Dua Cincin

Dua Cincin
Dan Terjadi Lagi


__ADS_3

Awan hitam menyelimuti hati Melati saat ini, tatapannya kosong. Saat ini yang dia butuhkan hanyalah Ibunya, ia tak ingin hal lain.


Melati menatap sendu pusara sang Ibunda, Ayahnya masih tak percaya atas kepergian sang istri hari itu.


Setelah mendengar kabar buruk dari sang anak, Ibu Anna juga Rissa segera menyusul ke rumah duka.


Mereka terkejut dengan kepergian Ibu Melati, terlebih Ibu Anna.


Kini Melati tak tahu harus berbuat apa, bagaimana dia bisa hidup tanpa dampingan seorang Ibu. Ibu yang selalu ada saat situasi apapun, Ibu yang selalu menjadi penyemangat hidupnya.


Sosok yang selalu ia cari dalam keadaan senang maupun susah, sosok yang selalu terang walau harinya tengah gelap.


Sinarnya kini redup, senyumnya tak lagi tampak.


Di rumah duka, Melati hanya bisa terdiam. Sang Ayah pun begitu, mereka begitu terpukul atas kepergian sosok terpenting dalam hidup mereka.


Dion mencoba untuk menghampiri istrinya, ia ikut larut dalam kesedihan sang istri.


"Mel," ucapnya.


"Jangan sentuh aku!" Melati menjawab dengan nada dingin.


Dion menghela nafasnya, ia masih berusaha untuk dapat berbicara dengan Melati.


"Mas minta maaf, Mas..."


"Cukup, Mas. Tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi, semuanya sudah jelas. Dan semuanya sudah berakhir, tepat dimana semua kebohongan itu terungkap!" Seru Melati.


Dion tertegun, hatinya begitu sakit. Ia tak ingin kehilangan Melati, ia juga tak pernah mau jika semuanya berakhir seperti ini.


Ayah Melati yang sedari tadi mendengar pertengkaran antara sang anak dan menantu, mencoba untuk ikut bicara.


"Nak, ada apa di antara kalian?" Tanya Ayah Melati.


Melati menoleh, matanya kembali berair. Dan tak butuh lama, derai air mata kembali membasahi wajah Melati.


Ia memburu tubuh Ayahnya, menenggelamkan wajahnya dalam pelukan sang Ayah.


"Mel, kamu kenapa, Nak? Cerita sama Ayah," tanya Ayah Melati.


Melati menatap Ayahnya, "Mas Dion, dia... Menikah lagi di belakanku," tangis Melati kembali pecah.


Sang Ayah terkejut, ia menatap Dion dengan penuh tanya. Bagaimana bisa anaknya mengetahui tentang pernikahan kedua suaminya, ia juga ikut merasa bersalah pada sang anak.


"Nak, apa kalian sudah bicarakan semuanya?" Tanya Ayah Melati.


Melati menggeleng, "tidak ada yang harus di bicarakan lagi, Yah. Aku benar-benar sakit hati!" Seru Melati.


Ayah Melati tak dapat berkutik, terlebih ia juga ikut andil dalam berlangsungnya pernikahan sang menantu.


"Mel, Ayah minta maaf..."


Melati menghentikan isakannya, ia mengangkat wajahnya dan seolah menuntut penjelasan pada Ayahnya.

__ADS_1


"Kenapa Ayah minta maaf?" Tanya Melati sembari menghapus air matanya.


Ayah Melati menelan salivanya dengan susah payah, bagaimanapun Melati harus tahu segalanya.


"Sebenarnya..."


Melati masih menunggu, "sebenarnya apa, Yah? Ayah mau bicara apa?" Tanyanya.


"Sebenarnya, Ayah tahu tentang pernikahan kedua Dion."


Dan akhirnya, Melati kembali di buat terkejut. Jantungnya seakan berhenti, ia tak percaya dengan apa yang baru saja di ucapkan oleh Ayahnya.


"Ma-maksud Ayah, apa?" Tanya Melati.


Ayah Melati menunduk, "Ayah tahu tentang pernikahan Dion, dan Ayah ikut menyembunyikan semuanya darimu."


Melati tercengang, ia benar-benar sakit hati.


"Tapi kenapa, Yah? Kenapa Ayah melakukan ini sama aku?"


Ayah Melati mencoba menenangkan anaknya, "semua demi kebaikan, Ayah ingin Dion dan kamu memiliki anak. Tapi kami tidak ingin mengangkat anak dari orang lain," tuturnya.


"Aku lebih baik mengangkat anak dari panti asuhan dari pada anak dari hasil pengkhianatan!" Seru Melati.


"Mel, jangan membentak Ayah!" Pinta Dion pada istrinya.


"Diam! Aku tidak butuh apapun darimu. Dan Ayah, apa Ibu juga tahu tentang ini?" Tanya Melati, suaranya bergetar.


