Dua Cincin

Dua Cincin
Tuntutan Rissa


__ADS_3

Satu hal yang paling di takutkan dalam suatu hubungan rumah tangga adalah perceraian. Tidak ada satu pasangan suami istri yang menginginkan perceraian, hidup bersama selamanya menjadi tujuan awal ketika keduanya memutuskan untuk mengingat hubungan suci pernikahan.


Ada berbagai hal yang memicu keretakan dalam suatu hubungan pernikahan, yang memicu terjadinya perpisahan.


Seperti kedua pasangan yang tak lagi terbuka, suami yang tak lagi menghargai istrinya, atau bahkan yang sering terjadi adalah ketidakcocokkan di antara mereka.


Namun satu sisi, perceraian bisa menjadi solusi terbaik bagi keduanya, daripada harus bertahan namun saling menyakiti satu sama lain.


***


Rissa dan Dion telah kembali ke rumah, Ibu Anna memutuskan agar Rissa tinggal bersamanya.


Dion tak dapat menolak, ia juga merasa lebih baik jika istri keduanya itu tinggal bersama sang Ibu untuk sementara.


Selagi hubungannya dengan Melati belum mendapat titik terang, Dion menyetujui Rissa untuk tinggal bersama Ibu Anna.


Sampai saat ini, Rissa belum memberi respon apapun pada suaminya.


Ia merasa tidak ada hak untuk menuntut apapun pada Dion, terlebih tidak ada lagi yang ia perjuangkan.


"Anakku sudah tidak ada, lalu untuk apa statusku saat ini? Aku harus menyatukan kembali Mas Dion dan Mbak Melati."


Itulah yang kini ada di benak Rissa, ia merasa sudah tidak alasan apapun untuk bertahan dengan suaminya.


"Sa, makan yah." Ibu Anna membujuk menantunya, sampai sekarang Rissa masih berkabung atas kepergian sang jabang bayi.


"Ibu duluan saja, yah. Biar Rissa temani," sahut Rissa.


Ibu Anna menolak, "kalau kamu tidak makan, Ibu juga tidak mau makan."


Rissa menghela nafasnya, "ya sudah, Rissa makan. Tapi sekarang Rissa suapi Ibu dulu, nanti setelah itu baru Rissa makan." Rissa balik membujuk.


Walau ia tengah terpuruk, namun Rissa juga harus mengutamakan kesehatan sang Ibu mertua.


Akhirnya, Ibu Anna pun setuju. Ia memakan makanan yang Rissa berikan padanya, walau sebenarnya ia lebih mengkhawatirkan kondisi menantunya.


"Sa, jangan tinggalkan Ibu."


Perkataan sang mertua membuat Rissa terdiam, ia tak bisa untuk memberi jawaban apapun pada mertuanya.


Rissa hanya bisa mengulum senyuman kecil, dan menganggukkan kepalanya.


Saat tengah menyuapi sang mertua, tiba-tiba Dion datang menghampiri keduanya.

__ADS_1


Raut wajahnya tampak ramah, namun kegelisahan di wajahnya pun tak dapat di sembunyikan dari pandangan Rissa.


"Sa, kamu tidak makan juga?" Tanya Dion.


Rissa menggeleng, "nanti saja," jawabnya.


Dion menghembuskan nafasnya, lalu ia berniat untuk mengambil alih mangkuk yang tengah Rissa pegang.


"Biar aku yang suapin Ibu, kamu makan dulu sana." Dion meminta.


"Nanti saja," sahut Rissa sembari mengambil kembali makanan milik Ibu mertuanya.


Dion menghela nafasnya, ia tak bisa berbuat apapun lagi.


Dion hanya bisa melihat bagaimana istrinya mengurus sang Ibu, sambil menunggu hingga selesai dan bisa berbincang dengan istri keduanya itu.


***


Selesai menyuapi sang Ibu mertua, Rissa memilih untuk menyibukkan dirinya di dapur.


