Dua Cincin

Dua Cincin
Tanda-Tanda


__ADS_3

Dokter Radit kembali menemui Rissa dan Melati, ia ingin memastikan bahwa keadaan Rissa baik-baik saja.


"Mel, Rissa gimana?" Tanya Dokter Radit saat berpapasan dengan Melati.


"Rissa baik-baik saja, dia sedang istirahat sekarang." Melati menuturkan. Ia baru saja keluar dari kamar, setelah sebelumnya memberikan Rissa minuman hangat.


Dokter Radit merasa lega, ia juga merasa bersalah karena semua ini terjadi akibat ulahnya.


"Dok, sebenarnya apa sih yang bikin Rissa sampe pergi?"


Melati masih di buat penasaran dengan apa yang terjadi antara Dokter Radit dan Rissa.


Dokter Radit menghela nafasnya, "sebenarnya..."


"Kita pulang sekarang juga! Acara liburannya batal!" Seru Dion yang baru saja masuk ke villa. Tanpa meminta persetujuan Melati dan Dokter Radit, Dion melengos pergi menuju kamar yang di tempatinya.


Melati dengan terkejut, segera menyusul suaminya.


"Mas, kenapa kamu minta pulang sekarang?"


Dion tak menggubris, ia segera masuk ke kamar dan membereskan barang-barangnya.


Melati masih menunggu jawaban suaminya, namun Dion sama sekali tak menoleh ke arah Melati.


"Mas, jawab aku!" Paksa Melati sembari menghadapkan tubuh suaminya.


"Kenapa kamu diam saja?" Melati bertanya dengan nada kesal.


"Aku bilang kita pulang sekarang!" Sahut Dion dengan tegas.


Melati menghembuskan nafasnya dengan kasar, "iya kenapa? Kita baru beberapa jam sampai, kenapa harus pulang lagi?" Tuntut Melati.


"Mel, waktu untuk liburan sekarang tidak tepat. Kamu tidak lihat kondisi Rissa? Dan lagi kita tidak tahu apa yang terjadi antara Rissa dan Dokter Radit, apa bagus jika melanjutkan liburan dengan suasana seperti ini?" Jelas Dion.


Memang ada hal lain yang menyebabkan Dion membatalkan acara liburan mereka, terlebih ia sangat enggan jika Dokter Radit memiliki kesempatan lagi untuk mendekati istri keduanya.


"Keputusanku sudah bulat, Rissa tanggung jawab kita, sayang." Dion berusaha membujuk.


Melati tertegun, sikap Dion menurutnya terlalu berlebihan. Namun entah mengapa, ia tak kuasa untuk membantah perkataan suaminya kali ini.


Tanpa menyauti perkataan suaminya, Melati segera berlalu meninggalkan Dion.


Ia berjalan menuju kamarnya, dan hendak membereskan barang-barangnya.


"Mel, kenapa?"


Dokter Radit sempat bertanya pada Melati.


"Mas Dion minta acara liburannya di batalkan. Dan kita pulang sekarang juga," ucap Melati dengan kesal.


Dokter Radit tak berkutik, ia paham dengan maksud Dion. Ia juga kesal mendengar keputusan itu, tapi Dokter Radit tak dapat berbuat apapun.

__ADS_1


***


Di dalam kamar, Melati segera memberitahu Rissa bahwa saat itu juga mereka akan kembali pulang. Sontak hal itu membuat Rissa terkejut, terlebih ia juga merasa bahwa gagalnya liburan hari itu di sebabkan oleh dirinya.


"Mbak, maaf gara-gara aku liburannya batal." Rissa merasa bersalah.


Melati menghela nafasnya, ia berjalan mendekati Rissa dan duduk di sampingnya.


"Ini bukan salahmu. Sebenarnya aku penasaran, dengan apa yang terjadi sama kamu dan Dokter Radit. Tapi aku juga tidak bisa memaksa untuk kamu cerita semuanya, aku juga khawatir sama kondisi kamu, Sa. Lebih baik kita pulang, dan kamu bisa menenangkan diri di rumah." Melati mencoba untuk bijaksana, walau sebenarnya ia memang sangat ingin liburan.


Semua sudah berada di halaman villa, Dion juga sudah memasukkan barang-barang miliknya juga Melati. Saat Dokter Radit hendak menawari tumpangan pada Rissa, Dion segera menghalanginya.


"Rissa satu mobil dengan aku dan Melati," ucap Dion.


Semua terdiam, tak ada yang membantah. Dokter Radit kembali menutup pintu mobilnya, dan segera masuk mengeluarkan mobil dari halaman villa.


