Dua Cincin

Dua Cincin
Malam Yang Tak Terencana


__ADS_3

Dion kembali ke rumahnya, tak di sangka hujan pun turun dengan derasnya. Dion berlari kecil menuju teras rumah, hari ini ia begitu tampak kelelahan.


Dion masuk ke dalam rumah, dan berjalan menuju kamarnya. Ia segera membersihkan diri, mengganti pakaiannya yang sudah terasa lengket di badannya.


Selesai membersihkan diri, Dion berniat untuk menuju dapur. Tubuhnya butuh asupan minuman penghangat, ia meminta Bi Ai untuk membuatkannya teh manis hangat.


"Ini Den teh nya," ucap Bi Ai sembari menyodorkan segelas teh hangat pada Dion.


"Terimakasih, Bi." Dion menerima gelas itu, dan meneguknya secara perlahan.


"Non Melati bagaimana, Den? Sudah ada kabar?" Tanya Bi Ai.


Dion menaruh gelas yang tengah di pegangnya ke atas meja, "alhamdulillah, Melati ada di rumah orangtuanya, Bi."


Bi Ai menghela nafas lega, "syukurlah kalau begitu. Emm, kalau boleh tahu memangnya ada masalah apa, Den?" Tanya Bi Ai.


Dion terdiam, "Melati tahu semuanya, Bi. Dia syok mendengar kalau sebenarnya dia tak bisa hamil lagi," tutur Dion.


Bi Ai terkejut, ia sangat paham betul perasaan Melati saat ini.


"Ya ampun, kasihan sekali Non Melati. Darimana Non Melati tahu itu semua, Den?" Tanya Bi Ai lagi.


Dion membuang nafasnya dengan kasar, menyesali apa yang telah terjadi sehingga Melati mengetahui semuanya.


"Itu karena Rissa tidak menghalangi Melati untuk datang ke Rumah sakit pilihannya! Kalau saja dia baca pesan dariku," ujar Dion dengan nada sedikit kesal.


Bi Ai mencoba untuk menengahi, ia juga tak ingin Rissa di salahkan dalam situasi ini.


"Den, Bibi pikir ini bukan salah Non Rissa. Karena lambat laun Non Melati juga pasti akan tahu, entah bagaimana caranya, semua pasti akan terbongkar juga." Bi Ai mencoba menjelaskan.


Dion tertegun, apa yang di katakan Bi Ai memang ada benarnya. Ia juga merasa bersalah karena telah bersikap kasar pada Rissa, bahkan sampai membentaknya berkali-kali.


Tiba-tiba saja Dion teringat akan Rissa, ia mengedarkan matanya mencari sosok istri keduanya itu.


"Ngomong-ngomong, Rissa kemana?" Tanya Dion.


Bi Ai mengerutkan keningnya, "Bibi tidak lihat Non Rissa sejak tadi, Den. Bibi pikir Nok Rissa bersama Den Dion," ujar Bi Ai.


Dion terperanjat, ia lalu beranjak dari tempatnya dan berniat untuk menghubungi Rissa.


Beberapa kali Dion menelepon Rissa, namun tak ada jawaban. Dion kembali panik, ia turun dari kamarnya sembari terus mencoba menelepon istrinya.


Ketika Dion hendak melewati ruang tamu, tak sengaja ia mendengar dering ponsel dari arah kamar Rissa.


Dion berjalan menuju kamar istri keduanya, dan ia pun berdecak ketika melihat ponsel Rissa yang tergeletak di atas tempat tidur.


"Astagfirulloh, Rissa tidak bawa ponsel."


Dion menatap jendela kamar Rissa, hujan masih mengguyur dengan derasnya.


Dion keluar dari kamar Rissa, ia berniat untuk mencari istrinya.


Dion segera mengenakan jaket, dan mengambil kunci mobilnya.


Langkahnya terhenti, ketika ia membuka pintu rumahnya. Ia terkejut melihat Rissa yang kini berdiri di depannya, pakaiannya basah kuyup. Rissa tampak kedinginan, bahkan bibirnya terlihat telah membiru.

__ADS_1


"Sa, kenapa bisa sampai basah kuyup begini?" Tanya Dion sembari memegang bagu istrinya.


"Mas, maafkan aku. Aku belum bisa menemukan Mbak Melati." Rissa berkata dengan suara gemetar.


Diom tak menjawab, ia melepas jalet yang di pakainya dan membalutkannya pada tubuh Rissa.


"Masuk dulu, kamu harus ganti baju." Dion memapah istrinya dan membawanya masuk ke dalam rumah.


Bi Ai datang dari arah dapur, ia menghampiri Rissa yang gemetar karena kedinginan.


