
Tak ada wanita yang kuat menerima kenyataan bahwa suaminya telah mengkhianati janji suci pernikahan, mereka sangatlah rapuh.
Tak ada yang rela jika harus berbagi kasih sayang, jika ada, tolong tunjukkan satu siapa wanita itu.
Terlalu keras hantaman peluru yang menerpa, terlalu sadis cara seseorang menyakiti, terlalu pedih jika mengingat bagaimana hati itu terbelah seketika.
***
Melati turun dari taksi, ia menarik nafasnya dalam. Menatap nanar bangunan yang berada di hadapannya, menyiapkan dirinya untuk segala macam kenyataan.
Melati mulai melangkah masuk, mengedarkan pandangannya, mencari sosok yang ingin ia temui saat ini.
Dengan perasaan yang teramat perih, Melati melangkah lebih dalam.
Dari depannya, tampak sosok yang di hormatinya selama ini.
"Melati, kamu datang kesini tidak bilang dulu." Ibu Anna menyapa.
Ibu Anna berjalan mendekati menantu pertamanya itu, tanpa beliau tahu apa yang tengah di hadapi oleh Melati.
"Apa kabar, Nak?" Tanya Ibu Anna.
Melati masih menahan dirinya, berusaha untuk tidak meluapkan kekecewaannya pada sang Ibu mertua.
"Aku baik. Ibu apa kabar?" Tanya Melati dengan suara berat.
"Ibu juga baik, Nak. Ayo kita ke ruang tamu," ajak Ibu Anna.
Tangan Melati meraih lengan Ibu mertuanya, "Bu, mana Rissa?" Tanya Melati.
Ibu Anna terdiam sejenak, sebelum ia menjawab pertanyaan Melati, Rissa lebih dulu muncul di hadapan.
"Mbak Melati. Mbak nyusul kesini juga," ucap Rissa sembari berjalan mendekati madunya.
Melati memperdekat jaraknya dengan Rissa, sungguh situasi saat itu terasa begitu getir.
Melati menatap tajam mata Rissa, membuat Rissa tak dapat mengartikan tatapan Melati padanya.
"Mbak... Mbak, baik-baik saja?" Tanya Rissa, mengamati raut wajah Melati yang berubah.
Melati tak menggubris, dan... PLAK!!!
Tamparan keras mendarat di pipi Rissa, seketika semua yang berada bersama Melati terkejut. Rissa memegang wajahnya yang memerah, ia tidak menyangka Melati akan melakukan hal itu padanya.
"Melati, kenapa kamu menampar Rissa?" Bela Ibu Anna, ia menjauhkan jarak Melati dan Rissa.
Melati tampak menahan gemuruh di dadanya, dalam situasi seperti ini saja, Melati mencoba untuk tak terlalu berontak di hadapan Ibu mertuanya.
"Lalu aku harus berbuat apa, Bu? Sikap apa yang harus aku tunjukkan kepada wanita yang sudah merebut suamiku!" Seru Melati, nadanya kini lebih meninggi.
Ibu Anna dan Rissa terkejut, apa yang selama ini mereka tutupi akhirnya terbongkar. Ibu Anna mencoba untuk menjelaskan semuanya pada Melati, ia tak ingin ada perkelahian antara kedua menantunya itu.
"Mel, dengarkan Ibu dulu. Ibu bisa menjelaskan semuanya," ujar Ibu Anna.
__ADS_1
Melati mengerutkan keningnya, ia menatap Ibu mertuanya dengan selidik.
"Tunggu! Kenapa harus Ibu yang menjelaskan? Ada apa sebenarnya? Rahasia apalagi yang kalian punya?" Tanya Melati.
Rissa hanya bisa tertunduk, begitupun Ibu Anna. Di usianya yang sekarang ini, beliau tak bisa bertindak leluasa.
"Oh, biar aku tebak. Apa jangan-jangan, Ibu juga tahu tentang pernikahan Mas Dion dan dia?" Desak Melati.
Ibu Anna mengangkat wajahnya, beliau berjalan kearah menantunya.
"Nak, dengarkan Ibu. Ibu minta maaf, semua terpaksa kami lakukan. Kami hanya menginginkan keturunan, keturunan dari darah daging Dion." Ibu Anna menjelaskan.
Rissa yang sedari tadi tertunduk, kini ia menegakkan kepalanya. Menatap dan mencerna perkataan Ibu mertuanya.
"A-apa yang Ibu bicarakan barusan? Mereka terpaksa, dan hanya menginginkan keturunan. Jadi selama ini, mereka hanya ingin anakku! Bukan aku," lirih Rissa dalam batinnya.
"Oh, jadi benar. Kalian menutupi semua ini dariku! Tega, aku tidak menyangka kalian sejahat ini. Aku tahu, Bu. Aku tahu kalau aku tidak akan bisa memiliki keturunan, tapi apa harus kalian menghukumku dengan semua ini? Aku tidak pernah menginginkan kondisi ini, Bu. Aku perempuan, dia juga perempuan, Ibu juga perempuan, bagaimana jadinya kalau kalian yang berada di posisiku?" Bentak Melati, ia tak bisa menahan lagi kesakitannya. Terlebih, sang Ibu mertua ikut serta dalam kebohongan itu.
"Dimana hati kalian? Apa salahku, Bu? Aku tahu, aku bukan menantu yang di idam-idamkan oleh Ibu. Tapi apa harus aku menerima perlakuan ini, Bu? Aku mencintai anak Ibu, semua yang aku miliki, aku serahkan padanya. Tapi apa yang aku dapat? Hanya karena kekuranganku, Ibu mengizinkan Mas Dion untuk mencari wanita lain!" Seru Melati.
