
Rissa masuk ke dalam kamar, dan Dion masih termenung di tempatnya.
Tanpa di sadari, ada sepasang mata yang tak sengaja melihat mereka berdua. Ya, sepasang mata itu milik Bi Ai.
Bi Ai yang berniat untuk mengambil air minum ke dapur, tak sengaja mendengar percakapan antara Dion dan Rissa.
Hal itu membuatnya sedikit terkejut, ia tak percaya kalau majikannya telah menikah diam-diam di belakang Melati.
Bi Ai yang tak segan mencoba untuk menghilangkan rasa penasarannya, ia berniat untuk menghampiri majikannya itu.
"Den," sapa Bi Ai.
Dion terperanjat, itu karena Dion yang tengah melamun.
"Bibi bikin aku kaget saja. Ada apa, Bi?" Tanya Dion.
Bi Ai sempat ragu, namun tak mengurungkan niatnya untuk bertanya.
"Maaf sebelumnya, Bibi sudah lancang mendengar percakapan Den Dion dan Rissa tadi. Tapi sumpah, Bibi tidak sengaja, Den. Bibi minta maaf," ucap Bi Ai sembari menundukkan wajahnya.
Dion terdiam, tidak ada rasa marah sedikitpun di hatinya.
"Tidak apa-apa, Bi. Lambat laun Bibi juga memang harus tahu tentang siapa Rissa," ujar Dion.
"Aku memang berniat untuk meminta bantuan Bibi," imbuh Dion.
"Bantuan? Bantuan apa, Den?" Tanya Bi Ai.
"Sini, Bi. Kita bicara pelan-pelan," pinta Dion sembari menarik Bi Ai untuk menjauh dari ruang tamu.
"Begini, Bi. Sebenarnya aku dan Rissa sudah menikah. Dan Bibi pasti juga tahu, aku menutupi ini dari Melati. Tapi sumpah, aku tidak bermaksud untuk menduakan Melati, Bi. Aku terpaksa, Ibu menginginkan cucu, begitupun aku yang ingin memiliki anak dari darah dagingku sendiri. Ibu yang memilihkan Rissa untukku," jelas Dion pada Bi Ai.
Bi Ai hanya terdiam, satu sisi ia merasa kasihan pada Melati. Namun, ia juga mengerti posisi Dion saat ini.
"Jadi Bibi bisa bantu apa Den?" Tanya Bi Ai.
"Aku minta Bibi untuk memperlakukan Rissa seperti Bibi memperlakukan Melati, bantu dia kalau butuh bantuan. Bibi pasti paham, ruang gerakku sempit di rumah ini. Aku tidak tahu bagaimana bersikap pada mereka," ujar Dion.
Bi Ai mengelus pundak Dion, ia sudah menganggap majikannya itu seperti anaknya sendiri.
"Sabar, Den. Semua pasti ada jalan," Bi Ai mencoba untuk membesarkan hati Dion.
"Bibi akan berusaha membantu Non Rissa, sepertinya dia perempuan baik-baik, Den." Bi Ai menuturkan.
Dion mengangguk, "terimakasih, Bi."
"Ya sudah, Den Dion masuk ke kamar. Istirahat," ucap Bi Ai.
__ADS_1
Dion menurut, kini mereka berdua kembali masuk ke dalam rumah.
***
Pagi-pagi buta setelah shalat subuh, Rissa sudah berkutat di dapur. Membersihkan piring gelas yang kotor, juga berniat untuk menyiapkan sarapan.
Bi Ai yang kalah cepat dengan Rissa membuatnya tergesa menuju dapur, ia merasa tak enak jika Rissa yang mengerjakan semua pekerjaannya.
"Ya Allah, Non. Biar Bibi yang masak," pinta Bi Ai sembari meraih pisau yang tengah Rissa gunakan untuk memotong sayuran.
Rissa terkejut, "Non?" Ucapnya.
"Iya, Non. Bibi sudah tahu semuanya, maafin Bibi ya kalau sudah lancang sama Non Rissa." Bi Ai berubah segan.
Rissa tersenyum, "kenapa harus minta maaf, Bi? Aku bukan siapa-siapa disini," ujar Rissa.
Bi Ai terdiam, "Non Rissa itu istri Den Dion, Bibi harus perlakukan Non Rissa sebaik mungkin. Itu yang di minta Den Dion sama Bibi," sahut Bi Ai.
Rissa terdiam, ia sedikit senang mendengar penuturan Bi Ai. Rasanya ia masih di hargai oleh Dion, namun entah sampai kapan itu bertahan.
