Dua Cincin

Dua Cincin
Keputusan Besar


__ADS_3

Dokter Radit berusaha membantu Dion untuk bangkit, kali ini kedua pria itu sama-sama menurunkan ego masing-masing.


"Yon, bangun. Kau harus kuat! Jangan membuat Rissa semakin lemah," saran Dokter Radit.


"Sekarang, kau harus memikirkan bagaimana cara untuk menyampaikan hal ini sama Rissa. Jangan berbuat hal yang sama pada Rissa, seperti apa yang kau lakukan pada Melati!" Pinta Dokter Radit.


Sejujurnya, Dokter Radit di buat penasaran dengan kedatangan Dion dan Rissa. Terlebih Melati pun ikut serta, dalam benaknya, Dokter Radit bertanya-tanya tentang status Rissa.


"Ada apa, yah? Apa Melati sudah tahu tentang Rissa dan Dion?"


Dokter Radit hanya bisa menahan rasa penasarannya.


Ia kini menemani Dion untuk memberitahu kondisi Rissa, ia hanya ingin memikirkan tentang keadaan Rissa saat ini.


Dion berjalan dengan tertatih, perlahan Dion mulai berbicara pada Rissa.


"Mas, ada apa?" Tanya Rissa, ia memperhatikan raut wajah suaminya yang tampak lesu.


Dion terdiam, ia seakan tak sanggup untuk memberitahu kebenaran ini pada Rissa.


"Mas, jawab! Ada apa?" Rissa memaksa, pandangannya kini beralih pada Dokter Radit.


"Dokter, apa yang terjadi? Kandunganku baik-baik saja, kan?" Tanya Rissa.


Dokter Radit ikut terdiam, ia tak berhak untuk mengatakan segalanya pada Rissa.


Rissa merasa kesal, ia benar-benar di buat khawatir oleh dua pria yang kini hanya mematung di hadapannya.


"Tolong jawab aku!" Bentak Rissa, ia mulai terisak.


"Sa, anak kita..."


Tenggorokan Dion seakan tak sanggup untuk bersuara, ia tak sanggup kehilangan anak untuk kedua kalinya.


"Anak kita kenapa? Kenapa Mas," tanya Rissa dengan paksa.


"Sa, maaf... Janin yang kamu kandung, tidak dapat di selamatkan." Dokter Radit akhirnya membantu Dion menjelaskan semuanya.


Rissa terkejut, matanya membulat.


"Tidak! Tidak mungkin, Dok." Rissa menolak untuk menerima kenyataan.


Rissa meraba perutnya, tangisnya pecah. Ia tak percaya dengan kenyataan yang di dapatkan, ia tak ingin hal buruk menimpa janinnya.


"Mas, ini bohong, kan? Anakku baik-baik saja kan, Mas?" Rissa mencari kebenaran pada suaminya.


Dion hanya bisa tertunduk, ia tak dapat menahan air matanya.


"Sa, kamu harus segera mendapat tindakan. Kamu harus segera melakukam kuret," tutur Dokter Radit.


Rissa menangis histeris, ia berteriak sekuat mungkin.


"Ya Allah, kenapa ini terjadi padaku? Kenapa Kau ambil calon anakku..."


Doktee Radit ikut tersayat, ia tak tega melihat keadaan Rissa saat ini.


***


Di luar ruangan, semua orang terkejut mendengar teriakam histeris Rissa. Mereka berharap Dokter Radit keluar, dan memberitahu aoa yang sebenarnya terjadi.


Dokter Radit keluar, dan menemui keluarga Dion.


"Dok, apa yang terjadi sama Rissa? Apa dia baik-baik saja?" Tanya Ibu Anna.

__ADS_1


Dokter Radit menatap satu persatu orang-orang di depannya, "Rissa keguguran," tutur Dokter Radit.


Semua terkejut, bahkan Ibu Anna menerobos masuk ke dalam ruangan untuk memastikan kondisi sang menantu.


"Yon, gimana Rissa?" Tanya Ibu Anna sembari menuntut penjelasan pada sang anak.


Dion tertunduk, ia tak bisa menyembunyikan kesedihannya.


Ibu Anna menatap Rissa, beliau segera berhambur memeluk menantunya itu.


"Bu, anakku..."


Rissa meraung, ia masih tak percaya jika dirinya harus kehilangan calon buah hatinya.


Ibu Anna terus memeluk erat menantunya, beliau merasakan hal yang sama dengan Rissa.


"Sabar, Sa..."


Melati dan Ayahnya menyusul masuk, sekadar untuk melihat keadaan Rissa.


Dion dan Ibu Anna melirik ke arah Melati, tanpa berbicara apapun Dion tak menggubris keberadaan Melati juga mertuanya.


"Puas kamu, Sa? Sekarang kamu sudah membalaskan dendammu pada Rissa. Ini kan yang kamu mau," ucap Ibu Anna.


Melati mengerutkan keningnya, "sebentar, apa sekarang Ibu menyalahkan aku? Ibu menyalahkan aku sebagai penyebab Rissa keguguran?" Tanya Melati.


"Tapi kenapa kamu harus berprilaku brutal? Kenapa kamu mencelakakan Rissa?" Ibu Anna masih tersulut amarah.


Melati tertawa sinis, "hebat kalian. Kalian menyalahkanku, lalu siapa yang harus aku salahkan? Siapa yang harus bertanggung jawab atas apa yang aku alami? Siapa yang harus aku salahkan saat aku harus kehilangan anak beserta rahimku? Siapa?" Bentak Melati.


Dokter Radit yang di bantu Ayah Melati mencoba untuk menenangkan juga menengahi, mereka tak ingin ada pertengkaran di saat kondisi Rissa yang seperti ini.


