Dua Cincin

Dua Cincin
Rasa cemburu


__ADS_3

Di dalam kamar, Dion tengah dibuat kesal karena kedekatan Rissa dengan Dokter Radit.


Beberapa kali ia juga mondar mandir tidak jelas, Dion seperti tengah memikirkan sesuatu.


"Dokter Radit bilang dia akan datang kerumah, tetapi aku juga harus pergi ke cafe. Bagaimana ini?" Dion tengah mencari cara agar Dokter Radit tak leluasa mendekati istri keduanya itu.


"Ah, aku tahu..."


Dion mengambil ponselnya, dan berniat untuk menghubungi seseorang.


"Halo, Ra..."


Dion ternyata menghubungi Ara, karyawan kepercayaannya.


"Halo, Pak Bos. Kenapa?" Tanya Ara dibalik ponsel.


"Ra, aku minta tolong kamu urus cafe hari ini dengan baik. Aku tidak bisa datang ke cafe, ada urusan. Kamu bisa, kan?" Tanya Dion.


"Oh, bisa, Pak Bos. Saya jamin cafe aman," sahut Ara.


Dion merasa lega, Ara memang karyawan yang dapat diandalkan dalam setiap kondisi.


"Ya sudah kalau begitu, makasih, Ra."


Dion menutup teleponnya, kali ini ia harus memikirkan alasan untuk diberikan pada Melati. Ia harus memberi alasan mengapa tidak pergi ke cafe, tentunya alasan itu harus dipercayai dengan mudah oleh kedua istrinya.


"Apa ya alasanku tidak ke cafe?"


Dion tengah memikirkan sesuatu.


Saat Dion tengah mencari alasan, tiba-tiba Melati masuk kedalam kamar, membuat Dion terkejut seketika.


"Mas, sedang apa kamu?" Tanya Melati.


Dion menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, "emm tidak, ini aku sedikit tidak enak badan." Dion berdalih.


Melati mengerutkan keningnya, dna berjalan mendekati suaminya.


"Kamu sakit, Mas?" Tanya Melati sembari meraba kening suaminya.


"Tapi kamu tidak demam, Mas."


Dion kembali beralasan, kali ini ia harus terlihat seperti orang sakit.


"Tapi badanku terasa lemas, sayang. Tenggorokanku serasa sakit," rengek Dion.


Melati terdiam, ia mulai merasa khawatir pada suaminya.


"Ya sudah kamu istirahat, biar aku carikan obat, yah." Melati membantu suaminya untuk beristirahat.


Dion dengan gestur layaknya orang sakit, menurut ketika istrinya membantunya untuk tidur.


"Sepertinya aku tidak pergi ke cafe hari ini, tidak apa-apa kan sayang?" Tanya Dion.


Melati mengangguk, "tidak apa-apa, Mas. Kamu istirahat dulu, biar aku kedepur cari obat.


Dion mengangguk, dan kini ia melihat Melati berlalu keluar dari kamar.


"Hah, berhasil. Akhirnya Melati percaya," ucap Dion dengan lega.

__ADS_1


Memang rasa cemburu itu kadang bisa membuat orang kelimpungan, bahkan ia juga bisa melakukan hal konyol akibat rasa cemburunya itu.


***


Melati berjalan menuju dapur, ia hendak mencari obat untuk suaminya.


"Sa, Mas Dion sakit. Aku harus beri obat apa, yah?" Tanya Melati. Ia tampak kebingungan.


Rissa tampak terkejut, seketika ia juga merasa khawatir pada suaminya.


"Loh, bukannya tadi tidak apa-apa, Mbak? Mas Dion sakit apa katanya?" Tanya Rissa.


"Aku juga tidak tahu. Katanya dia tidak enak badan," tutur Melati.


Rissa terdiam, ia juga tidak tahu harus memberikan obat apa pada suaminya.


"Kalau dibuatkan susu jahe bagaimana, Mbak?" Tanya Rissa.


Melati berpikir, ia setuju dengan saran dari Rissa.


"Boleh deh, Sa. Mudah-mudahan itu bisa membantu," ujar Melati.


Rissa mengangguk, ia segera membuatkan minuman hangat itu untuk suaminya.


Rasanya ia ingin sekali langsung merawat suaminya, namun apa daya, ia tak mungkin melakukannya.


"Ini, Mbak." Rissa baru saja selesai membuat minuman dan langsung memberikannya pada Melati.


"Makasih, Sa. Aku berikan dulu ke Mas Dion, yah."


Melati berlalu, ia kembali menemui suaminya dengan membawa sebuah minuman yang telah dibuatkan oleh Rissa.


