
Sungguh Dion sangat tertekan saat ini, ruang geraknya seakan menyempit.
Pertanyaan demi pertanyaan tak pernah pergi dari kepalanya, kenapa hidupnya harus berada pada sebuah persimpangan.
Dion mengacak rambutnya dengan kasar, mengusap wajahnya yang tampak kusut.
"Ya Allah, apa yang harus aku lakukan? Aku tidak ingin hidup seperti ini. Aku hanya ingin bertanggung jawan pada dua wanita, Ibu, juga istriku. Aku takut tidak dapat berbuat adil!" Batin Dion berkecamuk, tak ada tempat untuk sekedar meminta pendapat.
Seharian Dion tak keluar dari ruangannya, ia teringat sikapnya yang kasar terhadap Rissa.
Waktu belum menunjukkan jamnya pulang, tetapi Dion memutuskan untuk pergi dari cafe lebih dulu.
"Ra, saya ada urusan. Tolong jaga cafe dan kunci yang benar. Aku pergi dulu," pinta Dion pada Ara sebelum pergi meninggalkan cafe.
Ara menganggukkan kepalanya, ia tak sempat bertanya kenapa bosnya pergi terburu-buru. Akhir-akhir ini Ara melihat perubahan sikap Dion, dan hal itu sedikit membuat para karyawan lainnya bertanya-tanya.
"Kasihan si Bos, kayaknya lagi banyak masalah!" Seru Ara dalam hati.
Dion melajukan mobilnya dengan cepat, ia ingin segera sampai di kediaman Ibunya.
Di tempat lain, Rissa tak langsung pulang ke rumah setelah dari cafe suaminya. Ia kini berada di tempat dimana ia tinggal dulu, panti asuhan.
Awalnya Rissa tak berencana untuk mampir, namun rasa sedih di hatinya membawanya melangkah ke tempat yang selalu ia rindukan.
"Senangnya bisa kesini lagi," ucap Rissa sembari menatap bangunan yang masih berdiri kokoh di hadapannya.
"Kak Rissa..."
Teriak salah satu anak panti.
Rissa melambaikan tangannya, dan berlari kecil mendekati anak tersebut.
"Kak Rissa kenapa baru kesini lagi? Kita disini gak ada yang ngajarin mengaji lagi," ucap anak perempuan bernama Zahra.
"Kak Rissa kan harus tinggal di rumah Ibu Anna, tapi Kak Rissa janji bakalan sering-sering main kesini."
Rissa membelai lembut rambut Zahra.
Zahra mengangguk senang, dan menggandeng Rissa untuk masuk kedalam.
"Anak-anak lain pasti senang Kak Rissa datang," ucap Zahra.
***
Dion baru saja sampai di rumah Ibunya, dengan cepat ia masuk ke dalam rumah dan mencari Rissa.
"Sa," teriak Dion.
Dion tak mendapati jawaban, dan mencari istrinya ke setiap ruangan.
"Rissa," teriaknya lagi.
"Dion, ada apa? Kenapa teriak-teriak?" Tanya Ibu Anna yang baru saja keluar dari kamarnya.
Dion berjalan menghampiri Ibunya, dan menyalaminya terlebih dulu.
"Rissa mana, Bu?" Tanya Dion.
Ibu Anna mengernyitkan keningnya, "kok tanya Ibu. Bukannya Rissa pergi ke cafe?" Tanya Ibu Anna.
"Iya, tapi dia sudah pulang tadi."
"Tapi Rissa belum pulang, Yon." Ibu Anna menuturkan.
__ADS_1
"Belum pulang? Tapi dia bilang tadi mau langsung pulang kok, Bu. Lalu dia kemana?" Tanya Dion keheranan.
"Harusnya kamu yang lebih tahu istrimu kemana," ujar Ibu Anna, membuat Dion tak dapat berkutik lagi.
Ibu Anna menghela nafasnya, "sudah coba di hubungi?" Tanyanya.
Dion menggelengkan kepalanya, "aku tidak punya nomornya, Bu."
Ibu Anna lagi-lagi dibuat kecewa oleh anaknya, "nomor telepon istri saja tidak tahu. Bagaimana kamu ini, Yon." Ibu Anna menjawab sembari berbalik meninggalkan Dion.
"Aku lupa meminta nomornya, Bu." Dion mengikuti langkah Ibunya yang berniat untuk mengambil ponselnya.
"Ini, di hp Ibu ada nomor Rissa. Kamu cepat hubungi dia!" Seru Ibu Anna.
Dion meraih ponsel milik Ibunya, dan segera mencatat nomor ponsel Rissa di hp miliknya.
Setelah selesai menyimpan nomor telepon Rissa, Dion segera menghubungi istrinya itu.
"Halo, ini siapa?" Tanya Rissa di balik ponsel.
"Ini aku, dimana kau?" Tanya Dion tanpa basa basi.
"Oh, aku di panti. Kenapa?" Tanya Rissa seadanya. Ia seakan sudah mengenali suara tegas suaminya.
