
Dion mengajak Rissa untuk masuk ke dalam kamar, ia tak menyadari kalau istrinya kini tengah meringis karena genggaman tangannya yang terlalu keras.
"Mas, sakit..."
Dion menghentikan langkahnya, melepas genggamannya dengan cepat.
Ia menatap pergelangan tangan Rissa yang memerah, sempat ada rasa bersalah di hatinya.
"Aku sedang panik dan bingung harus mencari Melati kemana lagi, tapi kamu malah berdua-duaan dengan pria lain!" Seru Dion pada Rissa.
"Mas, aku tidak bermaksud seperti itu. Aku juga khawatir sama Mbak Melati..."
"Khawatir? Kamu kan bisa pulang naik angkutan umum, kenapa menerima ajakan Dokter Radit untuk di antar pulang?" Tanya Dion dengan kesal.
Rissa menunduk, "aku minta maaf, Mas..."
"Sekarang aku tidak tahu Melati ada dimana, dan itu karena kamu yang tidak bisa mencegah dia untuk tidak melakukan konsultasi! Aku kecewa sama kamu, Sa."
Rissa semakin merasa bersalah, ia juga menangis karena telah membuat Dion kecewa padanya.
"Aku minta maaf, Mas..."
"Maaf tidak bisa mengembalikan semuanya menjadi baik-baik saja, Sa. Aku hanya ingin Melati kembali pulang dengan keadaan baik-baik saja," ujar Dion tanpa menoleh kearah istrinya.
"Aku janji Mas aku akan cari Mbak Melati, aku tidak akan pulang sebelum aku memenemukan Mbak Melati." Rissa berucap dengan sungguh.
Dion berbalik memunggungi Rissa, ia tidak berniat untuk memperpanjang masalahnya dengan Rissa.
"Terserah apa yang ingin kamu lakukan. Aku hanya ingin Melati kembali. Dan satu lagi, jangan pernah menangis di depanku!"
Seru Dion sembari berlalu meninggalkan istri keduanya itu.
Dion kembali pergi dari rumahnya, ia masih tetap ingin mencari sang istri yang entah berada dimana.
Begitupun dengan Rissa, ia juga kembali pergi mencari madunya itu. Bahkan ia melewatkan jam makannya, Rissa belum bisa tenang jika belum mengetahui kabar madunya.
Dion mencari ke setiap tepian jalan, ingatannya kini tertuju pada makam sang anak.
Dion bergegas menuju tempat pemakaman umum, dimana anaknya di kebumikan.
Ia sangat berharap bisa bertemu Melati disana, ia tak mau sesuatu hal terjadi pada istrinya itu.
Sedangkan Rissa ia tak tahu harus mencari Melati kemana, ia berjalan menyusuri jalanan tanpa arah yang pasti.
***
Di tempat lain, Melati baru saja pulang dari pemakanan sang anak, niatnya kini ingin pulang ke rumah orangtuanya.
Sengaja Melati tak mengabari Ibu atau Ayahnya, ia tak ingin membuat keduanya khawatir.
__ADS_1
Ia sama sekali tak memikirkan suaminya, rasa kecewanya begitu besar pada Dion.
Selang beberapa menit berlalu, Dion sampai di pemakaman.
Ia mengedarkan pandangannya, berharap bisa menemukan sosok yang di cari. Namun pencariannya tak membuahkan hasil, ia tak menemukan Melati disana.
"Ya Allah, aku harus mencari kamu kemana, Mel." Dion tampak frustasi.
Hari sudah hampir petang, dan Dion masih belum menemukam istrinya. Ia tak terpikir untuk menghubungi Ibu atau mertuanya, ia berniat untuk menyembunyikan permasalahannya dari mereka.
Dion memutuskan untuk kembali pulang, badannya juga terassa lelah.
Sementara Melati, baru saja sampai di kediaman orangtuanya. Dengan mata sembab, ia memberanikan diri mengetuk pintu rumah masa kecilnya.
Ibu Melati terkejut ketika melihat anaknya yang datang sendirian, "Mel, kamu kenapa tidak bilang mau kemari?" Tanya Ibu Melati.
Melati berhambur memeluk Ibunya, ia menangis sejadi-jadinya. Ibu Melati tampak kebingungan, ia tak mengetahui apa yang terjadi pada anaknya.
"Mel, kamu kenapa? Kenapa kamu nangis?" Tanya Ibu Melati lagi.
Melati masih tak menjawab, tangisnya masih terdengar pilu.
Ibu Melati mengajak anaknya untuk masuk ke dalam rumah, dan bermaksud untuk menenangkannya terlebih dulu.
