
Pagi-pagi sekali, Dion sudah pergi menuju kediamannya bersama Melati dulu. Ia berniat mengecek apakah Melati pulang ke rumah atau tidak, nyatanya memang Melati tak pernah kembali ke rumah mereka sejak kejadian tempo hari.
"Den, sebenarnya ini ada apa? Kenapa Den Dion, Non Melati, dan Non Rissa tidak pulang kesini?" Tanya Bi Ai yang memang belum mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
Dion menceritakan semuanya, ia bahkan tak segan meminta saran dari asisten rumah tangganya itu.
Bi Ai tak dapat memberi banyak wejangan, ia hanya meminta majikannya itu untuk bersikap lebih bijak.
Dion tak dapat menampik, ia memang saat ini tak dapat mengambil tindakan bijaksana. Bahkan sampai sekarang pun, Dion tak tahu harus berbuat apa.
Akhirnya Dion memutuskan untuk menyusuli istri pertamanya itu, ia bergegas melajukan kendaraannya menuju kediaman orangtua Melati.
***
Di rumah Ibu Anna, setelah Rissa menemani sang mertua sarapan, ia segera berniat untuk pergi menemui madunya.
Rissa bermaksud untuk meminta maaf, dan membujuk Melati untuk kembali pada Dion.
Rissa telah mengambil keputusan untuk berpisah dengan Dion, ia tak bisa melanjutkan semuanya.
Saat Rissa baru saja keluar dari gerbang rumah mertuanya, tampak Dokter Radit yang baru saja turun dari mobilnya.
"Sa," sapa Dokter Radit.
"Dokter Radit."
Rissa memperhatikan Dokter Radit yang berjalan kearahnya, ia bertanya-tanya tentang kedatangan Dokter Radit.
"Kamu mau kemana?" Tanya Dokter Radit.
"Emm... Ini aku ada urusan, Dok. Dokter sendiri sedang apa disini?" Tanya Rissa.
"Oh, aku sengaja kesini untuk menemuimu." Dokter Radit menjawab apa adanya.
"Bertemu denganku?" Ekspresi heran di tunjukkan oleh Rissa saat ini.
"Ada apa, Dok?" Tanya Rissa.
Dokter Radit tampak gugup, sejujurnya tak ada alasan khusus ia mendatangi Rissa. Hanya saja, memang ia tengah ingin menemui perempuan yang saat ini tengah menguasai hatinya.
"Emm, aku hanya ingin bertemu denganmu. Kamu gimana, Sa? Sudah membaik?" Tanya Dokter Radit.
"Alhamdulillah, Dok. Ada apa Doktee Radit ingin menemuiku?" Tanya Rissa, masih tak peka dengan maksud Dokter Radit.
"Emm... Oh iya, kamu mau kemana?" Dokter Radit mengalihkan pembicaraan.
"Aku ingin menemui Mbak Melati," jawab Rissa.
Dokter Radit terdiam, "Melati? Kalau begitu, biar aku antar."
Rissa menolak halus, "tidak perlu, Dok. Nanti mereporkan, aku bisa pergi sendiri."
__ADS_1
Dokter Radit menghela nafasnya, "tidak merepotkan sama sekali. Lagipula Melati pasti belum ingin bertemu. Aku sudah tahu semua tentang kalian," tutur Dokter Radit.
Rissa tertegun, ia mencerna perkataan Dokter Radit. Dan pada akhirnya, Rissa setuju untuk di antar oleh Dokter Radit menuju rumah Melati.
***
Dion baru saja sampai di rumah orangtua Melati, ia segera turun dari mobil dan bergegas menemui istri pertamanya itu.
Dengan ragu, Dion mulai mengetuk pintu rumah Ayah Melati.
Tak butuh waktu lama, pintu rumah pun terbuka.
Melati yang membuka pintu itu, segera kembali menutup pintu ketika melihat siapa yang bertamu.
Sayang, ia kalah cepat dari Dion.
Dion menahan pintu itu agar tak tertutup, dan meminta Melati untuk keluar menemuinya.
"Ada apa lagi sih, Mas?" Tanya Melati dengan kesal.
Dion dengan cepat menarik tubuh Melati, dan membawanya ke dalam pelukan. Hal yang di lakukan Dion, sontak membuat Melati meronta.
"Lepas!" Dorong Melati dengan kasar.
"Ikut aku pulang sekarang!" Paksa Dion.
Melati melepas genggaman tangan suaminya, ia tak sudi jika harus ikut bersama Dion.
Dion tak menyerah, "kamu masih istriku, dan aku masih berhak atas kamu!" Papar Dion.
