Dua Cincin

Dua Cincin
Kabar Bahagia Untuk Dion


__ADS_3

Melati tengah berasa di dapur, ia melihat Bi Ai yang sedang mengcek beberapa bahan makanan di dalam lemari pendingin.


"Yah, habis." Bi Ai bergumam.


"Apanya yang habis, Bi?" Tanya Melati yang tanpa sengaja mendengar ucapan Bi Ai.


Bi Ai menoleh, ia tidak menyadari kalau Melati tengah berada di belakangnya sedari tadi.


"Eh, ini, Non. Bibi mau masak sup ayam, tapi sayurannya kurang. Kalau Bibi belanja dulu ke supermarket depan, keburu tidak, yah?" Bi Ai meminta usul dari Melati.


Sekilas Melati melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya, "kayaknya keburu, Bi. Kita belanja saja, kebetulan ada yang ingin aku beli juga."


"Oh, baik kalau gitu, Non. Memangnya Non Melati mau beli apa?" Tanya Bi Ai.


"Mau beli cemilan, Bi. Uang belanja masih ada?" Tanya Melati. Dion dan Melati memang memberi jatah uang untuk belanja kebutuhan dapur pada Bi Ai, dan biasanya Bi Ai juga merincikan setiap aya yang di belinya.


"Ada, Non." Bi Ai menjawab.


"Ya sudah kalau gitu, kita berangkat sekarang, Bi." Melati menyarankan.


Bi Ai mengangguk, ia segera mengambil dompetnya dan mengikuti langkah majikannya.


"Mas," panggil Melati pada Dion yang tengah berada di ruang tamu.


Dion menoleh, "iya, kenapa?" Tanyanya.


"Aku mau pergi ke supermarket sama Bi Ai, yah. Stok sayuran habis," ucap Melati.


Dion berpikir sejenak, itu hal yang bagus untuknya. Jika Melati tidak di rumah, ia memiliki kesempatan untuk menemui istri keduanya.


"Boleh, sayang. Mau aku antar atau bagaimana?" Tanya Dion. Sebenarnya ia hanya basa-basi untuk menawari itu.


Melati menggeleng, "tidak usah. Aku sama Bi Ai bisa pesan taksi, kok."


Dion mengangguk, "ya sudah kalau begitu. Hati-hati di jalan sayang," ucap Dion.


"Iya, aku pergi." Melati memeluk suaminya dan berpamitan bersama Bi Ai.


Dion mengantarkan istri pertamanya itu hingga teras rumah, ia juga menemani Melati terlebih dulu sampai taksi yang di pesan datang.


Setelah memastikan Melati dan Bi Ai pergi, ia segera masuk ke dalam rumah dan menemui istri keduanya.


***


Dion yang tanpa mengetuk lebih dulu, segera menerobos masuk ke dalam kamar istri keduanya.


Rissa yang tengah terduduk lesu di tepi ranjang, segera berdiri dan menatap Dion dengan ekspresi terkejut.


"Mas, kenapa kamu masuk?" Tanya Rissa. Kedua tangannya ia sembunyikan di belakang punggung, Rissa belum berniat untuk memberitahukan tentang kehamilannya pada Dion.


"Kenapa kalau aku masuk? Tidak boleh?" Tanya Dion seraya berjalan mendekati istri keduanya.


Rissa menelan salivanya, ia merasakan hawa tidak enak ketika Dion semakin mendekat padanya.


"Kalau Mbak Melati tahu, bagaimana?" Tanya Rissa dengan gemetar.


Dion dengans santainya duduk di tepi ranjang milik Rissa, ia juga menelisik Rissa yang sedari tadi menyembunyikan kedua tangannya.


"Melati sedang pergi keluar, jadi tidak perlu khawatir." Dion menjelaskan.


"Kamu kenapa? Seperti ada yang sedang kamu sembunyikan," ujar Dion.


Rissa gugup, ia berbicara dengan nada gemetar.


"Emm, tidak. Aku tidak apa-apa," jawabnya dengan terbata.


Dion menatap Rissa dengan selidik, ia lalu beranjak dari tempatnya dan seketika menarik tangan Rissa.


Dion tertegun, ketika melihat benda yang tengah di genggang erat oleh istrinya.


Dion mengambil paksa benda itu, ia menatap dengan mata yang berkaca-kaca.


"Sa, kamu hamil?" Tanya Dion.

__ADS_1


Dada Rissa bergemuruh, ia hanya bisa menganggukkan kepalanya dengan pelan.


