Dua Cincin

Dua Cincin
Tidak Menerima


__ADS_3

Melati kembali mengantar Rissa ke dalam kamar, ia juga menaruh beberapa makanan ringan jika Rissa nanti merasa lapar.


"Sa, istirahat, yah. Oh iya, ini ada cemilan. Tadi kamu makan sedikit, kalau nanti kamu lapar, makan cemilannya, yah."


Melati begitu memperhatikan Rissa, membuat Rissa semakin merasa bersalah padanya.


"Iya, Mbak. Makasih," ucap Rissa dengan lemas.


Melati tersenyum, lalu ia beranjak dari tempatnya.


"Aku keluar dulu," ucap Melati.


Rissa mengangguk, "iya, Mbak. Sekali lagi makasih," ucap Rissa.


"Iya, sama-sama."


Melati berjalan keluar kamar Rissa, ia juga tak lupa menutup rapat pintu kamar.


Dion yang sedari tadi berdiri di depan kamar Rissa, menunggu kabar dari istri pertamanya.


"Gimana Rissa, sayang?" Tanya Dion.


Melati menatap raut wajah suaminga dengan selidik, ia merasa kalau Dion tengah khawatir pada Rissa.


"Rissa baik-baik saja, kok. Kamu kelihatannya sangat khawatir, Mas."


Dion mengusap tengkuknya, ia berusaha untuk tidak membuat istri pertamanya curiga.


"Bukan begitu, sayang. Besok kan Mas mau ajak Rissa ke rumah Ibu, kalau dia sakit, Mas takut Ibu kecewa kalau dia tidak jadi datang." Dion berdalih, dan seperti biasa, Dion berhasil meyakinkan istrinya.


"Lebih baik kita istirahat, Mel. Aku ngantuk," ajak Dion pada istrinya.


Melati pun menurut, dan mengikuti suaminya dari belakang.


***


Di dalam kamar, kini Melati telah siap dengan baju tidurnya. Entah mengapa kali ini Melati ingin memakai piyama tipis, hasrat sebagai seorang istri kepada suami muncul secara mendadak.


Melati berjalan mendekati tempat tidur, disana Dion tengah menyandarkan punggungnya sembari memainkan ponsel.


Melati duduk di sebelah Dion, ia menyenderkan kepalanya pada bahu Dion. Tangan Melati juga kini mengelus lembut dada bidang suaminya, namun Dion masih belum memberi reaksi apapun terhadap sikap istrinya.


Melati berkali-kali mencoba menggoda suaminya, tetapi Dion malah seperti tak menyadari gelagat istrinya itu.


Melati merubah posisinya, kini ia berbaring terlentang dengan gestur menggoda.


Dion sekilas melirik, dan mengulum senyum pada istrinya.


Dion segera menyusul berbaring di samping Melati, ia juga mengecup pelan kening beserta bibir istrinya.


Melati yang merasa senang dengan reaksi Dion, sontak berpikir bahwa apa yang di inginkannya akan terjadi.


Namun apa yang di dapat Melati, Dion kini malah menyelimuti tubuh istrinya dan menyuruh Melati untuk segera tidur.


"Selamat tidur, sayang. Mimpi indah," ucap Dion.


Ia pun segera memejamkan matanya, dan segera menuju alam bawah sadarnya.

__ADS_1


Melati kecewa dengan sikap Dion, ia merasa suaminya tidak peka dengan apa yang di lakukannya.


"Kamu kenapa sih, Mas. Sudah lama kamu tak meminta hakmu. Apa semua karena aku yang tidak akan pernah memiliki anak lagi?" Melati membatin, air matanya menetes membasahi pipi juga bantal yang berada di bawahnya.


***


Pagi-pagi sekali Dion telah berpakaian sangat rapih, ia terlihat memakai pakaian santai namun tetap terlihat sopan.


Melati yang baru saja selesai mandi, sontak menanyakan suaminya yang telah bersiap.


"Mas, pagi-pagi sudah rapih banget. Mau ke rumah Ibu?" Tanya Melati.


Dion mengangguk, "iya, sayang. Mas mau bawa Rissa ke rumah Ibu, setelah itu aku akan ke cafe." Dion menjelaskan.


Melati mengangguk, "semangat banget kamu, Mas."


Dion sedikit tersentil, ia memang tengah sangat bersemangat saat ini.


"Sayang, Mas kan kangen sama Ibu. Jadi wajar kalau Mas terlihat semangat," lagi-lagi Dion berdalih.


Melati memaklumi sikap suaminya, ia juga tampak tak terlalu memikirkan tentang prilaku suaminya itu.


"Kamu beneran gak mau ikut, Mel?" Tanya Dion. Ia masih berusaha untuk tidak membuat Melati curiga padanya, dalam hati Dion, ia berharap memang Melati tidak ikut dengannya.


Melati menggeleng, sembari mengeringkan rambutnya menggunakan handuk kecil.


"Lain kali yah, Mas. Tidak apa-apa, kan?" Tanya Melati.


Dion duduk di samping istrinya, ia juga mengambil handuk kecil dan beralih membantu mengeringkan rambut istrinya.


"Tidak apa-apa, sayang. Tapi lain kali kamu harus berkunjung ke rumah Ibu, yah. Ibu pasti senang kamu datang," ujar Dion.


Setelah rapih, Melati segera keluar dari kamar. Belum sempat ia menunu kamar Rissa, ia sudah melihat Rissa tengah berada di dapur.


