Dua Cincin

Dua Cincin
Janji Dion Pada Sang Ibu


__ADS_3

Dion dan Rissa baru saja sampai di sebuah rumah sakit, mereka segera turun dan masuk ke dalamnya.


Sepanjang turun dari mobil, Dion tak pernah melepaskan genggaman tangannya pada Rissa. Ia seakan ingin menjaga Rissa dengan baik, bahkan ia juga meminta Rissa untuk berjalan sangat hati-hati.


"Mas," ucap Rissa, Dion menoleh dan menghentikan langkahnya sejenak.


"Iya kenapa, Sa?" Tanya Dion, tatapannya kini sangat berbeda di banding ketika pertama mereka bertemu. Tatapan Dion begitu hangat pada Rissa, senyuman juga tak pernah pudar dari wajahnya.


"Bisa lepaskan tangannku? Tanganku keringetan, Mas."


Dion melirik sekilas tangan Rissa, ia merasakan basah di telapak tangannya. Namun bukannya melepaskan genggaman tangannya, Dion malah beralih merangkul istri keduanya itu.


Rissa semakin di buat gugup oleh ulah Dion, satu sisi ia juga merasa bahagia karena Dion memperlakukannya dengan sangat baik.


Dion memapah Rissa menuju ruangan pemeriksaan, sebelumnya Dion juga sudah mendaftarkan Rissa untuk pemeriksaan kandungan.


Sampailah mereka di depan suatu ruangan, dengan sopan Dion mulai mengetuk pintu ruangan itu.


"Masuk."


Terdengar sahutan dari dalam ruangan, Dion dan Rissa pun segera masuk ke dalam ruangan.


"Pagi, Dok."


Dion menyapa, sembari masih menggandeng istrinya untuk duduk di kursi yang telah tersedia.


"Pagi, Pak, Buk. Bagaimana, ada yang bisa saya bantu?" Tanya Dokter spesialis kandungan pada Dion juga Rissa.


"Begini, Dok. Kemarin saya tespek, dan hasilnya seperti ini." Rissa memberikan tespek yang ua bawa kepada Dokter.


Dokter itu mengambil dan memperhatikan hasilnya sekilas, ia lalu meminta Rissa untuk berbaring di ranjang yang telah di sediakan.


Rissa menurut, ia segera berjalan menuju ranjang dan membaringkan tubuhnya.


"Coba kakinya sedikit di tekuk," pinta Dokter pada Rissa.


Rissa melakukan apa yang di minta Dokter itu, dan selanjutnya ia merasakan perutnya yang di tekan oleh sang dokter.


"Ok, coba sekarang kita USG."


Dokter beralih memeriksa Rissa dengan menggunakan alat.


Ia memperhatikan rahim Rissa secara teliti, dan hasilnya seperti apa yang di harapakn oleh Dion juga Rissa.

__ADS_1


"Nah, ini kantungnya yah, Bu, Pak. Janinnya masih sangat kecil, jadi belum bisa terlihat jelas."


Rissa dan Dion saling bertukar pandang, mereka amat sangat bahagia mendengar kabar itu.


"Usia kandungan Ibu sekitar 4 minggu, satu hari. Masih sangat muda, yah."


Dokter selesai melakukan pemeriksaan pada Rissa, beliau kembali meminta Rissa untuk duduk.


"Rahimnya bagus, kantungnya sudah ada, janin masih sangat kecil, Bu, Pak. Saya akan memberikan Ibu suplemen penunjang untuk perkembangan janin, yah."


Rissa dan Dion mengangguk, beberapa bulan lagi mereka akan menjadi orangtua.


"Di minum setiap hari yah, Bu. Usahakan untuk melalukan pemeriksaan secara rutin. Sehat selalu untuk Ibu dan janinnya," ucap Dokter itu setelah memberikan resep pada Rissa.


Dion dan Rissa pun keluar dari ruangan, tentunya dengan perasaan yang tak dapat di jelaskan. Mereka terlalu bahagia, sehingga kata-kata pun tak dapat mewakilkan kebahagiaan mereka saat ini.


Dari arah kejauhan, ada seseorang yang tak sengaja melihat Dion juga Rissa keluar dari ruangan.


"Loh, itu bukannya suami Mbak Melati? Sedang apa dia disini? Terus siapa wanita yang bersamanya? Hah, apa jangan-jangan itu selingkuhannya?"


Seseorang itu bertanya-tanya, ia bahkan sampai mengeluarkan ponselnya untuk memotret kebersamaan Dion bersama perempuan.


