Dua Cincin

Dua Cincin
Ketakutan Melati


__ADS_3

Rissa masih mempertanyakan kedatangan Dokter Radit, ia juga merasa tidak enak menerima tamu laki-laki tanpa ada sang suami di rumahnya.


"Dokter ada apa datang kemari?" Tanya Rissa.


Kini mereka tengah berada di ruang tamu, tentunya Rissa meminta Bi Ai untuk menemaninya.


"Tadinya aku mau jenguk Melati," sahut Dokter Radit apa adanya.


"Oh, tapi kebetulan Mbak Melati tidak ada di rumah. Dia sedang berada di rumah orangtuanya," tutur Rissa.


Dokter Radit menganggukkan kepalanya, "sayang sekali, tadinya aku mau cek kondisi dia. Dia pasti sangat terpukul," ujar Dokter Radit.


Rissa menghela nafasnya, ia mengerti betul perasaan madunya saat ini.


"Ya, aku ikut merasakan apa yang Mbak Melati alami sekarang."


Dokter Radit menatap Rissa diam-diam, memperhatikan wanita berhijab yang sejak pertama sudah menarik perhatiannya.


"Sa, boleh aku bertanya?"


Rissa menoleh, dan mempersilahkan Dokter Radit untuk bertanya.


"Emm, sebenarnya kamu itu siapa? Maksudku, kenapa tadi Bibi bilang Non sama kamu?" Dokter Radit bertanya dengan hati-hati.


Rissa terdiam, ia tengah memilih jawaban yang tepat untuk di berikan pada Dokter Radit.


"Non Rissa kan sudah dekat sama Ibu Den Dion, jadi saya juga berusaha untuk menghormati Non Rissa layaknya keluarga Den Dion."


Bi Ai menyela obrolan, bahkan menjawab pertanyaan Dokter Radit yang di tujukan kepada Rissa. Ia berusaha membantu Rissa untuk menutupi status majikannya di depan orang asing.


Rissa tersenyum, ia merasa lega Bi Ai dapat membantunya.


"Oh, begitu. Jadi kamu sudah lama kenal sama keluarga Dion?" Tanya Dokter Radit.


"Iya, bisa di bilang begitu, Dok." Rissa membenarkan, berharap Dokter Radit percaya akam jawabannya.


"Emm, begitu. Orangtuamu tinggal dimana?" Tanya Dokter Radit.


Rissa sedikit merubah raut wajahnya, mengingat ia yang tak pernah tahu siapa orangtua kandungnya. Sejak kecil Rissa sudah berada di panti asuhan, disanalah keluarga yang selama ini membesarkan Rissa.


"Aku tidak tahu, Dok."


Dokter Radit terhentak, ia merasa bingung dengan jawaban Rissa.


"Kenapa tidak tahu?" Tanyanya dengan penasaran.


Rissa dengan lapang dada menjelaskan sekilas tentang dirinya, "sejak kecil aku tinggal di panti, Dok. Aku tidak tahu orangtuaku siapa, dimana, apa mereka masih ada atau seperti apa. Tapi alhamdulillah walaupun aku hidup lama di panti, hidupku layak disana. Mereka sudah seperti keluarga kandung bagiku."


Dokter Radit tertegun, ada sedikit rasa tidak enak hati pada Rissa. Ia tak mengira jika Rissa memiliki kehidupan yang cukup sulit, namun terselip perasaan kagum pada sosok Rissa dalam hati Dokter Radit.


"Maaf, Sa. Aku tidak bermaksud," ucap Dokter Radit.


Rissa tersenyum ramah, ia sama sekali tak merasa tersinggung akan pertanyaan Dokter Radit.


"Tidak perlu minta maaf, Dok."


"Emm, lalu apa kamu sudah punya pasangan?" Tanya Doktee Radit.


Rissa terdiam, lagi pertanyaan Dokter Radit membuatnya sulit untuk menjawab.


Dokter Radit melihat Rissa yang tak nyaman dengan pertanyaannya, ia lalu langsung mencari topik lain.

__ADS_1


"Ah sudah tidak usah di jawab, Sa. Maaf sudah terlalu banyak bertanya." Dokter Radit membatalkan niatnya untuk mengetahui Rissa lebih jauh lagi.


"Oh iya, apa aku boleh minta nomor ponselmu?" Tanya Dokter Radit lagi.


"Nomor ponsel? Untuk apa, Dok?" Tanya Rissa.


"Emm ini kalau nanti aku mau menjenguk Melati, aku bisa tanya dulu sama kamu. Apa Melati ada di rumah atau tidak," Dokter Radit memberi alasan. Ia sedikit canggung saat itu, namun ia berusaha untuk menyembunyikannya.


Rissa melirik ke arah Bi Ai, lalu menganggukkan kepalanya.


"Boleh, Dok."


Dokter Radit tersenyum, ia merasa senang karena Rissa mau memberikan nomor ponselnya.


Dokter Radit lalu memberikan ponselnya, dan Rissa menuliskan nomor di dalamnya.


"Ini, Dok." Rissa mengembalikan ponsel milik Dokter Radit.


"Ah, iya. Makasih, Sa."


"Sama-sama," jawab Rissa.


"Ya sudah, aku pamit dulu. Nanti kalau ada waktu aku kemari lagi, untuk menemui Melati." Dokter Radit berpamitan pada Rissa dan Bi Ai.


Rissa pun mengantar Dokter Radit hingga teras rumah, setelah Dokter Radit pergi ia lalu masuk kembali ke dalam rumah.


"Non, kayaknya Dokter Radit orangnya baik, yah." Bi Ai menuturkan.


