Dua Cincin

Dua Cincin
Tuduhan Tak Mendasar


__ADS_3

Andmesh Kamaleng - Jangan Rubah Takdirku


Di setiap doaku


Di setiap air mataku


Selalu ada kamu


Di setiap kataku


Kusampaikan cinta ini


Cinta kita


Ku tak akan mundur


Ku tak akan goyah


Meyakinkan kamu


Mencintaiku


Tuhan, kucinta dia


Kuingin bersamanya


Kuingin habiskan nafas ini


Berdua dengannya


Jangan rubah takdirku


Satukanlah hatiku dengan hatinya


Bersama sampai akhir


🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Dion masih termangu, tatapannya kosong. Ia tengah memikirkan masa depan rumah tangganya, sungguh kedua wanita itu kini tengah sama-sama membuatnya tersudut.


Entah mengapa, tiba-tiba saja Dion teringat dengan ucapan Dokter Radit.

__ADS_1


"Apa Rissa seperti ini karena pengaruh Dokter Radit?"


Dion mulai tak dapat mengendalikan dirinya, ia segera bergegas menemui Rissa dan menanyakan kebenarannya.


Di kamarnya, Rissa tengah membereskan beberapa barang pada sebuah tas.


Rasanya, ia ingin sekali cepat pergi dari hidup Dion.


Menjadi istri kedua terlalu sulit untuk dia jalani, terlebih ketika pandangan orang lain yang hanya menilainya sebelah mata.


Saat ketika ia tengah membereskan pakaiannya, Rissa di kagetkan oleh kedatangan Dion yang membuka pintu kamarnya dengan kasar.


"Mas, bisa ketuk dulu tidak sebelum masuk?" Rissa tampak kesal dengan sikap suaminya itu.


Dion tak menggubris, ia menatap tas Rissa yang berisi barang juga sebagian pakaian istrinya telah masuk kedalam tas tersebut.


"Apa-apaan kamu ini? Kenapa kamu memasukkan pakaianmu ke dalam tas?" Tanya Dion.


Rissa memalingkan wajahnya, "bukan urusanmu."


Dion tak bisa terima, ia mengambil paksa tas milik istrinya itu. Dion menghamburkan pakaian yang sudah di masukkan oleh Rissa, bahkan ia juga melempar tas yang kini telah kosong karena ulahnya.


Rissa terkejut, ia pertama kali melihat tingkah Dion yang tampak liar.


Dion meraih lengan Rissa, hingga tubuh Rissa yang tadinya membungkuk, kini harus berdiri secara paksa.


"Mas, sakit!" Pekik Rissa.


"Aku tahu sekarang, kenapa kamu tiba-tiba memintaku untuk menceraikanmu." Dion mulai mengeluarkan asumsinya.


Rissa mengerutkan keningnya, "maksudmu?" Tanyanya.


"Aku tahu, kamu ingin bercerai denganku karena kamu ingin menjalani hubungan dengan Dokter Radit! Benar begitu, kan?" Tanya Dion.


Rissa tampak tak mengerti dengan ucapan Dion, semua yang di putuskan olehnya tidak ada sangkutnya dengan Dokter Radit.


"Apa maksudmu? Ini murni keputusanku, Mas. Tidak ada hubungannya dengan orang lain bahkan Dokter Radit!" Seru Rissa.


Dion berdecih, "bohong! Jelas-jelas kalian sudah dekat sebelum masalah ini terjadi. Kalau benar semua ini karena dia, artinya kamu tidak lebih dari seorang perempuan gampangan!" Hardik Dion.


Rissa tecengang, tanpa sadar ia menampar keras wajah suaminya. Dion terkejut, ia memegangi pipinya.

__ADS_1


Tangan Rissa gemetar, ia juga tak percaya bisa melakukan hal itu pada suaminya.


"Jaga ucapanmu, Mas! Aku bukan wanita seperti itu." Bibir Rissa berucap dengan gemetar, hatinya begitu sakit mendengar tuduhan yang tak mendasar dari suaminya itu.


Rissa mendorong dengan kuat Dion, ia menyeret suaminya hingga keluar dari kamarnya. Rissa segera mengunci pintu kamarnya, tubuhnya kini ia sandarkam di balik pintu. Tangisnya mulai pecah, kini Rissa menjatuhkan tubuhnya di lantai.


"Aku tidak percaya kamu akan berkata seperti itu Mas. Begitukah pandanganmu terhadapku?"


Rissa menangis, ucapan Dion masih terngiang-ngiang di telinganya.


Dion mematung, mendengar tangisan Rissa yang teramat pilu. Dadanya bergemuruh.


"Apa... Apa aku sudah keterlaluan pada Rissa?" Hati Dion berkecamuk, sikapnya saat ini malah memperburuk hubungannya dengan istri keduanya itu.


***


Di kediaman orang tuanya, Melati sudah mulai membiasakan dirinya tanpa kehadiran sang Ibu.


Melati menatap potret kebersamaannya dengan kedua orangtuanya, sungguh massa yang akan selalu ia rindukan.


"Bu, andai Ibu dan anakku masih ada. Aku pasti sangat bahagia sekarang, Bu." Melati meratapi nasib malangnya, namun ia berusaha bangkit demi sang Ayah yang masih membutuhkannya juga untuk kelangsungan hidupnya.


"Mel," sapa Ayah Melati, membuyarkan lamunan anaknya yang tengah mengenang massa indah bersama sang Ibu.


"Iya, Yah." Melati menyahut.


Ayah Melati duduk di samping anaknya, "kamu melamun lagi?" Tanya beliau.


Melati menggeleng, ia berusaha tersenyum di hadapan Ayahnya.


"Tidak, Yah." Melati menyangkal.


Ayah Melati tahu betul sifat anaknya, ia hanya bisa mempercayai apa yang di katakan oleh anak semata wayangnya itu.


"Apapun yang terjadi, Ayah tidak akan lagi membiarkanmu sendirian, Nak. Ayah akan selalu di sampingmu, menjadi satu-satunya pria yang tidak akan pernah menyakitimu."


Melati memeluk erat sang Ayah, sungguh tempag ternyamannya saat ini adalah dekapan seorang Ayah.


Memang benar adanya, cinta pertama seorang anak perempuan adalah Ayahnya.


Satu-satunya pria yang akan melakukan apapun, demi membahagiakan anaknya.

__ADS_1


Pria yang tidak akan pernah mengecewakan anak perempuannya, dan bersedia menjadi tameng demi melindungi anak juga keluarganya.


__ADS_2