Dua Cincin

Dua Cincin
Pil Pahit


__ADS_3

Rissa perlahan mengetuk pintu panti asuhan, menunggu seseorang yang sejak dulu telah membesarkannya.


Pintu panti asuhan terbuka, dan ternyata yang membuka pintu ialah seseorang yang selama ini di rindukan oleh Rissa.


"Sa," ucap Mirna. Ibu panti yang sedari bayi mengasuh Rissa.


"Bu."


Rissa berhambur memeluk Ibu Mirna, melepaskan rasa rindu yang selama ini di pendamnya.


Pelukan Rissa di balas oleh wanita paruh baya itu, beliau juga sangat merindukan anak asuhnya itu.


"Sa, Ibu kangen. Kamu sendirian kesini? Mana suami atau Ibu mertuamu?" Tanya Ibu Mirna.


Rissa tersenyum getir, untuk saat ini ia belum siap untuk menceritakan semuanya pada Ibu asuhnya itu.


"Bu, aku capek. Boleh aku masuk untuk istirahat?" Tanya Rissa.


Ibu Mirna mengangguk, ia dengan senang hati menggandeng Rissa masuk ke dalam panti.


Beberapa kali, Ibu Mirna memperhatikan raut wajah anak asuhnya itu.


"Duduk, Sa."


Ibu Mirna meminta Rissa untuk duduk di sampingnya, dan langsung di angguki oleh Rissa.


"Gimana kabar Ibu Anna?" Tanya Ibu Mirna.


"Alhamdulillah baik, Bu." Rissa menjawab seadanya.


"Syukur kalau begitu. Oh iya, kamu sendiri gimana?" Tanya Ibu Mirna.


Rissa terkesiap, haruskah ia menceritakan semuanya pada Ibu asuhnya itu.


"Aku... Baik, Bu." Rissa berusaha menampakkan senyumnya.


Ibu Mirna menghela nafasnya, ia menelisik wajah Rissa dengan seksama.


"Sepertinya Rissa sedang ada masalah," gumamnya dalam hati.


"Sa, kamu kenapa bawa tas besar seperti ini?" Ibu Mirna mencari tahu kedatangan Rissa sebenarnya ke panti. Ia merasa kalau anak asuhnya itu bukam hanya ingin sekadar berkunjung.


Rissa melirik sekilas barang bawaannya, "begini, Bu. Aku ingin tinggal disini lagi. Bolehkan, Bu?" Tanya Rissa.


Ibu Mirna mengerutkan keningnya, ia sangat penasaran kenapa Rissa ingin kembali tinggal di panti.


"Pintu panti selalu terbuka untuk kamu, Sa. Tapi sebelumnya Ibu mau tanya, apa kamu sedang bertengkar sama suamimu?" Tanya Ibu Mirna.


Rissa terdiam, ia menundukkan wajahnya dalam.


"Sa, kamu kenapa? Apa semua baik-baik saja?" Melihat sikap Rissa, Ibu Mirna semakin yakin bahwa terjadi sesuatu dengan anak asuhnya itu.


Rissa menggelengkan kepalanya, "aku... Aku ingin bercerai dengan Mas Dion, Bu."


Akhirnya, Rissa tidak dapat menutupi masalahnya lagi.

__ADS_1


Ibu Mirna terkejut, rasa penasarannya semakin mencuat. Ia memilih untuk mencari waktu yang tepat, kini yang ia lakukan hanya memeluk anak asuhnya, berharap kekuatan dapat mengalir pada Rissa.


Rissa menjatuhkan kepalanya pada pundak Ibu asuhnya, rasanya kenyamanan datang seketika.


***


Melati dan Ayahnya, baru saja selesai menyerahkan berkas-berkas yang di perlukan untuk proses perceraian.


Melati keluar dari ruangan, ia menghela nafasnya.


Ayah Melati merangkul anaknya, mengusap lembut pundak sang putri tercinta.


"Semoga ini yang terbaik untuk semua, Mel. Ayah akan selalu ada di sampingmu," ucap Ayah Melati.


Melati tersenyum, ia balas memeluk sang Ayah dengan erat.


"Terima kasih, Yah. Aku lega sekarang, semoga aku tidak menyesal dengan keputusanku." Melati berharap.


"Nanti Ayah temani aku menemui Mas Dion, dan aku juga ingin mengambil barang-barangku di rumah. Ayah mau, kan?" Tanya Melati sembari memandang wajah teduh sang Ayah.


Ayah Melati mengangguk dengan senang hati, ia sudah memutuskan untuk selalu mendukung anaknya.


***


Dion, dengan langkah gontay berjalan masuk ke dalam rumah Ibunya.