Dion menghela nafasnya kasar, lalu mematikan sambungan teleponnya secara sepihak.
Rissa mendengus kesal mendapati sikap suaminya itu, dengan cepat ia kembali memasukan ponsel ke dalam tasnya.
"Menghubungiku hanya untuk bertanya seperti itu saja, suami macam apa!" Gerutu Rissa.
Dion memasukan ponsel ke dalam saku celananya, dan segera memanggil asisten rumah tangga Ibu Anna untuk membantunya.
"Bi," teriak Dion.
"Bantu aku membereskan barang-barang Rissa," pinta Dion.
Ibu Anna terhentak, "kenapa barang-barang Rissa mau kamu bereskan?" Tanyanya.
"Malam ini Rissa pindah ke rumahku, Bu."
Ibu Anna sedikit tersenyum, "syukurlah. Lalu Melati?" Tanya Ibu Anna.
"Melati sudah setuju, tentunya karena mendengar alasan yang aku buat." Dion memaparkan.
"Ibu doakan semoga rumah tanggamu selalu di berkahi Allah," ucap Ibu Anna sembari memeluk anaknya.
Dion mengangguk," aamiin."
"Den, ini barang-barang Non Rissa." Bi Imas menyodorkan sebuah tas besar berisi pakaian juga barang-barang yang ada di kamar Rissa.
"Makasih, Bi."
Dion meraih barang istrinya, dan berpamitan pada sang Ibu.
"Bu, aku pamit jemput Rissa dulu. Ibu tidak apa-apa kan berdua sama Bi Imas?" Tanya Dion. Sebenarnya ia merasa tidak tega melihat Ibunya kembali kesepian, namun ini juga permintaan Ibu Anna. Dion hanya berharap keputusannya ini adalah yang terbaik untuk semua.
***
Dion telah sampai di panti asuhan, dengan cepat ia merogoh ponselnya dan menghubungi Rissa.
"Keluar, aku ada di depan." Dion berucap dengan tegas.
Di dalam panti, Rissa lagi-lagi mendengus kesal.
__ADS_1
"Untuk apa datang kesini, aku kan masih ingin disini."
Dengan terpaksa Rissa keluar dari panti, dan menyempatkan berpamitan pada semuanya.
Rissa berjalan keluar panti, dari kejauhan tampak Dion yang sudah berdiri menatapnya.
"Lama sekali," ucap Dion saat Rissa telah mendekatinya.
"Aku kan harus pamitan dulu," jawab Rissa seadanya.
Dion tak menggubris dan berlalu masuk kedalam mobilnya.
Rissa yang tak mengerti maksud Dion, hanya berdiam diri tanpa mengikuti suaminya.
Dion membuka kaca jendela mobil, dan berteriak di dalam sana.
"Kenapa diam? Masuk!" Seru Dion.
Rissa terhentak, dan segera masuk ke dalam mobil.
Di dalam mobil, tanpa sengaja Rissa melihat tas besar yang Dion simpan di kursi belakang.
"Tasnya mirip dengan punyaku," gumam Rissa.
"Itu tas siapa Mas?" Rissa memberanikan diri untuk bertanya.
"Tas punyamu," sahut Dion singkat.
Rissa terkejut, "tasku? Kenapa kau membawa tasku?" Tanya Rissa.
"Malam ini kamu tinggal bersamaku," jawab Dion.
"Malam ini? Tapi Mbak Melati?" Tanya Rissa.
"Aku bisa mengatasinya, kamu hanya turuti saja apa mauku." Dion menjawab tanpa menoleh kearah Rissa.
Rissa terdiam, ia tak dapat menimpali perkataan suaminya. Ia kini tengah menyiapkan dirinya, bagaimana caranya ia bersikap layaknya asisten rumah tangga di hadapan suami juga madunya.
"Ya Allah, mudahkanlah. Kuatkan aku," doa Rissa dalam hatinya.
***
Dion telah masuk ke area komplek perumahannya, sekitar beberapa meter dari rumahnya Dion memberhentikan laju mobilnya.
"Sudah sampai?" Tanya Rissa.
Dion mengangguk, ia keluar dari mobil dan menurunkan barang-barang milik istrinya.
Dion menaruh barang itu di tepi jalan, dan meminta Rissa untuk keluar dari mobil.
Rissa menurut, ia tampak kebingungan.
"Aku pulang duluan, rumahku hanya tinggal beberapa meter lagi. Maaf aku harus menurunkanmu disini," ucap Dion.
Rissa terdiam, ia benar-benar tak menyangka suaminya akan melakukan hal ini padanya. Namun apalah daya, Rissa tak dapat berbuat apapun.
"Aku paham," jawab Rissa.
Dion kembali masuk ke dalam mobil, dan berlalu meninggalkan istrinya dengan barang bawaan yang lumayan berat.
Rissa menarik nafasnya dalam, menahan rasa perih yang menyayat hatinya.
"Sabar, Sa. Kamu kuat!" Serunya.
__ADS_1