.

__ADS_1


"Tapi aku juga butuh perhatianmu, bahkan belakangan ini kamu tidak pernah menggubris kalau aku membahas soal keinginanku untuk program bayi tabung. Sebenarnya kamu itu mau gak sih aku cepat hamil lagi?" Tanya Melati, emosinya mulai naik.


"Mel, sudah yah aku gak mau bertengkar pagi-pagi. Satu lagi, selama Ibu belum sembuh aku tetap akan mengunjungi Ibu setiap hari," jawab Dion.


"Aku pergi dulu," imbuhnya sembari berjalan menuju mobil.


Melati menghentakkan kakinya ke lantai, ia kesal karena Dion malah balik memarahinya.


"Kalau begitu, aku bakalan pergi sendiri ke rumah sakit untuk konsultasi. Pokoknya aku mau program itu, biarlah Mas Dion mau menemani aku ataupun tidak." Melati bertekad dalam hatinya.


***


Di kediaman Ibu Dion, Rissa tengah menyuapi wanita paruh baya itu dengan sangat telaten.


"Makan yang banyak yah, Bu. Biar cepat sehat." Rissa menyarankan.


Ibu Anna mengangguk, lalu ia meminta Rissa untuk membantunya bangun.


"Ris," ucap Ibu Anna.


"Iya kenapa, Bu?" Tanya Rissa dengan lembut.


"Maafin Ibu soal kejadian waktu itu," ujarnya.


Rissa tersenyum tipis, "Bu, maaf sebelumnya. Bukannya Rissa tidak tahu terimakasih, atau bersikap tegas sama Ibu. Tapi, Rissa pikir soal pemintaan Ibu dan mertua Pak Dion itu tidak bisa Rissa turuti," jawab Rissa dengan hati-hati.


Ibu Anna menampakkan raut kecewanya, "kenapa? Rissa, walaupun nantinya kamu adalah istri kedua Dion, tapi Ibu akan memperlakukan kamu dengan baik, kok." Ibu Anna mencoba untuk membujuk.


Rissa menundukkan wajahnya, sekilas ia teringat dengan semua kebaikan yang Ibu Anna telah lakukan untuknya bahkan untuk panti asuhan tempatnya tinggal dulu.


"Tanpa harus menjadi Ibu mertua pun, Ibu sudah sangat baik pada Rissa. Tetapi untuk Pak Dion, Rissa tidak yakin beliau akan menerima Rissa, Bu."


"Ibu yakin Dion bisa bersikap baik juga padamu. Sa, anggap saja permintaan Ibu ini adalah yang terakhir." Ibu Anna pasrah.


Rissa mengangkat kepalanya lagi, "Bu, jangan bicara seperti itu."


"Jika kamu menyetujui keinginan Ibu, anggap saja itu sebagai balas jasa yang selama ini ingin kamu lakukan pada Ibu."


Rissa tertegun, apa yang di katakan oleh majikannya memang benar. Terlalu banyak kebaikan yang telah beliau berikan padanya, bahkan Rissa sendiri sempat berjanji pada dirinya untuk berbakti kepada Ibu Anna. Berkat kebaikan Ibu Anna, Rissa dan penghuni panti asuhan dapat hidup dengan layak. Ibu Anna selalu memberikan donasi setiap bulan pada panti, beliau juga menjamin pemeriksaan kesehatan anak-anak panti dengan teratur. Hal itulah yang membuat Rissa bertekad untuk membalas jasa Ibu Anna. Tetapi jika pemintaan majikannya itu adalah syarat untuk membalas jasa, Rissa pikir itu terlalu sulit untuknya. Terlebih melihat sikap Dion kepadanya, akan seperti apa jadinya rumah tangganya nanti. Sungguh hal yang tak pernah ia duga akan terjadi dalam hidupnya.

__ADS_1


Menjadi istri kedua itu bukan hal yang mudah, terlebih apa yang akan di katakan orang-orang terhadap statusnya itu.


__ADS_2