
Hari yang di nantikan oleh Melati kini tiba, ia dengan semangatnya pergi bersama Dion ke Dokter kandungan.
Raut wajah Melati tampak lebih cerah, ia juga kembali memoles wajahnya dengan makeup tipis.
Dion bahagia melihat istrinya kembali ceria, namun dalam hatinya rasa bersalah tak dapat ia pungkiri.
"Sudah siap?" Tanya Dion.
Melati mengangguk penuh semangat, dan menggandeng tangan suaminya.
"Kita berangkat sekarang, Mas."
Dion tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
Mereka berjalan beriringan menuju mobil, dan setelah itu Dion melajukan kendaraannya menuju tempat tujuan.
Terdengar Melati yang bersenandung, ia mengikuti lirik lagu yang diputarkan Dion melalui audio player mobilnya.
"Ya Allah, maafkan aku. Aku siap menanggung dosa karena berbohong kepada istriku, tapi apa salahnya jika berbohong demi kebaikan." Batin Dion berkecamuk.
***
Sampailah Dion dan Melati ditempat yang mereka tuju, Melati masih dengan semangatnya segera turun dan masuk kedalam tempat itu.
Dion menyusul istrinya yang telah masuk lebih dulu, istrinya benar-benar sangat antusias.
"Mas, kita antri dulu?" Tanya Melati.
"Iya, hanya sebentar kok." Dion menjawab, dan di angguki oleh Melati.
Sekitar setengah jam, tibalah giliran Melati dan Dion masuk kedalam ruangan.
"Selamat pagi, Dok." Melati menyapa dengan sangat ramah.
"Pagi, Pak, Bu." Dokter membalas sapaan Melati tak kalah ramah, tatapannya kini beradu dengan Dion yang sarat akan makna.
"Silahkan duduk," pinta sang Dokter.
Melati mengangguk, dan mendudukkan tubuhnya di kursi.
"Dok, aku ingin program kehamilan." Melati mendahului percakapan.
Dokter tersenyum, dan mengerti maksud Melati. Dion hanya bisa diam, ia mengikuti setiap rangkaian yang akan di berikan oleh sang Dokter.
"Mari berbaring dulu disana, Bu. Biar saya periksa," pinta Dokter itu.
Melati menurut, ia berjalan menuju ranjang yang telah disediakan. Di baringkanlah tubuhnya pada tempat tidur itu, dan siap untuk melakukan pemeriksaan.
Dengan prosedur yang semestinya, Dokter melakukan pekerjaannya dengan teliti.
Walau dalam hatinya, ia juga merasa iba akan kondisi pasiennya. Terlebih untuk pertama kalinya, ia harus berbohong tentang kenyataan sang pasien.
__ADS_1
"Selesai, Bu. Boleh kembali duduk," intruksi sang Dokter.
Melati kembali menurut, dan duduk dikursi sebelumnya.
"Gimana, Dok?" Tanyanya dengan antusias.
Dokter itu memasang wajah yang biasa, ia berusaha untuk bersikap sewajar mungkin.
"Kondisi Ibu sehat, dan harus banyak istirahat. Saya akan berikan vitamin untuk menjaga kekebalan tubuh," sahut dokter itu.
Melati mengangguk, dan Dion menghembuskan nafas leganya.
"Jadi saya bisa hamil lagi?" Tanya Melati.
Pertanyaan yang membuat Dion kembali sesak, nafasnya seakan tertahan.
Dokter itu terdiam sejenak, dan tersenyum tipis.
"Kalau Tuhan berkata Ibu akan memiliki anak, pasti Ibu secepatnya akan mendapatkannya. Kita hanya bisa berusaha dan berdoa," jawab Dokter itu mencoba untuk membesarkan hati Melati.
"Ah, baiklah, Dok. Saya akan berusaha sekeras mungkin untuk bisa kembali hamil dengan segera," jawab Melati dengan penuh keyakinan.
Mendengar perkataan itu, hati Dion begitu teriris. Sungguh kejam apa yang telah ia lakukan kepada istrinya, namun ia juga tak memiliki keberanian untuk berkata sejujurnya.
Melati dan Dion kembali pulang, rasanya harapan Melati sangat besar untuk kembali memiliki momongan.
"Mas, kita langsung pulang?" Tanya Melati.
Dion melirik, "iya, kenapa memangnya?" Tanya Dion.
Dion kembali menatap jalanan yang lengang, membuatnya berkendara tanpa ada hambatan.
"Oh iya, habis nganterin kamu Mas langsung ke rumah Ibu, yah. Kamu ikut atau tidak?" Tanya Dion.
Melati sejenak berpikir, ia memang bosan berada di rumah tetapi ia juga kurang tertarik jika bepergian ke rumah mertuanya.
"Aku dirumah aja, deh. Gapapa kan?" Tanya Melati.
Dion mengangguk pelan, sebenarnya ia sudah tahu jawaban istrinya. Hal itu sedikit membuat Dion kecewa, karena keinginannya untuk melihat istri dan Ibunya akrab sangatlah sulit.
