
Hari ini, Rissa tengah mempersiapkan sarapan untuk Ibu dan suaminya.
Dion dan Ibu Anna telah siap menunggu di meja makan, sesekali mereka juga terdengar tertawa bersama.
"Oh iya, Yon. Kamu berencana mau liburan kemana?" Tanya Ibu Anna.
"Liburan? Liburan kemana, Bu? Lagipula Melati belum mengusulkan untuk pergi liburan," jawab Dion dengan santai.
Ketika itu Rissa tengah menaruh makanan diatas meja makan, ia juga mendengar perbincangan Ibu mertua juga suaminya.
"Kok Melati, Ibu kan sedang membicarakan acara liburan kamu sama Rissa." Ibu Anna memperjelas.
Rissa terdiam, begitu juga Dion. Ia lupa kalau sekarang ia memiliki dua istri.
"Maaf, Bu. Aku lupa kalau ada Rissa," sahut Dion.
Rissa memalingkan wajahnya, berusaha untuk tidak menampakkan kekecewaannya.
"Tidak apa, kamu nanti akan terbiasa. Sa, udah siap sarapannya?" Tanya Ibu Anna.
"Sudah, Bu."
"Ya sudah, kita sarapan sekarang."
Rissa mengangguk dan duduk di kursi, ia memilih untuk duduk di sebelah Ibu mertuanya.
"Kenapa duduk disini?" Tanya Ibu Anna.
Rissa kebingungan, "kenapa memangnya, Bu?" Tanyanya.
Ibu Anna menghela nafasnya, ia harus lebih berusaha keras untuk mendekatkan Rissa dan Dion.
"Duduk di samping suamimu," pinta Ibu Anna.
Dion dan Rissa saling bertatap satu sama lain, lalu ia segera pindah duduk di samping suaminya.
Rissa mengambilkan nasi untuk Ibu mertuanya, lalu ia berniat untuk melakukan hal yang sama pada suaminya.
"Tidak usah, biar aku saja." Dion menolak, dan meraih piring yang tengah Rissa pegang.
Rissa tak berkutik, ia memilih untuk diam.
"Kuat, Sa. Kamu pasti kuat," ucap Rissa pada dirinya sendiri.
***
Selesai sarapan, Dion memilih untuk duduk santai di taman belakang rumah Ibunya.
Ibu Anna sengaja meminta Dion untuk cuti bekerja beberapa hari, tentunya hal itu beliau lakukan agar Dion dan Rissa semakin memiliki waktu bersama.
Rissa tengah membuatkan kopi untuk suaminya, ketika ia berjalan mendekati Dion, tanpa sengaja ia mendengar percakapan Dion dengan seseorang di balik ponsel.
"Iya sayang, aku pasti jemput kamu besok. Kamu baik-baik kan rumah Ibu?" Tanya Dion pada Melati di dalam sambungan telepon.
Rissa mendengar ucapan manis Dion pada istri pertamanya, tentunya hal itu membuatnya sedikit iri.
Rissa berjalan mendekati Dion, dan menaruh kopi di meja samping Dion.
"Sayang, sudah dulu, yah. Mas ada urusan," ujar Dion.
Dion melirik kearah Rissa, dan menyuruhnya untuk duduk.
__ADS_1
"Kamu mendengar percakapanku dengan Melati?" Tanya Dion, dan Rissa hanya mengangguk.
"Bagus kalau begitu, jadi tidak ada yang harus aku tutupi. Kau pasti tahu bagaimana perasaanku pada Melati, jadi aku minta maaf jika tidak bisa..."
"Aku mengerti, Mas. Aku tidak keberatan jika kau bersikap manis pada Mbak Melati, karena itu memang kewajibanmu. Aku harus ke dapur, permisi."
Rissa memilih untuk menyela ucapan suaminya, rasanya ia tak sanggup jika mendengar kalimat yang menyatakan bahwa suaminya tak dapat bersikap manis seperti itu padanya.
Dion paham akan sikap Rissa, ia juga sebenarnya tak ingin berada di posisi sekarang ini.
"Yon, Ibu mau bicara." Ibu Anna membuyarkan lamunan Dion.
"Ada apa, Bu?" Tanya Dion.
Ibu Anna kini duduk di samping anaknya, "kayaknya kamu harus bawa Rissa pindah," ucapnya.
Dion terkejut, "pindah? Rissa kan disini buat jagain Ibu."
Ibu Anna menghembuskan nafasnya, ia memang sudah nyaman dengan Rissa. Namun, ia juga ingin lebih mendekatkan Dion pada Rissa.
"Ibu tidak apa-apa, ada Bibi kamu juga yang dari Bekasi mau ngerawat Ibu. Bibimu butuh kerjaan buat bantuin suaminya, jadi Ibu pikir sekalian meringankan beban mereka juga. Daripada harus cari orang lain, lagipula Rissa sekarang istrimu. Dia memiliki kewajiban untuk lebih mementingkanmu," tutur Ibu Anna.
Dion berpikir sejenak, ia juga kebingungan harus mencari tempat tinggal untuk Rissa dimana.
"Bu, tapi Dion tidak tahu akan mencari tempat tinggal dimana."
"Kalau Rissa dan Melati terpisah rumah, bagaimana aku bisa membagi waktuku nanti?" Tanya Dion.
