
Aku milikmu, namun kamu tak ingin memilikiku.
💔💔💔
Dion sampai di rumah lebih dulu, ia segera masuk dan menemui istrinya.
"Mel, aku pulang. Kamu dimana?" Tanya Dion sedikit menaikkan volume suaranya.
"Aku disini," jawab Melati dari arah belakang rumah.
Dion segera melangkahkan kakinya, mencari keberadaan sang istri.
Setelah menemukan sosok yang dicarinya, Dion segera memeluk Melati dari belakang.
"Kamu lagi apa?" Tanya Dion sembari mengendus aroma wangi tubuh istrinya.
Melati berbalik, dan mengulum senyum pada suaminya.
"Mas tidak lihat aku sedang mengurus tanaman kesayangan," sahut Melati.
Dion tersenyum, "oh iya, hari ini asisten rumah tangga yang baru akan datang."
"Benarkah?" Tanya Melati sembari mengangkat alisnya.
Dion mengangguk, "iya, aku sudah tanya Ibu tadi. Katanya sih hari ini dia datang ke rumah kita," imbuhnya.
"Ya sudah kalau begitu," sahut Melati.
***
Rissa berjalan menuju rumah suami juga madunya, langkah demi langkah semakin mendekatkannya pada ambang pintu.
Sejenak Rissa mengedarkan pandangannya, memperhatikan hunian yang tampak asri di matanya.
"Bismillah," Rissa mulai mengetuk pintu rumah.
Tak ada jawaban. Lagi, Rissa mengetuk pintu rumah suaminya.
Terdengar sahutan dari dalam rumah, membuat Rissa semakin dibuat gugup.
"Iya, cari siapa, Mbak?" Tanya Bi Ai sembari memperhatikan Rissa dari ujung kerudung, hingga kakinya.
"Maaf, saya Rissa. Saya asisten rumah tangga baru disini," jawab Rissa dengan terbata.
Bi Ai mengerutkan keningnya, ia memang belum mengetahui akan kedatangan Rissa.
"Tunggu sebentar, Mbak. Saya cari majikan saya dulu," jawab Bi Ai sembari meninggalkan Rissa di teras rumah.
Rissa menganggukkan kepalanya, dan berdiri menunggu Bi Ai.
Bi Ai yang setengah berlari mencari Dion juga Melati, ia ingin memastikan perihal pernyataan Rissa yang menyebut dirinya sebagai asisten rumah tangga baru.
"Den, Non. Maaf mengganggu," ucap Bi Ai.
Dion menoleh, dan beranjak dari tempatnya.
"Kenapa Bi?" Tanya Dion.
"Di depan ada perempuan, katanya asisten rumah tangga baru disini." Bi Ai menerangkan.
Melati melirik ke arah suaminya, "itu mungkin dia, Mas."
"Iya," jawab Dion dan berjalan keluar rumah.
Melati mengikuti langkah suaminya, begitupun dengan Bi Ai yang ingin mengetahui siapa Rissa sebenarnya.
"Sa," sapa Dion.
Rissa mengangkat wajahnya yang sedari tadi tertunduk, dan sedikit membungkukkan tubuhnya di depan Dion juga Melati.
__ADS_1
"Oh ini istri Mas Dion, cantik." Rissa bergumam dalam batinnya.
"Sayang, ini Rissa. Asisten rumah tangga baru kita," ucap Dion dengan perasaan tidak enak hati.
Melati tersenyum ramah, bahkan mengulurkan tangannya pada Rissa.
"Melati," ucapnya.
Rissa membalas senyuman madunya itu, dan menjabat tangannya juga.
"Rissa... Carissa Medina." Rissa menyebutkan nama lengkapnya.
"Nama yang cantik, sama seperti orangnya." Melati memuji paras Rissa yang tampak teduh dalam balutan hijab berwarna peach.
"Terima kasih, Non Melati juga cantik." Rissa balas memuji.
"Panggil Melati saja, kayaknya kita seumuran." Melati meminta.