"Lain kali kamu harus berkunjung ke rumah ibu, yah. Ga enak juga kan kalau Ibu terus yang nanyain kabar kita," pinta Dion dengan berusaha menggunakan bahasa selembut mungkin.
Melati mengangguk, ia juga sadar jika suaminya menginginkan hal lebih. Ia bukan tak menyukai ibu mertuanya, namun pertanyaan sang mertua yang menanyakan seorang cucu selalu membuatnya sedih.
Hal itu membuat Melati enggan untuk sering bertemu dengan mertuanya.
***
Dion langsung melajukan kembali mobilnya, setelah mengantarkan istrinya pulang.
Ia sudah berjanji akan lebih sering mengunjungi Ibunya, ia juga merasa khawatir dengan kondisi sang Ibu yang semakin menua.
__ADS_1
Sebelum sampai di rumah Ibunya, Dion menyempatkan untuk membeli buah tangan. Ia membeli sebuah makanan kesukaan sang Ibunda.
Sesampainya disana, Dion dibuat heran dengan keberadaan sebuah mobil yang tak asing baginya.
"Kenapa mobilnya Ibu dan Ayah ada disini?" Tanya Dion dengan heran.
Dion segera masuk ke rumah, dan benar saja dugaannya. Kedua orangtua Melati tengah berkunjung ke kediaman Ibunya.
"Assalamuallaikum, Bu." Dion menyapa.
"Wa'allaikumsalam," sahut ibu, juga kedua mertua Dion.
"Ibu dan Ayah sejak kapan disini?" Tanya Dion.
"Sudah lumayan lama, sekita satu jam. Kamu kesini juga ternyata, mana Melati?" Tanya Ibu mertuanya.
"Ah, iya. Aku ingin menjenguk Ibu. Melati ada dirumah, dia sedang istirahat." Dion menjelaskan.
"Oh begitu. Oh iya, kebetulan kamu kesini kita juga ada yang ingin dibicarakan padamu." Ibu Melati tampak akan memulai pembicaraannya pada Dion.
"Ada apa yah, Bu?" Tanya Dion dengan rasa penasaran.
Sekilas Ibu Melati melirik ke arah suami juga besannya itu, dan setelah mendapat anggukan sebagai persetujuan Ibu Melati melanjutkan niatnya.
"Begini, ini tentang kamu dan Melati."
"Tentang Aku dan Melati? Kenapa memangnya, Bu?" Tanya Dion semakin penasaran.
Ibu Melati terlihat mengatur nafasnya, Ayah Melati juga seakan ikut memberikan dorongan kepada istrinya untuk melanjutkan perkataannya.
"Seperti yang kita tahu, kalau Melati tidak akan bisa memiliki anak. Tetapi kami juga ingin memiliki seorang cucu, dan kami telah membuat kesepakatan." Ibu Melati kembali menghentikan ucapannya.
"Kesepakatan apa, Bu, Yah,?" Tanya Dion masih keheranan.
"Kami sepakat untuk mengizinkanmu menikahi wanita lain," ucap Ibu Melati.
Dion terkejut mendengar ucapan Ibu mertuanya itu, akalnya tak bisa menerima apa yang tengah dipikirkan oleh orangtua itu.
"Menikahi wanita lain? Maksud kalian, kalian akan memintaku untuk menikah lagi dan menduakan Melati? Tidak! Aku tidak akan pernah melakukan itu!" Tolak Dion dengan tegas.
"Yon, dengarkan penjelasan kita dulu. Semua ini demi kebaikanmu, demi kebaikan Melati, dan demi kebaikan semua." Ibu Anna menyela dan mencoba menenangkan anaknya.
"Penjelasan apalagi, Bu? Jelas-jelas kalian ingin aku poligami," sahut Dion dengan nada keras.
"Dion, apa kau tidak ingin memiliki keturunan? Apa kau tidak ingin bermain dengan anakmu? Apa kau tidak ingin menghiasi hari-hari istrimu dengan seorang malaikat kecil?" Tanya Ibu Anna.
Dion terdiam, sungguh untuk saat ini ia tak dapat menerima permintaan ibu kandung dan mertuanya itu.
"Dion, kamu bisa menyembunyikan pernikahan keduamu dari Melati, tapi sampai istri keduamu melahirkan. Setelah itu kau bisa memberitahu istrimu yang sebenarnya, dengan adanya anak, Melati lambat laun pasti akan bisa menerima. Kamu bisa memiliki anak dari darah dagingmu sendiri, tanpa harus melakukan adopsi." Ibu Melati menambahkan.
"Permintaan kalian benar-benar tidak masuk akal!"
__ADS_1
Dion meremas rambutnya dengan kasar, sungguh permintaan yang bodoh telah dilontarkan oleh orangtuanya juga mertuanya.
Dion tak menjawab, ia memilih angkat kaki dan pergi meninggalkan mereka.