
Hari ini Dion kembali bekerja seperti biasanya, ia merasa tak enak jika harus mengabaikan cafe juga karyawannya.
Rencananya hari ini ia juga ingin berkunjung ke rumah Ibunya, tentunya untuk membicarakan perihal kepindahan Rissa ke rumahnya.
Melati tengah membantu Bi Ai menyiapkan sarapan, beberapa hari tinggal bersama Ibunya, Melati mendapat lebih banyak pelajaran tentang bagaimana melayani suami dengan baik.
"Pagi sayang," sapa Dion sembari berjalan kearah istrinya.
"Pagi juga, Mas." Melati membalas.
"Sarapan dulu yu," ajak Melati.
Dion mengangguk, dan duduk di kursi meja makan.
"Mau roti apa nasi goreng?" Tanya Melati.
"Roti saja," jawab Dion.
"Baiklah."
Melati menyiapkan roti yang di lapisi selai kacang coklat kesukaan Dion.
"Ini, Mas." Melati menyodorkan sebuah piring berisi roti pada suaminya.
"Terimakasih," ucap Dion dan segera memakan roti buatan istrinya.
"Oh iya, Mel. Pulang dari cafe Mas ke rumah Ibu dulu," ujar Dion.
"Mau apa, Mas?" Tanya Melati sembari menyuapkan satu sendok nasi goreng ke mulutnya.
"Memberitahu Ibu soal kita yang mau menambah asisten rumah tangga," jawab Dion. Ada perasaan tidak enak pada saat ia menyebutkan Rissa sebagai asisten rumah tangga.
"Oh, ya sudah. Pulangnya jangan malam-malam," pinta Melati.
"Iya," jawab Dion.
Selesai sarapan, Dion segera berangkat ke cafe. Ia tak terbiasa jika datang terlalu siang ke cafe.
"Aku pergi dulu," ucap Dion.
Melati mengangguk dan mengantar Dion sampai teras rumah. Melati melambaikan tangannya ketika mobil yang di kendarai Dion menjauh dari pandangannya.
***
Di kediaman Ibu Anna, Rissa tengah memasak untuk sang mertua.
Dengan telaten, ia menyiapkan juga semua kebutuhan mertuanya itu.
Selama tinggal di panti asuhan, Risaa telah terbiasa dengan pekerjaan rumah. Bahkan ia juga sering membantu Ibu pemilik panti menyiapkan makanan untuk semua penghuni panti, jadi hal yang biasa jika kesehariannya kini di sibukkan dengan urusan dapur dan beres-beres rumah.
"Sa, masaknya sudah selesai?" Tanya Ibu Anna.
"Sudah, Bu. Ibu mau makan sekarang?" Tanya Rissa.
"Nanti saja. Emm, Ibu boleh minta tolong?" Tanya Ibu Anna.
__ADS_1
"Minta tolong apa, Bu?" Tanya Rissa.
"Kamu antarkan makan siang untuk suamimu," ucap Ibu Anna.
Rissa terdiam, bukan ia tidak mau menuruti permintaan Ibu mertuanya. Namun, apakah tidak akan menimbulkan curiga jika ia mengirim makanan ke rumah madu nya.
"Bukan ke rumahnya, tapi ke cafe suamimu." Ibu Anna menambahkan.
"Mas Dion punya cafe, Bu?" Tanya Rissa. Ya, wajar jika Rissa baru mengetahui pekerjaan suaminya, mereka kan tidak sempat mengenal satu sama lain sebelumnya.
"Iya, gimana mau?" Tanya Ibu Anna.
"Ya sudah, Rissa minta alamatnya. Sebentar lagi Rissa berangkat," ucap Rissa.
Ibu Anna senang mendengar jawaban menantunya, ia akan melakukan apapun untuk hubungan Dion dan Rissa.
Selesai bersiap-siap dan menyiapkan makanan untuk Dion, Rissa segera berpamitan pada Ibu mertuanya.
"Rissa pergi dulu, Bu. Ibu jangan telat makan, Rissa tidak akan lama, kok."
Ibu Anna mengangguk, ia menyuruh supir pribadinya untuk mengantar Rissa ke cafe Dion.
Rissa pun pergi di antar oleh supir pribadi Ibu Anna, sejujurnya ia begitu gugup saat ini.
"Bismillah, Sa. Demi Ibu, dan ini memang kewajiban kamu, kan." Rissa menyemangati dirinya.
Tak butuh waktu lama, kini Rissa telah sampai di cafe Dion.
Sebelum masuk, ia berpesan pada Pak Joko, untuk tidak menunggunya.
