Dua Cincin

Dua Cincin
Salah Kamar


__ADS_3

Selama perjalanan, Dion merasa tak tenang. Pikirannya selalu tertuju pada Rissa, ia tengah menebak-nebak apa yang dilakukan Rissa dengan Dokter Radit selama berdua didalam mobil.


Beberapa kali ia juga tak fokus ketika Melati mengajaknya berbincang, bahkan Dion juga menampakkan raut wajah gelisah selama perjalanan.


Kini mereka telah tiba ditempat tujuan, pemandangan hamparan pasir pantai yang indah seketika membuat mata mereka segar.


Rissa yang baru saja turun dari mobil, segera berlari menuju bibir pantai. Sesekali ia juga menghirup angin yang berhembus dengan tenangnya.


"Segar sekali udaranya," ucap Rissa sembari memejamkan matanya.


Dari arah belakang, Dokter Radit ikut berlari menyusul Rissa. Ia begitu senang melihat tingkah yang ditunjukkan oleh Rissa, bahkan ia baru melihat ekspresi bebas Rissa saat itu.


"Kamu senang sekali kelihatannya," ujar Dokter Radit.


Rissa membuka matanya, menatap hamparan laut biru yang menyejukkan pandangan.


"Iya, Dok. Aku baru pertama kali ke pantai, dari dulu aku sangat ingin berlibur ke pantai." Rissa menuturkan.


Dokter Radit tersenyum, ia begitu kagum pada kepolosan Rissa.


"Ternyata gampang juga bikin kamu bahagia, cuma bawa kamu jalan-jalan ke pantai, kamu sudah sebahagia ini." Dokter Radit berucap tanpa mengalihkan pandangannya pada Rissa.


Rissa melirik, "bahagia itu sederhana, Dok. Tidak perlu mewah, cukup menjalaninya dengan orang-orang tersayang, itu sudah jadi kebahagiaan yang luar biasa," sahut Rissa.


Berbeda dengan Rissa, Dion yang sedari tadi memperhatikan Rissa dan Dokter Radit tampak begitu tak bersemangat.


"Sayang, ayo kesana." Melati mengajak Dion untuk ikut bergabung bersama Rissa dan Dokter Radit.


Dion tak beranjak dari tempatnya, "kamu saja, Mel. Mas mau beresin barang-barang dulu," tolak Dion.


Ia memilih untuk membawa barangnya masuk ke villa yang sebelumnya sudah mereka booking, daripada harus melihat kedekatan Rissa dengan Dokter Radit.


Melati sempat kesal, namun ia tak ingin merusak moodnya ketika berlibur. Melati memilih untuk menghampiri Rissa, dan mereka berdua berniat untuk bermain air laut.


"Sa, Mel, kita ke villa dulu." Dokter Radit mengajak Rissa dan Melati untuk masuk ke villa.


"Iya," sahut keduanya.


Mereka bertiga kini berjalan menuju villa, Rissa dan Melati tampak begitu senang dengan acara liburan dadakan ini.

__ADS_1


"Oh iya, ada dua kamar disini. Jadi mungkin untuk tempat tidur sebaiknya aku dengan Dion, dan Rissa sama kamu," tutur Dokter Radit.


Melati dan Rissa setuju, mereka kini membawa barang masing-masing kedalam kamar.


Dion yang telah lebih dulu masuk ke villa, memilih untuk beristirahat di kamar yang telah dia pilih sebelumnya.


"Eh, Sa. Kamu duluan ke kamar, yah. Aku mau kedapur dulu ngcek isi lemari es," ujar Melati.


Rissa mengangguk, ia pun berjalan menuju kamar yang hendak dituju.


"Tunggu. Kamarnya sebelah mana, yah?" Rissa lupa menanyakan letak kamar yang akan dihuninya bersama Melati.


"Ah mungkin yang pojok sana," ucap Rissa sambil kembali melanjutkan langkahnya.


Tanpa mengetuk pintu, Rissa segera masuk kedalam kamar. Ia tak ragu memilih kamar itu, karena ketika berjalan menuju kamar pojok, ia melihat Dokter Radit yang masuk kekamar disudut lain.


Rissa menaruh tasnya diatas tempat tidur, ia juga segera membuka kerudung dan jaketnya yang telah basah karena main air.


"Rissa," ucap Dion.


Rissa terkejut, ia segera menoleh ke sumber suara.