Mata Rissa kini membulat sempurna, ketika tiba-tiba saja Dion berhambur memeluknya.


"Mas," ucap Rissa, berniat untuk melepas pelukan suaminya.


"Alhamdulillah, terima kasih, Sa. Aku bahagia mendengar kabar kalau kamu hamil," ucap Dion sambil mengeratkan pelukannya.


Rissa terdiam, ia mengingat kembali perkataan suaminya.


"Benarkah itu, Mas? Benarkah kamu bahagia dengan kehamilanku?" Tanya.


Dion megangguk dengan semangat, "tentu. Aku sangat bersyukur kamu hamil. Kenapa kamu tidak langsung memberitahuku?" Tanya Dion.


Rissa terkesiap, "a-aku juga baru tahu tadi, Mas."


Saking bahagianya, berkali-kali Dion mengecup lembut perut Rissa. Hal itu berhasil membuat Rissa tersentuh, air matanya harunya seketika berderai.


"Sehat-sehat di perut Ibu, Nak."


Kalimat itu berulang kali Dion ucapkan pada si jabang bayi, ia benar-benar bahagia saat ini.


"Sa, kita harus ke rumah sakit. Kita harus memastikan keadaan janin di dalam rahimmu," ujar Dion.


Rissa terdiam, bagaiamana mungkin ia bisa pergi bersama Dion untuk memeriksakan kandungannya. Hal itu pasti akan sulit, terlebih bagaimana caranya agar Melati tidak curiga.


"Tidak usah, Mas. Biar aku saja yang pergi, aku tidak ingin Mbak Melati tahu tentang ini."


Dion tak berkutik, perasaan bahagianya membuat Dion lupa dengan Melati. Ia kini harus mencari cara agar dapat menemani Rissa ke Dokter kandungan, ia tidak ingin melewatkan satu momen pun tentang calon anaknya itu.


"Aku harus menemani kamu, Sa. Aku tidak bisa membiarkanmu pergi sendirian, aku akan cari cara agar bisa pergi menemanimu." Dion memastikan itu pada istri keduanya, seketika Rissa menaruh harap pada suaminya itu.


"Terima kasih, Mas."


Dion tersenyum, ia kembali memeluk erat suaminya.


"Tidak usah berterima kasih, itu sudah kewajibanku."


***


Dion sudah keluar dari kamar istri keduanya, ia tak ingin megambil resiko jika menuruti keinginannya yang masih ingin bersama Rissa.


Dion kini tengah berbahagia, senyum merekah tak pudar dari wajahnya.


Sejenak ia berpikir, bagaimana caranya agar ia dapat pergi membawa Rissa ke Doktee kandungan.


"Mas!"


Dion terkejut, ketika Melati menepuk pundaknya.


"Loh, sayang kapan pulang?" Tanya Dion. Ia sama sekali tak menyadari kedatangan istri pertamanya itu.


"Hemm, mulai deh kalau sudah melamun. Aku datang saja tidak tahu," sahut Melati sembari mendudukkan tubuhnya di samping sang suami.


Dion berdalih, "bukan begitu, aku memang tidak sadar kalau kamu datang. Oh iya, gimana sudah belanjanya?" Tanya Dion.


Melati mengangguk, "iya, Mas sudah."


"Oh, bagus kalau gitu. Emm oh iya, sayang. Tadi Ibu telepon, dia menanyakan kabar kamu juga Rissa," ujar Dion. Ia hendak memulai aksinya dalam mencari celah untuk bisa pergi bersama Rissa.


"Oh, ya? Kenapa Ibu tanya Rissa?" Tanya Melati.


"Emm, mungkin Ibu kangen sama Rissa. Ibu juga sempat tanya, kapan bisa ajak Rissa ke rumah Ibu. Katanya sih kangen di masakin Rissa," tutur Dion. Dengan lugasnya ia membohongi istri pertamanya itu.


Raut wajah Melati sedikit berubah, ia merasa kalau Ibunya lebih menginginkan bertemu Rissa di banding dirinya.


"Oh." Melati hanya menjawab asal.


Dion mengerutkan keningnya, "oh? Kamu kenapa, sayang?" Tanya Dion.


Melati menggelengkan kepalanya pelan, ia memang tahu kalau hubungannya dengan sang mertua tak terlalu akrab. Sulit untuknya menyesuaikan diri dengan sang mertua, terlebih setelah kejadian ia yang kehilangan anaknya.