Ayah Melati mengangguk pasrah, beliau tak bisa untuk menutupi apapun lagi dari sang anak.


"Tega! Kalian tega. Kalian tidak punya hati!" Hardik Melati.


Ibu Anna dan Rissa yang sedari tadi berada di teras rumah, segera masuk ketika mendengar pertengkaran di dalam.


"Yon," ucap Ibu Anna.


Melati menatap Rissa dengan tajam, "puas kamu, Sa? Puas kamu sudah menghancurkan hidupku!" Bentak Melati.


Rissa mencoba untuk mendekati Melati, namun tubuhnya limbung ketika Melati mendorongnya tiba-tiba.


Dion terkejut, Rissa terjatuh dan tak ada yang sempat menyangga tubuh istrinya itu.


Rissa meringis, seketika ia merasa kram di perutnya.


"Ah, perutku... Tolong," ringis Rissa.


Melati ikut terkejut, ia melihat bagaimana Rissa kesakitan di hadapannya.


"Mas, Bu, kenapa ada darah?" Tanya Rissa sembari melihat darah segar yang mengucur di kakinya.


Semua orang panik, Melati pun tak dapat menyembunyikan kepanikannya.


Ibu Ann segera meminta Dion untuk membawa Rissa ke rumah sakit, ia tak ingin terjadi apa-apa pada calon cucunya itu.

__ADS_1


"Mel, Ibu tahu kamu marah. Kamu kecewa, tapi kenapa kamu melampiaskannya sama Rissa. Dia sedang hamil cucu Ibu, Mel." Ibu Anna menangis, ia segera pergi menyusul Dion.


"Nak, sebaiknya kita ikuti Dion dan Ibunya. Kita harus memastikan kondisi Rissa," ujar Ayah Dion.


Entah terbuat dari apa hati Melati, ia menyetujui saran dari Ayahnya. Hatinya masih begitu sakit atas apa yang di lakukan mereka pada dirinya, namun melihat kondisi Rissa, hatinya seakan ikut khawatir.


***


Rissa di bawa oleh Dion ke rumah sakit terdekat, mereka begitu panik. Rissa terus menerus mengeluh kesakitan, darah masih mengucur di kakinya.


Tanpa sengaja, seseorang yang tak asing berpapasan dengan Dion juga yang lainnya.


"Dion, Rissa, kalian sedang apa disini?" Tanya seseorang itu, yang tak lain adalah Dokter Radit.


"Dit, tolong Rissa. Sepertinya Rissa pendarahan!"


Dion seketika menurunkan egonya, ia tak sungkan meminta bantuan Dokter Radit yang kebetulan tengah bertugas di rumah sakit tersebut.


"Apa pendarahan? Kenapa bisa begini? Bawa Rissa ke ruanganku sekarang," pinta Dokter Radit.


Mereka menurut, dan Dion membawa Rissa masuk ke dalam ruangan dimana Dokter Radit bertugas.


Dion membaringkan istrinya, ia tengah harap-harap cemas tentang keadaan Rissa.


Dokter Radit segera melakukan tindakan, ia juga meminta Dion untuk menjaga jarak dengannya.


Dion hanya bisa menurut, ia menunggu hasil pemeriksaan Dokter Radit.


Dokter Radit mengecek kondisi Rissa, ia juga melakukan tindakan USG.


Melati, Ibu Anna, dan Ayah Melati, tengah menunggu di luar ruangan. Ada perasaan bersalah di hati Melati, namun ia menyangkal semuanya.


"Tidak! Ini balasan setimpal untuknya," gumam Melati dalam hatinya.


Dokter Radit menghela nafas panjangnya, sepertinya ia telah mendapatkan hasil dari kondisi Rissa.


"Dit, bagaimana?" Tanya Dion.


Dokter Radit membawa Dion untuk ke sudut ruangan, ia harus membicarakan perihal kondisi Rissa pada Dion dengan hati-hati.


"Dit, ada apa?" Tanya Dion.


Dokter Radit menarik nafasnya dalam, "maaf, Yon. Tapi sepertinya janin Rissa tidak bisa di selamatkan, kehamilannya masih sangat muda. Dan guncangan kuat sedikit saja dapat membahayakan kondisinya," tutur Dokter Radit.


Dion terdiam, lagi-lagi ia harus kehilangan calon buah hatinya.


"Tidak mungkin! Dit, tolong lakukan apapun untuk menyelamatkan janinnya! Aku mohon," pinta Dion dengan sangat.


Dokter Radit menggelengkan kepalanya, "tidak ada yang bisa di lakukan lebih dari ini, Yon."


Dion tersungkur, tubuhnya ambruk. Ia menahan sesak di dadanya, isakannya mulai mengencang.


"Ya Allah, kenapa hal ini terjadi lagi? Apa ini hukuman untukku,"

__ADS_1


Dion tertunduk, tangisnya pecah. Cobaan datang bertubi-tubi dalam kehidupannya, cobaan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.


__ADS_2