Dua Cincin

Dua Cincin
Kehancuran


__ADS_3

Sebuah perpisahan memang bukanlah hal yang mudah, karena pada dasarnya manusia itu hanya ingin memiliki, bukan melepaskan.


🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀


Rissa terdiam, rasanya ia tak terlalu terkejut dengan apa yang di ucapkan oleh Dion.


Rissa menelan salivanya dengan susah payah, ia mengatur nafasnya agar lebih tenang.


Dokter Radit yang sedari tadi memperhatikan Rissa, mencoba untuk memberi waktu untuk Rissa.


Rissa membalikkan tubuhnya, berniat untuk masuk ke dalam panti.


"Sa,"


Dokter Radit menghentikan langkah Rissa.


Rissa melirik, dengan raut wajah yang tak terbaca.


"Aku mau sendiri, Dok."


Dokter Radit mengerti kondisi Rissa saat ini, ia melepas genggamannya dan membiarkan Rissa untuk masuk ke dalam panti.


Satu Sisi Dokter Radit bersimpati atas apa yang menimpa Rissa, di sisi lain, ia juga merasa lega karena saat ini Rissa terbebas dari ikatan Dion.


"Aku berjanji akan memperjuangkanmu semampuku, Sa. Aku berjanji," gumam Dokter Radit.


***


Di kediaman Ibu Anna, terlihat seseorang yang tengah mengetuk pintu rumahnya.


Beberapa kali seseorang itu mengetuk pintu, namun tak ada juga yang membukakannya.


"Cari siapa, Pak?" Tanya Dion yang baru saja tiba di rumahnya.


"Oh, ini Pak saya ingin mengirim surat ini untuk Bapak Dion," tutur seseorang berjas hitam itu.


Dion mengerutkan keningnya, ia menerima surat yang di berikan seseorang itu.


"Surat panggilan dari pengadilan?"


Dion dengan cepat membuka surat itu, dan membaca isinya.


"Besok?"


Lagi, Dion di buat tercengang. Melati benar-benar ingin berpisah dengannya.


"Kalau begitu saya permisi, Pak."


Seseorang itu pamit undur diri, dan meninggalkan Dion yang masih tidak percaya.


"Kenapa? Kenapa semua jadi seperti ini? Aku tidak ingin berpisah dengan Melati," gumam Dion.


Ibu Anna baru saja muncul, ia memang mendengar suara ketukan pintu, namun langkahnya memang tak bisa cepat seperti biasanya.


"Yon, siapa tadi yang bertamu?" Tanya Ibu Anna.


Dion tertegun, pikirannya kini tengah berkeliaran.


"Yon!"

__ADS_1


Ibu Anna membuyarkan lamunan anaknya, mengembalikan kesadaran Dion yang seakan lenyap seketika.


"Iya, kenapa, Bu?" Tanya Dion.


Ibu Anna mengerutkan keningnya, "kamu melamun? Ibu tanya, siapa tadi yang mengetuk pintu?" tanya Ibu Anna lagi.


Dion menyodorkan kertas yang sedari tadi di genggamnya pada Ibu Anna, dengan raut wajah yang begitu kusut.


Ibu Anna membuka surat panggilan itu, ia begitu terkejut melihat isi di dalamnya.


"Yon..."


Ibu Anna tak dapat berkata apapun, kini yang ada hanyalah penyesalannya.


"Maafkan Ibu. Ini semua gara-gara Ibu, andai Ibu tidak memintamu menikah lagi. Maafkan Ibu yang sudah menghancurkan hidupmu," ucap Ibu Anna sembari merangkul anaknya.


Dion tak berkutik, ia juga membiarkan pelukan Ibunya begitu saja.


Sungguh, Dion telah hancur. Tak ada harapan lagi untuknya, bahkan untuk membuat Melati kembali pun adalah hal yang mustahil baginya.


***


Melati datang ke kediamannya bersama Dion dulu, ia di temani oleh Ayahnya untuk membereskan barang-barangnya.


Bi Ai dengan senang memeluk majikannya itu, ia benar-benar merindukan majikan perempuannya itu.


"Non Melati kenapa baru kesini?" Tanya Bi Ai.


Melati hanya tersenyum tipis, ia tak terlalu banyak bercerita pada Bi Ai.


"Bi, aku mau ke kamar dulu, yah." Melati berpamitan dan di angguki oleh Bi Ai.


Melati dan Ayahnya kini berjalan menuju kamar, ia segera menyiapkan tas besar untuk barang-barangnya.


