Dua Cincin

Dua Cincin
Pemilik Rahasia


__ADS_3

Rissa menatap sosok di hadapannya, ia berharap apa yang di bicarakannya dengan Dion tak terdengar oleh seseorang itu.


"Emm, ada apa, Dok?" Tanya Rissa dengan gugup.


Dokter Radit tampak canggung, "oh, ini maaf tadi aku mau ngajak kamu keluar." Dokter Radit berbicara dengan terbata-bata.


Matanya kini menangkap sosok yang berjalan dari arah dalam, namun ia tak menampilkan ekspresi wajah yang terkejut.


"Yon, kamu sedang apa di dalam?" Tanya Dokter Radit.


Rissa terdiam, ia benar-benar takut saat ini. Sedangkan Dion, ia memasang wajah datarnya.


"Salah kamar!" Serunya dengan dingin, dan berlalu meninggalkan Rissa juga Dokter Radit.


Dokter Radit hanya diam, ia memilih untuk tak mempertanyakan keberadaan Dion di dalam kamar pada Rissa.


"Oh iya, Sa. Gimana, mau?" Tanya Dokter Radit.


"Emm, aku harus bersih-bersih dulu, Dok."


Dokter Radit mengangguk, dan berpamitan pada Rissa.


"Aku tunggu, yah."


Rissa mengangguk, dan menutup pintu kamar setelah Dokter Radit berlalu.


Rissa menyandarkan punggungnya di balik pintu, ia tengah menenangkan nafasnya yang sedari tadi tak karuan.


"Apa Dokter Radit mendengar semuanya?" Rissa bertanya-tanya dalam hatinya, ia begitu gelisah saat ini. Ia takut kalau Dokter Radit menceritakan kejadian itu pada Melati, walaupun Rissa dan Dion adalah suami istri, tetapi tetap saja ia merasa takut jika Dokter Radit berprasangka buruk tentangnya.


***


Melati masuk ke dalam kamar yang di tempati Rissa, ia segera merebahkan tubuhnya sambil menunggu Rissa yang tengah membersihkan diri.


"Sebenarnya apa yang terjadi?"


Tiba-tiba saja Melati bergumam seperti itu, entah apa yang ia maksud.


Melati seakan enggan ambil pusing dengan pertanyaan yang ada di benaknya, ia memilih untuk memendam semuanya sendirian.


Rissa baru saja keluar dari kamar mandi, ia langsung melihat Melati yang tengah berbaring di tempat tidur.


"Mbak Melati, sejak kapan disini?" Tanya Rissa.


Melati menoleh, dan bangun dari tidurnya.


"Belum lama. Oh iya Sa, kayaknya kita harus belanja cemilan deh. Soalnya disini tidak menyediakan banyak cemilan," ujar Melati.


Rissa mengangguk, "boleh, Mbak."


"Aku siap-siap dulu," ucap Rissa.


Melati mengangguk, dan beranjak dari tempatnya.


"Aku juga mau ganti baju dulu," sahut Melati sembari berjalan masuk ke dalam kamar mandi.

__ADS_1


Sambil menunggu Melati, Rissa segara bersiap. Setelah itu, mereka keluar kamar bersamaan.


Terdengar perbincangan kecil diantara Melati dan Rissa, tampak di selingin dengan tertawa kecil.


Dokter Radit yang sedari tadi menunggu Rissa di ruang tamu, segera berdiri dan menyambutnya.


"Sa. Gimana mau, kan?" Tanya Dokter Radit.


Melati menoleh ke arah Rissa, mempertanyakan apa yang di maksud oleh Dokter Radit.


"Oh iya, Mbak. Tadi Dokter Radit mengajakku untuk pergi keluar," ujar Rissa.


Melati tersenyum, "oh, jadi kalian mau kencan, nih." Melati mulai kembali menggoda Rissa.


Dokter Radit tertawa kecil, ia bahkan membenarkan perkataan Melati itu.


"Boleh kan, Mel? Kapan lagi bisa ngajak Rissa kencan," sahut Dokter Radit.


Melati ikut tertawa, dan mengizinkan mereka berdua untuk pergi.


"Ya sudah, kalian pergi saja. Aku bisa beli cemilan sendiri," ujar Melati.


Rissa menoleh, ia merasa tidak enak pada Melati.


"Tapi kan Mbak aku mau menemani Mbak Melati saja," ujar Rissa.


Melati menggelengkan kepalanya, "tidak usah! Sudah kamu pergi sama Dokter Radit saja," pinta Melati.


