Dua Cincin

Dua Cincin
Merasa Tidak Tenang


__ADS_3

Dion sudah sampai di kediaman Ibu mertuanya ia segera masuk dan menemui istrinya.


Dua hari rasanya seperti dua tahun bagi Dion, ia begitu merindukan istrinya.


Saat memasuki rumah, Dion telah di sambut oleh Melati juga mertuanya.


"Assalamuallaikum," sapa Dion.


"Wa'allaikumsalam," jawab Melati dan Ibunya.


"Mas, aku kangen." Melati berhambur memeluk sang suami.


"Sama, Mas juga kangen sama kamu. Gimana senangkan selama nginep di rumah Ibu?" Tanya Dion.


Melati mengangguk, "senanglah, Mas. Lebih senang kalau menginapnya bisa bareng kamu," ucapnya.


"Iya, maaf kemaren-kemaren Mas ada urusan." Dion menjawab sembari menatap Ibu mertuanya.


Dion melepas pelukan istrinya, dan menyalami Ibu mertuanya.


"Ayah kemana, Bu?" Tanya Dion.


"Ayah lagi ada urusan," jawab Ibu Melati.


"Gimana urusannya sudah selesai?" Tanya Ibu Melati. Tentunya Dion paham apa maksud pertanyaan sang mertua.


"Alhamdulillah lancar, Bu." Dion menjawab seadanya.


"Alhamdulillah kalau begitu, semoga cepat ada hasil."


Lagi, Dion mengerti apa yang di tuju oleh Ibu Melati. Ya, mereka yang mendukung pernikahan kedua Dion pasti mengharapkan agar Rissa secepatnya mengandung anak Dion.


"Aamiin," jawab Dion.


"Ya sudah, kita makan dulu kalau begitu Mas." Melati mengusulkan.


Kebetulan sekali Dion belum sempat sarapan, ia juga tak ingat jika Rissa telah membuatkan bekal untuknya. Dengan senang hati, Dion menyetujui ajakan istrinya untuk makan bersama sebelum kembali pulang ke rumahnya.


Entah apa yang berada di pikiran Dion, ia bahkan tak membayangkan bagaimana perasaan Rissa jika mengetahui bahwa Dion sama sekali tak mencicipi bekal darinya.


***


Di perjalanan pulang, Dion berniat untuk membicarakan rencana tentang kepindahan Rissa pada Melati.


Dion tampak mencari kata-kata yang dapat diterima oleh Melati, dan tidak mengundang kecurigaan.


"Sayang," ucap Dion.


"Ya, kenapa, Mas?" Tanya Melati.


"Emm, ada yang ingin aku tanyakan." Dion menyiapkan dirinya.


"Apa itu?" Tanya Melati.


Dion memberi jeda, menjentikkan telunjuknya pada kemudi mobil berkali-kali.


"Mas, mau tanya apa?" Tanya Melati lagi.


"Begini, kamu setuju tidak kalau kita menambah asisten rumah tangga?" Dion bertanya dengan sangat hati-hati.


Melati diam, mempertimbangkan permintaan suaminya.


"Kenapa kita harus menambah asisten rumah tangga? Memangnya Bi Ai kenapa, Mas?" Tanya Melati.


"Emm, Bi Ai tidak apa-apa. Hanya beliau kan sudah tua, sudah lama juga menemani aku. Aku pikir kalau menambah satu lagi untuk membantu Bi Ai tidak ada salahnya, kan?" Tanya Dion.


Melati memikirkan perkataan suaminya, ia juga tahu kondisi Bi Ai yang tak lagi sigap seperti dulu.


"Boleh sih, Mas. Tapi memangnya Mas mau cari asisten rumah tangga kemana?" Tanya Melati.


Dion setengah merasa lega, "Ada calon kok." Dion menjawab dengan semangat.


Melati terheran, mengapa suaminya begitu antusias untuk mencari asisten rumah tangga lagi.


"Oh, ya? Siapa dia?" Tanya Melati.


