
Dokter Radit menatap dalam Rissa, bahkan ia tak melepaskan pandangannya sedikitpun dari Rissa.
"Kenapa kau mau melakukan ini, Sa?" Tanya Dokter Radit.
Rissa terdiam, dadanya bergemuruh. Ia tak dapat berucap sama sekali.
"Apa alasan kuat kau mau menjadi simpanan Dion?"
Rissa mengangkat wajahnya, matanya bergenang air mata.
"Aku bukan simpanan! Aku juga istri sah nya!" Seru Rissa dengan miris.
"Selama Melati tidak mengetahui statusmu, selama itu pula tak ada yang akan menganggapmu sebagai istri sah!" Tukas Dokter Radit.
"Bukankah kau sendiri yang bilang, jika ada seorang lelaki yang mendekatimu, maka kau tidak akan menolaknya. Aku berdiri disini, sebagai salah satu laki-laki itu," ujar Dokter Radit.
Rissa menelan salivanya, ia tak dapat berpikir jernih saat ini.
"Aku tidak suka ini. Aku harus kembali," ucap Rissa sembari membalikkan tubuhnya hendak meninggalkan Dokter Radit.
Dokter Radit tak tinggal diam, ia kembali menghadang langkah Rissa.
"Aku akan menunggumu! Pikirkan baik-baik, Sa. Pikirkan Melati! Apa yang akan terjadi jika Melati tahu semuanya? Tidakkah kamu mengingat semua kebaikan Melati padamu? Jangan egois, Sa!" Seru Dokter Radit.
"Cukup! Iya, aku memang egois! Disini aku yang memikirkan perasaanku sendiri! Kamu tidak tahu apa-apa, Dok. Jadi aku mohon, cukup!" Pekik Rissa. Ia berjalan cepat meninggalkan Dokter Radit, tangannya tampak mengusap air matanya yang berderai. Rissa semakin mempercepat langkahnya, bahkan ia berlari ketika Dokter Radit hendak mengejarnya.
"Sa," panggil Dokter Radit sembari terus mencoba untuk menyusul Rissa.
Entah apa yang merasuki Rissa, langkahnya tak terkejar oleh Dokter Radit. Bahkan kini, Dokter Radit kehilangan jejak Rissa.
"Astaga, kemana dia lari?" Tanya Dokter Radit, sembari mengedarkam pandangannya mencari sosok Rissa.
***
Dion baru saja keluar dari supermarket bersama Melati, ia menemani istrinya untuk berburu cemilan. Dalam hati Dion terus mempertanyakan kemana istri keduanya pergi, ia tak dapat tenang sebelum mengetahui kabar dari Rissa.
Dion bahkan tidak dapat menghubungi Rissa, ia takut jika Melati memeriksa ponselnya.
"Sayang, habis ini kita kemana?" Tanya Dion.
Melati tampak berpikir sejenak, sebenarnya ia ingin sekali menyusul Rissa dan Dokter Radit. Ia ingin melihat bagaimana Dokter Radit melancarkan acara kencannya.
"Aku mau ke pantai, Mas. Boleh?" Tanya Melati.
Dion terdiam, mengingat Rissa yang menyukai pantai, ia berharap dapat menemukan istrinya disana.
"Boleh, dong." Dion menjawab dengan semangatnya.
"Ya sudah, ayo." Melati menggandeng suaminya untuk masuk ke mobil, dan segera berangkat ke pantai.
Tak butuh lama, Dion dan Melati telah tiba di pantai. Mata Dion langsung beredar mencari keberadaan istrinya, sama halnya dengan Melati yang mencari keberadaan Rissa juga Dokter Radit.
"Mas, kita kesana." Melati mengajak Dion untuk menyusuri bibir pantai.
"Sayang, kamu seperti sedang mencari sesuatu." Dion pura-pura bertanya, barangkali Melati juga tengah mencari Rissa.
"Iya, Mas. Tadinya aku ingin menyusul Rissa dan Dokter Radit, tapi mereka dimana, yah?" Tanya Melati.
Dion menganggukkan kepalanya, setidaknya tujuannya dengan Melati ke pantai itu sama.
__ADS_1
"Emm memangnya Rissa atau Dokter Radit tidak bilang mereka mau kemana?" Tanya Dion.
Melati menggeleng, "tidak. Tapi aku pikit Dokter Radit akan membawa Rissa kesini, Rissa kan suka pantai." Melati menuturkan.
Dion mempertajam penglihatannya, ia terus mencari istri keduanya.
"Mas, itu bukannya mobil Dokter Radit?" Melati menujuk ke arah mobil berwarna hitam yang terparkir tak jauh dari tempat Melati dan Dion berdiri.
Dion menelisik, "benar, sayang. Kita kesana," ajak Dion.
Melati dan Dion pun berjalan menghampiri Dokter Radit, dan langsung menanyakan keberadaan Rissa.
"Dokter Radit," teriak Melati.
Dokter Radit yang sedari tado tengah menyandarkan punggungnya pada pintu Mobil, segera beranjak dan menghampiri Melati.
"Mel. Kamu kesini juga?" Tanya Dokter Radit.
Melati mengangguk, "iya. Rissa mana?" Tanya Melati.
