
Glenn Fredly - Akhir Cerita Cinta
Sandiwarakah selama ini
Setelah sekian lama kita tlah bersama
Inikah akhir cerita cinta
Yang selalu aku banggakan di depan mereka
Entah dimana kusembunyikan rasa malu
Kini harus aku lewati
Sepi hariku tanpa dirimu lagi
Biarkan kini ku berdiri
Melawan waktu tuk melupakanmu
Walau pedih hati namun aku bertahan.
💔💔💔💔💔💔💔💔💔💔💔💔💔
Melati menatap suaminya penuh amarah, namun tak ada yang bisa di lakukannya selain menangis.
Hatinya begitu hancur, tak pernah ia membayangkan Dion tega melakukan hal itu padanya.
Dion berkali-kali mencoba untuk menjelaskan pada Melati, namun Melati selalu menolak untuk mendengar penjelasan apapun dari suaminya.
"Sayang, dengarkan aku. Aku terpaksa melakukan ini semua, aku..."
"Apapun alasannya, tidak ada yang akan membenarkan ini semua! Aku salah apa Mas? Aku telah memberikam semua yang aku punya padamu, aku percaya sepenuhnya sama kamu. Tapi apa yang aku dapat, dulu kamu meminta kepercayaanku dan sekarang kamu sendiri yang membuat kepercayaan itu lenyap!" Seru Melati. Tangisnya terdengar pilu, Melati tak sanggup lagi menahan semua ini.
Ia meraih tasnya, dan berlalu pergi meninggalkan suaminya.
"Satu lagi. Pengkhianat dan perusak, sampai kapanpun tidak akan pernah bahagia!" Ucap Melati sebelum melanjutkan langkahnya.
Rissa begitu terpukul, ia tak tahu apa yang harus di lakukannya. Ia menatap Ibu mertuanya yang masih tak sadarkan diri, dan ia juga sangat ingin menahan Melati untuk pergi.
Dion tak tinggal diam, ia ingin menyusul istri pertamanya itu. Namun saat ia hendak mengejar Melati, tiba-tiba saja ia mendengar Rissa yang merintih kesakitan.
"Aahh, perutku..."
Rissa memegang kuat perutnya, ia merasakan sensasi panas di area perut bagian bawah.
Dion terkejut, ia segera menghampiri Rissa.
"Sa, kamu kenapa?" Tanya Dion dengan raut wajah yang panik.
__ADS_1
"Mas, perutku sakit..." Suara Rissa tertahan, ia tengah menahan rasa sakit yang menjalar di perutnya.
"Astaga, kenapa bisa? Tunggu sebentar,"
Dion berlari mencari bantuan, ia memanggil asisten rumah tangga Ibunya.
"Bi, tolong jaga Ibu. Aku harus bawa Rissa ke rumah sakit," pinta Dion.
Asisten rumah tangga Ibu Anna menurut, ia dengan cekapan membantu majikannya untuk sadarkan diri.
"Ayo, Sa. Kita ke rumah sakit," ajak Dion, ia segera membantu istrinya untuk bangun, dan memapahnya untuk masuk ke dalam mobil.
Perasaan Dion saat ini begitu bimbang, satu sisi ia ingin menyusuli Melati dan berbicara dengannya, sisi lain ia juga merasa khawatir pada Rissa juga janin yang di kandung oleh istri keduanya itu.
"Mas, biar aku ke rumah sakit sendiri saja. Mas pergi temui Mbak Melati saja," ujar Rissa.
Dion terdiam, "aku antar kamu ke rumah sakit dulu, kalau semuanya sudah baik-baik saja, aku akan menyusul Melati." Dion telah membuat keputusan, bagaimanapun Rissa juga tengah membutuhkan dampingannya.
Rissa tak bisa menolak, ia juga memang membutuhkan Dion saat ini.
***
Melati meratapi nasibnya, ia bertanya-tanya tentang apa kesalahannya. Hatinya begitu pedih, bahkan ia seakan kehilangan semangat hidup.
Melati merogoh ponselnya, ia berniat untuk menghubungi orangtuanya.
Setelah panggilan telepon terhubung, Melati segera mengadu kepada sang Ibunda.
Suara Melati terdengar parau.
"Mel, kamu kenapa? Kamu seperti sedang menangis, ada apa?" Tanya Ibu Melati di balik ponsel.
Melati tak kuat menahan tangisnya, seketika ia membalas pertanyaan sang Ibu dengan isakan yang memilukan.