"Sepertinya kamu antusias banget, Mas?" Tanya Melati.


Dion mengatur sikapnya, jangan sampai Melati curiga padanya.

__ADS_1


"Bukan begitu, kebetulan Ibu punya kenalan. Namanya Rissa, umurnya sepertinya tidak jauh beda denganmu."


"Dia masih muda?" Tanya Melati sedikit tidak menyangka.


Dion mengangguk, "dia dari panti asuhan, tidak tahu keluarga kandungnya dimana. Ya, setidaknya itung-itung kita membantunya, kan?"


Melati terdiam sejenak, mendengar usia asisten barunya yang masih muda, membuat Melati sedikit khawatir.


"Kenapa? Kamu tidak setuju?" Tanya Dion.


"Bukan begitu, hanya aku takut saja..." Melati menunduk.


Dion menoleh kearah istrinya, memperhatikan perubahan raut wajah sang istri.


"Takut apa, sayang?" Tanya Dion.


"Aku takut, nantinya kamu jatuh cinta sama dia. Kaya di film-film," jawab Melati dengan jujur.


Dion tertegun, lalu tertawa kecil.


"Ya ampun sayang, mana mungkin aku jatuh cinta padanya. Kau tenang saja, cintaku hanya untuk kamu," jawab Dion sembari meyakinkan istrinya.


Melati menoleh, "benarkah? Janji?" Tanyanya.


Dion tersenyum, "janji," ucapnya.


Melati kembali tersenyum, ia sedikit merasa lega mendengar pernyataan suaminya. Namun, ia juga tetap waspada kalau-kalau suaminya melanggar janji suatu hari nanti.


"Ya sudah, aku setuju. Kapan dia akan datang ke rumah?" Tanya Melati.


"Emm, secepatnya." Dion mejawab seadanya.


"Baiklah," sahut Melati.


Dion terdiam, hatinya kembali merasa sakit.


"Maafkan aku Mel, aku lagi-lagi berbohong padamu. Aku memang tidak jatuh cinta padanya, tetapi aku malah telah menikahinya," ucap Dion dalam hatinya.


Melati kembali memainkan ponselnya, dan tanpa sengaja ia melihat sebuah kotak bekal yang terjatuh di dekat kakinya.


Melati mengambil kotak itu, dan membuka isinya.


Dion terkejut, ia mengambil kotak itu dari tangan istrinya.


"Ini tadi Ibu yang memberikan padaku," jawab Dion dengan gugup.


Melati terdiam, baru kali ini ia tahu kalau Ibu mertuanya suka memberikan bekal pada suaminya.


"Sejak kapan Ibu suka ngasih bekal sama kamu?" Tanya Melati.


Dion begitu gugup, keringat ditangannya mulai bercucuran.


"Emm tadi pagi Mas tidak sempat sarapan, karena terburu-buru menjemput kamu. Terus Ibu nyusul, dan memberi Mas bekal."


Melati mencerna perkataan suaminya, ia mencoba untuk mempercayai perkataan suaminya.


"Oh begitu, aku kira ini dari fansmu di cafe."


Dion menelan salivanya dengan susah payah, ia benar-benar takut untuk berbicara.


"Mas, kamu kenapa?" Tanya Melati memperhatikan gelagat suaminya.


"Ah, tidak. Mas hanya gerah," jawab Dion sembari membuka jendela mobilnya.


"Mas, kenapa buka kaca?" Tanya Melati lagi.


"Aku gerah, sayang." Dion mengibaskan tangan pada wajahnya.


"Kan ada AC," sahut Melati.


Tenggorokan Dion serasa tercekat, lidahnya kelu. Dia benar-benar takut saat ini.


"Oh, iya. Mas lupa," jawab Dion kembali menutup kaca mobilnya dan menyalakan AC mobil.


"Hah, segarnya."


Melati menyipitkan matanya, menelisik suaminya yang bertingkah aneh.