Ia mencuci piring kotor, hingga menatanya kembali ke tempat semula.


Ketika ia tengah sibuk dengan aktivitasnya, Dion datang menghampirinya.


Rissa menoleh, tanpa menunjukkan ekspresi apapun.


"Kelihatannya gimana," sahut Rissa dengan datar.


Dion mengusap tengkuknya, "jangan terlalu capek. Kamu kan baru selesai kuret," pinta Dion.


Rissa hanya menganggukkan kepalanya, tanpa menjawab sepatah katapun.


"Sa... Mas minta maaf tidak bisa menemani kamu saat operasi," ucap Dion.


"Mas..."


"Tidak perlu minta maaf. Memang seharusnya Mas bersama Mbak Melati saat itu," jawab Rissa.


Dion tertunduk, mungkin memang saat itu Rissa tengah membutuhkannya.


"Maafkan aku Sa," ucap Dion sembari memelas.


Rissa menghentikan pekerjaannya, kini ia menatap Dion dengan dalam.

__ADS_1


"Mas..."


"Ceraikan aku," ucap Rissa. Dion terkejut, matanya membulat sempurna.


Ia tak percaya jika Rissa dapat meminta hal itu padanya.


"Apa? Ke-kenapa kamu bilang seperti itu?" Tanya Dion.


Rissa menelan salivanya, ia meyakinkan dirinya agar tak goyah.


"Tidak ada alasan lagi untuk kita bersama, Mas. Aku sudah tidak mengandung anakmu," tutur Rissa dengan nada berat.


Dion mengusap wajahnya kasar, ia juga membuang nafas dengan kesal.


"Apa hubungannya dengan kamu yang sedang tidak mengandung anakku?" Tanya Dion.


"Jelas ada hubungannya, Mas. Bukankah dari awal kamu menikahiku hanya karena untuk mendapat keturunan?" Perjelas Rissa. Kalimatnya begitu penuh penenakan.


"Aku tidak ingin seperti ini, Mas. Sudah cukup aku menyakiti hati Mbak Melati, aku tidak bisa melanjutkan semuanya. Lagipula tidak ada alasan lagi untuk kamu mempertahankan aku kan, Mas?" Tanya Rissa.


Dion terdiam, pertanyaan Rissa hampir seperti pertanyaan Melati sebelumnya. Ia tak bisa menjawab pertanyaan istri keduanya itu, pasalnya ia tak paham dengan perasaannya terhadap Rissa saat ini.


"Tidak perlu kamu jawab, Mas. Aku sudah tahu jawabnnya," ujar Rissa.


"Aku mohon dengan sangat, Mas. Ceraikan aku," ulang Rissa dengan penuh keyakinan.


Dion menggelengkan kepalanya, "aku tidak bisa menceraikanmu!" Seru Dion.


Rissa yang hendak pergi, sontak menghentikkan langkahnya.


"Kenapa? Berikan satu alasan, kenapa kamu tidak bisa menceraikanku?" Tanya Rissa.


Dion kembali terdiam, "karena..."


"Apa?" Tuntut Rissa.


"Kamu tidak menjawab lagi, Mas? Sudahlah Mas, lagipula dengan kamu menceraikan aku, kamu lebih leluasa untuk memperbaiki hubunganmu dengan Mbak Melati," tutur Rissa.


Rissa kembali berbalik, ia kini berlalu meninggalkan Dion yang masih tertegun. Air matanya sempat menetes, namun ia sebisa mungkin tak ingin menangisi keputusannya.


Sementara Dion, ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Ia tak tahu harus berbuat apa, kedua istrinya kini menuntut cerai padanya.


Entah mengapa, Dion tidak bisa mengabulkan permintaan kedua istrinya. Tapi bagaimana jadinya, jika ia tetap harus hidup dengan dua istri yang bahkan tak akan berjalan sesuai keinginannya.

__ADS_1


__ADS_2