Rissa segera meraih kembali kerudungnya, dan menutupi rambutnya yang terikat.


"Kenapa Mas bisa ada disini?" Tanya Rissa dengan gugup.


Dion mengerutkan keningnya, "harusnya aku yang tanya. Kenapa kamu masuk ke kamarku?" Tanya Dion.


Rissa melongo, "loh, ini kan kamarku dan Mbak Melati. Mas Dion harusnya di kamar lain bersama Dokter Radit!" Seru Rissa. Ia tampak tak nyaman dengan situasi saat itu.


Dion terdiam, perlahan ia berjalan mendekati Rissa.


"Aku tahu, apa kau sengaja mengikutiku masuk ke dalam kamar?" Tanya Dion, seraya menggoda istri keduanya itu.


Rissa menggelengkan kepalanya dengan cepat, ia juga memundurkan langkahnya agar tak terlalu dekat dengan Dion.


"Tidak, bukan seperti itu. Aku pikir tadi kamar ini kosong. Jadi aku masuk saja, lagipula Dokter Radit juga masuk ke kamar di pojok sana. Aku tidak tahu kalau ada Mas Dion disini," tutur Rissa dengan gemetar.


"Aku tadi tidur di sana," sahut Dion sembari menunjuk sofa yang ada di teras kamar.

__ADS_1


"Ya sudah, kalau begitu aku akan keluar." Rissa dengan tergesa mengambil tasnya, namun langkahnya terhalang oleh tubuh Dion yang berdiri dihadapannya.


"Kenapa? Kamu seperti takut dekat denganku?" Tanya Dion, matanya menelisik tajam wajah istrinya.


Rissa tertunduk, ia mencoba menghindari tatapan suaminya.


"Mas, aku takut Mbak Melati melihat kita disini. Aku permisi," ucap Rissa dan berjalan menjauhi suaminya.


Tanpa dapat di cegah, dari arah belakang tiba-tiba saja Dion memeluk Rissa. Hal itu sontak membuat tubuh Rissa kaku seketika, ia tak dapat bergerak sama sekali.


"Kenapa buru-buru? Aku masih mau bersamamu," bisik Dion pada telinga Rissa.


Suara bisikan suaminya, seketika membuat bulu kuduk Rissa merinding.


Ia mencoba untuk melepas pelukan suaminya, ia sangat takut jika Melati melihat adegan itu.


"Mas, lepaskan. Aku mau keluar!" Seru Rissa.


Tak ada pergerakan dari Dion, ia menenggelamkan wajahnya pada tengkuk Rissa.


"Kenapa? Kenapa saat bersamaku kamu terlihat tidak nyaman? Kenapa saat kamu bersama Dokter Radit, kamu bisa tertawa bebas seperti tadi? Apa kamu menyukai dia?"


Pertanyaan Dion membuat Rissa tersinggung, tuduhan suaminya sama sekali tidak benar.


"Kamu salah paham, Mas. Aku tidak memiliki perasaan apapun pada Dokter Radit!" Seru Rissa.


"Aku tidak peduli bagaimana perasaanmu pada lelaki itu, lagipula mungkin hal itu bisa membuatmu bahagia. Karena kau tidak mendapatkan itu dariku!" Seru Dion, pelukannya semakin erat. Tidak ada kehangatan diantara mereka, Rissa bahkan merasakan sesak di dadanya.


Dengan sekuat tenaga, Rissa melepas dekapan suaminya. Ia bahkan mendorong Dion, hingga suaminya itu terjatuh.


"Cukup, Mas. Aku tahu kamu sama sekali tidak peduli padaku! Tapi aku juga punya harga diri, aku tidak akan melakukan hal semacam itu. Kalaupun aku menyukai laki-laki lain, itu bukan urusanmu. Aku bahkan akan menerima laki-laki lain, ketika aku bukan lagi istrimu!" Rissa berbicara dengan penuh penekanan, ia benar-benar marah pada Dion.


Rissa segera berbalik, hendak meninggalkan Dion.


Namun pada saat ia membuka pintu, Rissa dikejutkan dengan seseorang yang telah berdiri didepannya.


"Ya ampun, apa dia mendengar semuanya? Apa yang harus aku lakukan?" Rissa benar-benar terkejut.


Sosok dihadapannya memasang raut wajah yang tak terbaca, ia juga menatap Rissa dengan tatapan yang tak dapat di artikan.

__ADS_1


__ADS_2