***


"Dokter Radit," ucap Rissa ketika melihat Dokter Radit yang sudah berdiri didepan pintu.


"Hai, Sa. Melati ada, kan?" Tanya Dokter Radit.


"Oh, ada, Dok. Silahkan masuk," ajak Rissa mempersilahkan Dokter Radit masuk ke dalam rumah.


Rissa membawa Dokter Radit menuju ruang tamu, ia juga meminta Dokter Radit menunggu.


"Dok, aku panggilkan Mbak Melati dulu."


Dokter Radit menganggukkan kepalanya, ia menyimpan buah tangan yang dibawanya diatas meja.


Rissa berjalan menuju kamar, ia hendak memberitahu kedatangan Dokter Radit pada Dion juga Melati.


Rissa mengetuk pintu kamar Melati, "Mbak, maaf menganggu. Dibawah ada Dokter Radit." Rissa memberitahukan.


Dion seketika bangkit dari tempatnya, Melati yang tengah berada disampingnya sontak melirik kearah suaminya.


"Tunggu sebentar, Sa." Melati menjawab.


Dion dan Melati segera keluar dari kamar, menyusul Rissa yang lebih dulu turun kebawah.


"Dokter Radit," sapa Melati.


"Mel, apa kabar?" Tanya Dokter Radit sembari menyalami Melati.

__ADS_1


"Aku sudah lebih baik," jawab Melati.


Dion berdehem, ia merasa tak terlalu dianggap disana.


Dokter Radit dan Melati menoleh, dan dengan cepat Dokter Radit mengerti dengan sikap Dion.


"Halo, Yon. Apa kabar?" Tanya Dokter Radit.


Dion mengulum senyum tipis, "aku baik. Kau sendiri bagaimana?" Tanya Dion. Sebenarnya ia tidak terlalu menyambut kedatangan Dokter Radit.


"Aku sangat baik," jawab Dokter Radit dengan ramah.


Melati, Dion, beserta Dokter Radit tengah duduk diruang tamu, mereka juga saling bertukar cerita.


Rissa baru saja keluar dari dapur, ia membawa beberapa minuman untuk ketiganya.


Rissa berlutut, ia menaruh minuman di atas meja makan.


"Silahkan diminum," ucap Rissa.


Ia lalu berdiri, hendak kembali ke dapur.


Namun langkahnya terhenti, ketika Melati memintanya untuk ikut bergabung bersama mereka.


"Aku ke dapur saja, Mbak." Rissa menolak dengan sopan.


Namun Melati tetap memaksa, dan meminta Rissa untuk duduk disebelahnya.


Dengan terpaksa menurut, dan duduk sesuai permintaan Melati.


Dion merasa sangat tidak nyaman, ketika melihat Dokter Radit yang terus menatap Rissa.


"Dok, kau tidak ada praktek di rumah sakit?" Tanya Dion. Ia berusaha mengalihkan pandangan Dokter Radit dari istri keduanya.


"Aku sedang libur, Yon. Dan kebetulan aku juga ingin melihat kondisi Melati," jawab Dokter Radit.


Melati memperhatikan sikap Dokter Radit terhadap Rissa, ia berniat untuk mendekatkan keduanya.


"Dok, sudah lama kita tidak jalan bersama. Bagaimana kalau kita pergi liburan, sekalian aku juga ingin liburan." Melati merengek sembari menatap suaminya.


Dokter Radit setuju, ia juga memilik waktu luang akhir pekan ini.


"Mas, mau kan?" Tanya Melati pada Dion.


Dion mengangguk pasrah, ia tak mungkin menolak permintaan istrinya.


"Baiklah. Kalau begitu, kamu juga ikut, Sa." Melati menoleh ka arah Rissa.


Rissa dan Dion saling bertukar pandang, Rissa hendak meminta persetujuan suaminya dengan tatapan mata.


"Sa, kamu mau kan ikut?" Tanya Dokter Radit.


Rissa tampak kebingungan, ia tengah menunggu persetujuan suaminya. Ia tak mungkin menerima ajakan Melati tanpa persetujuan suaminya.


"Kalau Rissa ikut, siapa yang membantu Bi Ai beres-beres rumah. Dia kan memiliki tanggung jawab sama dengan Bi Ai," Dion menjawab dengan ketus.


Melati tampak kecewa, begitupun Rissa.


"Iya, Mbak, Dok. Aku dirumah saja, kasihan Bi Ai sendirian. Lagipula tidak pantas juga pembantu ikut liburan bersama majikan," Rissa menjawab dengan gemetar.

__ADS_1


Hatinya begitu sakit mendengar ucapan Dion, namun itulah kenyataan yang didapatnya.


__ADS_2