
Di dalam mobil Dokter Radit, Rissa hanya bisa terdiam. Tak ada sepatah katapun terucap dari bibirnya, ia hanya menatap kosong jalanan yang di lalui melalui kaca jendela mobil.
Dokter Radit yang sedari tadi memperhatikan Rissa, tak berniat untuk menegur atau mengganggu ketenangan Rissa. Ia memberi ruang untuk Rissa berdiam diri, membiarkan Rissa untuk menenangkan hatinya.
"Aku harus pergi sekarang juga dari rumah," gumam Rissa dalam hatinya.
"Aku harus pulang, ke tempat dimana seharusnya aku berada."
Rissa telah mantap dengan keputusannya, ia bahkan sudah siap jika harus meninggalkan Ibu Anna yang telah di anggapnya seperti Ibu kandungnya sendiri.
"Sa," ucap Dokter Radit.
Rissa menoleh, "iya, kenapa, Dok?" Tanya Rissa.
"Kamu baik-baik saja?" Tanya Dokter Radit.
Rissa tersenyum tipis, ia menganggukkan kepalanya dengan lemah.
"Aku baik, Dok." Rissa menyangkal, bagaimanapun ia tak ingin membebani orang lain dengan permasalahan yang tengah di hadapinya.
Dokter Radit sekilas menatap Rissa, rasanya ia paham jika Rissa tengah menutupi kesedihannya.
"Kalau kamu mau menangis, menangislah, Sa. Luapkan semuanya," pinta Dokter Radit.
Rissa tersenyum miris, "tidak ada gunanya aku menangis, Dok. Toh dari awal juga aku tahu akan terjadi seperti ini, dan aku juga tahu apa yang harus aku lakukan. Pernikahanku dengan Mas Dion hanya sah di mata agama, tapi tidak di mata negara. Aku tak berhak menuntut apapun jika suatu saat Mas Dion mencampakkanku, karena aku tidak memiliki pengakuan sebagai istri Mas Dion di mata negara. Dan memanh dari awal, kita menikah hanya untuk keturunan. Sekarang, keadaan sudah sekacau ini. Semua gara-gara ulahku, dan aku juga yang harus mengakhiri semuanya." Rissa menuturkan dengan perasaan yang tidak dapat di bayangkan seperti apa, pasalnya tidak banyak orang yang tahu bagaimana perasaan seorang istri kedua yang harus terpaksa menikah dengan satu alasan yang tidak semua orang dapat menerimanya.
Dokter Radit tak dapat menimpali apapun, ia juga berempati pada status Rissa saat ini.
"Kamu tidak sendirian, Sa. Aku akan selalu ada untuk kamu," ucap Dokter Radit, namun ia tak bisa mengucapkannya pada Rissa secara langsung. Dokter Radit hanya memendamnya dalam hati, ia paham saat ini bukan waktu yang tepat untuk ia secara terang-terangan mengungkapkan perasaannya pada Rissa.
***
__ADS_1
Di dalam rumah Melati, Melati segera menemui Ayahnya.
"Siapa yang bertamu, Mel?" Tanya Ayah Melati yang tidak mengetahui kedatangan Rissa juga Dion.
"Mas Dion dan Rissa, Yah." Melati menjawab dengan malas.
Ayah Melati terdiam, "mau apa mereka kesini?" Tanyanya.
Melati tak menjawab, ia malah membahas hal lain.
"Yah, besok antar aku untuk mengajukan gugatan cerai ke pengadilan agama. Ayah mau, kan?" Tanya Melati.
Tanpa berpikir lama, Ayah Melati langsung menyetujui permintaan anaknya.
"Ayah akan selalu ada untuk kamu," sahutnya.
Melati merasa lega, setidaknya ia masih memiliki kekuatan untuk tetap bersabar demi sang Ayah.
***
Dokter Radit baru saja sampai di kediaman Ibu mertua Rissa, ia juga mengantar Rissa hingga teras rumah.
"Makasih, Dok. Maaf sudah merepotkan," ucap Rissa.
Dokter Radit tersenyum, "aku sama sekali tidak merasa di repotkan, Sa. Aku senang bisa nemenin kamu," jawab Dokter Radit.
Rissa membungkukkan sedikit tubuhnya, "makasih sekali lagi. Maaf tidak bisa menawarkan Dokter Radit untuk mampir, aku tidak enak."
Dokter Radit memaklumi, ia juga masih mengerti kondisi Rissa saat ini.
"Kalau gitu, aku pamit dulu. Kamu istirahat," pinta Dokter Radit.
__ADS_1
Rissa menganggukkan kepalanya, ia menunggu hingga mobil Dokter Radit berlalu dari kediamannya.
Setelah itu, Rissa segera masuk ke dalam rumah dan langsung berniat untuk mengemasi barang-barangnya.
Tanpa menemui sang mertua lebih dulu, Rissa bergegas masuk ke dalam kamarnya.
Ia memasukkan semua barang-barangnya, dan tak lupa, ia juga telah menyiapkan surat untuk di berikan kepada Ibu mertuanya.
Rissa menenteng tas besarnya, ia juga berjalan dengan sangat pelan. Sebelum meninggalkan rumah, Rissa menaruh surat yang ia buat di atas meja yang dekat dengan kamar Ibu mertuanya.
"Bu, maafkan Rissa. Bukan Rissa tidak memikirkan Ibu, tapi Rissa benar-benar tidak bisa melanjutkan ini semua. Semoga Ibu sehat-sehat disini, Rissa sayang sama Ibu." Batin Rissa bersuara, sedikit meluapkan perasaannya saat ini.
"Rissa pamit, Bu." Bibirnya berucap dengan sangat pelan.
Rissa mulai melangkahkan kakinya, keluar dari rumah yang selama ini menaunginya.
Rumah dimana semuanya di mulai, dan tempat dimana semuanya berakhir.
***
Rissa menatap bangunan, dimana ia di besarkan sedari kecil.
Senyum tipisnya tersamar, air brning kini menggenang di pelupuk matanya.
Rissa menarik nafasnya dalam, ia mulai melangkah masuk menuju panti asuhan tempat dimana ia berasal.
"Ini tempatku, ini tempat dimana aku berasal dan tempat dimana harusnya aku berada."
Rissa mengedarkan pandangannya, melihat sekelilingnya dengan penuh haru.
"Selamat tinggal Bu, selamat tinggal Mbak Melati, dan selamat Mas Dion."
__ADS_1