Dua Cincin

Dua Cincin
Antara Bahagia Dan Sedih


__ADS_3

Mobil Dion baru saja sampai di halaman rumahnya, ia segera turun dan mengeluarkan barang-barang yang di simpan di bagasi mobil.


Rissa yang di bantu Melati lebih dulu masuk ke dalam rumah, sedangkan Dion ia masih membereskan barang-barang milik mereka bertiga.


Saat ingin menutup bagasi mobil dan membawa barang masuk ke dalam rumah, Dion di hentikan dengan panggilan Dokter Radit.


Dion menoleh, ia menurunkan barang yang tengah di pegangnya.


"Ada apa lagi?" Tanya Dion.


"Aku ingin melihat kondisi Rissa," sahut Dokter Radit. Ia hendak melangkah masuk ke dalam rumah, namun rentangan tangan Dion menghalangi langkah Dokter Radit.


"Tidak perlu, dia baik-baik saja. Kau bisa pergi dari rumahku!" Pinta Dion.


Dokter Radit tak menjawab, ia menatap Dion dengan rasa tidak suka.


"Biarkan aku masuk sebentar, ada yang ingin aku berikan pada Rissa."


Dion memalingkan wajahnya, tanpa dapat ia tahan, Dokter Radit menerobos masuk ke dalam rumah untuk menemui Rissa.


"Sa," panggil Dokter Radit.


Melati keluar dari kamar Rissa, dan berjalan mendekati Dokter Radit.


"Ada apa, Dok?" Tanya Melati.


"Mel, aku mau ketemu Rissa. Sebentar saja," Dokter Radit memohon pada Melati, ia ingin memberikan sesuatu pada Rissa.


Melati mengangguk, dan mengantar Dokter Radit hingga ambang pintu kamar Rissa.


"Aku tunggu di ruang tamu," ucap Melati.


Dokter Radit mengangguk, ia segera mendekati Rissa yang tengah terbaring di tempat tidur.


Rissa mendengar langkah kaki yang mendekatinya, setelah menoleh ia merasa kaget karena Dokter Radit masuk ke kamarnya.


"Dok, kenapa kamu masuk ke kamarku?" Tanya Rissa, ia segera bangkit dari tidurnya.


Dokter Radit menjaga jarak dengan Rissa, ia lalu menaruh sebuah benda di nakas tepat di samping tempat tidur Rissa.


"Aku hanya ingin memberikan ini," ucap Dokter Radit.


"Maaf kalau aku lancang, aku hanya ingin memastikan kondisimu. Mudah-mudahan perkiraanku salah," ujar Dokter Radit.

__ADS_1


"Aku pamit. Cepat sembuh," ucap Dokter Radit, lalu ia segera keluar dari kamar Rissa.


Rissa menatap punggung Dokter Radit, sekilas ia juga melirik benda yang di berikan oleh dokter muda itu.


"Apa aku harus mencobanya?" Tanya Rissa dalam hatinya.


***


Di ambang pintu, Dion berpapasan dengan Dokter Radit. Tanpa sepatah katapun, Dokter Radit berlalu melewati Dion begitu saja.


Rasa penasaran Dion kembali mencuat, ia ingin tahu apa yang di lakukan Dokter Radit ketika menemui istri keduanya.


Dion mencari Melati lebih dulu, hanya pada istri pertamanyalah ia dapat mencari tahu kondisi Rissa.


"Mel," panggil Dion.


Tanpa sengaja, Dion melihat Bi Ai yang tengah membuatkan makan malam untuk Dion dan yang lainnya.


"Bi," Dion berjalan mendekati Bi Ai.


"Lihat Melati?" Tanya Dion.


"Tadi kayaknya Non Melati ke kamar, Den." Bi Ai menjawab.


Sebenarnya ia ingin menemui Rissa, namun hal itu terlalu riskan jika di lakukan ketika ada Melati di rumah.


"Mel," panggil Dion, ketika ia berada di ambang pintu.


Merasa tak mendapat jawaban, Dion segera masuk dan mencari istrinya.


"Mel," Dion kembali menyapa istrinya. Ternyata Melati memang segaja tak ingin menjawab panggilan suaminya, ia masih merasa kesal karena suaminya membatalkan acara liburannya.


"Hey, Mas panggil dari tadi. Kenapa kamu tidak jawab?" Tanya Dion dengan lembut pada istrinya.


Melati masih tak bergeming, rasanya ia masih terlalu kesal pada suaminya itu.


Dion paham sikap diam istrinya itu, ia bermaksud untuk membujuk Melati.