Raut wajahnya tampak kusut, ia hancur berkeping-keping.


Tak pernah terpikir olehnya semua akan seperti ini, ia hanya selalu berharap agar rumah tangganya baik-baik saja.


Kini Dion hanya bisa pasrah, ia akan mencoba untuk menerima setiap apa yang terjadi dalam hidupnya.


"Bu..."


Dion memanggil Ibunya dengan lemah.


Ibu Anna keluar dari kamarnya, ia berjalan menghampiri anaknya.


"Kenapa, Yon?" Tanya Sang Ibu.


Dion menatap Ibunya dengan sendu, lalu ia berhambur memeluk wanita paruh baya di hadapannya itu.


"Bu, kenapa semua jadi seperti ini? Aku tidak mau seperti ini," ucap Dion.


Ibu Anna menarik nafasnya dalam, matanya terpejam. Perlahan air mata sang Ibu pun menetes, ia juga tidak menginginkan semua yang terjadi dalam rumah tangga anaknya.


Ibu Anna tidak dapat berkata apapun kini, ia hanya memeluk anaknya dengan erat.


"Rissa mana, Bu?" Tanya Dion.


Ibu Anna baru menyadari, ia juga langsung memanggil menantunya, namun tidak ada jawaban.


"Ibu belum ketemu Rissa sejak tadi," ucap Ibu Anna.


Dion mengedarkan pandangannya, tatapannya kini tertuju pada sebuah kertas yang tergeletak di atas meja.

__ADS_1


Dion berjalan mengambil kertas itu.


"Ini apa, Bu?" Tanya Dion.


Ibu Anna menoleh, memperhatikan benda yang di tunjukkan oleh anaknya.


"Ibu tidak tahu, Yon. Surat apa itu?" Ibu Anna malah balik bertanya.


Dion yang telah di buat penasaran, segera membuka surat itu.


✉️✉️✉️✉️✉️✉️✉️✉️✉️✉️✉️✉️✉️


•Untuk Ibu, dan Mas Dion•


Assalamu'allaikum, Bu, Mas.


Maaf kalau aku bersikap tidak sopan, dengan menulis surat untuk kalian. Rasanya aku tidak sanggup jika harus mengatakannya secara langsung.


Bu, terima kasih. Bagiku Ibu sudah aku anggap seperti Ibu kandungku sendiri, terima kasih sudah menyayangi Rissa sepenuh hati.


Rissa tidak akan pernah melupakan Ibu, disini Rissa akan selalu mendo'akan Ibu.


Untuk Mas Dion, tidak banyak yang ingin aku katakan. Aku hanya bisa berharap yang terbaik untukmu, Mas. Terima kasih sudah pernah menjadi bagian dalam hidupku, walaupun seharusnya aku tidak pernah datang ke dalam kehidupanmu.


Mas, aku minta maaf jika banyak salah padamu. Maaf keputusanku sudah bulat, aku harus pergi. Aku tidak bisa melanjutkan semuanya, dari awal ini memang sebuah kesalahan.


Maaf, bukan aku ingin meninggalkanmu saat kamu sedang terpuruk. Tapi aku harap kamu mengerti, kehadiranku bahkan tidak akan memperbaiki apapun.


Sekali lagi, terima kasih untuk semuanya.


Semoga, kebahagiaan selalu tertuju untukmu.


Salam, Rissa.


✉️✉️✉️✉️✉️✉️✉️✉️✉️✉️✉️✉️✉️


Dion terdiam, dadanya terasa sesak. Matanya memerah, air bening mulai mencuat ke permukaan.


Ibu Anna di buat bingung oleh anaknya, ia segera merebut surat itu dan membaca isi di dalamnya.


Ibu Anna terkejut, sontak ia menutup mulutnya. Air matanya mengalir deras, kakinya seakan lemas.


Dion menopang tubuh Ibunya, ketika melihat Ibu Anna yang hampir tak kuat untuk berdiri.


"Yon, Rissa..."


Dion tak dapat berkutik, ia sekuat tenaga menahan air matanya.


"Kenapa Rissa juga harus pergi, Yon. Kenapa?"


Ibu Anna memukul dada bidang anaknya, ia tak bisa menerima jika ternyata Rissa memilih untuk pergi juga.


Sungguh nasib buruk menimpa Dion saat ini, ia kini benar-benar kehilangan segalanya. Kehilangan buah hati, juga kedua istrinya.


Dion berharap semua ini hanyalah mimpi buruk, ia ingin sekali terbangun dari tidurnya.

__ADS_1


Namun sayang, ini bukanlah sebuah mimpi. Kenyataan amatlah pahit, dan Dion harus menelan pil pahit itu sendirian.


__ADS_2