"Yah, keburu jauh. Harus aku kasih tahh Mbak Melati, nih."


***


"Sa, bulan depan kita belanja keperluan bayi, yah. Kita beli baju-baju, tempat tidur, mainan," ucap Dion dengan antusias.


"Mas, usia kandunganku masih muda. Masih terlalu jauh buat nyiapain perlengkapan bayi," sahut Rissa.


"Loh memangnya kenapa? Kan bagus kita bisa nyicil," timpal Dion.


"Nanti saja, Mas. Kalau kata orangtua dulu pamali, kalau sudah mendekati persalinan, sekitar usia 7 atau 8 bulan, baru kita beli." Rissa menjelaskan.


Dion menghela nafasnya, ia sedikit kecewa karena belum bisa menyalurkan keinginannya berbelanja pakaian bayi.


"Ya sudah kalau gitu, sehat-sehat, yah." Dion mengelus perut juga puncak kepala Rissa.


Lagi-lagi, Rissa tersentuh dengan sikap baik Dion padanya. Namun dalam hatinya ia tak henti bertanya-tanya, apakah sikap Dion itu tulus padanya, atau hanya karena kini ia tengah mengandung anaknya.


***


Sesampainya di kediaman Ibu Anna, Rissa dan Dion segera masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


Dion berkali-kali memanggil sang Ibu, ia sudah tak sabar ingin memberitahu kabar kehamilan Rissa.


"Iya, Yon. Kenapa teriak-teriak?" Tanya Ibu Ann, beliau menyahuti panggilan sang anak dari arah dapur.


"Ibu..."


Dion berlari menuju Ibunya, ia berhambur memeluk sang Ibu dengan sangat erat.


"Dion, kamu kenapa sih? Kelihatannya senang sekali. Oh iya, kamu kesini sama Rissa tidak?" Tanya Ibu Anna.


"Rissa disini, Bu." Rissa tersenyum, sembari berjalan mendekati Ibu mertuanya.


Ibu Anna tampak senang dengan kedatangan sang menantu, beliau segera merentangkan kedua tangannya dan memeluk Rissa dengan hangat.


"Ya ampun, Ibu kangen sekali sama kamu, Sa."


Rissa membalas pelukan Ibu mertuanya, "Rissa juga kangen sama Ibu."


Dion sangat terharu melihat kehangatan antara istri keduanya dengan sang Ibu, hal yang tak pernah ia lihat dari Melati.


"Bu, aku bawa kabar gembira untuk Ibu." Dion mulai membuka pembicaraan.


"Benarkah? Kabar apa?" Tanya Ibu Anna, beliau kelihatan sangat tidak sabar mendengar kabar tersebut.


"Ibu akan segera dapat cucu," ucap Dion.


Ibu Anna terdiam, matanya seketika berkaca-kaca.


"Apa kau tidak berbohong? Rissa beneran hamil? Ibu akan segera jadi Nenek?" Tanya Ibu Anna, ia memastikan apa yang di dengarnya kepada Rissa.


Rissa mengangguk, membuat Ibu Anna semakin bertambah senang.


"Alhamdulillah, akhirnya Ibu bisa gendong cucu." Ibu Anna memeluk menantunya, terucap do'a-do'a baik darinya untuk Rissa.


"Semoga kamu sehat selalu, cucuku. Jaga kesehatan kamu juga, Sa. Jangan sampai kamu kelelahan!" Seru Ibu Anna.


"Iya, Bu."


"Dan kamu Dion, Ibu titip Rissa sama kamu. Jaga dia, jaga calon cucu Ibu! Jangan pernah kamu bikin Rissa sedih, kalau sampai itu terjadi, Ibu bakalan bawa Rissa untuk tinggal sama disini lagi!" Pinta Ibu Anna pada anaknya.


"Iya, Bu. Dion janji akan menjaga Rissa dan calon anak Dion. Dion tidak akan mengecewakan Ibu," ucap Dion.


Rissa tertegun, kata-kata Dion sontak membuatnya merasa khawatir.

__ADS_1


"Bagaimana bisa kamu segampang itu berucap janji, Mas? Sedangkan kita tahu sendiri, ada Mbak Melati yang sudah terlalu jauh kita sakiti. Apa kamu bisa membuktikan ucapanmu itu, Mas?"


Rissa tampak gelisah, namun ia memilih untuk memendam semuanya sendirian.


__ADS_2