"Sa, kamu sudah nyiapin masakan aja." Melati menegur.


"Eh, iya Mbak. Kasihan Bi Ai kalau masak sendiri," sahut Rissa.


Dari arah belakang, Dion berjalan mendekati Melati juga Rissa.


"Sa, kita ke rumah Ibu sekarang. Ibu ingin bertemu sama kamu" ujar Dion.


Rissa tampak terdiam, ia juga menatap suaminya penuh tanya. Pasalnya Rissa sama sekali tidak mengetahui tentang hal ini, ia tak di beritahu sebelumnya oleh Melatinl maupun Dion.


"Sekarang, Mbak, Mas? Kok dadakan?" Tanya Rissa.


"Iya, kemarin kita belum sempat kasih tahu kamu. Kamu mau kan ke rumah Ibu?" Tanya Dion.


Tanpa sepengetahuan Melati, Dion menatap Rissa sembari memberikan isyarat.


Rissa melihat kode itu dari suaminya, ia lalu menyetujui permintaan suaminya.


"Ya sudah, aku siap-siap dulu. Oh iya, Mbak Melati ikut juga ke rumah Ibu?" Tanya Rissa.


Melati menggeleng, "tidak, Sa. Lain waktu saja aku main ke rumah Ibu," jawab Melati.


"Oh begitu, ya sudah aku akan siap-siap dulu, Mbak, Mas." Rissa berpamitan, dan bersiap sesegera mungkin. Rissa ragu jika suaminya benar-benar ingin mengajaknya ke rumah Ibu Anna, Rissa berpikir bahwa suaminya itu hendak membawanya ke rumah sakit untuk memeriksakan kandungannya.

__ADS_1


***


Selesai sarapan, Melati mengantar suaminya yang hendak berangkat ke rumah sang Ibu mertua.


Sebenarnya Melati ingin sekali ikut, tapi egonya kini lebih tinggi daripada keinginannya menemui sang mertua.


"Hati-hati, Mas. Kabari kalau sudah sampai," ucap Melati.


Dion mengangguk, ia masuk ke dalam mobil di ikuti oleh Rissa yang duduk di sebelahnya.


Mobil Dion pun keluar dari halaman rumah, dan Melati pun kembali masuk.


Langkah Melati kini menuju dapur, ia duduk sendirian di kursi meja makan.


Melihat majikannya yang tengah melamun, Bi Ai berinisiatif untuk menghampiri Melati.


"Non, kenapa melamun?" Tanya Bi Ai.


Melati menoleh, ia menghela nafas beratnya.


"Entahlah, Bi. Akhir-akhir ini, aku merasa Mas Dion berubah." Melati memasang raut wajah sedih.


Bi Ai mengerutkan keningnya, ia kini memberanikan diri untuk duduk di samping majikannya.


"Kalau Bibi boleh tahu berubah gimana, Non?" Tanya Bi Ai dengan hati-hati.


"Mas Dion sudah lupa sama kewajibannya sama aku, Bi. Jangankan menyentuh, mesra-mesraan saja sudah jarang..."


Melati menatap kosong ke arah depan, tangannya seakan menyiratkan kegelisahan.


"Apa karena aku di vonis tidak akan punya anak lagi yah, Bi?"


Pertanyaan itu selalu muncul di benak Melati.


Tak bisa di pungkiri, Bi Ai merasa iba pada majikannya itu. Ia paham betul akan perasaan Melati, sebagai orangtua, Bi Ai juga mengerti dengan situasi yang terjadi pada Melati dan Dion.


"Ya tidak usah berpikir negatif dulu, Non. Den Dion bukan laki-laki seperti itu," Bi Ai mencoba untuk meluruskan pikiran Melati tentang suaminya.


"Aku takut, Bi. Aku takut kalau Mas Dion mencari wanita lain," ujar Melati.


Bi Ai terdiam, rasanya ia ikut merasa bersalah pada majikannya itu.


"Ini kalau misalkan, Non. Kalau misalkan Den Dion tega berbuat seperti itu, apa yang akan Non lakukan?" Tanya Bi Ai.


Melati menghembuskan nafasnya dengan kasar, tangannya kini terkepal.


"Ya aku tidak akan terima, Bi. Aku akan labrak wanita yang sudah menggoda suamiku!" Seru Melati penuh amarah, hingga menggebrak meja.


Bi Ai terkejut, ia kini merasa khawatir pada Rissa. Pasalnya ia tahu betul apa alasan Rissa menikah dengan Dion, dan Rissa juga bukan wanita penggoda.


"Ka-kalau misalkan wanita itu terpaksa, bagaimana, Non?" Tanya Bi Ai lagi.


Melati menatap Bi Ai dengan tajam, ia seakan tak menerima alasan apapun yang menyebabkan suaminya menikah lagi.


"Apapun alasannya, aku tidak peduli. Dan mungkin aku juga akan memberi pilihan pada Mas Dion, aku akan meminta dia untuk memilih antara aku, atau wanita pelakor itu!"


Nada bicara Melati begitu tegas, membuat Bi Ai tak berani melanjutkan pertanyaannya.

__ADS_1


Kini Bi Ai hanya bisa berusaha untuk menutupi semuanya, karena ia tidak ingin Rissa menjadi sasaran amukan Melati nantinya.


__ADS_2