
Rissa mengikuti langkah kaki suaminya, ia benar-benar gugup. Permintaan Dion yang mengajaknya untuk sarapan bersama, membuat tulang-tulang kakinya terasa lemas.
"Apa yang akan di lakukan Mas Dion?" Tanya Rissa dalam hatinya.
Sampailah Dion di meja makan, ia segera menyapa istrinya.
"Pagi sayang," ucap Dion.
"Pagi sayang," balas Melati sembari cium pipi suaminya. Dion tertegun, bukan karena sikap istri pertamanya.
Namun, ia lebih memikirkan perasaan Rissa yang tentunya melihat adegan itu dengan sangat jelas.
Rissa memalingkan wajahnya, berusaha untuk tidak lebih lama menatap suami juga madunya.
"Ya Allah, kenapa aku ini? Kenapa rasanya seperti ini," batin Rissa.
"Aku sudah nunggu dari tadi, kamu ngapain aja sih?" Tanya Melati.
"A-aku tadi sedang mengecek mesin mobil dulu, Mel." Dion menjawab dengan terbata.
Rissa berniat untuk meninggalkan Dion dan Melati, namun lagi langkahnya terhenti karena suaminya.
"Sa, mau kemana?" Tanya Dion.
"Aku mau ke dapur, Bi Ai sepertinya butuh bantuan." Rissa mencari alasan.
"Kita sarapan bersama," ucap Dion.
Melati sempat terkejut, ia seakan tak percaya dengan apa yang di katakan oleh suaminya.
"Mas? Kenapa mengajak Rissa untuk sarapan bersama kita?" Tanya Melati.
"Sayang, Mas pikir kalau sarapan bertiga itu lebih baik. Lebih rame juga kan suasananya," tutur Dion mencoba untuk meyakinkan istrinya.
Melati terdiam, ia tengah mempertimbangkan perkataan suaminya.
"Kalau mau, Bi Ai juga bisa kita panggil. Jadi sarapannya tambah rame," imbuh Dion.
Melati menghela nafasnya, "ide bagus. Panggil saja Bi Ai sekalian, kita makan bersama mulai saat ini." Melati akhirnya menyetujui.
Rasanya tidak ada salahnya mengajak asisten rumah tangga untuk berbaur dengan seorang majikan, lagipula mereka bisa menjalin hubungan lebih dekat lagi.
"Bi Ai," panggil Dion.
Bi Ai berjalan dengan tergesa, "ada apa Den?" Tanyanya.
"Duduk, Bi. Kita makan bersama," pinta Dion.
Bi Ai terdiam, ia juga sempat melirik ke arah Rissa.
"Tidak usah, Den. Bibi sarapan di belakang saja," tolak Bi Ai dengan lembut.
"Bi, mulai sekarang kita makan sama-sama ya. Biar seru," ujar Melati.
"Ayo duduk, Bi, Sa. Nanti makanannya dingin," pinta Melati.
Rissa dan Bi Ai menurut, mereka kini duduk saling berhadapan. Rissa berada tepat di depan suaminya, sedangkan Bi Ai duduk di depan Melati.
Mereka mulai mengambil makanan, hal yang tak terduga pun terjadi pada acara sarapan saat itu.
__ADS_1
"Sayang tolong ambilkan nasi gorengnya," pinta Dion.
Entah bagaimana ceritanya, Melati dan Rissa secara bersamaan berdiri hendak mengambil apa yang di minta suami mereka.
Melati dan Rissa beradu pandang, begitu pula dengan Dion, ia sangat terkejut dengan pemandangan yang ada di hadapannya saat ini.
"Maaf, Mbak. Aku tidak bermaksud apapun," ucap Rissa sembari membungkukkan tubuhnya.
Melati tertawa kecil, "ahaha, tidak apa-apa, Sa. Wajar kamu refleks kan kamu lebih dekat jaraknya," ujar Melati.
Rissa merasa canggung, ia segera mendudukkan kembali tubuhnya. Melati melanjutkan niatnya mengambilkan nasi goreng untuk Dion.
Dion tak dapat berkutik, apalagi Bi Ai. Mereka seakan berada di sebuah suasana yang menegangkan.
"Astagfirulloh, kamu ini kenapa sih, Sa. Bisa-bisanya spontan melakukan hal itu! Sudah jelas yang di panggil Mas Dion itu Mbak Melati, bukan kamu!" Rissa mengutuk dirinya sendiri. Ada rasa malu dengan sikapnya saat itu, ada juga perasaan yang membuat dadanya kembali sesak.
Ya, menjadi seorang istri yang bahkan tidak pernah di harapkan kehadirannya sangatlah sulit dan menyakitkan. Bahkan hanya untuk melayani suami saja ia tak bisa.
"Ayo makan semua," ajak Melati.
Mereka berempat pun memulai sarapannya, tak ada perbincangan di antara mereka.
***
Melati mengantar suaminya hingga teras, hal itu memang sudah jadi kebiasaannya sejak awal menikah.