"Sayang, kamu masih marah? Mas minta maaf, Mas tidak bermaksud untuk mengacaukan acara liburan kamu. Tapi kita juga harus memikirkan Rissa, kita tidak tahu apa yang dia rasakan sekarang. Masa iya kita bersenang-senang liburan, tetapi Rissa tidak merasakan kesenangan seperti kita." Dion menjelaskan dengan hati-hati.


Melati sedikit terenyuh, ia juga kembali mengingat apa yang terjadi antara Dokter Radit dan Rissa. Nyatanya, Melatilah yang sedari awal berniat untuk mendekatkan Dokter Radit dengan Rissa.


Akhirnya Melati sedikit menurunkan egonya, perlahan rasa kesalnya pada Dion menghilang.

__ADS_1


"Aku penasaran, apa yang sebenarnya terjadi pada Rissa dan Dokter Radit. Apa mereka bertengkar hebat? Tapi apa yang membuat mereka bertengkar yah, Mas?" Melati bertanya-tanya, ia benar-benar penasaran dengan apa yang terjadi.


Dion terdiam, ia mungkin tahu apa yang terjadi antara Dokter Radit dan Rissa. Namun, tidak mungkin untuk Dion mengatakannya pada Melati.


"Mas juga tidak tahu, tapi tidak usah terlalu di pikirkan. Yang penting Rissa baik-baik saja, dan Mas minta sama kamu untuk tidak terlalu antusias mendekatkan Dokter Radit dengan Rissa." Dion mencoba untuk mempengaruhi Melati, ia berusaha agar istri keduanya itu tidak di dekati oleh pria lain.


"Ya sudah, jangan marah lagi. Lebih baik kamu ke dapur, bantu Bi Ai sesekali. Rissa kan sedang tidak sehat," pinta Dion.


Tanpa penolakan, Melati pun menuruti permintaan suaminya. Ia segera beranjak ari tempatnya, dan berniat untuk membantu Bi Ai menyiapkan makan malam.


***


Di dalam kamar mandi, beberapa kali Rissa tampak mondar mandir. Ia telah mencoba benda yang di berikan oleh Dokter Radit padanya, Rissa ingin menghilangkan rasa penasarannya.


Ya, Dokter Radit memberikan alat tes kehamilan pada Rissa. Ia merasa Rissa memiliki ciri-ciri seperti orang hamil, maka dari itu Dokter Radit meminta Rissa untuk mengeceknya.


Dengan perasaan gugup, Rissa pun mulai menggunakan benda pipih itu.


Ia mendiamkan benda itu di dalam larutan urine selama beberapa detik, sambil menunggu hasil, Rissa tak henti-hentinya mengatur nafas.


Perlahan Rissa mengangkat benda itu, ia mempersiapkan diri sebelum melihat hasil yang di dapatkan.


Rissa mengangkat benda kecil itu, dan mulai memberanikan diri untuk melihatnya.


Ada perasaan yang tak dapat ia jelaskan, ketika melihat dua buah garis merah pada benda tersebut.


"Aku hamil..."


Rissa meneteskan air matanya, ada perasaan bahagia juga sedih yang menyatu secara bersamaan.


"Alhamdulillah, terima kasih ya Allah. Engkau telah memberi amanah kepadaku, tapi kenapa aku malah merasa khawatir." Rissa benar-benar tidak tahu harus menyikapi keadaannya seperti apa saat ini, ia menangis sendirian dan merasakan bahagia sendiri juga.


***


**Assalamu'allaikum temen-temen semua, apa kabar? Masih setia sama karya-karyaku? Aku ngucapin terima kasih buat kalian yang masih setia baca novelku.


Oh iya yang minta aku buat up tiap hari, maaf banget untuk saat ini aku belum bisa up tiap hari lagi. Ada satu dua hal yang menjadi kendala, salah satunya tentang riset novel ini.


Sekedar info, novel Dua Cincin ini di angkat dari kisah nyata. Tapi memang ada beberapa bagian yang aku tambahin, dan ada beberapa juga yang tidak bisa di masukkan ke dalam cerita. Tentunya hal itu menjadi pertimbangan sebelum aku lanjut nulis, jadi kalau sebelumnya aku up tiap hari, itu karena memang sudah di riset dari jauh-jauh hari. Dan ternyata, sekarang ini aku harus cari tahu dulu kisahnya. Maka dari itu, untuk yang selalu minta up tiap hari mohon untuk memaklumi yaa...


Tapi aku akan berusaha untuk bisa up tiap hari lagi, mohon dukungan kalian juga ya buat novel ini. Kalau berkenan, mohon di bantu untuk like, komen, juga votenya.


Terima kasih, sehat selalu untuk kalian semua.

__ADS_1


Wassalam**.


__ADS_2