Ibu Anna sejenak berpikir, "ya sudah kalau begitu dibuat satu rumah saja."
Dion terkejut, ucapan Ibunya tak bisa ia terima begitu saja.
"Satu rumah? Itu namanya aku bunuh diri!" Seru Dion.
Dion menghembuskan nafasnya dengan kasar, ia benar-benar dibuat pusing dengan keadaan.
"Aku bisa tinggal di rumah Mas sebagai pembantu," sela Rissa yang berjalan mendekati Dion dan Ibu Anna.
"Pembantu?"
Dion dan Ibu Anna terkejut.
"Iya, Rissa tidak apa-apa kok, Bu. Setidaknya kalau satu rumah Rissa masih bisa melakukan kewajiban Rissa sebagai istri, walaupun harus menjadi pembantu."
Ibu Anna dan Dion terdiam, mereka sama-sama tengah mencerna perkataan Rissa.
"Ibu setuju, dengan satu syarat."
"Apa itu?" Tanya Dion.
"Bi Ai harus tahu tentang status Rissa, dan kamu atau Melati jangan memperlakukan Rissa sebagaimana pembantu. Kalian harus bersikap baik pada Rissa," ujar Ibu Anna.
"Gimana caranya, Bu? Melati tahunya kan Rissa pembantu," tanya Dion.
"Ya kau cari alasanlah," sahut Ibu Anna.
Dion menyerah, ia pasrah dengan apa yang Ibunya kehendaki.
Di sisi lain, ia juga merasa tidak enak menjadikan Rissa pembantu di rumahnya. Tapi apa daya, keadaan yang memaksa mereka untuk melakukan ini.
***
__ADS_1
Hari ini Dion bersiap untuk menjemput Melati, ia juga sudah rindu pada istrinya itu.
Dion tengah merapihkan pakaiannya, sedangkan Rissa sedang menyiapkan sarapan untuk suaminya.
Dion menuruni anak tangga, hendak berpamitan kepada Ibu, juga Rissa.
"Bu, aku pulang dulu, yah."
"Iya, Yon. Hati-hati di jalan. Dan jangan lupa soal rencana kita," ujar Ibu Anna.
Yang di maksud Ibu Anna pasti tentang kepindahan Rissa, ia masih menunggu persetujuan dari Dion.
"Baik, Bu. Akan Dion pikirkan," jawab Dion.
"Bu, Mas, sarapan dulu."
"Aku sarapan di jalan saja," jawab Dion dan langsung mencium punggung tangan Ibunya.
Rissa yang melihat Dion berjalan keluar rumah, segera berlari kearah dapur.
Dion kini tengah memanaskan mesin mobilnya, ia juga menyempatkan untuk memberi kabar pada istrinya.
Selesai itu, Dion lekas masuk ke dalam mobil dan mengeluarkannya dari halaman rumah.
"Mas tunggu," pinta Rissa sembari berteriak menghentikan mobil Dion yang hendak melaju.
"Ada apa lagi?" Tanya Dion.
"Ini," Rissa menyodorkan sebuah kotak makan kepada Dion.
"Kau pikir aku anak kecil di beri bekal segala? Aku bisa beli di jalan," jawab Dion.
"Tapi jajanan di luar belum tentu sehat, Mas."
Dion merasa kesal, dan langsung mengambil kotak bekal itu dengan kasar.
"Aku pergi dulu," ucapnya sembari menancap gas mobil.
Rissa memandangi mobil suaminya yang melaju kencang, setidaknya ia bersyukur Dion mau mengambil bekal yang telah di siapkannya.
"Hati-hati," ucap Rissa pelan.
Walaupun ia juga tidak menyukai sikap Dion, tetapi Rissa juga harus melakukan kewajibannya sebagai seorang istri.
Rissa percaya, sabarnya pasti akan berbuah manis suatu saat nanti.
"Hah, seperti ini yah jadi istri yang tidak di anggap. Ya sudah terima sajalah, Sa. Toh kan kamu yang buat keputusan," ucapnya pada diri sendiri.
Rissa kembali masuk ke dalam rumah, melanjutkan lagi kegiatannya sebagai ibu rumah tangga.
"Sa, kamu baik-baik saja?" Tanya Ibu Anna.
Rissa duduk, mensejajarkan tubuhnya dengan sang majikan yang kini telah menjadi Ibu mertuanya.
"Rissa baik, Bu. Memangnya Rissa kelihatan tidak sehat?" Tanya Rissa, mencoba mengalihkan pembicaraan sang Ibu mertua.
Ibu Anna menatap dalam mata menantunya itu, ia paham betul akan perasaan Rissa saat ini.
"Sabar, Sa. Ibu yakin suatu hari Dion pasti bisa menerimamu," ucap Ibu Anna, membesarkan hati menantunya.
Rissa mengangguk, ia mencoba untuk menerima ucapan Ibu mertuanya.
__ADS_1
"Kalaupun suatu hari Mas Dion bisa menerimaku, aku tidak yakin dengan Mbak Melati. Istri mana yang mau berbagi suami dengan wanita lain," hati Rissa mengatakan sebuah kenyataan.
Rissa mengajak Ibu mertuanya untuk menonton televisi, menghabiskan harinya dengan merawat dan melayani sang Ibu mertua. Hanya itu obat untuk membuat hatinya lebih legowo, setidaknya masih ada Ibu Anna yang selalu mendukungnya.