"Ya Allah, Non. Kenapa bisa sampai basah begini. Tunggu, biar Bibi buatkan susu hangat," ucap Bi Ai.


Dion membawa istrinya ke kamar, ia meminta Rissa untuk segera membasuh tubuhnya.


"Kamu bersih-bersih dulu, lalu ganti pakaian. Aku tunggu di sini," ucap Dion.


Rissa mengangguk, ia berjalan menuju kamar mandi dengan perlahan.


***


Rissa telah selesai membersihkan tubuhnya, ia keluar dari kamar mandi.


Dion menoleh, menatap istrinya yang hanya berbalutkan kimono handuk.


Rissa di buat kikuk oleh tatapan suaminya, ia segera berjalan menuju lemari dan mengambil pakaian ganti. Dengan cepat, Rissa kembali ke kamar mandi setelah mendapat pakaiannya.


Dion tersenyum tipis melihat tingkah istrinya, baru kali ini ia melihat Rissa berpenampilan terbuka seperti itu.


Dion teringat akan kewajibannya, ia juga memiliki hak atas istrinya. Tentunya Rissa juga sama, ia memiliki hak terhadap suaminya.


Rissa keluar dari kamar mandi, ia kini telah memakai pakaian tidur juga kerudungnya.


Rissa berjalan mendekati suaminya, duduk di sebelah Dion membuatnya sedikit canggung.


"Sa, aku minta maaf. Aku terlalu emosi tadi," ucap Dion.


Rissa menundukkan wajahnya, ia hanya menganggukkan kepalanya.


Rissa menoleh kearah suaminya, ia tampak sedikit gugup.


"Mas, anu... Aku mau itu," ucap Rissa dengan ambigu.


Diom terdiam, ia tengah mengartikan maksud perkataan istrinya.


"Mau apa, Sa?" Tanya Dion dengan ragu.


Entah mengapa, pikiran Dion melesat kemana-mana.


"Rissa mau apa? Apa dia mau..."


"Itu maaf Mas, aku mau... Ambil mukena di sebelah Mas," ucap Rissa.


Dion tak berkutik, dalam hati ia merasa dongkol. Perkiraannya salah, ternyata Rissa tak menuntut haknya malam ini.


"Oh, mukena. Aku pikir apa..."

__ADS_1


Dion tersenyum dengan terpaksa, dan mengambilkan mukena milik istrinya.


"Makasih, Mas. Aku shalat dulu," ujar Rissa dan Dion hanya menganggukkan kepalanya.


"Astaga, Yon. Kenapa kamu bisa berpikir sejauh itu? Hah, dasar..." Dion menggerutu dalam hatinya.


Selesai shalat, Rissa segera membereskan mukenanya dan menaruh ke tempat semula.


Rissa menatap suaminya yang tertidur di atas ranjang.


"Mas, Mas."


Rissa menepuk pelan bahu suaminya, berniat untuk membangunkan Dion.


"Mas, bangun. Kenapa tidur disini?" Tanya Rissa sambil terus berusaha membangunkan suaminya.


"Mas..."


Rissa terkejut, ia tak dapat menahan tubuhnya ketika tangan Dion tiba-tiba menariknya.


"Astagfirulloh..."


Rissa membelalakan matanya, ia tak percaya saat ini Dion tengah mendekapnya.


"Mas, tolong lepaskan aku."


Rissa meronta, mencoba melepas pelukan suaminya.


Bukannya melepaskan, Dion malah semakin mengeratkan pelukkannya.


Rissa merasa dadanya sesak, ia juga meraba wajahnya yang seketika memanas.


"Ya ampun, kenapa aku ini." Rissa mengatur detak jantungnya.


Dion bergerak, ia membalikkan tubuhnya. Kini Rissa begitu terkejut, ketika tubuh Dion berada di atasnya.


"Astagfirulloh, Mas. Bangun..."


"Sebentar saja, aku ingin seperti ini."


Dion bergumam, matanya masih menutup.


Rissa terdiam, tangannya yang sedari tadi meronta kini tak bergerak sama sekali.


Dion perlahan membuka matanya, terselip senyum tipis di sudut bibirnya.


Dion menatap Rissa dalam, kini tak ada jarak di antara mereka berdua.


Rissa masih mengatur nafasnya, sungguh ia tak dapat menggerakkan tubuhnya sama sekali.


Perlahan Dion semakin mendekatkan wajahnya, sontak Rissa langsung menutup kedua matanya.


"Astagfirulloh, apa yang akan di lakukan Mas Dion?"


Malam itu untuk pertama kalinya, dan tanpa di rencanakan sebelumnya. Waktu seolah telah menyatukan mereka berdua, Dion dan Rissa melewatkan malam dingin itu bersama-sama.

__ADS_1


__ADS_2