
Sebagian akan berpendapat bahwa tidak mengapa jika orangtua ikut campur pada urusan rumah tangga anaknya, asalkan itu dalam segi kebaikan.
Namun kerap kali niatan baik seorang mertua, tidak selalu bisa di terima begitu saja. Terlebih jika sudah kelewat batas, dan malah membuat perpecahan antara anak atau menantu.
Memang sejatinya bahwa seorang anak laki-laki harus lebih berbakti pada Ibunya, namun bukan berarti seorang anak laki-laki itu lalai terhadap istrinya.
Sikap adil berperan penting dalam hal ini, jangan sampai terjadi kecemburuan antara Ibu dan juga istri.
Jangan sampai keterlibatan orang tua, menjadi alasan rumah tangga sang anak hancur.
***
Dion terduduk di sudut ruangan, tatapannya begitu kosong. Ia hancur, dan tak ada yang bisa ia kembalikan seperti semula lagi.
Dion menenggelamkan wajahnya, memeluk lututnya sembari terisak pilu.
"Aku menyesal, Mel. Aku menyesal..."
Rintihan itu berulang kali di ucapkan oleh Dion, semua bermula akibat ia menyakiti hati istri pertamanya.
"Andai aku tidak menuruti apa kemauan Ibu, mungkin aku dan Melati masih bersama saat ini."
Entah mengapa, sosok Melati begitu mendominasi hatinya saat ini.
"Aku harus memperjuangkan salah satu di antara mereka! Harus," Dion bertekad.
Dari ambang pintu, Ibu Anna dengan miris memperhatikan sikap anaknya yang tengah terpuruk. Perlahan ia berjalan mendekati anaknya.
Ibu Anna berjongkok, mensejajarkan tubuhnya dengan Dion.
Kini sepasang mata Ibu dan anak itu bertemu, terpancar jelas kesedihan dari keduanya.
"Maafkan Ibu..." Ucapan Ibu Anna begitu penuh penyesalan.
Dion hanya terdiam, menatap wajah wanita yang begitu berharga di hadapannya.
"Ini semua salah Ibu! Andai Ibu tidak egois, mungkin kamu tidak akan hancur seperti ini. Maafkan Ibu..."
Ibu Anna hampir saja merendahkan tubuhnya di hadapan sang anak, namun dengan cepat Dion menopang tubuh rapuh Ibunya.
"Bu... Jangan seperti ini. Ini bukan salah Ibu," Dion berusaha untuk menenangkan Ibunya. Bagaimanapun, seburuk apapun orang tua, tetaplah kita harus menghormati mereka.
Kadang kala, tidak selalu orang tua adalah yang paling benar. Apa yang menurut mereka baik, belum tentu baik untuk sang anak. Begitupun sebaliknya.
"Bu, untuk kali ini, biarkan aku menentukan pilihanku. Izinkan aku memperjuangkan cintaku, masa depanku," pinta Dion dengan sangat.
Ibu Anna terdiam, tanpa penolakan ia langsung menganggukkan kepalanya tanda menyetujui keinginan sang anak.
Malam itu, menjadi malam yang teramat gelap untuk Dion. Seperti tak ada harapan untuknya bertemu terang kembali, hari-harinya kini di selimuti kabut hitam yang pekat.
***
Entah kenapa, rasanya Dokter Radit ingin sekali menemui Rissa.
Sebelum itu, ia berniat untuk menghubungi Rissa terlebih dulu.
"Halo, Sa. Kamu ada waktu?" Tanya Dokter Radit tanpa basa basi pada Rissa.
__ADS_1
"Emm ada apa, Dok?" Tanya Rissa di seberang sana.
"Tidak, aku hanya ingin bertemu. Kamu ada di rumah?" Tanya Dokter Radit.
Hening, tak ada jawaban. Membuat Dokter Radit kembali memanggil Rissa.
"Sa," ucapnya.
"Oh, iya maaf, Dok. Aku... Aku sudah tidak tinggal di rumah Mas Dion," jawab Rissa.
Dokter Radit sontak terkejut, ia lantas menanyakan keberadaan Rissa saat itu juga.
"Kamu dimana sekarang?" Tanya Dokter Radit.
"Aku... Kembali ke panti," jawab Rissa.
Setelah mengetahui alamat panti yang di berikan oleh Rissa, Dokter Radit segera bergegas untuk menemui Rissa.
***
Tak butuh waktu lama, Dokter Radit telah sampai di panti asuhan dimana Rissa tinggal.
