
Ketika keberadaanmu tidak dihargai oleh seseorang, maka biarlah kepergiannmu membuat dia menyesalinya.
💔💔💔💔💔💔💔💔💔💔💔💔💔💔
Aku telah tahu kita memang tak mungkin
Tapi mengapa kita selalu bertemu?
Aku telah tahu hati ini harus menghindar
Namun kenyataan 'ku tak bisa
Maafkan aku terlanjur mencinta
Senyuman itu
Hanyalah menunda luka
Yang tak pernah kuduga
Dan bila akhirnya
Kau harus dengannya
Mengapa kau dekati aku
Kau membuat semuanya indah
Seolah takkan terpisah
Aku telah tahu kita memang tak mungkin
Tapi mengapa kita selalu bertemu?
Aku telah tahu hati ini harus menghindar
Namun kenyataan 'ku tak bisa
Maafkan aku terlanjur mencinta
Bila memang hatimu untuk aku
Salahkah kuberharap
Berharap kau memilih diriku
Cinta
Tapi mengapa kita selalu bertemu?
Aku telah tahu hati ini harus menghindar
Namun kenyataan 'ku tak bisa
Maafkan aku terlanjur mencinta
***
Malam ini Rissa yang ditemani alunan lagu melow, merasakan pedihnya hati yang tak dianggap.
Rissa tahu, dari awal ia akan merasakan rasa sakit itu.
__ADS_1
Namun sayangnya Rissa malah memilih merasakan kesakitan itu, dan mencoba untuk bertahan walau sering terlupakan.
"Apa aku harus berhenti disini?" tanya Rissa pada dirinya. Ia benar-benar merasa lelah saat ini.
"Tapi bagaimana dengan Ibu Anna?"
Rissa kembali mengingat jasa mertuanya itu, ia tak mungkin melakukan hal yang membuat Ibu mertuanya kecewa.
Rissa meraih ponselnya, ia berniat untuk menanyakan kabar Ibu mertuanya.
"Assalamuallaikum, Bu." Rissa menyapa.
"Wa'allaikumsalam, Sa. Ibu Kangen sama kamu," sahut Ibu Anna.
"Rissa juga kangen sama Ibu, maaf Rissa baru mengabari. Ibu bagaimana, sehat?" tanya Rissa.
"Ibu sehat, Nak. Kamu sendiri gimana? Sehat, kan?" tanya balik Ibu Anna.
"Alhamdulillah kalau begitu, Bu. Rissa juga sehat, Bu. Ibu tidak lupa minum obat, kan?" tanya Rissa. Ya, akhir-akhir ini Ibu Anna memang diharuskan untuk mengkonsumsi vitamin. Bertambahnya usia membuatnya semakin mudah lelah, terlebih kini ia juga rentan sakit.
"Ibu tidak lupa, kok. Oh iya, Sa. Gimana hubungan kamu sama Dion?" tanya Ibu Anna.
Rissa menghela nafasnya, ia harus berhati-hati dalam menjaga ucapannya didepan Ibu mertuanya.
"Hubungan Rissa dan Mas Dion baik, Bu." Rissa terpaksa berbohong, ia tak mungkin mengatakan hal yang sebenarnya. Ia tak ingin membebani Ibu mertuanya, dan lagi urusan rumah tangga memang sebaiknya dijaga baik-baik, bahkan dari orangtua sekalipun.
"Sa, kalau ada apa-apa bilang sama Ibu. Jangan kamu pendam sendiri," ucap Ibu Anna.
Rissa tertegun, entah mengapa Ibu Anna seperti tahu apa yang tengah dialami oleh Rissa. Namun tetap saja, Rissa tidak mungkin mengatakan apa yang sebenarnya terjadi.
"Iya, Bu. Kalau ada apa-apa Rissa pasti bilang ke Ibu, tapi untuk saat ini hubungan Rissa dan Mas Dion memang baik-baik saja, Bu. Ibu tidak usah khawatir," ujar Rissa.
Terdengar suara helaan nafas panjang dibalik ponsel, "Ibu harap ucapanmu ini memang jujur, Sa. Ibu tidak mau Dion sampai berbuat hal yang menyakiti kamu," ucap Ibu Anna.
"Bu, Rissa tutup dulu teleponnya, yah. Ibu segera istirahat," ujar Rissa.
"Hemm, iya. Kamu juga jaga diri baik-baik, kalau ada apa-apa bilang sama Ibu." Ibu Anna mewanti-wanti, ia juga merasa jika hubungan antara menantu juga anaknya itu belum membuahkan hasil yang diinginkan.
"Iya, Bu. Ya sudah, assalamu'allaikum."
"Wa'allaikumsalam," jawab Ibu Anna, panggilan telepon pun terputus.
Rissa menaruh kembali ponselnya, matanya kini menatap kosong keluar jendela.
Sekilas Rissa melirik jam yang terpajang di dinding kamar, ia berniat untuk segera beristirahat.