Ibu Anna terhentak, jantungnya seakan berdebar kencang. Rissa yang melihat kondisi Ibu mertuanya, segera berusaha untuk menenangkan suasana.
"Mbak, aku yang salah. Mbak boleh melakukan apa saja padaku, jangan membentak Ibu, Mbak. Kasihan," pinta Melati.
"Dan kamu, Sa. Apa salahku padamu? Kenapa kamu sejahat ini? Kamu sudah aku anggap saudara sendiri, tapi kamu tega menikamku. Satu hal lagi, aku ingin mendengar semuanuya dari mulutmu. Apa sekarang... Kau sedang mengandung anak Mas Dion?" Tanya Melati, matanya memerah. Tangan kanannya mengepal erat, dan yang kiri memegang kuat dadanya yang teramat pedih.
Rissa menunduk, air matanya berderai seketika.
"Terpaksa? Sampai kamu mau di hamili oleh suamiku, kamu masih bilag kalau semua ini terpaksa?" Lagi-lagi Melati membentak, bahkan sampai mendorong Rissa.
"Aahh, Rissa..." Ibu Anna mencoba menahan tubuh menantu keduanya itu agar tak terjatuh.
"Mel, Rissa sedang hamil. Kenapa kamu harus mendorongnya seperti ini?"
Nafas Ibu Anna semakin sempit, dadanya terasa sesak. Ia tak dapat menahan lagi, tubuhnya limbung.
Ibu Anna tak sadarkan diri, membuat Rissa panik dan meminta bantuan Melati juga orang rumah.
"Bi, Bibi..."
Rissa memanggil asisten rumah tangga yang bekerja di rumah Ibu mertuanya, rencana Ibu Anna yang akan di temani oleh Bibi juga Paman Dion batal. Mereka telah memiliki pekerjaan, dan tidak dapat menemani Ibu Anna.
Asisten rumah tangga Ibu Anna segera datang, dan menanyakan kondisi majikannya.
"Ya Allah, Ibu kenapa?" Tanyanya.
"Bi, telepon Mas Dion sekarang."
Asisten rumah tangga Ibu Anna segera menuruti permintaan Rissa, ia segera berlari dan menelepon Dion.
Melati hanya mematung, amarah belum mereda.
***
__ADS_1
Di Cafe, Dion tengah sibuk melayani pengunjung. Ia harus turun tangan sendiri, kondisi Cafe hari ini begitu ramai.
Dion mendengar ponselnya berbunyi, ia segera mengangkat panggilan itu.
"Halo, Bi... Ada apa?" Tanya Dion.
"Den, bisa ke rumah Ibu sekarang?" Tanya Asisten rumah tangga Ibu Anna.
Dion mengerutkan dahinya, ia mendengar suara tangisan di balik ponsel.
"Ada apa, Bi? Ibu kenapa? Dan siapa yang menangis?" Dion tampak ikut panik.
"Ibu... Ibu pingsan, Den. Den Dion kesini sekarang, yah. Cepat, Den."
Dion mengiyakan, ia segera berlari ke ruangannya untuk mengambil kunci mobil.
"Ra, aku pergi dulu. Kamu atur semuanya," titah Dion pada Ara.
"Siap," jawab Ara. Ia melihat bosnya itu berlari dengan tergesa, namun ia tak sempat menanyakan apa yang terjadi pada bosnya itu.
Di sepanjang perjalanan, Dion mengemudikan mobilnya dengan kencang. Ia sangat khawatir pada Ibunya, terlebih ia tak mengetahui apa yang menyebankan Ibunya jatuh pingsan.
Tak butuh waktu lama, Dion sampai di kediaman Ibunya. Ia segera turun dari mobil, dan menerobos masuk ke dalam rumah.
"Bu..."
Teriakan Dion terhenti seketika, ia mematung melihat Ibunya yang tak sadarkan diri di atas pangkuan istri keduanya. Ia juga melihat Melati yang hanya berdiri menatapnya, ada rasa marah dalam hati Dion.
Ia berjalan menghampiri Ibunya, "Bu, sadarlah. Ibu kenapa, Sa?" Tanya Dion.
Rissa masih terisak, ia tak menjawab pertanyaan suaminya. Dion beralih menatap Melati, ia hendak menyakan apa yang di lakukan oleh Melati.
"Kenapa kamu hanya berdiri disitu, Mel? Ibu pingsan, dan kamu tidak melakukan apapun?" Tanya Dion.
Melati menyeringai, senyum kecut menyembul di sudut bibirnya.
"Yang aku lakukan adalah melihat pemandangan sepasang suami istri yang menikah di belakang istri pertamanya!" Seru Melati.
Dion terkejut, matanya bulat sempurna. Dadanya seakan tertancap pedang, ia tak dapat berkutik sama sekali.
"Kenapa diam? Kamu kaget aku tahu semuanya?" Tanya Melati.
Dion beranjak dari tempatnya, ia berjalan menghampiri Melati.
"Sayang, aku bisa jelaskan." Dion mencoba untuk berbicara pada istri pertamanya itu.
Melati memundurkan langkahnya, ia seakan tak ingin di sentuh oleh Dion.
"Jangan sentuh aku! Tangannu terlalu kotor untukku saat ini!"
Ucapan Melati begitu menyakat hati Dion, Melati bahkan tak memberikannya waktu untuk menjelaskan apapun.
Semua telah terbongkar, Dion tersudut.
__ADS_1