
Hancur. Itulah yang tengah terjadi pada kehidupan rumah tangga Dion dan Melati, nampaknya sudah tak ada lagi harapan untuk bisa mempertahankan rumah tangga mereka.
Seakan berada di sebuah persimpangan, Dion tak tahu harus memilih jalan yang mana.
Sebuah pondasi yang telah lama ia bangun dengan sang istri, kini roboh seketika.
Terselip sebuah penyesalan dalam lubuk hati Dion, ia menyesal telah mengkhianati janji suci antara mereka berdua.
Namun nasi sudah menjadi bubur, Dion hanya bisa pasrah menghadapi garis hidup yang telah Tuhan takdirkan untuknya.
Dion tak ingin tinggal diam, ia benar-benar tak ingin berpisah dengan Melati.
Dion hendak pergi menyusul istri pertamanya, ia harus menahan niatan Melati untuk meminta cerai padanya.
"Mau kemana kamu?" Tanya Ibu Anna.
Dion menghentikan langkahnya, ia menoleh menatap Ibunya.
"A-aku harus pergi menyusul Melati, Bu." Dion menjawab.
Ibu Anna mengerutkan keningnya, "kamu tidak lihat Rissa sekarang?" Tanyanya.
Dion terdiam, sekilas ia melirik Rissa yang sama sekali tak memandang ke arahnya.
"Tapi, Bu... Aku harus mencegah Melati untuk menggugat cerai. Aku tidak ingin kehilangan Melati," sahut Dion.
Rissa menahan sesak di dadanya, walau saat ini ia tengah membutuhkan Dion, namun ia tak dapat berbuat apapun.
"Rissa juga membutuhkan kamu saat ini, Yon. Kamu harus pikirkan dia juga!" Seru Ibu Anna.
Dion sempat ragu, namun hal yang tak terduga di pilih Dion saat itu juga. Dion melengos pergi, tanpa menggubris ucapan sang Ibu.
"Yon, berhenti!" Pinta Ibu Anna.
Dion tak mendengar, ia telah keluar dari ruangan tanpa mempedulikan Ibu juga istri keduanya.
"Dion!"
Rissa menahan lengan sang mertua, ia menggelengkan kepalanya tanda memohon pada Ibu Anna untuk tak mengejar Dion.
"Biarkan Mas Dion menemui Mbak Melati, Bu. Aku tidak apa-apa," ujar Rissa.
Ibu Anna menatap menantunya itu dengan sendu, ia berhambur memeluk Rissa di barengi dengan isakan.
Dokter Radit melihat pemandangan yang menyayat hati, perempuan yang di cintainya kini tengah terkulai tak berdaya.
***
__ADS_1
Ada dua makna ketika seseorang menampakkan senyumannya, pertama dia memang benar-benar bahagia. Kedua bisa saja dia sebenarnya tengah kecewa dan hancur berkeping-keping, namun senyum yang ia timbulkan hanyalah sebuah pemanis saja.
Melati termenung di kamar sang Ibunda, ia mengingat kembali massa dimana sang Ibu masih berada bersamanya.
Sungguh, hal yang paling menyakitkan adalah ketika merindukan seseorang yang telah meninggalkan kita untuk selamanya.
Ayah Melati masuk ke dalam kamar, melihat kondisi anaknya yang lebih rapuh darinya.
Beliau mendudukkan tubuhnya di samping sang anak, membelai lembut puncak kepalanya.
"Hidup itu hanya tentang meninggalkan, dan yanh di tinggalkan. Entah itu perpisahan sementara, atau selamanya. Sabar bukan berarti ikhlas, tapi jika kita bisa ikhlas, rasa sabar itu luas. Ayah tahu kamu terpuruk, tapi Ayah juga tidak mau melihatmu lemah seperti ini."
Melati menoleh, mencerna setiap ucapan yang di lontarkan oleh sang Ayah.
"Aku tahu, Ayah juga terpuruk sekarang. Tapi Ayah sebisa mungkin menutupi semuanya dariku," sahut Melati.
Ayah Melati tersenyum tipis, ia merengkuh bahu Melati dengan hangat.
"Mari, kita mulai kehidupan yang baru. Hiduplah bersama Ayah, kita cari kebahagiaan kita."
Melati mengangguk, membalas pelukan Ayahnya lebih hangat.
Kehangatan mereka terusik, ketika seseorang dengan keras mengetuk pintu rumah mereka.