"Terimakasih, Bi."
Bi Ai tersenyum, "kenapa harus berterimakasih. Itu sudah kewajiban Bibi," ucapnya.
Rissa dan Bi Ai kembali melanjutkan aktifitas mereka, dari luar terdengar suara Dion yang baru saja keluar dari kamar.
Dion berjalan menuju dapur, mengintip apa yang tengah di lakukan istri keduanya.
Dion segera berlalu, kembali berjalan menuju garasi mobil. Dion berniat untuk memanaskan mesin mobilnya, sembari menunggu Melati yang tengah membersihkan diri.
Rissa menyiapkan sarapan di atas meja makan, menata semuanya agar terlihat menggiurkan.
"Selesai," ucapnya.
"Pagi, Sa." Melati menyapa.
Rissa menoleh, dan tersenyum manis pada madunya.
"Pagi juga Mbak Melati," sahutnya.
"Duduk Mbak," pinta Rissa sembari menggeserkan kursi untuk Melati.
"Terimakasih, Sa. Tidak usah repot-repot," ujar Melati.
"Oh iya, lihat Mas Dion tidak?" Tanya Melati.
Rissa menggelengkan kepalanya, sejak tadi ia tak melihat suaminya.
__ADS_1
"Rissa belum lihat Mas Dion, Mbak. Mau Rissa carikan?" Rissa menawarkan.
Melati mengangguk, "boleh, Sa. Maaf ya," ucapnya.
"Iya Mbak," jawab Rissa sembari berlalu mencari Dion.
Rissa mencari Dion ke halaman belakang, namun ia tak menemukan suaminya disana.
Rissa beralih ke tempat lain, dan langkahnya kini menuju teras rumah. Rissa mendengar suara Dion yang sempat terbatuk, ia kini berjalan menuju garasi mobil.
"Mas," ucap Rissa.
"Iya, Mel." Dion menoleh, sontak Dion seketika terdiam.
Rissa menelan salivanya berat, berusaha menenangkan hatinya.
"Suaraku saja kau tidak mengenali, Mas." Rissa membatin.
Dion berjalan mendekati Rissa, tentunya dengan perasaan tidak enak karena telah salah memanggil nama istrinya.
"Sa, maaf aku kira tadi Melati."
Rissa tersenyum kecut, "tidak usah minta maaf, di cari Mbak Melati. Sarapan sudah siap," ucap Rissa sembari berlalu meninggalkan Dion.
Dion menahan langkah istrinya, berucap dengan suara pelan.
"Kita sarapan sama-sama, Sa."
Rissa lagi-lagi melepaskan genggaman tangan suaminya, "jangan bercanda Mas."
Dion kembali menarik tangan Rissa, "aku serius!" Serunya.
Rissa terdiam, ia tak percaya dengan ucapan suaminya. Mana bisa hal itu terjadi dalam waktu dekat, Rissa masih belum siap untuk membaur bersama suami juga madunya.
"Aku tidak bisa," tolak Rissa.
Dion berjalan mendekat, "kenapa tidak bisa? Aku suamimu, dan kau harus ikuti apa perintahku!" seru Dion.
"Aku istrimu, tapi kamu tidak menginginkan itu. Aku tidak mau jika kamu melakukan ini dengan terpaksa, Mas. Aku ingin semua terlihat tulus," ujar Rissa.
"Beri aku waktu, dan biarkan aku memulai semuanya dengan perlahan! Aku tidak ingin menjadi suami yang lalai terhadap kesejahteraan istrinya," tutur Dion.
"Hanya ada satu cara," jawab Rissa.
"Apa?" Tanya Dion.
"Kejujuran! Dengan jujur, semuanya akan tampak apa adanya. Tidak akan ada lagi kebohongan, tidak akan ada lagi perasaan di bedakan, dan mungkin kamu juga bisa tahu bagaimana cara memperlakukan kedua istrimu!" Seru Rissa.
__ADS_1
"Aku mengerti, jadi biarkan aku melakukan apa yang seharusnya aku lakukan! Sekarang, ikut denganku. Kita sarapan bersama," ujar Dion. Ia kini melenggang masuk ke dalam rumah, langkahnya tak menampakkan keraguan sedikitpun.
Rissa dengan perasaan was-was, berjalan mengikuti suaminya. Entah apa yang terjadi nanti, ia hanya bisa mengikuti alur yang telah di tetapkan untuknya.