"Kalau besok aku antar Rissa ke rumah Ibu sebelum aku ke cafe, bagaimana? Kasihan juga Ibu," tanya Dion.

__ADS_1


"Hemm, boleh." Lagi-lagi Melati menjawab singkat.


Dion merasa senang, namun ia menahan diri agar tak menampakkan perasaannya.


"Kamu ikut saja, nanti pulangnya aku jemput."


Melati menolak," tidak usah. Ibu kan ingin bertemu Rissa, bukan bertemu sama aku."


Dion terdiam, sepertinya ada ucapan yang telah menyinggung hati istri pertamanya itu.


"Sayang, bukam seperti itu. Ibu mungkin ingin bertemu denganmu juga, tapi Ibu juga tahu kalau kamu selalu menolak untuk ke rumah Ibu." Dion berucap apa adanya.


Melati tersentil, ia mengakui bahwa setiap Ibu Dion memintanya datang, ia selalu menolak.


"Ya sudah, antar saja Rissa ke rumah Ibu. Aku titip salam, lain kali aku akan berkunjung ke rumah Ibu," ujar Melati.


Dion tersenyum tipis, ia merasa lega karena Melati mau mengerti.


"Ya sudah kalau begitu."


***


Jam menunjukkan waktunya makan malam, Bi Ai segera memanggil orang rumah untuk segera berkumpul di meja makan.


Seperti biasa, di meja makan mereka telah terbiasa makan bersama.


Melati mengambilkan nasi juga lauk pauk untuk suaminya, sedangkan Rissa juga Bi Ai, mereka mengambil makaman sendiri-sendiri.


Malam itu hidangan makan malam begitu menggiurkan, namun tidak untuk Rissa.


Lidahnya seakan enggan untuk menelan makanan yang kini ada di dalam mulutnya, susah payah Rissa menelan makanan itu.


Usahanya gagal, karena perut Rissa kini menolak kedatangan makanan yang di kunyahnya.


Rissa berlari secepat kilat menuju kamar mandi yang ada di dapur, ia memuntahkan segala isi perutnya.


Hal itu membuat penghuni rumah panik, mereka segera menyusul Rissa dan menanyakan kondisinya.


"Non, kenapa? Ini minum dulu," Bi Ai menyodorkan segelas air putih yang ia bawa ketika hendak menyusul majikannya itu.


Rissa meraih gelas itu, dan meneguknya secara perlahan.


"Sa, kamu kenapa? Tanya Melati.


Rissa terdiam, sekilas ia melirik ke arah suaminya.


Dion yang paham akan tatapan Rissa, merasa khawatir pada kondisi istri keduanya itu.


"Ya ampun, Rissa pasti mual. Ini karena dia tengah hamil muda," gumam Dion. Ia merasa bingung harus melakukan apa.


"Non, coba makan buah apel hijau. Biar mual nya reda."


Tiba-tiba saja, Bi Ai menyarankan hal itu pada Rissa.


Tanpa ada yang membantah, Dion segera mengambil buah itu dan di berikan kepada Rissa.


"Kenapa buah apel hijau, Bi?" Tanya Melati. Ia merasa heran dengan aoa yang di ucapkan oleh asisten rumah tangganya itu.


Bi Ai terlihat mencari jawaban, namun ia juga lumayan pandai dalam menjaga mimik wajah.


"Bibi cuma asal saja, Non. Biasanya kalau muntah, Bibi suka makan apel hijau, dan terbukti mual Bibi mereda," tuturnya dengan penuh keyakinan.


Melati tampaknya percaya, ia kini melah membantu mengupaskan apel hijau untuk Rissa.


"Ya Allah, Mbak Melati baik sekali. Bagaimana jadinya kalau ia tahu, bahwa aku kini tengah hamil. Bahkan aku hamil anak suaminya sendiri," lirih Rissa dalam hatinya.


Dion tampak terdiam, melihat Melati yang begitu telaten membantu Rissa.


Andai ia dapat terbuka, ia akan bahagia jika hubungan kedua istrinya begitu akrab seperti sekarang ini.


"Mel, kamu wanita baik. Maafkan aku sudah teramat jauh menyakitimu, terima kasih sudah baik pada Rissa. Andai kamu tahu, kalau Rissa kini tengah mengandung anakku. Apa sikapmu akan tetap sebaik ini?"


Dion begitu bersalah pada istri pertamanya, dosanya begitu menggunung. Setiap hari ia menyakiti hati kedua istrinya, entah sampai kapan semua ini akan berlangsung.

__ADS_1


__ADS_2