
Melati merajuk, ia sangat ingin berlibur dengan mengajak Rissa.
Melati menarik suaminya untuk berbicara, ia membawa Dion ke halaman belakang dan meninggalkan Dokter Radit dengan Rissa berdua.
"Sayang, ada apa sih? Kenapa mau bawa Mas kesini?" Tanya Dion. Sesekali ia melirik kearah ruang tamu, ekor matanya terus memantau Rissa juga Dokter Radit.
"Mas kenapa bicara seperti itu didepan Dokter Radit?" Tanya Melati dengan kesal.
Dion mengerutkan keningnya, "memangnya Mas bicara apa? Perasaan Mas tidak menyinggung Dokter Radit," sahut Dion.
Melati berdecih, "bukan menyinggung Dokter Radit, tapi Mas sudah menyinggung Rissa!" Seru Melati.
Dion terhentak, "menyinggung, apa maksudmu?" Tanya Dion, ia masih belum menyadari kesalahannya.
Melati menghentakkan kakinya, ia benar-benar dibuat kesal oleh suaminya.
"Kenapa Mas tidak mengizinkan aku untuk bawa Rissa berlibur? Kan Mas sendiri yang bilang kalau kita harus memperlakukan Rissa dengan baik. Pokoknya aku ingin berlibur dengan Rissa!" Seru Melati.
Dion mengusap wajahnya kasar, "ya sudah kita berlibur, berempat! Mas, kamu, Rissa dan Bi Ai. Tidak dengan Dokter Radit!" Tutur Dion.
Melati terkejut, kenapa suaminya melarang Dokter Radit untuk ikut berlibur.
"Loh, kenapa Dokter Radit tidak boleh ikut? Justru tujuan utama aku itu kan untuk mendekatkan Rissa dengan Dokter Radit," ujar Melati.
Kini rasa terkejut didapatkan Dion dari istrinya, kenapa bisa Melati berencana untuk mendekatkan Rissa dengan Dion.
"Kamu kenapa mau melakukan itu?" Tanya Dion.
"Kenapa memangnya? Rissa tidak mendapat kejelasan dari seseorang yang sedang dekat dengannya, lalu Dokter Radit juga belum memiliki pasangan. Dan aku rasa mereka berdua itu cocok," jelas Melati pada Dion.
Dion benar-benar tak habis pikir, sekarang apa yang harus Dion lakukan untuk menggagalkan rencana istri pertamanya itu.
"Aku tidak bisa membiarkan itu terjadi!" Seru Dion dalam hatinya.
"Pokoknya weekend ini aku mau liburan, titik!" Seru Melati sembari berlalu meninggalkan suaminya.
Dion mengacak rambutnya, ia benar-benar tidak ingin jika Melati mendekatkan Rissa dengan Dokter Radit.
***
Sementara sejak ditinggal berdua dengan Rissa, Dokter Radit sangat merasa gugup. Entah kenapa berada didekat Rissa, membuatnya salah tingkah.
Sama halnya dengan Rissa, ia juga merasa tidak enak dalam situasi itu.
"Duh, kenapa Mbak Melati lama sih? Aku tidak enak jika berdua begini dengan Dokter Radit," gumam Rissa.
__ADS_1
Rissa merasa lega ketika melihat Melati yang berjalan kearahnya.
"Maaf, yah lama. Aku tadi harus bicara dulu sama Mas Dion," ucap Melati.
"Tidak apa-apa, jadi bagaimana?" Tanya Dokter Radit.
Melati kembali duduk disebelah Rissa, "pokoknya besok kita harus pergi liburan, yang dekat-dekat saja. Kita ke pantai, dan sewa penginapan," ucap Melati.
Doktee Radit mengangguk, berbeda dengan Rissa.
"Kamu jadi ikut, Sa." Melati menuturkan.
Rissa menoleh, ia tak menjawab perkataan Melati. Dion dengan wajah pasrahnya kembali bergabung bersama mereka, ia benar-benar tak bisa menolak keputusan istri pertamanya.
Sekilas Rissa melirik kearah Dion, ia paham bahwa kini suaminya tak benar-benar mengizinkannya untuk ikut berlibur.
"Mbak, sebaiknya aku di rumah saja."
Melati menggelengkan kepala, ia keukeuh dengan keputusannya.
"Kamu ikut saja, Sa." Dion memastikan.
Rissa hanya terdiam, sedangkan Melati dan Dokter Radit merasa senang akan keputusan Dion.
***
Hal itu tentunya membuat Dion sangat tidak nyaman, terlebih Rissa yang menanggapi perkataan Melati dengan tertawa kecil.
"Pokoknya, Dokter Radit itu laki-laki baik. Dan aku makin semangat buat deketin kamu sama dia, Sa."