Senyum Dokter Radit mengembang, ketika melihat Rissa yang tengah menyapu halaman panti.
"Sa," panggil Dokter Radit.
Rissa menghentikan kegiatannya, menatap Dokter Radit yang setengah berlari mendekat ke arahnya.
"Dokter Radit."
Rissa mengerutkan keningnya, "ha-hay, Dok. Ada apa Dokter kesini?" Tanya Rissa.
Dokter Radit menghela nafasnya, ia juga tampak canggung menjawab pertanyaan dari Rissa.
"Emm, aku kangen sama kamu."
Dokter Radit kali ini mencoba untuk mengungkapkan perasaannya pada Rissa, ia tak ingin lagi menutupi semuanya.
Rissa terdiam, rasanya ia tak enak mendengar ucapan Dokter Radit saat itu.
"Ma-maksud Dokter? Kenapa Dokter bicara seperti itu?" Tanya Rissa.
Dokter Radit bersikap serius, "aku sudah tidak memendam lagi, Sa. Aku sayang sama kamu," ucap Dokter Radit.
Rissa terhentak, perasaannya tidak dapat di gambarkan.
"Tapi, aku kan..."
"Sa, aku tidak peduli siapa kamu, status kamu, atau apapun tentang masa lalumu. Yang aku tahu, aku sayang sama kamu. Aku ingin selalu ada untuk kamu," tutur Dokter Radit.
Bahkan Rissa di buat terkejut, ketika Dokter Radit tiba-tiba saja memeluknya.
"Dok, lepas!"
Rissa meronta, ia berusaha melepas pelukan Dokter Radit.
Lagi, Rissa di buat lebih terkejut ketika seseorang memergokinya yang tengah berada di pelukan Dokter Radit.
__ADS_1
"Oh, jadi seperti ini kelakuan kamu? Jadi ini kamu yang sebenarnya. Cih, aku tidak menyangka, Sa."
Dion, tiba-tiba saja berada di antara Dokter Radit dan Rissa.
Dokter Radit melepas pelukannya, menatap Dion yang tengah mengepalkan tangannya.
Dion berjalan mendekati Rissa juga Dokter Radit.
"Ini tidak seperti apa yang kamu lihat, Mas!" Rissa mencoba untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
"Tidak perlu mengelak! Aku sudah tahu semuanya. Ternyata ini alasanmu,"
Dion telah berasumsi dengan pemikirannya sendiri.
"Maksudmu apa?" Tanya Rissa.
Dion tersenyum kecut, kini ia bertolak pinggang di hadapan Rissa.
"Aku tahu kenapa kamu meminta cerai. Semua karena laki-laki ini, kan?"
Rissa menggelengkan kepalanya, Dion telah salah menilainya.
"Ini bukan karena siapapun, Mas. Harus berapa kali aku bilang?"
"Halah, sudahlah. Ternyata kamu tidak lebih dari wanita murahan! Dan aku menyesal telah menikahi wanita sepertimu!"
Emosi Dion memuncak, hingga ia mengeluarkan kata-kata yang teramat menyakitkan untuk Rissa.
"Hey! Jaga mulutmu!" Dokter Radit membela, ia kini menarik krah kemeja Dion.
Rissa dengan cepat melerai Dokter Radit yang hendak bertengkar dengan suaminya, ia tak ingin ada keributan.
"Dok, sudah cukup." Rissa memohon.
"Kenapa? Apa aku salah?" Tanya Dion, seakan menantang Dokter Radit.
Dion melepas cengkraman tangan Dokter Radit, dan merapihkan kembali kemejanya.
"Dengar! Mulai detik ini, aku talak kamu Carissa Medina!"
Deg!
Ucapan yang tidak pernah di inginkan oleh seorang istri manapun, namun nyatanya kini Rissa harus mendengar kalimat itu dari suaminya.
Dadanya sesak, matanya memerah.
Rissa tak dapat berkutik, begitupum Dokter Radit yang mematung di sampingnya.
Dada Dion masih bergemuruh, emosinya masih memuncak.
"Urusan kita, selesai!"
Ucapan terakhir Dion, sebelum ia kembali pergi meninggalkan Rissa yang masih tak berkutik sama sekali.
Dion melenggang pergi, dengan dadanya yang masih naik tutun. Tangannya masih kuat mengepal, rahangnya pun masih mengeras.
"Aku benci semua ini! Aku benci!" Dion bergumam dalam batinnya.
__ADS_1