"Astagfirulloh, Mel. Ada apa katakan pada Ibu! Kamu kenapa? Jangan buat Ibu khawatir," ujar Ibu Melati.
Melati mencoba meredakan isakannya, dan mulai berbicara pada Ibunya.
"Bu, aku butuh Ibu. Apa... Apa Ibu dan Ayah bisa datang ke rumahku sekarang?" Tanya Melati.
"Ke rumahmu? Memangnya ada apa? Ibu dan Ayah akan kesana sekarang, tapi kamu tenang dulu. Jangan menangis, biar Ibu dan Ayah tenang disini," pinta Ibu Melati.
"Iya, Bu. Aku tunggu," jawab Melati.
Panggilan telepon pun terputus.
Melati benar-benar membutuhkan Ibunya, ia tak tahu lagi harus mengadu pada siapa selain orangtuanya.
Melati baru saja sampai di rumahnya, ia segera turun dan bergegas masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
Bi Ai yang melihat majikannya menangis, segera berniat untuk menanyakan kondisi Melati.
"Non, Non, Non Melati kenapa?" Bi Ai mengejar Melati yang berlari menuju kamarnya.
Sayangnya, Bi Ai tak sempat mengejar majikannya. Melati lebih dulu masuk ke kamar, dan mengunci pintu.
"Non, Non Melati kenapa?" Bi Ai mencoba berbicara dengan majikannya, ia terus mengetuk pintu kamar majikannya.
"Jangan ganggu aku, Bi. Aku ingin sendiri!" Seru Melati dari dalam kamar.
Bi Ai terdiam, ia berhenti menanyakan keadaan majikannya. Ia juga memberi ruang untuk majikannya itu menenangkan diri, terlebih ia juga tak tahu apa yang telah terjadi.
"Non Melati kenapa, yah? Apa dia bertengkar dengan Den Dion?" Bi Ai bertanya-tanya. Ia kembali ke tempatnya, dan membiarkan Melati yang tengah menangis di dalam kamar.
***
Di rumah sakit, Dion baru saja selesai memeriksakan kondisi Rissa. Ia merasa lega karena tak ada hal buruk yang menimpa calon anaknya, ia segera mengantar istri keduanya untuk pulang kembali ke rumah Ibu Anna.
"Sa, aku antar kamu ke rumah Ibu. Setelah itu aku akan pergi menyusul Melati," ujar Dion.
"Aku ikut Mas," pinta Rissa.
Dion menggelengkan kepalanya, "jangan, Sa. Biar aku yang menemui Melati, untuk saat ini dia tidak akan mau menemui siapapun, bahkan aku sendiri tidak yakin akan di temuinya. Jadi berikan aku waktu untuk menyelesaikan semuanya," tutur Dion.
Rissa terdiam, ia tak dapat menolak permintaan suaminya. Saat ini, ia hanya berharap yang terbaik untuk hubungan Dion juga Melati.
"Semoga semua baik-baik saja, Mas."
"Itu yang aku harapkan, Sa." Dion menjawab.
***
Di perjalanan, Ibu dan Ayah Melati tengah menuju kediaman anaknya.
Mereka memilih untuk membawa kendaraan pribadi, mereka pergi dengan di temani supir yang bekerja di rumah mereka.
"Pak, agak cepat yah jalannya." Ibu Melati menyarankan.
"Bu, jangan terburu-buru. Biarpun lambat, asal selamat. Lagipula sekarang hujan deras, bahaya kalau mobilnya melaju kencang." Ayah Melati mencoba untuk menenangkan istrinya, beliau paham bahwa kini sang istri tengah mencemaskan anaknya.
Ibu Melati nampaknya tak mengindahkan ucapan suaminya, ia terus meminta sang sopir untuk menambah kecepatan laju kendaraan yang mereka tumpangi.
Karena merasa tak fokus, sang sopir hanya bisa menuruti kemauan sang majikan.
Namun malang nasib mereka, ketika kendaraan yang mereka tumpangi melaju dengan cukup cepat, tiba-tiba saja di sebuah pohon tumbang menimpa tepat di atas kendaraan orangtua Melati.
Pohon berbatang besar itu roboh tepat di bagian jok belakang, dimana kedua orangtua Melati duduk.
Kecelakaan pun tak terelakkan, seketika bencana alam itu membuat seluruh penumpang terluka.
__ADS_1
Derasnya hujan membuat orang-orang sekita kesulitan untuk melakukan pertolongan terhadap korban, mereka hanya bisa memanggil polisi juga petugas medis dan menunggu kedatangan keduanya.