
Dion masih menyantap makan malam bersama istrinya, sesekali ia makan dengan tidak tenang. Mengingat Rissa yang entah sudah makan atau belum, Dion benar-benar tidak enak hati.
Ketika tengah makan, Melati meminta di ambilkan sesuatu pada Dion.
"Mas, aku mau kerupuk. Boleh ambilkan?" Rajuk Melati.
Dion mengangguk, dan beranjak dari tempatnya.
Saat ia memasuki dapur, terdengar suara perbincangan membuat Dion mencari sumber suara.
Alangkah terkejutnya Dion, menatap istri keduanya yang tengah menyantap makanan dengan beralaskan permadani kecil.
"Sa, kenapa kamu disini?" Tanya Dion sembari memasuki ruangan yang di tempati Bi Ai dan istrinya itu.
Rissa menoleh, dan menyimpan piring yang sedari tadi di pegangnya.
"Kenapa memangnya? Apa aku tidak boleh makan bersama Bi Ai?" Tanya Rissa.
"Bukan seperti itu, tapi kau bisa makan di meja makan." Dion menuturkan.
"Loh Den, tidak apa-apa kok Neng Rissa makan bareng Bibi, kan memang biasanya juga para pekerja makan disini," sela Bi Ai.
"Bi, masalahnya Rissa bukan..."
"Mas butuh apa? Ada yang bisa aku bantu?"
Rissa memotong ucapan Dion, ia belum ingin Bi Ai tahu siapa dia sebenarnya.
"Ini... Aku ingin mengambil kerupuk," jawab Dion.
Rissa hendak beranjak dari tempatnya, namun Dion menahannya.
"Biar aku saja," tolak Dion.
Rissa kembali duduk, "ada hal lain Mas?" Tanyanya.
Dion menggeleng, dan berdiri dari tempatnya. Ia keluar dari ruangan itu, tentunya dengan perasaan yang bersalah.
"Ya Allah, apa pantas Rissa mendapat posisi seperti itu? Aku benar-benar bukan suami yang adil!" Seru Dion dalam batinnya.
Dion melangkah dengan gontay, sontak Melati memperhatikan suaminya yang baru saja keluar dari dapur.
"Mas, kenapa lama sekali ambil kerupuknya," ucap Melati.
Dion terhentak, "maaf sayang, tadi Mas gak tahu kerupuknya di simpan dimana." Dion menjelaskan, mempercepat langkahnya.
Dion menyodorkan kerupuk pada Melati, wajahnya masih menampakkan rasa bersalah.
"Masa gak tahu, kan kerupuk ada di lemari biasa, Mas." Melati sedikit kesal.
"Iya, Mas lupa sayang, maaf. Kamu lanjutkan makannya," ucap Dion.
__ADS_1
Melati menghela nafasnya, ekor matanya masih melirik kearah Dion.
"Jangan melamun," sindir Melati.
Dion menoleh, mengembalikan lagi kesadarannya.
"Siapa yang melamun, sayang. Mas cuma sedikit cape saja," sahut Dion.
Lagi-lagi ia berbohong pada istrinya, Dion merasa lelah.
***
Selesai makan malam, Dion dan Melati tengah berada di kamarnya. Sama halnya dengan Rissa, ia baru saja selesai shalat isya.
Karena tak kunjung merasakan kantuk, Rissa memutuskan untuk berkeliling rumah. Rissa memutuskan untuk duduk di halaman belakang, merasakan suasana malam yang cukup tenang.
"Gelap, tidak ada bintang. Setidaknya aku memiliki teman, langit seakan menggambarkan nasibku saat ini." Rissa mendongakkan wajahnya ke langit.
Di kamar Dion, Melati telah tertidur pulas. Namun tidak dengan Dion, ia malah tak dapat memejamkan matanya. Dion berniat untuk keluar dari kamar, dan tentunya mengecek apakah Rissa telah beristirahat atau belum.
Dion berjalan menuju kamar istri keduanya, tentunya dengan sangat hati-hati.
Dion mengetuk pintu kamar Rissa, namun ia tak mendapat jawaban.
Dion memutuskan untuk kembali, namun langkahnya terhenti ketika melihat pintu kaca yang menghubungkan ruang tengah dan halaman belakang terbuka.
Dion berjalan kearah pintu tersebut, dan melihat Rissa yang tengah berdiri menatap langit.
Pertanyaan Dion sedikit mengejutkan Rissa, membuatnya terhentak seketika.
"Kaget aku Mas," ucap Rissa.