***
Pagi-pagi sekali, Melati sudah siap dengan barang-barangnya. Ia sangat antusias untuk berlibur, walaupun hanya dua hari, tapi sedikit membuat kepenatannya hilang.
Dion yang tampak tak bersemangat, dengan terpaksa ikut membantu istrinya menyiapkan barang bawaan.
"Sayang, kita kan cuma dua hari berlibur di pantai, jangan bawa barang terlalu banyak." Dion menyarankan.
"Iya, Mas. sudah beres, kok." Melati menjawab.
"Selesai. Aku ke kamar Rissa dulu," ujar Melati dan di iyakan oleh Dion.
Melati segera berjalan menuju kamar Rissa, namun ia tak menemukan Rissa disana.
"Rissa kemana, yah?"
__ADS_1
Melati berlalu menuju ruangan lain, dan ia menemukan Rissa yang baru selesai menjemur pakaian.
"Loh, Sa. Kamu belum siap-siap?" tanya Melati.
Rissa menoleh, dan menyudahi aktifitasnya.
"Mbak, aku di rumah saja, yah." Rissa membujuk.
Melati mengerutkan keningnya, ia juga terlihat kecewa pada jawaban Rissa.
"Kenapa gitu? Pokoknya kamu harus ikut! Cepat, aku tunggu. Sebentar lagi Dokter Radit sampai," ujar Melati.
Dengan terpaksa, Rissa menuruti kemauan madunya. Ia berjalan menuju kamar, dan menyiapkan barang bawaannya.
"Kalau bukan karena Mbak Melati, sebenarnya aku tidak mau ikut. Aku malas melihat sikap Mas Dion," gerutu Rissa.
"Sa, udah selesai?" Teriak Melati dari arah ruang tamu.
Rissa mempercepat gerakannya, dan segera turun menyusul Melati yang sudah menunggu bersama Dion juga Dokter Radit.
"Belum apa-apa sudah membuat kita menunggu," sindir Dion. Sebenarnya ia tidak ingin Rissa untuk ikut, ia tak rela jika Rissa memiliki waktu banyak dengan Dokter Radit.
Rissa hanya diam, ia tak menimpali sindiran suaminya. Tanpa pengawasan Dion, Dokter Radit dengan cepat membantu Rissa mengangkat barang bawaannya.
"Eh Dok, biar aku saja yang bawa." Rissa menahan tangan Dokter Radit yang telah menjinjing tasnya.
"Tidak apa-apa, biar aku saja." Dokter Radit menjawab dengan ramah.
Dion melihat adegan itu dengan kesal, ia menyembunyikan rasa kesalnya dengan segera mengajak Melati untuk ke mobil.
Di teras rumah, Dokter Radit segera memasukkan barang milik Rissa ke bagasi mobilnya. Hal itu membuat Rissa mengerutkan keningnya, "Dok, kenapa barang punyaku di simpan di mobil Dokter?" tanyanya.
Dokter Radit tersenyum, "kalau tidak keberatan, kamu mau kan satu mobil denganku?" tanya Dokter Radit.
Dion dan Melati yang mendengar ajakan Dokter Radit segera menoleh,mereka tanpa sengaja menjawab dengan bersamaan.
"Boleh, dong." Melati menjawab.
"Tidak boleh!" seru Dion.
Rissa, Dokter Radit, juga Melati sontak melihat kearah Dion, mereka mempertanyakan penolakan Dion.
"Kenapa tidak boleh, Mas?" tanya Melati.
Dion gelagapan, ia tengah mencari alasan untuk pertanyaan yang dilontarkan istrinya.
"Maksudku, Rissa kan bagian keluarga kita juga. Jadi dia tanggung jawab kita, sayang. Biarkan Rissa satu mobil dengan kita dan tidak merepotkan Dokter Radit." Dion menjelaskan.
"Aku sama sekali tidak keberatan, Yon. Aku malah senang bisa satu mobil dengan Rissa," sahut Dokter Radit.
"Tidak usah, Dok. Biar Rissa dengan kita saja," timpal Dion.
"Aku satu mobil dengan Dokter Radit saja," sahut Rissa, membuat Dion tak dapat berkutik sama sekali.
Rissa sengaja berbicara seperti itu, ia masih kecewa dengan perkataan Dion padanya. Bukankah diantara mereka tidak perlu mencampuri urusan masing-masing, dan Rissa berniat untuk memenuhi keinginan suaminya itu.
Dokter Radit terlihat senang, dan segera membukakan pintu mobil untuk Rissa.
Dengan membalas senyuman Dokter Radit, Rissa segera masuk kedalam mobil.
Dion tampak begitu kesal, Rissa benar-benar tak mendengar perkataannya. Namun seperti biasa, Dion tak dapat berbuat apapun.
__ADS_1
Terlebih, Dion melihat Melati yang tengah memperhatikannya sedari tadi. Daripada memancing Melati curiga akan sikapnya, Dion dengan terpaksa membiarkan Rissa untuk satu mobil dengan Dokter Radit.