Dua Cincin

Dua Cincin
Hampir Terbongkar


__ADS_3

Melati tengah berada di sebuah taman, ia juga menyempatkan untuk berolahraga ringan pagi itu.


Melati beristirahat sejenak, di sebuah bangku di pinggiran taman komplek.


Sekelilingnya banyak para orangtua yang sengaja membawa anaknya berjalan-jalan di taman, sontak hal itu membuat Melati merasa cemburu.


"Andai anakku masih hidup, mungkin sekarang aku bisa mengajak dia jalan-jalan," gumam Melati. Tak terasa air matanya menetes.


Melati menarik nafasnya dalam, mencoba untuk kembali tersenyum dan mengikhlaskan semuanya.


Dari arah belakang, tampak seseorang yang tengah berjalan mendekati Melati.


Langkah seseorang itu begitu tergesa, tampaknya ada sesuatu yang akan dia lakukan pada Melati.


"Mbak Melati," sapanya.


Melati menoleh, dan mengulum senyuman ramah.


"Eh, Mbak Susi. Darimana?" Tanya Melati


Ternyata yang mendatanginya itu adalah tetangga rumahnya.


"Saya habis rumah sakit, Mbak. Oh iya, Mbak Melati sedang apa disini?" Tanya Susi.


"Baru selesai lari pagi, Mbak. Mbak Susi ngapain ke rumah sakit? Siapa yang sakit, Mbak?" Tanya Melati.


Mereka kini duduk bersampingan, Susi sepertinya sudah tak sabar untuk memberitahu sesuatu pada Melati.


"Hanya kontrol saja, Mbak. Oh iya, saya tadi kayak lihat suami Mbak Melati disana. Saya pikir beliau sama Mbak," ucap Susi.


Melati mengerutkan keningnya, telinganya seakan meminta Susi untuk mengulang perkataanya.


"Maksud Mbak Susi? Mbak lihat Mas Dion?" Tanya Melati.


Susi mengangguk, "ia, Mbak. Saya lihat suami Mbak disana, dia keluar dari ruang Dokter kandungan." Susi menjelaskan.


Melati begitu terkejut, pasalnya yang ia tahu, suaminya tengah pergi mengunjungi Ibunya.


"Gak mungkin, Mbak. Mas Dion lagi ke rumah Ibunya, lagipula untuk apa Mas Dion bertemu Dokter kandungan," ujar Melati dengan penuh keyakinan.


Susi terdiam sejenak, "tapi benar kok, tadi itu suami Mbak Melati. Malah dia juga keluar bersama perempuan," tambah Susi. Melati semakin dibuat terkejut, ia tak percaya dengan apa yang di katakan oleh tetangganya itu.


"Mbak Susi salah lihat mungkin, saya yakin Mas Dion ada di rumah Ibunya." Melati mencoba untuk meyakinkan dirinya, walau dalam hati ia juga merasa khawatir.


"Emm, iya kali Mbak. Mungkin saya salah lihat," sahut Susi.


Melati mengangguk, ia juga berpamitan pada Susi dan segera pulang ke rumahnya.


"Apa benar itu Mas Dion? Tapi kalau iya, untuk apa Mas Dion kesana? Dan siapa yang datang bersamany?" Hati Melati dibuat tak tenang dengan kabar tersebut, beberapa kali ia mencoba berpikir positif, namun selalu saja gagal.


***


Melati telah sampai di rumahnya, ia segera berlari ke kamar untuk mengambil ponselnya.


Setelah ia menemukan ponselnya, Melati segera menghubungi Dion. Ia tak ingin terus di selimuti rasa penasaran, ia harus tahu sebenarnya secepat mungkin.


Beberapa kali, Melati mencoba menghubungi suaminya. Rasa kesal mulai mencuat, panggilan teleponnya tak kunjung di angkat oleh Dion.


Melati menghentakkan kakinya ke lantai, "ish! Kemana sih Mas Dion, kenapa teleponku tidak di angkat!" Seru Melati.

__ADS_1


Ia beralih menghubungi Rissa, dan hasilnya juga sama, Rissa juga tak menjawab panggilan telepon darinya.


"Mereka kenapa sih, sama-sama tidak menjawab teleponku!" Melati sudah sangat merasa kesal, terlebih kata-kata Susi kini tengah menguasai pikirannya.