Dengan terpaksa Rissa ikut bersama Dokter Radit, dan Melati memilih untuk mengajak suaminya membeli cemilan.


Melati mencari suaminya, ia berkeliling villa sebelum akhringa menemukan Dion yang tengah tertidur di sofa halaman belakang.


Dion menggeliat, dan ia bangun dari tidurnya setelah melihat Melati yang telah berada di sampingnya.


"Iya, ada apa sayang?" Tanya Dion dengan setengah sadar.


"Antar aku beli cemilan," ucap Melati.


Dion mengucek matanya, memulihkan kesadarannya.


"Kenapa tidak ajak Rissa saja?" Tanya Dion.


Melati menghela nafasnya, "Rissa kan sedang pergi sama Dokter Radit. Aku sengaja memberi mereka kesempatan untuk berkencan," sahut Melati dengan raut wajah yang senang.


Dion terbelalak, "apa? Berkencan?" Tanyanya.


Melati mengangguk, "iya, kencan. Kenapa kamu kaget, Mas?" Tanya Melati.


Dion menelan salivanya, ia juga segera bangkit dan mengajak Melati untuk segera pergi membeli cemilan.


"Aku antar beli cemilan. Kita berangkat sekarang," ucap Dion.


Melati hanya diam, ia mengikuti langkah lebar suaminya yang kini menuju mobil.


"Mas, kok buru-buru banget sih jalannya?"

__ADS_1


Melati bertanya sembari menggerutu, ia lelah mengikuti langkah suaminya yang terlalu cepat.


Dion menghentikan langkahnya, "maaf sayang. Aku hanya terlalu bersemangat," dalih Dion. Ia segera membukakan pintu mobil untuk istrinya, dan dengan perasaan kesal Melati segera masuk.


***


Dokter Radit mengajak Rissa ke pantai, ia memilih tempat yang sekiranya akan di sukai oleh Rissa.


Dokter Radit dan Rissa berjalan beriringan, suasana di antara mereka tampak canggung.


Namun Dokter Radit berusaha untuk lebih menghangatkan suasana, ia mencoba untuk memulai pembicaraan.


"Sa, kita duduk disana!" Ajak Dokter Radit sembari menunjuk pada sebuah bangku yang ada di bawah pohon rindang.


Rissa mengangguk, dan mengikuti jejak kaki Dokter Radit.


Kini mereka duduk bersampingan, menghadap pemandangan laut biru yang menyejukkan.


"Kamu terpaksa ya ikut denganku?" Tanya Dokter Radit.


Rissa milirik, "tidak, Dok. Aku hanya tidak enak sama Mbak Melati tadi," sahut Rissa.


Dokter Radit mengatupkan bibirnya, ia seakan tengah bersiap untuk menanyakan suatu hal pada Rissa.


"Sa, boleh aku jujur?" Tanya Dokter Radit.


Rissa sempat terdiam, lalu ia menganggukkan kepalanya tanda setuju.


"Mau jujur apa, Dok?" Tanya Rissa.


"Emm, sebenarnya aku..."


Rissa menunggu kelanjutan kalimat Dokter Radit, ia juga seakan dibuat penasaran olehnya.


"Sebenarnya aku suka sama kamu, Sa." Dokter Radit akhirnya memberanikan diri untuk mengungkapkan perasaannya pada Rissa.


Hal itu membuat Rissa tertegun, ia tak percaya dengan apa yang di ucapkan oleh Dokter Radit.


"Ahaha, Dokter bercandanya, yah. Mana mungkin Dokter suka sama aku," ujar Rissa sembari menelisik raut wajah Dokter Radit.


Dokter Radit memasang wajah seriusnya, ia menatap Rissa dengan dalam.


"Aku serius! Aku tidak sedang bercanda, Sa. Aku suka sama kamu sejak pertama bertemu," ucap Dokter Radit penuh keyakinan.


Rissa tampak terkejut, lalu ia beranjak dari duduknya.


"Aku... Maaf, Dok. Aku tidak bisa," ucao Rissa.


Rissa segera melangkah pergi, ia benar-benar tak menyangka jika Dokter Radit memiliki perasaan padanya.


"Kenapa? Apa semua ini karena Dion?"


Pertanyaan Dokter Radit sontak membuat Rissa menghentikan pangkahnya, ia berbalik menatap Dokter Radit.


"Dokter bicara apa. Ini bukan menyangkut siapapun!" Seru Rissa.

__ADS_1


Dokter Radit berjalan mendekati Rissa, ia menatap wanita yang kini mematung di hadapannya.


"Aku tahu semuanya, Sa."


__ADS_2