Dua Cincin

Dua Cincin
Sakit Yang Tak Berdarah


__ADS_3

Dion berhasil menenangkan Melati, ia juga meminta izin kepada istrinya untuk pergi ke cafe.


"Sayang, aku tinggal dulu."


Melati mengangguk, "oh iya, Rissa gimana?" Tanya Melati.


"Untuk sementara Rissa bermalam di rumah Ibu dulu," sahut Dion.


Melati mengerti, ia mengantar suaminya hingga teras rumah. Setelah suaminya itu pergi, Melati segera masuk kembali ke dalam rumah.


Dalam hatinya, Melati masih ragu akan jawaban Dion.


Ia masih merasa tak tenang, dan bahkan kini ia berniat untuk melakukan sesuatu yang dapat menghilangkan rasa penasarannya.


"Bi, aku pergi dulu, yah." Melati berpamitan pada Bi Ai.


"Iya, Non. Kalau boleh tahu, Non Melati mau pergi kemana?" Tanya Bi Ai.


Melati memilih bungkam, ia tak ingin memberitahu siapapun tentang niatnya.


Bi Ai menghargai keputusan majikannya, ia juga paham kalau dirinya tak pantas ikut campur urusan Melati.


***


Di rumah Ibu Anna, Rissa tengah di manjakan oleh sang Ibu mertua. Banyak hidangan yang sengaja di sajikan untuk Rissa, bahkan Ibu Anna juga tak henti-hentinya menanyakan hal yang ingin di makan menantunya saat ini.


"Bu, aku sedang tidak ingin apapun. Sudah Ibu istirahat saja," ucap Rissa.


Ibu Anna menghela nafasnya, ia terlalu bersemangat dengan kehamilan menantunya itu.


"Oh iya, Sa. Kamu tadi periksa ke Dokter kandungan?" Tanya Ibu Anna.


Rissa mengangguk, "iya, Bu."


"Lalu Melati?" Tanya Ibu Anna. Ia ingin tahu apa yang di lakukan Dion, sehingga mereka bisa pergi bersama.

__ADS_1


"Aku tidak tahu apa yang di lakukan Mas Dion, tiba-tiba saja Mbak Melati mengizinkan aku dan Mas Dion pergi, dan mengantarkanku kesini," tutur Rissa.


Bu Anna terdiam, ia merasa bersalah pada menantu pertamanya itu.


"Jujur, Ibu kasihan sama Melati. Tapi Ibu juga ingin Dion memiliki keturunan, darah dagingnya sendiri." Raut Ibu Anna tampak berubah, jelas sekali beliau tampak khawatir.


"Aku juga sama, Bu. Aku merasa menjadi wanita yang paling jahat, terang-terangan aku telah menyakiti hati sesama wanita." Rissa tertegun.


"Apa aku mundur saja, Bu."


Rissa mencetuskan kalimat itu, entah apa yang membuatnya memutuskan untuk mengakhiri hubungannya dengan Dion.


"Sa, kenapa kamu bilang seperti itu? Ibu tidak mau kamu pergi," bujuk Ibu Anna.


Rissa tak dapat menjawab permintaan mertuanya itu, yang ia pikirkan kini hanya perasaan Melati.


***


Di tempat lain, Melati kini tengah berada di sebuah tempat yang tak pernah ia pikirkan akan ia datangi.


"Ayo, Mel. Kamu kuat!" Pintanya pada diri sendiri.


Melati mulai masuk ke tempat itu, ia mulai mencari ruangan yang sempat di datangi oleh suaminya.


Sebelumnya, ia telah mencari tahu pada Susi alamat rumah sakit yang di datangi oleh Dion dan wanita misterius itu.


Melati berinisiatif untuk bertanya pada bagian pendaftaran, dengan suara gemetar ia mulai melancarkan aksinya.


"Permisi, Mbak. Saya mau tanya, apa hari ini ada pasien yang mengunjungi Dokter kandungan?" Tanya Melati dengan hati-hati.


"Maaf, Bu. Untuk data pasien itu bersifat pribadi, kami tidak bisa memberitahu ke sembarang orang. Sebelumnya, kalau boleh tahu apa kepentingan Ibu?" Tanya bagian pendaftaran itu.


Melati mencari akal, ia berusaha memberikan alasan yang dapat di percaya.


"Begini, Mbak. Suami saya tadi pagi kesini, nah saya hanya ingin memastikan kalau dia memang datang kesini atau tidak."

__ADS_1


Bagian pendaftaran itu menganggukkan kepalanya, "tunggu sebentar, Bu."


Tampaknya alasan Melati dapat di terima oleh pengurus pendaftaran tersebut.


"Hari ini ada sepasang suami istri yang memiliki janji dengan Dokter kandungan, Bu." Jawab bagian pendaftaran.


Jantung Melati seakan berhenti berdetak, seketika ia di buat penasaran dengan pasangan tersebut.


"Namanya siapa, Mbak?" Tanya Melati.


"Sebentar, Bu..."


"Namanya Carissa Medina, dan suaminya Aldion, Bu."


Mata Melati membulat, jantungnya seakan tertancap belati tajam. Sendi-sendinya melemas, ia seakan tersambar petir di siang hari.


"Bu, anda baik-baik saja?" Tanya bagian pendaftaran pada Melati, pasalnya Melati kini begitu terkejut. Raut wajahnya pucat pasi, air matanya juga seakan tak dapat di bendung lagi.


Melati berbalik badan, langkahnya gontay. Bahkan Melati tak dapat menjaga keseimbangan tubuhnya, ia terjatuh. Beberapa orang yang melihat, mencoba untuk membantu Melati bangun.


"A-apa maksud semua ini? Mas Dion dan Rissa, mereka suami istri? Tidak, tidak mungkin!"


Melati seakan tak percaya dengan kenyataan yang baru saja ia dapatkan, selama ini suaminya telah mengkhianati penikahan mereka berdua.


"Apa aku mimpi?"


Melati menampar pipinya, ia merasakan panas yang menjalar di wajahnya.


"Ini bukan mimpi! Kenapa? Kenapa mereka melakukan ini padaku?" Tangis Melati pecah, ia memukul-mukul dadanya yang terasa perih.


"Jahat! Kalian jahat! Kenapa kalian melakukan ini padaku? Apa salahku?" Teriak Melati, membuat orang sekelilingnya merasa terheran.


Melati segera bangkit dari tempatnya, ia berjalam dengan tergesa. Melati juga dengan cepat menghentikan taksi yang melaju di depannya, "jalan, Pak!" Serunya.


Tangis Melati terdengar begitu pilu, bahkan nafasnya kini serasa berat. Tangannya mengepal erat, ia merasakan sakit yang teramat di hatinya.

__ADS_1


__ADS_2