Selepas Dion pergi, Melati kembali masuk ke dalam rumah.
Sekilas ia melihat Rissa yang baru saja selesai membersihkan meja makan, ia berniat untuk menghampirinya.
"Sa," sapa Melati.
"Kamu sibuk tidak?" Tanya Melati.
"Sepertinya tidak, Mbak. Kenapa memangnya?" Tanya Rissa.
Melati terlihat senang, "kalau begitu temani aku jalan-jalan, yuk."
Rissa membulatkan matanya, tak percaya dengan ajakan sang madu kepadanya.
"Jalan-jalan kemana, Mbak?" Tanya Rissa.
"Ke mall dekat sini saja, aku jenuh. Mau, kan?" Tanya Melati lagi.
Rissa tampak kebingungan, bukan karena tak memiliki uang atau tak ingin menemani Melati. Awal menikah, Dion sudah memberinya uang yang cukup banyak, bahkan cukup untuk beberapa bulan kedepan. Namun, ia merasa canggung dengan ajakan madunya saat ini.
"Tapi Mas Dion bagaimana, Mbak? Apa beliau mengizinkan aku pergi sama Mbak?" Tanya Rissa.
Melati berdecak, "itu gampang, nanti aku bilang sama Mas Dion. Dia juga pasti mengizinkan kok," ujar Melati.
Rissa mengangguk, ia menerima ajakan Melati untuk pergi jalan-jalan bersama.
"Ya sudah, aku siap-siap dulu, Mbak."
Melati mengangguk, "aku juga ganti baju dulu."
Melati dan Rissa pergi ke kamar mereka masing-masing, dan bersiap sesegera mungkin.
Rissa dan Melati kini sudah berada di sebuah pusat perbelanjaan, dengan senang hati Melati menggandeng tangan Rissa.
__ADS_1
Sekilas mereka berdua tampak seperti teman baik, tanpa orang lain tahu bahwa sebenarnya kedua wanita itu dimiliki oleh satu orang pria yang sama.
Melati hampir lupa mengabari suaminya, ia meminta Rissa untuk menunggu terlebih dulu.
"Aku telepon Mas Dion dulu, Sa. Tunggu disana," pinta Melati sembari menunjuk ke sebuah bangku yang ada di depan sebuah toko.
Rissa menurut dan berjalan menjauhi Melati.
"Halo, Mas. Aku hampir lupa memberitahumu, sekarang aku sedang ada di Mall. Aku di temani Rissa," ucap Melati.
Dion terkejut, di balik ponsel terdengar Dion menanyakan nama tempat perbelanjaan yang kedua istrinya kunjungi.
"Astaga, kenapa Melati mengajak Rissa?" Gerutu Dion saat sambungan teleponnya dengan Melati terputus.
Dion berniat menyusul keduanya, ia ingin memastikan tidak ada pembicaraan yang aneh di antara Rissa dan Melati.
Dengan cepat Dion meninggalkan pekerjaannya, menyusul kedua istrinya yang tengah menghabiskan waktu bersama.
***
Sesampainya di Mall, Dion segera mencari keberadaan Rissa dan Melati.
Ia mengedarkan pandangannya, matanya kini terhenti melihat Rissa yang tengah membawa beberapa kantong belanjaan.
"Sa," sapa Dion.
Rissa menoleh, ia memang tak mengetahui kalau suaminya akan menyusul.
"Loh, Mas kok ada disini?" Tanya Rissa.
Dion tak menjawab, ia malah mengambil kantong belanjaan yang ada di tangan Rissa.
"Melati kemana?" Tanya Dion.
"Mbak Melati di dalam, sedang mencari sepatu." Rissa menuturkan.
Dion menatap kantong belanjaan di tangannya, "ini semua belanjaan siapa?" Tanya Dion.
"Punya Mbak Melati, kenapa memangnya?" Tanya Rissa.
"Kamu tidak belanja?" Tanya Dion lagi.
Rissa menggeleng, "aku sedang tidak ingin belanja."
"Kenapa? Apa uang yang aku berikan sudah habis?" Tanya Dion.
Rissa menggeleng dengan cepat, "uang dari Mas masih banyak, bahkan belum aku gunakan sama sekali."
"Sa, lain kali kalau Melati menyuruhmu membawakan belanjaannya, kamu tolak." Dion berucap dengan tegas.
"Loh mana bisa aku menolak, Mas. Apa yang akan di pikirkan Mbak Melati nanti," sahut Rissa.
"Kamu istriku! Bukan pembantu!" Seru Dion.
"Tapi..."
"Mas."
Dion dan Rissa menoleh, terkejut dengan kedatangan Melati yang tak mereka sadari.
__ADS_1
"Astagfirulloh, Melati. Bagaimana ini? Apa Melati mendengar perbincangan aku dan Rissa?" Dion benar-benar ketakutan, tenggorokannya serasa tercekat.