***

__ADS_1


Sesampainya Dion dan Melati di kediaman mereka, Dion segera bergegas masuk ke dalam rumah. Dion bermaksud untuk menenangkan hatinya, sepanjang perjalanan ia dihantui rasa takut.


Melati yang merasa aneh dengan tingkah suaminya, lekas menyusul Dion yang berjalan masuk ke dalam kamar.


"Mas, kamu kenapa?" Tanya Melati sembari berteriak menghentikan langkah Dion.


Melati terus mengikuti suaminya, kini Dion telah masuk ke dalam kamar mandi.


Melati mengetuk pintu, berniat untuk mencari tahu apa yang terjadi pada suaminya.


"Mas, kamu kenapa? Jawan aku!" Pinta Melati.


"A-aku tidak apa-apa," jawab Dion dari dalam kamar mandi.


"Lalu kamu kenapa terburu-buru masuk, mana ninggalin aku di luar lagi?" Tanya Melati lagi.


"Ini aku... Mulas," jawan Dion asal.


Di dalam kamar mandi Dion hanya berjongjok di sudut ruangan, beberapa kali ia juga mengusap wajahnya kasar.


"Astaga, gara-gara penikahan keduaku, aku jadi tidak bisa hidup dengan tenang!" Umpat Dion dalam hatinya.


Semua baru bermula, namun Dion sudah merasa tersiksa jika harus berucap bohong di depan istrinya.


"Tenang, Yon. Tenang, kau pasti bisa!" Seru Dion.


Ia menyalakan kran air, dan membasuh wajahnya agar tampak lebih segar.


Dion mempersiapkam diri, sebelum akhirnya keluar dari kamar mandi.


Melati memandangi suaminya, ia sempat merasa kesal akan sikap Dion saat itu.


"Masih mulas?" Tanya Melati, sepertinya memang ia tak ingin berprasangka buruk pada suaminya itu.


Dion mengangguk, "sudah sedikit membaik."


Melati beranjak dari tempatnya, sedari tadi ia duduk di sofa yang ada di dalam kamarnya untuk menunggu Dion.


"Memangnya kamu makan apa bisa sampai mulas?" Tanya Melati.


Dion menggaruk kepalanya yang tak gatal, mencari alasan untuk pertanyaan istrinya.


"Aku juga tidak tahu, sayang."


"Hemm, ya sudah. Ini gimana?" Tanya Melati sembari menyodorkan kotak bekal yang di berikan Rissa untuk Dion.


Dion kembali terkejut, untuk apa juga Melati membawa kotak itu kedalam rumah.


"Kenapa kamu bawa kotaknya kesini?"


Melati mengerutkan keningnya, "kan ini belum kamu makan, Mas."


Dion menghela nafasnya, "aku tidak selera, sayang. Buang saja," ucapnya.


"Buang? Kau yakin ingin membuang makanan pemberian Ibu?" Tanya Melati lagi.


Dion terdiam, ia baru ingat bahwa ia beralasan bahwa makanan itu adalah pemberian Ibunya.


Dengan terpaksa Dion meraih kotak itu, dan memakan isi di dalamnya.


"Aku mau coba," ucap Melati.


Dion tersedak, Melati segera menepuk-nepuk punggung suaminya.


"Hati-hati kalau makan, Mas."


Dion merasa membaik, dan menelan sisa makanan yang ada di mulutnya.


"Kau mau coba ini?" Tanya Dion.


"Iya, dong. Suapin aku," pinta Melati.


Dion memberikan sebagian makanan itu pada Melati.


"Enak, Mas." Melati menjawab sembari menghabiskan sandwich pemberian suaminya.


"Ya Allah, kalau Melati tahu itu adalah buatan istri keduaku. Apa dia masih mau memakannya?" Tanya Dion dalam hatinya.


Semakin berat hati Dion menjalani semua ini, ia sangat merasa bersalah pada istrinya.

__ADS_1


"Maafkan, Mel. Aku benar-benar minta maaf." Dion membatin.


__ADS_2