Rissa mulai masuk ke dalam cafe, ia mengedarkan pandangannya mencari Dion.
"Pak Dion ada di ruangan, Mbak. Maaf, Mbak ada keperluan apa yah?" Tanya Karyawan itu.
"Oh, ini saya ingin mengantarkan sesuatu padanya. Bisa antarkan saya atau menunjukkan dimana ruangannya?" Tanya Rissa.
Karena pekerjaanya yang lumayan sibuk, akhirnya Karyawan itu menunjukkan dimana ruangan Dion.
"Terimakasih," ucap Rissa.
Karyawan itu mengangguk, dan kembali melanjutkan pekerjaannya.
Sejenak ia juga sempat bertanya-tanya, siapa wanita yang mengunjungi bosnya itu.
Rissa berjalan menuju ruangan suaminya, dengan ragu Rissa melangkahkan kakinya.
Di depan pintu, Rissa mencoba memberanikan diri untuk mengetuk pintu.
Rissa berhenti mengetuk, dan tak lama pintu ruangan terbuka.
Sepasang mata kini bertemu, sang pemiliknya sama-sama terkejut saat ini.
"Kau, sedang apa kau disini?" Tanya Dion sembari mengedarkan pandangannya, ia tak ingin ada orang yang melihat kedatangan Rissa.
Dion menarik paksa Rissa masuk kedalam ruangannya, dengan cepat ia menutup pintu dan menguncinya.
__ADS_1
"Darimana kau tahu cafeku?" Tanyanya lagi.
"Aku disuruh Ibu untuk mengantar makan siang, Mas." Rissa menjawab sembari ketakutan melihat sikap Dion.
"Aku bukan anak kecil! Aku bisa makan sendiri," jawab Dion.
"Baru beberapa hari, kamu sudah lancang menemuiku tanpa meminta izin lebih dulu. Kalau ada yang lihat kamu masuk ke ruanganku bagaimana?" Tanya Dion, ia mulai emosi.
Rissa menunduk, "tapi aku hanya di suruh, Mas."
"Ya kan bisa menolak! Kalau sampai ada yang memberitahu istriku bagaimana?" Tanya Dion lagi dengan nada kesal.
"Aku juga istrimu, Mas. Aku pikir kau tidak akan semarah ini, kalau tahu akan seperti ini aku tidak akan datang ke cafe." Rissa menjawab sembari menyeka air matanya.
Rissa menaruh rantang yang dibawanya diatas meja, ia berniat untuk bergegas keluar dan pergi dari cafe suaminya.
"Ibu hanya memintaku mengirimkan makanan ini, kalau begitu sekarang aku akan pergi." Rissa berbalik dan keluar dari ruangan Dion.
Dion mengusap wajahnya dengan kasar, ia memandangi makanan yang dibawakan oleh istri keduanya.
Dion berlari keluar ruangan, hendak menyusul Rissa.
"Sa, tunggu." Dion berteriak.
Rissa tidak menghentikan langkahnya, ia terus berjalan dengan cepat menjauhi Dion.
"Rissa!"
Langkah Rissa terhenti, Dion berhasil mengejarnya.
"Ada apa?" Tanya Rissa.
"Aku minta maaf, aku tidak bermaksud berbicara kasar padamu." Dion merasa bersalah.
Rissa tersenyum miris, ia menghela nafasnya.
"Tidak perlu minta maaf, aku melakukan ini untuk Ibu."
Dion terdiam, mungkin Rissa belum bisa memaafkannya.
"Aku antar kau pulang," ucap Dion.
"Tidak perlu, aku bisa sendiri." Rissa menolak dengan lugas.
Dion menarik nafasnya, dan menarik Rissa untuk kembali ke cafe.
Dengan cepat Rissa melepas genggaman tangan suaminya, ada perasaan pedih saat itu.
"Lepas, Mas!" Seru Rissa.
Dion menoleh, dan melepas genggamannya.
"Aku bisa pulang sendiri, lagipula Mas kan juga tidak mau ada orang yang melihat Mas denganku. Apalagi sampai Mbak Melati tahu," sahut Rissa. Ia benar-benar menahan rasa sakit dihatinya saat ini.
"Permisi." Rissa berjalan menjauhi Dion, tak lama ia juga mendapatkan taksi dan segera masuk kedalamnya.
__ADS_1
Dion memandangi taksi yang membawa istrinya pergi, ada rasa yang tidak dapat ia jelaskan saat ini.
"Inget, Sa. Kamu hanya istri kedua, jangan berharap lebih pada suamimu. Sekalipun itu adalah hakmu," pinta Rissa dalam hatinya.