"Hak? Kau berbicara hak? Lalu bagaimana dengan perasaanku? Aku juga punya hak!" Balas Melati.
Dion terdiam, ia masih berusaha untuk membawa istrinya pulang.
"Aku mencintaimu, Mel. Sungguh," ucap Dion sembari memohon.
"Cinta? Kau bilang, kau mencintaiku? Lalu bagaimana dengan Rissa?" Tanya Melati.
Nafas keduanya terengah, mereka berbicara dengan nada yang tinggi.
"Aku tidak mencintai Rissa! Aku terpaksa menikahinya karena Ibu menginginkan cucu dari darah dagingku sendiri, Mel!"
Dion berbicara dengan lantang, bahkan suaranya begitu tegas.
Tanpa mereka berdua sadari, Rissa yang baru saja sampai di kediaman Melati, mendengar apa yang di ucapkan oleh suaminya itu.
Hatinya begitu sakit, bahkan Rissa hampir tak bisa berdiri. Dokter Radit dengan sigap menjaga Rissa dari belakang, ia berusaha menguatkan Rissa yang kini tengah di buat terkejut dengan ucapan Dion.
Melati kini menyadari kedatangan Rissa, lidahnya spontan menyebutkan nama madunya itu.
"Rissa," ucapnya.
__ADS_1
Dion menoleh ke arah belakang, ia terkejut ketika Rissa yang kini menatapnya dengan tatapan yang teramat kecewa.
Rissa berbalik, ia mengusap air matanya dengan cepat.
"Sa, kamu baik-baik saja?" Tanya Dokter Radit.
Rissa tak menjawab, ia berusaha mengatur nafas juga emosinya.
Rissa kembali berbalik, menatap suami juga madunya.
Dengan kaki lemas, Rissa berusaha berjalan mendekati Dion juga Melati.
"Mbak..."
Suaranya bergetar, namun Rissa berusaha untuk melanjutkan kata-katanya.
"A-apa yang di katakan oleh Mas Dion benar. Kita menikah hanya untuk seorang anak, setelah itu hubungan kami selesai. Tidak ada perasaan apapun di antara aku dan Mas Dion, hati dan hidup Mas Dion seutuhnya untuk Mbak Melati. Dan sekarang, aku tidak bisa memberikan keturunan untuk Mas Dion. Jadi secepatnya, aku akan berpisah dengan Mas Dion. Mbak Melati bisa menjadi satu-satunya istri Mas Dion, dan tidak akan ada yang bisa menggantikan posisi Mbak," tutur Rissa.
Dion tertegun, hatinya seakan menyangka tentang apa yang di ucapkan Rissa.
"Kalaupun kalian berpisah, itu tidak akan merubah apapun, Sa. Sakit itu masih ada, luka itu masih berbekas. Dan aku tegaskan sekali lagi, aku tidak akan pernah kembali padanya, sekalipun kalian telah berpisah!" Seru Melati. Ia membalikkan tubuhnya, berjalan masuk dan menutup pintu rumahnya rapat-rapat.
Rissa juga Dion tak berkutik, sejujurnya apa yang Melati ucapkan memang dapat mereka pahami.
Rissa menatap suaminya, tampak jelas rasa sakit yang ia rasakan sekarang.
Rissa berbalik, hendak meninggalkan Dion.
"Sa, tunggu!" Pinta Dion.
Rissa menghentikan langkahnya, namun ia masih memunggungi suaminya.
"Aku ingin bicara denganmu," ucap Dion.
"Tidak ada yang perlu kita bicarakan, Mas. Semua sudah jelas," jawab Rissa tanpa menoleh ke arah suaminya.
Dion tak tinggal diam, ia segera menarik tangan istrinya namun di hentikan oleh Dokter Radit.
"Jangan paksa Rissa!" Titah Dokter Radit.
"Jangan ikut campur urusan rumah tanggaku!" Pinta Dion dengan tatapan tajam pada Dokter Radit.
"Mas, lepaskan aku!" Pinta Rissa.
Rissa menepis tangan suaminya, dan mengajak Dokter Radit untuk segera membawanya pergi.
Dengan senang hati, Dokter Radit membawa Rissa masuk ke dalam mobil dan meninggalkan Dion sendirian.
Di dalam mobil, tangis Rissa kembali pecah. Hal itu membuat Dokter Radit marah pada Dion, ia tak bisa menerima jika Dion terus menyakiti Rissa.
"Yon, aku pastikan kau tidak bisa membuat Rissa menangis lagi! Aku akan merebutnya darimu, aku pastikan itu!" Dokter Radit bertekad.
__ADS_1