Melati berjalan mendekati foto itu, mengambil dan menatap potret kebersamaannya dengan Dion dulu.


"Aku masih tidak percaya kalau kamu setega itu sama aku, Mas. Tapi inilah pilihanmu, kamu yang membuat akhir seperti ini."


Melati melempar foto itu ke atas kasur, ia berusaha untuk melupakan segala tentang Dion.


"Mel, kamu baik-baik saja?" Tanya Ayah Melati.


Melati mengangguk, lalu melanjutkan kembali mengemas barang-barangnya.


Di ambang pintu, Bi Ai yang masih penasaran, diam-diam memperhatikan majikannya.


Dan kebetulan saja, Ayah Melati mengetahui keberadaan Bi Ai.


"Bi," panggil Ayah Melati.


Bi Ai terhentak, begitu juga Melati.


Bi Ai yang telah kepalang basah, akhirnya memberanikan diri untuk masuk.


"Non Melati mau kemana?" Tanya Bi Ai dengan ragu.


Melati menghela nafasnya, "sini, Bi."


Bi Ai menurut, dan mendekat ke arah Melati.

__ADS_1


Melati menggenggam tangan Bi Ai, dan menjelaskan segalanya.


"Bi, aku minta maaf, yah. Aku harus pergi dari rumah ini," ucap Melati.


Bi Ai terkejut, "tapi kenapa, Non?" Tanyanya.


"Aku dan Mas Dion akan segera bercerai. Aku tidak bisa mempertahankan rumah tangga ini, Bi. Aku harap Bibi paham sama kondisi aku," tutur Melati.


Bi Ai sudah menduga, ia sangat menyayangkan dengan apa yang terjadi dalam rumah tangga majikannya itu.


"Bibi hanya bisa mendo'akan yang terbaik, Non. Semoga Non Melati bahagia selalu," ujar Bi Ai dengan tulus.


Melati tersenyum, dan berhambur memeluk Bi Ai.


"Makasih, Bi."


"Oh iya, Mas Dion masih suka pulang ke rumah?" Tanya Melati.


Bi Ai menggeleng, "semenjak Non Melati pergi, Mas Dion tidak pernah pulang ke rumah ini, Non." Bi Ai menjawab dengan apa adanya.


Melati terdiam, "ternyata dia lebih memilih wanita itu. Aku semakin yakin dengan keputusanku, Mas." Tekad Melati untuk berpisah dengan Dion semakin kuat, terlebih memang tidak ada lagi yang bisa di harapkan dari rumah tangganya.


"Aku selesaikam beres-beres dulu yah, Bi."


"Biar Bibi bantu, Non."


Melati mempersilahkan, kini ia di bantu oleh Bi Ai juga Ayahnya.


***


Dion masuk ke dalam kamarnya, ia mengurung dirinya sendirian.


Dion terlihat sangat kacau, ia melemparkan segala barang yang ada di hadapannya.


"Aarrgggg..."


Dion kehilangan akal sehatnya, ia sudah seperti orang yang tidak waras.


Ibu Anna yang mendengar amukan Dion, sontak merasa khawatir dengan keadaan anaknya.


Ia terus mengetuk pintu, dan memanggil-manggil anaknya.


"Yon... Buka, Nak. Jangan seperti itu, Ibu mohon."


Dion tak menggubris panggilan Ibunya, ia malah semakin menjadi.


Ia melemparkan segala apa yang ada di hadapannya, Dion hilang kendali.


"Kenapa, kenapa semua harus seperti ini? Hancur! Semuanya telah hancur!"


Dion berteriak-teriak, emosinya begitu tak terkendali.


Kejadian yang menimpanya, sontak membuatnya hancur. Dion tidak bisa mengendalikan dirinya, ia bahkan bersikap layaknya orang yang tengah mengalami depresi.


Berturut-turut, Dion mendapatkan hal yang begitu buruk dalam hidupnya.


Ibu Anna menangis sejadi-jadinya, di balik pintu ia terus memanggil-manggil anaknya.


"Ya Allah, apa yang telah aku lakukan. Aku telah menghancurkan hidup anakku, maafkan aku. Maafkan Ibu, Yon."

__ADS_1


Penyesalan begitu menyelimuti hati Ibu Anna, ia hancur melihat kondisi Dion yang sekarang ini.


Ia takut jika anaknya berbuat hal yang nekat, bahkan membahayakan diri sendiri.


__ADS_2