
Setiap wanita menginginkan untuk menimang buah hati, tapi jika Tuhan belum menghendaki apa yang bisa kita lakukan. Belum lagi kalau memang ada suatu hal yang menghambat seorang wanita memiliki buah hati, apakah itu karena faktor kesehatan atau hal yang lain. Jika sudah seperti itu, bukan jadi kuasa kita lagi sebagai manusia untuk menentukan, bukan?
Jangan meratapi apa yang belum kita punya, tetapi bersyukurlah dengan apa yang telah di berikan oleh-Nya.
***
Dion telah berhasil membujuk istrinya untuk ikut pulang, sedikitnya ia kini merasa tenang.
Dion tinggal mencari cara bagaimana memulihkan kondisi mental Melati, tentunya kenyataan ini tidaklah mudah untuk seorang wanita yang menginginkan buah hati.
Dion memapah Melati untuk masuk, dan mendudukkannya di sofa ruang tamu.
Rissa dan Bi Ai menyambut kepulangan Melati, mereka bersimpati melihat kondisi Melati saat ini.
"Mbak," sapa Rissa dengan pelan.
Melati menoleh, menatap Rissa dengan sendu. Tak di sangka, Melati tiba-tiba saja berhambur memeluk Rissa. Tangisnya kembali pecah, Rissa pun ikut larut dapam suasana itu.
"Mbak, jangan menangis lagi. Aku yakin Allah sudah menyiapkan hal yang lebih baik untuk Mbak," ucap Rissa berusaha meredakan tangisan Melati.
"Aku tidak bisa menjadi wanita yang sempurna, Sa. Aku tidak bisa menjadi seorang Ibu," lirih Melati di balik punggung Rissa.
Rissa mengelus punggung madunya itu, ia juga paham perasaan Melati saat ini.
"Siapa bilang Mbak tidak sempurna? Mbak sudah lebih dari sempurna, Mbak juga bisa menjadi seorang Ibu."
"Bagaimana caranya aku bisa menjadi seorang Ibu, aku sudah tidak bisa hamil lagi, Sa." Melati masih larut dalam kesedihannya.
Rissa menghela nafasnya, tak banyak yang bisa di lakukannya saat ini.
"Sabar, Mbak. Masih banyak yang sayang sama Mbak, masih ada Mas Dion, ada Bi Ai, ada aku juga. Jangan terus seperti ini."
Rissa menghapus air mata yang mengalir di pipi Melati, ia mengulum senyuman tipis dan berusaha membesarkan hati madunya.
Dion yang melihat pemandangan itu, seketika ikut terharu. Kedua istrinya kini tengah saling berpelukan, hal yang tidak mudah untuk Dion dapatkan.
"Ya Allah, begitu akrabnya kedua istriku. Aku mohon jagalah kebersamaan mereka, jangan sampai hubungan mereka memburuk jika satu kebenaran lagi terbongkar nantinya," Dion berharap sangat akan hal itu.
"Aku antar Mbak ke kamar, yah. Mbak harus istirahat," ajak Rissa dan Melati pun menurut. Kini Rissa tengah menuntun madunya untuk beristirahat di dalam kamar.
Rissa membaringkan Melati di tempat tidur, ia juga menyelimuti tubuh madunya dengan selimut.
__ADS_1
"Istirahat yah, Mbak."
"Sa, temani aku dulu." Melati menarik tangan Rissa, membuatnya kembali mendudukkan tubuhnya
"Kenapa Mbak? Mbak ingin sesuatu?" Tanya Rissa.
Melati menatap kosong pada langit-langit kamarnya, matanya masih berkaca-kaca.
"Aku takut, Sa." Melati berucap dengan lirih.
Rissa menghela nafasnya, "takut apa Mbak?" Tanyanya.
"Aku... Aku takut kalau Mas Dion akan mencari wanita lain untuk mendapatkan keturunan," ucap Melati. Air matanya kembali menetes, namun kali ini ia hanya terisak.
Rissa tertegun, dadanya bergemuruh. Lidahnya kelu, tenggorokannya seakan mengering.
"Mbak, aku yakin Mas Dion bukan laki-laki seperti itu. Lagipula, tidak akan ada yang bisa menggantikan Mbak di hati Mas Dion."
Melati menelan salivanya dengan berat, ia benar-benar dihantui rasa takut saat ini.
"Tapi Sa, itu tidak menutup kemungkinan. Bisa jadi diam-diam Mas Dion mencari wanita lain," ujar Melati.