Dokter Radit menghela nafasnya, ia juga sekilas melirik ke arah Dion dengan tatapan tajam.
"Rissa..."
Melati diam, begitu juga Dion.
"Kemana Rissa?" Dion mengulangi pertanyaan istrinya.
"Rissa tadi pergi, dan aku tidak tahu dia kemana. Aku sudah coba telepon, tapi tidak di angkat. Malah sekarang, nomornya tidak aktif." Dion menuturkan.
Dion dan Melati terkejut, mereka mempertanyakan apa yang sebenarnya terjadi.
"Mungkin ini memang salahku, aku terlalu mendadak berbicara dengannya." Dokter Radit menundukkan wajahnya.
"Jadi Dokter Radit sudah mengatakannya pada Rissa?" Tanya Melati.
Dokter Radit mengangguk, "tapi bukan hal itu yang membuat Rissa terkejut. Ada hal lain," tutur Dokter Radit.
"Lalu apa?" Tanya Melati, ia begitu penasaran.
Dokter Radit terdiam, ia kembali melirik ke arah Dion. Sungguh, banyak hal yang ingin Dokter Radit bicarakan pada Dion.
"Sudahlah, sekarang aku hanya ingin mencari Rissa. Kamu mau ikut, Mel?" Tanya Dokter Radit pada Melati.
Melati mengangguk cepat, ia benar-benar khawatir pada Rissa. Pasalnya mereka khawatir terjadi apa-apa pada Rissa.
"Mas, kamu ikut cari Rissa, kan?" Tanya Melati.
Dion mengangguk, "kita cari terpisah. Kamu mau sama Mas, atau sama Dokter Radit?" Tanyanya.
"Aku sama Dokter Radit saja. Bolehkan?" Tanya Melati.
Dion sebenarnya berharap kalau Melati memang ikut bersama Dokter Radit, ia akan lebih leluasa untuk mencari istri keduanya itu.
"Ya sudah, kita cari sekarang."
Mereka bertiga pun berpisah, mencari Rissa ke setiap penjuru pantai.
***
__ADS_1
Rissa tengah menyusuri jalanan, entah kemana kakinya akan melangkah.
Perasaannya kini campur aduk, ia merasa tak memiliki muka untuk bertemu lagi dengan Dokter Radit.
Dokter Radit tak menyalahkan statusnya sebagai istri simpanan, namun ia merasa malu ketika Dokter Radit mengingatkannya tentang perasaan Melati.
"Aku benar-benar tidak berperasaan! Aku jelas-jelas telah merebut kebahagiaan Mbak Melati," gumam Rissa dengan lirih.
Rissa merasa bahwa ia adalah wanita yang jahat, wanita yang telah merebut suami orang.
Ungkapan Dokter Radit juga membuatnya terkejut, ia bingung harus menyikapinya seperti apa.
"Ya Allah, aku harus apa?"
Pikiran Rissa buntu.
Tiba-tiba saja, hujan turun dengan derasnya di waktu siang itu. Cuaca yang tadinya terik, dengan cepat berubah haluan menjadi gelap.
Rintikan air hujan pun tak dapat di hindari oleh Rissa, seketika tubuhnya basah kuyup.
Rissa merasakan terpaan air hujan di sekujur tubuhnya, hawa dingin menusuk ke dalam tulang-tulangnya.
Di bawah air hujan, Rissa menangis sejadi-jadinya.
Ia menyukai waktu dimana ia menangis dalam hujan, setidaknya tak ada satu orangpun yang akan melihatnya.
Tubuh Rissa terjatuh, namun ia dibuat terkejut ketika seseorang kembali memeluknya dari belakang.
"Sa, kamu kenapa hujan-hujanan?" Tanya Dion yang tanpa sengaja menemukan Rissa lebih dulu daripada Dokter Radit dan Melati.
Rissa menoleh, ia dengan cepat mendorong suaminya.
"Kenapa Mas ada disini?" Tanya Rissa dengan nada yang sedikit tinggi.
"Kamu tiba-tiba pergi, semua orang mencarimu! Kenapa kamu pergi?" Tanya Dion.
"Kenapa memangnya? Apa peduli, Mas? Bukankah aku sama sekali tidak artinya dimatamu?" Rissa meluapkan segala emosinya.
Dion tertegun, ia segera memangku istrinya dan membawanya untuk masuk kedalam mobil.
Rissa meronta, ia memukuli Dion dan meminta untuk di turunkan.
"Mas kamu apa-apaan? Turunkan aku!" Seru Rissa.
Dion tak menggubris, ia terus membawa istrinya dan memasukkannya ke dalam mobil. Dion segera ikut menyusul masuk, dan menutup pintu mobilnya.
"Kalau kamu sakit bagaimana?" Bentak Dion.
Kini mereka tengah duduk di kursi belakang, tubuh mereka sama basahnya.
Dion menatap tajam istrinya itu, Rissa yang tengah emosi juga tak kalah tajam menatap suaminya.
"Aku..."
Kalimat Rissa terhenti, ketika Dion dengan cepat mengecup kasar bibir Rissa.
Rissa meronta, namum tangan tegap Dion lebih kuat dari rontaannya.
Seketika suasana berubah hening, hanya gemuruh air hujan yang menimpa atas mobil milik Dion.
__ADS_1