"Emm, sepertinya begitu, Bi. Kenapa, Bibi suka ya?" Goda Rissa pada Bi Ai.


"Ish, apaan sih Non. Masa Bibi suka sama brondong," sahut Bi Ai.


"Ya tidak mungkinlah, Non. Emm, ada juga Bibi rasa Dokter Radit suka sama Non Rissa," Bi Ai balik menggoda Rissa.


"Hah, Bibi apa-apaan sih. Sudah ah jangan membicarakan orang, pamali."


Rissa dan Bi Ai tertasa kecil bersama, lalu mereka kembali pada kesibukan masing-masing.


***


Di tempat lain, Dion baru saja sampai di kediaman mertuanya. Ia segera turun dari mobil, dan dengan tak sabar ingin segera bertemu istri pertamanya itu.


"Assalamuallaikum," ucap Dion sembari mengetuk pintu rumah.


"Wa'allaikumsalam," seseorang menjawab di dalam sana. Tak lama pintu rumah pun terbuka.


"Dion, kamu kemari? Sendiri saja?" Tanya Ayah Melati.


"Iya, Yah. Dion sendiri saja, Melati mana, Yah?" Tanya Dion.


"Melati ada di kamar, ia masih tidak banyak bicara. Makan pun tidak mau," tutur Ayah Melati.


"Ya sudah, masuk dulu. Ibu sedang di dapur," ujar Ayah Melati.


Dion mengangguk dan mengikuti Ayah mertuanya masuk ke dalam rumah.


"Melati disana, coba kamu bujuk. Ayah takut dia sakit karena tidak mau makan," pinta Ayah Melati.


"Iya, Yah. Dion coba bujuk," jawab Dion.


Dion berjalan mendekati pintu kamar Melati, dengan perlahan ia mulai mengetuk pintu itu.

__ADS_1


"Mel, sayang. Ini Mas, bisa buka pintunya? Mas kangen sama kamu," bujuk Dion.


Tak ada jawaban, namun tak lama pintu itu terbuka.


Mata Dion berbinar, ia segera berhambur memeluk istrinya yang kini tengah berdiri di depannya.


Sebelum Dion berhasil memeluk, Melati sudah lebih dulu menahan tubuh suaminya itu.


"Mau apa Mas kesini?" Tanya Melati dengan tatapan penuh kemarahan.


Dion berusaha menahan dirinya, dan berbicara baik-baik pada Melati.


"Sayang, kamu tenang dulu. Kita bicara baik-baik, yah." Dion membujuk.


"Bicara apa? Kebohongan apa lagi yang akan kamu katakan sama aku, Mas? Kamu mau membodohi aku lagi?" Melati masih kecewa pada suaminya.


Ibu Melati yang mendengar keributan, segera keluar dari dapur.


"Ayah, ada apa?" Tanyanya oada sang suami.


Ayah Melati menahan istrinya untuk menemui Melati, beliau ingin memberi waktu untuk Dion dan Melati menyelesaikan masalah mereka.


"Bu, sudah jangan temui mereka. Biarkan mereka bicara," saran Ayah Melati.


Ibu Melati hanya menurut, ia selalu mendo'akan yang terbaik untuk rumah tangga anaknya.


"Mel, Mas tidak bermaksud membohongimu. Waktu itu Mas dan semuanya hanya memikirkan kesehatanmu, kami ingin kamu segera pulih.


Mas tahu Mas salah, Mas minta maaf. Tapi demi Allah Mas tidak bermaksud membohongimu apalagi membodohimu," tutur Dion. Berharap istrinya luluh.


"Memikirkan kesehatanku? Lalu sekarang apa? Kamu sudah membuat aku berharap, dan kamu sendiri yang sudah menghancurkan harapanku! Kamu yang membuat aku sesakit ini, Mas." Melati masih tersulut emosi.


Dion dengan cepat memeluk istrinya, berharap ia dapat menenangkan Melati yang tengah terguncang.


"Lepas, Mas. Aku benci sama kamu!" Seru Melati seraya meronta melepas pelukan suaminya.


"Tidak, Mas tidak akan melepasmu. Maafkan Mas, maaf." Dion semakin mempererat dekapannya.


"Kenapa kamu tega sama aku, Mas. Kenapa?" Melati masih meronta. Hingga ia kehabisan energi, dan ambruk seketika.


Dion segera membantu istrinya, dan membaringkannya di atas tempat tidur.


"Mel, bangun sayang. Maafkan Mas," pinta Dion sembari menepuk pipi istrinya.


Ibu dan Ayah Melati ikut membangunkan anaknya, mereka juga merasa khawatir akan kondisi Melati.


"Aku tidak bisa lagi punya anak, aku tidak akan pernah hamil lagi. Aku bukan wanita tidak berguna," gumam Melati dengan setengah sadar.


"Tidak sayang, kamu wanita sempurna di mataku. Jangan berbicara seperti itu," pinta Dion sembari mengusap kening istrinya.


"Aku tidak bisa memberikan anak untukmu, aku tidak bisa menjadi Ibu dari anak-anakmu. Aku takut kamu meninggalkanku, Mas."


Melati mengungkan apa yang di rasakannya. Ya, selain tidak bisa memiliki keturunan, Melati juga takut jika suaminya mencari istri lain yang bisa memberikan keturunan untuk suaminya.


Dion tertegun, lagi-lagi ia merasa bersalah pada istrinya.


"Jangan tinggalkan aku, Mas. Aku mohon..."Melati memelas.


Dion dengan berurai air mata, memelum istrinya.


"Aku janji tidak akan meninggalkanmu, Mel. Aku janji..."

__ADS_1


__ADS_2