"Aku tidak akan pernah rela jika hal itu terjadi, Sa. Aku tidak ingin ada yang merebut kebahagiaanku dengan Mas Dion." Melati menambahkan.
"Maafkan aku, Mbak. Maafkan aku. Apa kini aku telah merebut kebahagiaanmu, Mbak? Apa kini aku adalah seorang pelakor?" Batin Rissa berkecamuk.
***
Menjadi istri kedua bukanlah hal yang mudah, bukan pula hal yang diinginkan oleh seorang wanita. Begitupula dengan kedudukan istri pertama, tidak ada seorangpun wanita yang rela berbagi suami dengan wanita lain.
Tapi yang harus kita tahu, tak semua wanita yang menjadi istri kedua itu selalu menjadi penyebab rusaknya rumah tangga.
Beberapa wanita rela menjadi istri kedua hanya karena suatu alasan, seperti yang di alami oleh Rissa.
Ia rela menjadi istri kedua demi membalas jasa, dia bahkan rela tak mendapatkan cinta dari suaminya.
Ia paham betul perasaan madunya, ia juga mencoba untuk berkaca diri.
Tak banyak yang Rissa tuntut dalam rumah tangganya, ia hanya ingin berbakti kepada suami juga Ibu mertua yang telah meringankan beban hidupnya.
Lalu bagaimana pandangan orang-orang tentang kedudukan istri kedua, jika alasan mereka menjadi selir adalah untuk kebaikan semua. Untuk membantu masalah yang tengah terjadi didalam suatu rumah tangga, untuk mewujudkan keinginan yang tak akan pernah mereka dapatkan dari pasangannya.
__ADS_1
Apa wanita itu akan tetap di sebut sebagai perebut suami orang? Apa wanita itu akan dibenci, bahkan dikucilkan oleh kebanyakan orang. Sungguh itu tidak adil, mereka hanya menilah dari apa yang mereka lihat dan yakini tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Rissa berjalan menuju kamarnya, entah mengapa perkataan Melati begitu menusuk relung hatinya.
Diraihnya secarik kertas, dan ia pun menuliskan beberapa kata didalam sana.
Rissa telah bulat dengan keyakinannya, entah apa yang tengah di rencanakan oleh Rissa.
Namun, sesama wanita ia tak ingin terus-terusan menyakiti hati wanita yang tak tahu apapun.
Dengan berderai air mata, tangan Rissa kini tengah berselancar diatsa kertas putih dengan coretan-coretan yang telah ia pikirkan matang-matang.
Selesai itu, Rissa berniat untuk menemui suaminya. Dengan langkah gemetar, Rissa mulai mendekati suaminya yang tengah berada di halaman belakang.
"Mas, maaf menggangu." Rissa menyapa Dion yang tengah duduk di kursi.
Dion menoleh, dan berdiri dari tempatnya.
"Iya kenapa, Sa?" tanya Dion sembari menahan dirinya agar bersikap tidak canggung.
Rissa tanpa keraguan langsung menyodorkan sebuah kertas pada Dion, tentunya hal itu membuat Dion bertanya-tanya.
"Ini apa, Sa?" tanyanya.
"Mas bisa baca baik-baik," sahut Rissa.
Dion mengalihkan pandangannya pada kertas itu, alangkah terkejutnya ia membaca setiap kata yang dituliskan oleh istri keduanya itu.
"Sa? Apa-apaan ini? Kenapa kamu menulis semua ini?" tanya Dion seakan tak percaya dengan apa yang dilakukan oleh Rissa.
Rissa menahan air matanya, sungguh ia tak ingin terlihat lemah didepan suaminya.
"Mas pasti paham apa isi dari tulisan itu, dan keputusanku sudah bulat!" seru Rissa.
Dion kembali menatap kertas yang tengah ada digenggamannya, ia bahkan meremas ujung kertas itu.
"Tapi kenapa tiba-tiba kamu menulis semua ini?" tanya Dion.
Rissa menatap dalam mata suaminya, kali ini harus Rissa akui bahwa mulai tumbuh rasa sayang untuk Dion. Namun Rissa cukup tahu diri untuk tak mengungkapkan perasaannya, toh jika ia mengatakannya sekalipun, ia tak akan mendapat balasan apapun dari suaminya.
"Ini keputusanku, Mas. Tolong pikirkan baik-baik."
__ADS_1
Rissa berbalik, berlalu meninggalkan suaminya yang masih tak bergeming. Ia tak dapat menahan rasa pedih dihatinya, Rissa juga mencoba untuk tak menangis didepan suaminya.
"Maafkan aku, Mas. Maaf..."