Rissa terdiam, sekilas ia melirik ke arah Dion.
"Sudah, nanti lagi kenalannya. Sekarang kita masuk, sudah mau maghrib juga."
Dion mempersilahkan Rissa masuk, dan menuntunnya ke ruang tamu.
Rissa menurut, dan mengikuti jejak kaki suaminya. Perasaannya kini tak dapat di jelaskan, ada hal yang membuat hatinya pedih saat ini. Ya, meskipun belum ada benih cinta diantara Dion dan Rissa, namun melihat Dion yang di gandeng oleh Melati sedikit membuat dadanya sesak.
Dion dan Melati mendudukkan tubuhnya di sofa, berbeda dengan Rissa, ia malah mendudukkan tubuhnya di lantai.
"Sa, jangan di lantai. Duduk di atas," pinta Dion dengan refleks. Melati menatap suaminya yang sigap meminta Rissa untuk tidak duduk di lantai, tentunya hal itu sedikit membuat Melati terheran.
Rissa mengangguk, dan menuruti perintah suaminya.
"Sa, semoga kamu betah disini. Oh iya, kamu bisa tidur di kamar tamu. Di sebelah sana," tunjuk Dion pada salah satu kamar di rumahnya.
Melati hampir tak percaya, Rissa yang statusnya seorang asisten rumah tangga namun diizinkan Dion untuk tidur di kamar tamu. Mengingat mereka memiliki kamar khusus asisten rumah tangga.
"Mas, memangnya kamar khusus buat asisten rumah tangga penuh?" Melati berpura-pura bertanya.
"Begini, sayang. Rissa kan dekat dengan Ibu, dia juga di perlakukan baik disana. Ibu sudah menganggap Rissa seperti keluarga," tutur Dion.
Melati terdiam, mencoba untuk menerima penuturan suaminya.
"Baiklah kalau begitu," sahut Melati.
Terdengar suara adzan berkumandang, membuat Rissa memberanikan diri untuk berbicara.
"Pak, Bu, saya mau minta izin untuk shalat," ucap Rissa dengan segan.
"Panggil aku Mas, dan panggil Melati, Mbak saja!" Seru Dion.
Rissa mengangguk, dan Melati sepertinya tak keberatan dengan perintah suaminya.
"Ya sudah kamu pergi ke kamar saja, istirahat lalu shalat." Dion menambahkan.
"Sayang, lebih baik kita ke kamar." Dion mengajak istrinya untuk pergi dan ia juga merasa tidak nyaman dengan pakaiannya yang sudah terasa lengket di tubuhnya.
Melati dan Dion kini beranjak, dan pergi ke kamarnya. Sama halnya dengan Rissa, ia berjalan menuju kamar yang telah di tunjukkan oleh suaminya.
Di dalam kamar, Rissa segera membereskan barang-barangnya. Selesai itu, ia segera menunaikan ibadah shalat maghrib.
Karena tak ada pekerjaan, Rissa berinisiatif untuk pergi ke dapur.
Di dapur Rissa menemukan Bi Ai yang tengah menyiapkan makanan untuk makan malam, dan Rissa berniat untuk membantunya.
"Bi, boleh aku bantu?" Tanya Rissa.
Bi Ai menoleh, "boleh Neng, hayu sama Bibi." Bi Ai menjawab dengan ramah.
Rissa tak sungkan membantu Bi Ai, ia juga terlihat tak asing dengan menu yang tengah di siapkan.
__ADS_1
"Neng, dari mana? Sudah kenal lama sama Ibu Den Dion?" Tanya Bi Ai.
Rissa tersenyum, "belum lama, Bi. Saya dari panti," jawabnya.
Bi Ai menganggukkan kepalanya, ia merasa tak enak sudah bertanya asal usul Rissa.
"Bibi sudah lama bekerja sama Mas Dion?" Tanya Rissa.
Bi Ai terseyum, "sudah atuh Neng, sejak Den Dion masih sekolah, Bibi sudah ikut bekerja sama Bu Anna. Den Dion orangnya baik, Neng. Kamu pasti betah kerja disini," ucap Bi Ai.