***


Di kediaman Ibu Anna, Dion dan Rissa tengah asik bercengkrama. Mereka terlihat layaknya keluarga bahagia, tawa renyah menggema di seluruh ruangan.


"Mas, Bu, aku ke kamar mandi dulu." Rissa berdiri, dan meninggalkan keduanya.


Sekilas Rissa melirik ka arah tasnya yang tergeletak di meja makan, ia berniat untuk memeriksa ponselnya.


"Mbak Melati berkali-kali meneleponku, ada apa, yah?" Gumam Rissa.


Ia segera menelepon Melati, meminta maaf karena tak sempat menjawab panggilannya.


"Halo, Sa. Kamu kemana saja, sih? Kenapa baru meneleponku?" Suara Melati terdengar ketus di seberang sana.


"Ma-maaf, Mbak. Ponselku di dalam tas, dan aku tidak memeriksanya. Aku tidak tahu kalau Mbak menghubungiku," Rissa memelas, ia merasa tidak enak pada Melati.


Terdengar dengusan Melati, membuat Rissa semakin dibuat bersalah.


"Mana Mas Dion? Dia juga sama tidak dapat di hubungi, apa dia sudah ke cafe?" Tanya Melati.


"Mas Dion masih di rumah Ibu, Mbak. Tunggu sebentar, aku akan berikan ponselnya ke Mas Dion." Rissa segera berjalan cepat menghampiri suaminya.


"Sa, kenapa jalannya terburu-buru? Hati-hati nanti kamu jatuh," ucap Ibu Anna yang melihat Rissa berjalan seolah ia sedang tidak mengandung.


"Iya maaf, Bu. Aku ingin memberikan ponsel pada Mas Dion, Mbak Melati menelepon," sahut Rissa, ia memberikan ponselnya kepada Dion.


Dion meraih ponsel Rissa, dan segera menyapa Melati.


"Ada apa? Aku telepon Mas beberapa kali, tapi kamu tidak mengangkatnya. Kamu sedang apa sih, Mas?" Melati meluapkan kekesalannya.


Dion terhentak karena Melati berbicara dengan nada tinggi, ia juga merasa tidak memilik kesalahan pada istrinya itu.


"Mel, kamu kenapa bentak-bentak Mas seperti itu? Ponsel Mas ketinggalan di mobil, jadi Mas tidak tahu kalau kamu menelepon!" Seru Dion.


Melati menghela nafasnya, ia tak dapat mengontrol emosinya saat ini.


"Kamu kenapa masih di rumah Ibu? Kenapa tidak langsung ke cafe sesudah mengantar Rissa?" Tanya Melati.


"Mas masih ingin bersama Ibu, lagipula Mas sudah menghubungi Ara kalau Mas datang siang." Dion menuturkan.


"Kamu hubungi lagi Ara, bilang kalau kamu tidak akan ke cafe!" Pinta Melati.


Dion mengerutkan dahinya, kenapa Melati memintanya untuk tidak datang ke cafe.


"Loh kenapa Mas tidak boleh ke cafe?" Tanya Dion.


Melati diam sejenak, "pokoknya aku tunggu kamu sekarang di rumah, ada yang ingin aku bicarakan sama kamu, Mas." Melati memaksa, hingga ia mematikan sambungan teleponnya.


Dion terdiam, ia tak mengerti mengapa sikap istrinya seperti itu.


"Bu, aku harus pulang sekarang." Dion meminta izin.


Rissa dan Ibu Anna saling bertukar pandang, "ada apa, Yon? Kenapa kelihatannya kamu tidak tenang?" Tanya Ibu Anna.


"Aku tidak tahu, tapi Melati memintaku untuk segera pulang." Dion menjelaskan.

__ADS_1


"Oh iya, Sa. Kamu bermalam disini saja dulu, yah." Dion ingin menjaga suasana hati istri keduanya, terlebih ia rasa Melati tengah marah padanya. Mengingat Rissa yang tengah mengandung, ia tak ingin jika Rissa mendapat tekanan setibanya disana.


"Tapi kenapa, Mas? Mbak Melati kenapa?" Tanya Rissa.