Tak lama Dion ikut menyusul pergi, mereka kini tengah di perjalanan menuju rumah.


Selama di perjalanan, Rissa hanya diam. Ia bahkan tak pernah menoleb ke arah depan, ia hanya memperhatikan setiap apa yang di laluinya di jalanan.


Melati pun sama, ia masih merasa kesal pada suaminya. Selama di perjalanan, suasana di dalam mobil begitu hening.


Dion yang sesekali melirik ke arah kedua istrinya, sedikit merasa canggung.


Di tengah perjalanan, Melati dan Dion di kagetkan dengan Rissa yang tiba-tiba mual.


Melati dengan sigap menanyakan keadaan Rissa, "Sa, kamu kenapa?" Tanyanya.


Dengan cepat Melati pindah tempat duduk, ia juga segera membantu Rissa melegakan rasa mualnya.


"Coba hirup ini,"


Melati memberikan sebotol minyak angin pada Rissa.


Rissa segera menurut, ia mengendus aroma yang di keluarkan dari minyak itu.


"Gimana, Sa? Sudah enakan?" Tanya Melati.


Rissa mengangguk lemah, ia merasa kepalanya seakan berputar-putar.


Dion yang sedari tadi memperhatikan Rissa melalui kaca spion, ia juga sempat merasa khawatir pada istrinya itu.


"Kamu kenapa?" Tanya Melati.


Rissa menghela nafasnya, "aku tidak apa-apa, Mbak. Mungkin hanya masuk angin," sahutnya dengan lemah.


Melati membantu Rissa untuk meredakan rasa mualnya, ia meminta Dion untuk mampir ke sebuah Cafe.


"Mas, belikan minuman hangat untuk Rissa."


Rissa segera menolak, ia tak ingin merepotkan madu juga suaminya.

__ADS_1


"Tidak usah, Mbak. Aku tidak apa-apa, kok."


Namun penolakan Rissa tak membuahkan hasil, Dion segera menepikan mobilnya saat melihat sebuah Cafe di sebrang jalan.


"Aku turun dulu," ucapnya pada Melati dan Rissa.


Dion segera menyebrang jalan, dan masuk ke dalam Cafe tersebut.


"Kepalaku pusing sekali, aku juga merasa mual."


Rissa bergumam dalam batinnya, ia merasakan badannya seakan lemah tak bertenaga.


Sekembalinya Dion dari Cafe, Melati segera menyuruh Rissa untuk meminum minuman hangat yang sudah di beli Dion.


Rissa mengambil gelas berisi minuman susu hangat, namun bukan melegakan rasa mual Rissa, tetapi malah membuat rasa mual itu semakin menjadi.


Rissa seketika keluar dari mobil, dan berjongkok ke arah selokan yang ada di pinggiran jalan.


Rissa mengeluarkan seluruh isi dalam perutnya, ia benar-benar tak kuat menahan rasa mualnya.


Dion dan Melati lekas mendekati Rissa, Melati juga refleks memijik tengkuk Rissa.


"Kamu kenapa?" Tanya Dion, ia mulai panik melihat kondisi istri keduanya itu.


"Sudah tahu dia muntah, masih saja nanya. Kamu ini gimana sih, Mas!" Seru Melati.


Dion menggaruk kepalanya, ia bingung harus berbuat apa.


Tampak mobil yang berhenti tepat di belakang mobil Dion, itu adalah mobil milik Dokter Radit.


Ia ikut turun, ketika melihat Rissa yang tengah muntah-muntah.


"Sa, kamu kenapa?" Tanya Dokter Radit.


"Kamu tidak lihat dia sedang muntah?" Dion dengan kesalnya menimpali pertanyaan Dokter Radit.


"Ya aku tahu dia muntah, tapi kenapa?" Tanya Dokter Radit.


"Bisa tidak kalian diam!" Bentak Melati, ia tengah fokus membantu Rissa.


Setelah Rissa merasa lega, ia segera bangkit dengan bantuan Melati.


"Maaf aku merepotkan," ucapnya.


"Sa, biar aku periksa." Dokter Radit menawarkan.


Rissa menggeleng, "tidak usah, aku hanya butuh istirahat."


Melati kembali membantu Rissa untuk masuk ke dalam mobil, dan menyandarkan tubuh Rissa pada punggung kursi.


"Wajah Rissa pucat sekali, dia juga mual dan muntah. Apa dia..."

__ADS_1


Dokter Radit dengan teliti menyelidik wajah Rissa, sedikitnya ia paham dengan kondisi Rissa saat ini. Namun Dokter Radit tak mau gegabah, ia tak ingin menarik kesimpulan tanpa pemeriksaan lebih lanjut.


__ADS_2