"Panggil Rissa aja, Bi. Semoga aku betah yah Bi," ucap Rissa.
"Aamiin," jawab Bi Ai. Mereka berdua kini berkutat dengan peralatan masak, menyiapkan makan malam untuk Dion juga Melati.
Selesai dengan masakannya, Rissa juga membantu Bi Ai menata makanan di atas meja.
"Loh, Sa. Kamu yang masak?" Tanya Dion saat tengah mengambil minum ke dapur.
"Cuma bantu-bantu," jawab Rissa pelan, lalu berlalu meninggalkan Dion.
"Mas, kita makan sekarang. Aku lapar," rajuk Melati pada suaminya.
"Ya sudah," sahut Dion dan mendudukkan tubuhnya di kursi.
Melati mengambilkan makanan untuk suaminya, sedangkan Dion ia seperti tengah menunggu Rissa keluar dari arah dapur.
"Mas, cari apa?" Tanya Melati.
Dion terperanjat, "emm tidak, aku cuma cari Rissa. Dia kan baru, barangkali dia merasa kebingungan dengan pekerjaan dan jadwal makannya," ucap Dion.
"Oh, mungkin Bi Ai sudah ngasih tahu ke dia, Mas. Mungkin juga sekarang Rissa lagi makan sama Bi Ai di dapur," sahut Melati.
Dion menganggukkan kepalanya, sebenarnya ia merasa tidak enak hati jika benar Rissa tengah makan bersama asisten rumah tangganya.
Namun, apa daya Dion yang tak dapat berbuat banyak.
Tanpa Dion dan Melati sadari, sedari tadi Rissa tengah memperhatikan mereka berdua. Rasanya ia juga ingin melayani suaminya, namun hal itu sulit untuk terjadi padanya.
"Sudahlah, Sa. Setidaknya suamimu masih memiliki satu istri lagi yang selalu dapat melayaninya," ucapnya dalam hati.
Rissa di kagetkan karena Bi Ai yang menepuk bahunya, "astagfirulloh, Bibi ngagetin aku."
Bi Ai tersenyum, "Rissa sedang apa ngintip-ngitin Den Dion sama Mbak Melati?" Tanyanya.
Rissa menghela nafasnya, "tidak apa-apa, Bi. Iseng saja," jawab Rissa.
Bi Ai mengacungkan telunjuknya ke arah Rissa, "hayo, iri ya sama keharmonisan mereka?" Tanya Bi Ai menggoda.
"Bi Ai juga kadang suka iri lihat kemesraan mereka, inget waktu Bibi dulu sama almarhum Bapa," imbuh Bi Ai.
Rissa merangkul bahu Bi Ai," aku tidak iri, Bi. Sudah jangan menggoda Rissa," ucapnya.
Bi Ai tertawa kecil," ya sudah kita makan juga, yu."
Rissa mengangguk, dan mengikuti langkah Bi Ai yang menuju sebuah ruangan kecil di sudut dapur.
"Bibi suka makan disini?" Tanya Rissa sembari mengedarkan pandangannya melihat seisi ruangan.
"Iya, Bibi disini saja kalau makan. Kadang kalau ada Pak Mamat tukang kebun harian, Bibi di temani dia." Bi Ai menjabarkan.
Rissa menganggukkan kepalanya, dan ikut Bi Ai untuk duduk lesehan di lantai yang telah di lapisi permadani ukuran kecil.
"Hayu makan, Sa."
Rissa menerima ajakan Bi Ai, dan mereka berdua pun mulai makan bersama.
Sejenak Rissa terdiam, mengingat nasibnya yang tak seberuntung Melati.
"Tidak apa-apa Sa, kamu kan sudah terbiasa hidup seperti ini juga waktu di panti. Jangan iri sama Mbak Melati, ingat posisimu!"
__ADS_1
Rissa mencoba untuk mawas diri, menerima setiap apa yang terjadi dengan lapang dada.