Ayah Melati beranjak dari tempatnya, dan segera mencari tahu sosok yang berada di luar sana.
Tak lama Melati ikut menyusul Ayahnya, memastikan siapa yang mengetuk pintu dengan tidak sopan.
"Dion," ucapnya.
"Ayah, aku ingin bertemu Melati." Dion berbicara langsung pada intinya.
Belum sempat menjawab, Melati telah lebih dulu muncul di hadapan Dion.
"Ada apa lagi?" Tanya Melati sembari menyilangkan kedua tangannya.
Dion mulai memelas, memasang wajah memohon dengan sangat.
"Sayang, Mas ingin bicara."
"Bicara apa lagi, Mas? Tidak ada yang mesti di bicarakan lagi, semua sudah jelas. Kamu tinggal tunggu gugatan cerai dariku," sahut Melati dengan tegas.
Dion menolak tak kalah tegas, "tidak. Mas tidak mau berpisah dama kamu, Mel. Mas masih sangat mencintaimu," ucap Dion.
Melati tersenyum sinis, "cinta? Tidak ada lagi cinta di antara kita, Mas. Dan kalaupun ada, cinta itu sudah terbagi! Bahkan tanpa permisi," ujar Melati.
Diom terdiam, ia bersikukuh untuk mempertahankan rumah tangganya bersama Melati.
__ADS_1
"Pokoknya Mas tidak mau kita pisah, Mel!" Seru Dion.
Melati menatap tajam, terbesit suatu hal di benaknya.
"Jadi kamu tidak mau pisah? Kalau begitu, aku akan memberimu pilihan. Bercerai denganku, atau dengan Rissa?" Melati melontarkan pertanyaan itu pada Dion, sekadar ingin tahu apa yang akan ucapkan oleh suaminya itu.
Dion bungkam, entah mengapa ia bahkan tak bisa untuk langsung menjawab pertanyaan yang di tujukan padanya.
"Kenapa diam? Sulit untuk menjawab?" Tuntut Melati.
Dion tak berkutik, ia sangat bingung untuk menentukan pilihannya.
"Sudahlah, Mas. Aku tahu kamu tidak bisa memilih, bukan? Lagipula, kalaupun kau memilih aku. Aku tidak akan pernah mau memulai semuanya lagi denganmu." Melati menuturkan.
Dion terdiam, ia bahkan bersujud di hadapan istri juga mertuanya.
"Maafkan Mas, Mel. Mas mohon..."
Ayah Melati menatap anaknya, ia tampak menanyakan apa yang harus di lakukan pada Dion.
"Berdiri, Mas!" Pinta Melati.
Dion tak menurut, ia masih pada posisinya.
"Aku bilang berdiri!" Bentak Melati.
"Kamu harus tahu, apapun yang kamu lakukan itu tidak akan merubah apapun. Jadi aku mohon, kamu pergi dari rumahku sekarang!" Pinta Melati.
Dion menggeleng, "Mas tidak akan pergi sebelum kamu memaafkan, Mas."
Melati menghela nafasnya, "aku memaafkanmu, Mas. Tapi harus kamu tahu, memaafkan dan melupakan itu dua hal yang berbeda. Aku memaafkanmu, tapi aku tidak akan pernah melupakan apa yang sudah kamu lakukan padaku, Mas."
"Jadi aku mohon, pergi dari rumahku. Aku ingin sendiri," Melati mengajak Ayahnya untuk masuk ke dalam rumah, dan membiarkan Dion yang masih mematung di tempatnya.
Melati menutup pintu, bahkan menguncinya.
Di balik pintu, Melati memeluk Ayahnya. Terdengar isakan di balik punggung sang Ayah, Melati menahan sekuat mungkin agar tangisnya tak pecah.
Ayah Melati paham betul perasaan anaknya, beliau membiarkan anaknya meluapkan segala perasaannya.
Dion bangkit dari tempatnya, perlahan ia berbalik meninggalkan kediaman mertuanya.
Dion berjalan tertatih, pasrah dengan apa yang akan terjadi dengan rumah tangganya.
***
Jika tidak bertemu denganmu, mungkin aku tidak akan merasakan kehancuran seperti ini. Aku juga tidak akan pernah mencoba bangkit, dan menjadi sekuat sekarang ini.
__ADS_1
Terima kasih, untuk luka yang kau beri. Tuhan selalu memberikan apa yang kita butuhkan, bukan apa yang kita inginkan.
•Melati Aurora•