Dua Cincin

Dua Cincin
Saling Memperingatkan


__ADS_3

Rissa dan Dion sama-sama terdiam, mereka tengah mengatur nafas masing-masing.


Rissa masih tak percaya, suaminya dapat dengan kasar melakukan hal itu padanya. Bahkan yang lebih tak di sangka, Dion berani melakukan itu di dalam sebuah mobil. Sungguh, hal yang tak pernah Rissa bayangkan sebelumnya.


Dion segera beralih menuju kursi kemudi, ia segera menyalakan mesin mobil dan melajukannya tanpa meminta Rissa untuk ikut pindah ke kursi depan.


Sebelumnya Dion telah mengirim pesan pada Melati, ia memberitahukan bahwa Rissa telah di temukan olehnya.


Dion meminta Melati untuk kembali ke villa, dan menyiapkan baju hangat untuk mereka berdua.


Dion menerobos lebatnya hujan, ia ingin segera sampai ke villa. Ia juga khawatir dengan kondisi Rissa, terlebih ketika mendengar Rissa kedinginan.


"Lain kali, jangan hujan-hujan. Kau kan bukan anak kecil," ujar Dion tanpa menoleh ke arah Rissa.


Rissa tak berkutik, ia memilih diam di kursi belakang. Sesekali ia juga menghapus air matanya, entah mengapa rasanya Rissa tak bisa melupakan perlakuan Dion padanya.


"Kenapa kau tega melakukan hal itu dengan kasarnya, Mas. Bahkan kau memperlakukanku seperti tadi," gumam Rissa dalam hatinya.


Dion memperhatikan istrinya melalui kaca spion yang ada di depannya, ia juga merasa bersalah telah melakukan hal itu pada Rissa. Namun, memang ia tak dapat menahan dirinya saat itu.


"Maafkan aku, Sa."


***


Di villa, Melati tengah menyiapkan baju hangat untuk Dion juga Rissa. Ia bertanya-tanya, untuk apa suaminya meminta menyiapkan semua itu.


"Mel, mereka masih dimana?" Tanya Dokter Radit.


"Entahlah. Mungkin mereka masih di jalan," sahut Melati.


Mereka berdua kini tengah menunggu kepulangan Dion dan Rissa, Dokter Radit sudah tak bisa menahan dirinya untuk menanyakan keadaan Rissa.


"Kenapa harus Dion yang lebih dulu menemukan Rissa!" Gumam Dokter Radit.


"Mel, biar aku yang tunggu mereka disini. Kamu bisa siapkan minuman hangat untuk mereka? Aku pikir mereka kehujanan," ucap Dokter Radit.

__ADS_1


Melati mengangguk, ia segera berlalu menuju dapur untuk menyiapkan minumam hangat.


Di halaman villa, Dokter Radit mendengar suara mesin mobil. Ia segera berjalan mendekat, Rissa yang baru saja turun dari mobil segera di baluti baju hangat oleh Dokter Radit.


Dion hanya bisa menahan kesalnya, ketika Dokter Radit memapah istrinya masuk ke dalam villa.


"Mas, Rissa. Kenapa kalian basah kuyup?" Tanya Melati yang baru saja keluar dari dapur.


Dion berjalan mendekati istrinya, "tadi hujan sangat lebat, aku juga tidak sengaja melihat Rissa kehujanan. Jadi aku turun menyusul dia," tutur Dion.


Melati membantu mengeringkan tubuh suaminya, ia juga menyodorkan segelas teh hangat untuk Dion.


"Sebentar Mas, aku antarkan minuman dulu untuk Rissa."


Dion mengangguk, kini ia mengeringkan tubuhnya sendiri.


Melati yang kini tengah menghampiri Rissa, segera memberikannya minuman hangat.


"Sa, minum dulu."


"Makasih, Mbak."


Melati mengangguk, "ada apa? Ada masalah apa, Sa?" Tanya Melati dengan hati-hati.


Rissa menunduk, ia masih belum bisa berbicara apapun pada Melati.


"Mel, kamu temani Rissa. Aku ada urusan sebentar," ucap Dokter Radit.


"Iya," jawab Melati.


Dokter Radit segera berlalu meninggalkan Melati dengan Rissa, ia berniat untuk menemui Dion.


Tanpa ragu, Dokter Radit langsung menyeret Dion dan membawanya ke halaman belakang villa.


Dion yang merasa tersinggung dengan perlakuan Dokter Radit, dengan kasar menepis tangan Dokter Radit yang mencengkram lengannya.

__ADS_1


"Apa-apaan kau ini?" Bentak Dion.


Dokter Radit menatap tajam pada Dion, "lepaskan Riss!" Pinta Dokter Radit.


Dion mengerutkan keningnya, "apa maksudmu?" Tanyanya.


Dokter Radit berdecih, "aku tahu semuanya. Dan aku mau kau menyudahi semuanya dengan Rissa. Kau tidak pantas menjadi suaminya!" Tutur Dokter Radit.


Dion terbelalak, ia tak mengira jika Dokter Radit akan mengetahui segalanya.


"Hahaha, kau menyebut aku tidak pantas untuk Rissa. Jadi menurutmu siapa yang pantas untuknya? Kau?" Dion tak kalah tegas pada Dokter Radit.


"Setidaknya aku bukan laki-laki yang menyakiti dua wanita sekaligus!" Seru Dokter Radit.


"Ingat, Yon. Sedalam-dalamnya bangkai kau kubur, lambat laun akan tercium juga. Dan aku pastikan yang akan menanggung semuanya itu Rissa!" Bentak Dokter Radit.


Dada Dion bergemuruh, ia mengepalkan tangannya. Sekuat tenaga, ia menahan agar tak terjadi keributan di antara mereka.


"Jangan ikut campur dengan rumah tanggaku! Kau harusnya malu, mendekati wanita yang sudah bersuami."


Dokter Radit tak mau mengalah, "setidaknya aku tulus padanya. Aku bisa memberinya kebahagiaan, sedangkan kau? Kau sendiri tidak tahu bagaimana cara memperlakukan kedua istrimu dengan baik. Biar aku tebak, kau menikahi Rissa hanya untuk memiliki keturunan, bukan? Setelah itu, aku pikir kau akan membesarkan anak itu bersama Melati, tanpa memikirkan bagaimana kehidupan Rissa setelahnya," tutur Dokter Radit.


Dion mengeraskan rahangnya, tiba-tiba saja ia mencengkram kras kemeja Dokter Radit.


Dion mendekatikan wajahnya pada Dokter Radit, matanya memerah memancarkan amarahnya.


"Jangan merasa jadi orang yang tahu segalanya tentang rumah tanggaku! Dan satu lagi aku peringatkan, jangan pernah mendekati istriku lagi!" Dion memperingatkan Doktee Radit, ia benar-benar tidak bisa lagi membiarkan istrinya di dekati oleh pria lain.


Dokter Radit dengan kasar melepas cengkraman Dion, kini ia beralih menatap Dion dengan tatapan yang tak kalah tajam.


"Satu lagi yang harus kau tahu, aku punya seribu cara untuk mendapatkan apa yang aku mau! Termasuk Rissa."


Dokter Radit mendorong tubuh Dion, ia berlalu meninggalkan Dion dengan emosi yang masih memuncak.


"Aku tidak akan pernah membiarkan itu terjadi, Radit! Tidak akan pernah!"

__ADS_1


Dion mengepalkan tangannya, menahan segala amarahnya yang tak dapat tersalurkan dengan leluasa.


__ADS_2