"Tidak lihat apa-apa, hanya melihat langit gelap." Rissa menambahkan.
Dion mendudukkan tubuhnya di kursi, tepat di belakang Rissa yang masih berdiri.
"Sudah malam, angin malam tidak bagus untuk tubuh."
Rissa terdiam, ia memilih tak menggubris ucapan suaminya.
"Aku minta maaf," imbuh Dion.
Rissa berbalik, menatap Dion yang tengah tertunduk.
"Maaf untuk apa?" Tanya Rissa.
Dion menarik nafasnya dalam, dan menghembuskannya dengan perlahan.
"Maaf, aku tidak bisa memperlakukanmu seperti aku memperlakukan Melati."
Rissa tersenyum miris, bibirnya terkatup.
__ADS_1
"Mungkin belum, Mas. Aku mengerti. Lagipula, aku tidak berharap banyak. Aku sadar dimana posisiku," sahut Rissa dengan tenang.
"Aku tidak tahu apa aku bisa menerimamu atau tidak, Sa. Aku mencintai Melati," ujar Dion.
"Itu hakmu, Mas. Aku juga tidak akan memaksamu untuk menerimaku," sahut Rissa sembari berjalan mendudukkan tubuhnya disamping Dion.
"Aku hanya ingin membalas semua jasa Ibu Anna, aku ingin mewujudkan impiannya memiliki cucu. Jika Ibu Anna sudah mendapatkan apa yang di inginkannya, kau boleh menceraikanku Mas." Rissa menambahkan.
Dion terkejut, perkataan Rissa sungguh bukan hal yang mudah.
"Sa, bagaimana mungkin aku setega itu. Meninggalkanmu setelah kau menjadi Ibu dari anakku!" Seru Dion.
Rissa kembali tersenyum getir, "lalu bagaimana? Aku juga tidak tahu sampai kapan bisa tahan hidup dengan lelaki yang tidak mencintaiku," jawab Rissa
"Syarat poligami itu adalah berbuat adil, dan aku tidak melihat niatan itu darimu, Mas."
Perkataan Rissa lagi-lagi membuat Dion tak berkutik, ia benar-benar di liputi rasa bersalah.
"Aku lebih baik pergi dari pada terus menjorokkanmu dalam lubang dosa, aku tidak ingin kau menanggung itu. Dengan aku pergi, kau hanya harus memuliakan satu istri saja. Bukankah itu yang kau inginkan?" Tanya Rissa.
"Jangan memikirkan bagaimana denganku, Mas. Aku sudah pasrah, Allah lebih tahu apa yang terbaik untuk kehidupanku," tambah Rissa.
Dion menatap Rissa dalam, sungguh hatinya begitu tersentuh.
"Terbuat dari apa hatimu itu, Sa? Aku telah salah menilaimu, kamu wanita baik. Dan aku tidak pantas memiliki wanita sebaik dirimu," gumam Dion dalam batinnya.
"Mas, aku masuk dulu. Tidak enak kalau nanti tiba-tiba Mbak Melati lihat," ucap Rissa sembari beranjak dari tempatnya.
"Sa,"
Dion spontan meraih tangan Rissa, membuat Rissa menghentikan langkahnya.
"Kenapa lagi Mas?" Tanya Rissa, ia melepas genggaman tangan suaminya.
Dion menatap tangannya yang di tepis oleh Rissa, entah kenapa hal itu sedikit membuatnya tidak nyaman.
"Maaf, aku belum menjalankan kewajibanku sebagai suami padamu." Dion berucap dengan lemah.
Rissa terdiam, dan hanya mengulum senyuman palsu.
"Aku mengerti, aku hanya ingin kau melakukannya dengan tulus. Bukan karena terpaksa," jawabnya sembari berlalu meninggalkan Dion.
"Sa, aku akan mencoba untuk berusaha menerimamu. Aku janji," ucap Dion saat Rissa mulai berjalan meninggalkannya.
"Jangan berbalik, Sa. Jangan menunjukkan sikap berharapmu!" Seru Rissa, meminta langkahnya agar tak terhenti dan menoleh pada suaminya.
Dion kembali terduduk lesu, mengusap wajahnya dengan kasar.
"Ya Allah, ampuni aku. Bantu aku untuk menjalani semuanya dengan adil, aku tidak ingin menyakiti hati siapapun. Astagfirulloh." Hati Dion berkecamuk.
Sungguh Dion pasrah, ia bertekad untuk memperbaiki semuanya. Bukan karena Ibunya, namun karena kewajibannya sebagai suami yang memiliki istri lebih dari satu.
__ADS_1