"Melati tidak apa-apa. Ya sudah, Bu aku pamit. Sa, kamu disini dulu temani Ibu." Dion menyalami Ibunya, dan hal yang tak terduga Dion lakukan pada Rissa. Ia menyodorkan tangannya, Rissa yang sempat terdiam langsung meraih tangan suaminya dan menciumnya.


Sungguh Rissa benar-benar menginginkan hal itu tak pernah berubah, ia berharap Dion selamanya akan bersikap baik padanya.


Rissa dan Ibu Anna mengantar Dion hingga teras rumah, sampai mobil milik Dion tak terlihat lagi, baru mereka kembali masuk ke dalam rumah.


Ibu Anna melirik menantunya, terlihat jelas raut kekhawatiran dari wajah Rissa.


"Sa, kamu mikirin apa?" Tanya Ibu Anna.


Rissa menoleh, "emm tidak, Bu." Rissa berdalih.


"Jangan berpikir terlalu berat, percaya pada suamimu. Semua akan baik-baik saja," ucap Ibu Anna.


Rissa mengangguk, ia memang harus menjaga emosinya, jangan sampai ia terlalu banyak pikiran dan membahayakan kehamilannya.


***


Dion baru saja tiba di rumahnya, ia segera masuk dan menemui istrinya. Melati yang sudah menunggu suaminya, tengah menyilangkan kedua tangannya sembari menatap Dion penuh marah.


"Sayang, ada apa? Kenapa kamu menyuruh Mas pulang secepat ini?" Tanya Dion.


Melati menghela nafasnya, "untuk apa Mas datang ke rumah sakit tadi?" Melati mulai mengintrogasi suaminya.


Dion terkejut, ia menelan salivanya dengan berat.


"Ru-rumah sakit? Maksud kamu apa, Mel? Siapa yang ke rumah sakit?" Dion berdalih, ia mencoba untuk tenang.


Melati memalingkan wajahnya, menahan agar emosinya tak kembali meledak.


"Untuk apa kamu mendatangi Dokter kandungan? Dan siapa yang bersamamu?" Tanya Melati dengan penuh penekanan.


Dion terdiam, dadanya bergemuruh. Telapak tangannya berkeringat, sejujurnya ia tak dapat berkutik saat ini.


"Sayanh, dengarkan aku. Siapa yang memberi kabar seperti ini padamu? Aku tidak ke rumah sakit, apalagi ke Dokter kandungan!" Dion mencoba untuk meyakinkan istrinya.


"Mas, jangan bohongi aku! Tadi Mbak Susi melihat kamu di rumah sakit, dan kamu bersama perempaun keluar dari ruang Dokter kandungan. Dia tidak mungkin berbicara seperti itu kalau tidak ada buktinya.


Dion mengusap kasar wajahnya, "mana buktinya? Apa ada foto atau apapun itu yang memperkuat kalau aku benar-benar ada disana?" Tuntut Dion. Ia harus bersikap seolah ia tengah di tuduh yang tidak-tidak, kalau tidak seperti itu, Melati akan mencurigainya.


Melati tak berkutik, ia memang tak memiliki bukti tentang suaminya. Namun entah mengapa, ia seakan hilang kepercayaan pada Dion saat ini.


"Aku memang tidak memiliki bukti, Mas. Tapi Mbak Susi melihat kamu sama perempuan disana!" Melati kekeuh dengan ucapannya.


Dion membuang nafas kasar, ia memegang bahu istrinya dengan erat.


"Sayanh dengarkan aku, dia mungkin salah lihat. Mana mungkin aku seperti itu, percaya padaku." Dion kembali menatap istrinya dengan dalam, berharap Melati akan percaya padanya.


"Aku tidak tahu, Mas. Aku takut jika hal itu benar, dan aku akan kehilanganmu. Aku sadar bahwa kini aku tidak bisa memberimu keturunan, jadi aku berpikir kamu akan mencari wanita lain." Melati meluapkan segala hal yang mengganjal di hatinya.


Dion menatap sendu istrinya, hatinya begitu perih mendengar ucapan Melati.


"Maafkan aku, Mel." Hatinya seakan ingin mengungkap semua kebenaran, tetapi terlalu berat untuknya jika harus membongkar semuanya saat ini.


Ia hanya bisa memeluk erat istrinya, berharap pelukannya dapat meredakan kegelisahan sang istri.

__ADS_1


__ADS_2