"Kenapa kalian diam? Jawab! Satu hal lagi yang tidak boleh kalian lupakan. Jika saat ini kalian merasa tengah tersakiti, mungkin itu adalah balasan dari Tuhan atas apa yang kalian perbuat." Melati menambahkan.


"Rissa, aku turut bersimpati padamu. Tapi harus kau tahu, apa yang kau alami ini tak sebanding dengan apa yang aku rasakan."


"Dan untukmu, Mas. Terima kasih atas semua yang telah kamu perbuat, terima kasih. Akan aku pastikan, aku akan mengurus perceraian kita secepatnya!" Seru Melati.


Dion terkejut, ia tak percaya Melati akan melayangkan surat cerai padanya.


"Tidak, aku tidak ingin bercerai denganmu, Mel. Aku tidak mau!" Tolak Dion mentah-mentah.


Melati menghela nafasnya, "lalu apa yang kamu mau? Kamu mau hidup damai dengan kedua istri?" Tanya Melati.


Dion terdiam, ia tak bisa menjawab pertanyaan dari istri pertamanya itu.


"Kenapa diam? Kalau memang begitu, kamu serakah! Kalaupun ada pilihan antara aku dan Rissa, aku akan lebih memilih untuk pergi darimu. Karena apa? Karena sesuatu yang telah kau rusak, tidak akan pernah sama sekalipun semua di mulai dari awal lagi." Melati menekankan kalimatnya. Ia lalu melengos pergi meninggalkan ruangan, di susul oleh Ayah Melati yang juga harus memperbaiki hubungannya dengan sang anak.


***


Terima kasih 'tuk luka yang kau beri


Ku tak percaya kau t'lah begini


Dulu kau menjadi malaikat di hati


Sampai hati kau telah begini


Berkali-kali kau katakan sendiri


Kini ku t'lah benci, cintaku t'lah pergi


Pergi saja kau pergi, tak usah kembali

__ADS_1


Percuma saja kini hanya mengundang perih


Cukup tau ku dirimu, cukup sakit kurasakan kini


Janji yang s'lalu kuingat hingga mati


Kau setia hingga ku kembali,


Berkali-kali kau katakan sendiri


Kini ku t'lah benci, cintaku t'lah pergi


Pergi saja kau pergi, tak usah kembali


Percuma saja kini hanya mengundang perih


Buang saja kau buang cinta yang kemarin


Perasaan tak mungkin percayamu lagi


Cukup tau ku dirimu, cukup sakit kurasakan kini


🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀


Ayah Melati mengejar sang anak, ia tak ingin hubungannya retak dengan Melati.


Terlebih, beliau tak memiliki siapapun selain Melati.


"Mel, tunggu Ayah."


Melati menghentikan langkahnya, ia menghapus air matanya yang tak dapat berhenti mengalir.


Melati menoleh, menatap sang Ayah dengan kecewa.


"Mel, Ayah minta maaf. Ayah memang salah, Ayah benar-benar menyesal." Ayah Melati memohon.


"Kenapa, Yah? Apa aku terlalu membuat Ayah malu, sampai-sampai Ayah memutuskan hal itu? Apa salahku, Yah?" Tanya Melati dengan terisak.


Ayah Melati menggelengkan kepalanya, "tidak, Nak. Kamu tidak membuat Ayah atau Ibu malu, justru kami selalu berharap yang terbaik untukmu. Ayah minta maaf, Ayah akan lakukan apapun agar kamu mau memaafkan Ayah," ujar Ayah Melati.


Melati tak menggubris, hatinya saat ini masih merasa kecewa.


Melati terkejut, ketika sang Ayah tiba-tiba saja berlutut di hadapannya.


"Ayah, bangun. Jangan seperti ini!" Pinta Melati.


Ayah Melati menolak, ia tetap bersimpuh di kaki anaknya.


"Hukum Ayah, Nak. Hukum Ayah! Ayah memang bukan orangtua yang baik untukmu, Ayah telah menghancurkan hidupmu. Hukum Ayah..."


Melati ikut menjatuhkan tubuhnya, ia mensejajarkan badannya dengan sang Ayah.


"Ayah, bangun. Melati mohon, jangan seperti ini." Melati menangis, merengkuh tubuh sang Ayah. Melati sadar, seburuk-buruknya kedua orangtua, mereka tetap orang-orang yang berjasa besar dalam kehidupan seorang anak.


"Ayah, tanpa Ayah minta pun, aku pasti memaafkan Ayah. Aku juga tidak mungkin menghukum Ayah, sudah cukup, Yah. Saat ini aku hanya punya Ayah, aku tidak ingin kehilangan lagi." Melati mendekap erat tubuh renta sang Ayah.


Ayah Melati menangis sesenggukan, beliau bersyukur, betapa mulianya hati anaknya. Beliau berjanji untuk membahagiakan sang anak, lebih dari sebelumnya.


"Ayah, bantu aku. Bantu aku untuk mengurus perceraianku dengan Mas Dion, Ayah bisa, kan?" Melati memohon dengan sangat.


Ayah Melati terdiam, tak ada yang bisa beliau lakukan selain menyetujui keinginan Melati.


Melati tersenyum, kembali ia peluk sang Ayah dengan hangat.

__ADS_1


"Cukup sampai disini, Mas. Lebih baik aku pergi, daripada harus bertahan dengan seseorang yang bahkan tak dapat memegang janjinya sendiri. Karena yang aku tahu, seseorang yang pernah berkhianat, tidak menutup kemungkinan bahwa dia akan melakukan hal yang sama di kemudian hari." Melati meyakinkan dirinya, dengan tegar mengambil keputusan besar dalam hidupnya.


__ADS_2