Senyuman Rissa yang sedari tadi merekah, kini lenyap seketika.
Ia terkejut mendengar ucapan madunya, ternyata tujuan Melati sebenarnya adalah untuk mendekatkan Dokter Radit dengannya.
Rissa melirik kearah Dion, ia berniat untuk memperhatikan respon suaminya ketika mendengar ucapan istri pertamanya.
Rissa tidak mendapati respon yang diharapkan dari Dion, ia melihat Dion yang biasa-biasa saja mendengar ucapan itu.
"Kamu terlihat acuh, Mas. Segitu tidak berartinya aku untukmu," ucap Rissa dalam batinnya.
Dion yang sedari tadi berdiam diri, hendak memikirkan apa yang harus dilakukannya untuk menghalangi niatan Melati.
Ia tengah dibuat gelisah akan hal itu, namun ia tak leluasa menampakkan rasa gusarnya didepan Melati maupun Rissa.
"Bagaimanapun juga, Rissa itu istriku. Aku tidak bisa membiarkannya didekati oleh pria lain."
__ADS_1
***
Malam harinya, selesai makan bersama. Rissa tengah membuatkan susu hangat untuk Melati, ia juga membuatkan secangkir kopi untuk suaminya.
Rissa membiarkan Bi Ai untuk beristirahat lebih cepat, ia kasihan dengan kondisi Bi Ai yang mudah kelelahan.
Ketika Rissa tengah mengaduk kopi yang dibuatnya, tanpa di sadari Dion telah berdiri di belakang Rissa.
Rissa terkejut ketika membalikkan tubuhnya, Dion menatapnya dengan tajam.
"Mas, sejak kapan kamu disini?" Tanya Rissa dengan suara pelan.
Sesekali Rissa melirik kearah luar dapur, ia takut kalah Melati datang tiba-tiba dan memergoki dirinya yang tengah berdua dengan Dion.
"Aku hanya ingin membicarakan sesuatu," ucap Dion dengan dingin.
"Bicara apa?" Tanya Rissa.
Dion menghela nafasnya lebih dulu, ia berusaha untuk tak terlihat cemburu.
"Aku hanya ingin memperingatkanmu," ucap Dion.
Rissa mengerutkan keningnya, ia tak mengerti dengan apa yang diucapkan oleh suaminya.
"Maksud Mas? Memperingatkan soal apa?" Tanya Rissa.
"Aku rasa sekarang aku tahu apa alasanmu menulis surat permohonan itu..."
Dion menarik nafasnya dalam, sementara Rissa masih menunggu Dion melanjutkan ucapannya.
"Aku rasa kau dan Dokter Radit memiliki hubungan dibelakangku," ucap Dion.
Rissa membulatkan matanya, ia tak percaya dengan apa yang dipikirkan oleh suaminya.
"Maksud Mas apa berprasangka seperti itu sama aku? Aku tidak memiliki hubungan apapun dengan Dokter Radit! Aku bahkan belum lama mengenalnya," ujar Rissa.
Dion memalingkan wajahnya, rasa cemburu kini tengah menguasai dirinya.
"Ya terserah kau mau beralasan apapun, toh mau kau ada hubungan ataupun tidak itu bukan urusanku. Aku hanya memperingatkan untuk tidak melibatkan Melati, dia harus banyak istirahat. Jangan memberikan beban pikiran kepadanya, apalagi sampai Melati memikirkan cara untuk membuat kalian semakin dekat. Urus saja urusan pribadi kalian berdua, tanpa melibatkan Melati!" Seru Dion.
Rissa menahan air matanya, ia benar-benar kecewa kepada suaminya.
"Aku tidak pernah berniat untuk membebani Mbak Melati, dan aku tegaskan sekali lagi, aku tidak memiliki hubungan apapun dengan Dokter Radit! Untuk alasanku menulis surat permohonan padamu, itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan Dokter Radit! Kamu sudah salah menilaiku, Mas. Dan satu hal lagi, jika memang urusanku bukan urusanmu, aku juga akan berprilaku yang sama. Mulai saat ini, kita jangan ikut campur urusan pribadi masing-masing!" Rissa berlalu meninggalkan suaminya dengan perasaan sedih, ia juga hanya membawa satu gelas minuman untuk Melati tanpa membawa atau memberikan kopi yang sedari tadi ia buat untuk suaminya.
"Kamu keterlaluan, Mas. Aku benar-benar kecewa!" Rissa menahan rasa perih dihatinya, bisa-bisanya Dion berprasangka buruk kepada istrinya sendiri.
__ADS_1
Dion mengusap wajahnya kasar, ia menahan rasa sesak di dadanya.
Entah apa yang telah dilakukannya, Dion benar-benar tak dapat berpikir jernih saat ini.