"Loh Mel, kamu kemari. Mana suamimu?" Tanya Ayah Melati ketika melihat istrinya menggandeng anaknya yang tengah terisak.
"Kamu nangis? Kenapa, Nak?" Tanya Ayah Melati dengan khawatir.
"Mel, tenanglah. Coba bicara pelan-pelan sama Ibu, sebenarnya apa yang terjadi?"
Melati menghapus air matanya, ia mulai membuka suara tentang apa yang dia alami.
"Bu, Mas Dion sudah membohongiku selama ini..."
Ibu dan Ayah Melati saling bertukar pandang, "membohongi apa maksudmu?" Tanya Ayah Melati.
"Ternyata... Aku tidak bisa memiliki anak lagi, Bu. Aku tidak akan hamil lagi," ucap Melati. Tangisnya kembali pecah.
Ibu Melati tertegun, ia hanya bisa membiarkan anaknya meluapkan kekecewaannya dengan menangis.
"Kamu... Tahu darimana tentang itu, Mel?" Tanya Ayah Melati.
"Aku... Aku tadi pagi memeriksakan diri ke Dokter kenalanku, dan dia bilang kalau aku tidak punya rahim. Dan jahatnya lagi Mas Dion ternyata tahu tentang ini," ujar Melati sembari sesenggukan.
Ibu Melati menggenggam bahu anaknya, ia menatap Melati dengan rasa bersalah.
"Maafkan kami, Mel..."
Melati terdiam, "ma-maksud Ibu? Kenapa Ibu minta maaf?" Tanya Melati, ia tampak kebingungan.
__ADS_1
Ibu Melati melirik suaminya, lalu kembali menatap sang anak.
"Sebenarnya... Kami juga tahu tentang kondisimu," ucap Ibu Melati dengan lirih.
Melati terkejut, lagi-lagi ia harus mendengar hal yang membuatnya kembali kecewa.
"Ibu bohong padaku, kan? Apa maksud semua ini?" Tanya Melati.
Ibu Melati mulai menjelaskan semuanya dari awal, ia menceritakan apa yang terjadi pada saat Melati melahirkan anaknya.
Melati tak menduga dengan apa yang di dengarnya, ia benar-benar telah di bohongi oleh semua orang.
"Jadi Ibu dan Ayah tahu, apa Ibu mertuaku juga tahu tentang ini? Jadi selama ini kalian menutupi hal ini dariku?"
"Tega, semua orang jahat padaku..."
Melati beranjak dari tempatnya, ia berlari menuju kamar yang dulu ia tempati. Melati mengunci pintu kamarnya, ia benar-benar sangat kecewa pada semua orang yang telah bekerja sama untuk menutupi hal ini darinya.
"Mel, buka pintunya, Nak. Ibu dan Ayah minta maaf... Ibu hanya memikirkan kondisimu saat itu."
Ibu Melati terus berusaha menjelaskan pada anaknya, ia juga merasa bersalah telah membuat Melati terpuruk seperti sekarang ini.
"Yah, bagaimana ini? Ibu khawatir sama Melati," ucap Ibu Melati pada suaminya.
"Sudah, Bu. Biarkan Melati sendiri dulu, biarkan dia menenangkan dirinya," saran Ayah Melati.
Ibu Melati menurut, ia memberikan waktu untuk anaknya menenangkan diri. Sementara itu, Ayah Melati berniat untuk menghubungi Dion, memberitahukan bahwa Melati tengah ada di rumah mereka.
Dion menghentikan laju mobilnya, ia mendengar suara yang berasal dari ponselnya.
"Ayah? Tumben meneleponku," gumam Dion.
"Halo, assalamu'allaikum, Yah?"
Dion menjawab panggilan teleponnya.
"Wa'allaikummussalam. Yon, Ayah cuma mau kasih tahu kalau Melati sekarang ada di rumah Ayah dan Ibu." Ayah Melati menuturkan.
"Alhamdulillah, syukurlah. Kalau begitu aku kesana sekarang, Yah."
"Jangan, Yon. Biarkan Melati sendiri dulu, Ayah dan Ibu sudah tahu apa permasalahan kalian. Nanti kalau Melati membaik, Ayah akan mengabarimu," ujar Ayah Melati.
Dion menghela nafasnya, ia juga tidak keberatan memberi waktu untuk istrinya.
"Baiklah kalau begitu, Dion titip Melati, Yah."
"Tentu, ya sudah Ayah tutup teleponnya."
"Iya, Yah."
__ADS_1
Dion menyudahi percakapannya dengan sang mertua, walau sedikit kecewa karena tak dapat menemui istrinya, setidaknya Dion kinu merasa lebih lega, ia pun berniat untuk kembali pulang ke rumahnya.