
Melati masih terkulai lemas di atas tempat tidurnya, menangis membuat tenaganya terkuras habis.
Ia tengah menunggu kedatangan kedua orangtuanya, rasanya ia sudah tak tahan untuk mengungkapkan segala apa yang menjadi kepedihannya.
Beberapa kali, Melati mencoba menghubungi Ibunya. Namun, panggilan teleponnya tak tersambung satu kalipun.
"Ibu dan Ayah harusnya sudah datang," gumam Melati.
Ia hendak beranjak dari tempat tidurnya, tetapi langkahnya di hentikan oleh bunyi ponselnya.
Melati segera meraih ponselnya, keningnya mengkerut ketika melihat panggilan masuk dari nomor tak yang di kenalnya.
"Halo, siapa ini?" Tanya Melati dengan sopan.
"Selamat siang, Bu. Saya dari pihak rumah sakit X ingin mengabarkan bahwa ada keluarga Ibu yang mengalami kecelakaan dan sekarang tengah mendapatkan pertolongan di ruang UGD," tutur si penelepon di sebrang sana.
Deg!
Hati Melati kembali tertancap belati tajam, tanpa menyauti penuturan si pemberi informasi, Melati segera berlari dan berniat untuk mendatangi rumah sakit yang di maksud.
"Tuhan, apa lagi ini? Apa yang tengah Kau rencanakan untukku," hati Melati begitu pedih, ia harus kuat berdiri dan memastikan apa yang sebenarnya terjadi.
"Non, mau kemana lagi?" Tanya Bi Ai, ketika ia berpapasan dengan majikannya.
Melati tak menjawab, langkah begitu tergesa. Air matanya tak henti-hentinya mengalir, sebisa mungkin ia melenyapkan pikiran buruk tentang kedua orangtuanya.
Melati membuka pintu rumahnya, dan langkahnya kembali tertahan, menatap sosok yang berdiri di hadapannya saat ini.
Melati melengos, melewati Dion yang terus menghalangi jalannya.
"Kamu mau kemana?" Tanya Dion sembari menahan lengan istrinya.
Melati tak menoleh, ia hanya menepis genggaman tangan suaminya.
"Bukan urusanmu!" Sahut Melati.
Melati kembali melangkah, namun lagi-lagi Dion menghalanginya.
"Mel, dengarkan Mas. Mas bisa jelaskan semuanya," pinta Dion.
"Jangan halangi aku! Aku harus pergi, Mas. Dan satu lagi, aku tidak butuh penjelasan apapun lagi darimu! Semuanya sudah cukup bagiku!" Seru Melati.
Dion masih kekeuh menghalangi jalan Melati, ia tak ingin melewatkan kesempatan untuk menjelaskan semuanya pada Melati.
Melati merasa kesal, ia harus buru-buru pergi menuju rumah sakit, namun malah di halangi oleh suaminya.
"Mas, aku bilang minggir! Aku harus pergi," bentak Melati.
Dion menatap Melati, "kamu mau pergi kemana?" Tanya Dion.
"Aku harus ke rumah sakit! Pihak rumah sakit meneleponku bahwa ada keluargaku yang kecelakaan, dan aku harus memastikan kebenarannya!" Jawab Melati.
Dion terkejut, "apa? Kalau begitu, Mas antar kamu ke rumah sakit!" Tawar Dion.
"Tidak perlu! Aku bisa sendiri," tolak Melati.
__ADS_1
Dion bersikukuh, ia memaksa istrinya masuk ke dalam mobil dan dengan cepat ia pun menyusul masuk.
"Mas! Aku bilang aku bisa pergi sendiri!" Bentak Melati lagi.
Dion tak menjawab, ia malah mengunci pintu mobil dan segera melajukan kendaraannya.
"Tunjukkan saja jalan menuju rumah sakitnya!" Seru Dion.
Melati tak menjawab, ia harus menahan kemarahannya saat ini. Yang saat ini ia pikirkan adalah kebenaran tentang kabar yang datang padanya, ia harus memastikan bahwa itu bukan orangtuanya.
***
Di rumah Ibu Anna, Rissa hanya bisa terduduk lesu.
Ia tengah merawat Ibu mertuanya yang baru saja siuman, Rissa masih tak tahu apa yang harus di lakukannya saat ini.
"Sa, dimana Dion dan Melati?" Tanya Ibu Anna dengan nada yang lemah.
Rissa membantu Ibu mertuanya untuk duduk, dan ia menyandarkannya pada punggung sofa.
"Mas Dion sedang menemui Mbak Melati, Bu. Dia mau menjelaskan semuanya," jawab Rissa.
Ibu Anna terdiam, ia menatap menantunya dengan sayu.
"Sa, maafkan Ibu. Maaf, gara-gara Ibu, kamu harus menanggung semua ini." Ibu Anna membelai wajah menantunya itu, ia merasa kasihan karena Rissa harus menerima sikap kasar Melati padanya tadi.
"Bu, jangan minta maaf. Memang sudah waktunya semua terbongkar, Bu. Aku juga sudah persiapkan diri dari awal, dan aku juga menerima apapun sikap Mbak Melati. Aku malu, Bu..."
Rissa tertunduk, ia menahan air matanya agar tak bertambah deras.
"Bu, aku sudah putuskan. Aku akan mundur," ucap Rissa.
Ibu Anna terkejut, ia sama sekali tak menginginkan hal itu dari Rissa.
"Mundur? Apa maksud kamu bicara seperti itu, Sa? Ibu tidak mau kamu pergi," ujar Ibu Anna.
Rissa memohon kepada Ibu mertuanya, ia tak akan sanggup jika harus melanjutkan semua ini.
"Bu, aku sudah meminta pada Mas Dion. Aku akan meminta cerai, ketika bayiku sudah lahir, dan berusia 6 bulan. Setidaknya bayiku harus mendapatkan ASI ekslusif dulu, setelah itu aku bisa sedikit tenang jika harus meninggalkannya dengan Mas Dion juga Mbak Melati," tutur Rissa dengan berat hati.
Ibu Anna menggelengkan kepalanya dengan tegas, "tidak, pokoknya Ibu tidak mau kamu pergi. Ibu tetap mau kamu jadi istri Dion!" Seru Ibu Anna.
Rissa tak berkutik, saat ini bukan waktu yang tepat untuk membahas ini dengan Ibu mertuanya. Rissa memilih diam, dan menenangkan hati juga pikirannya.
***
Di rumah sakit, Melati menuju UGD dengan setengah berlari.
Ia sudah tak sabar untuk menemui keluarganya, begitu terkejutnya ia ketika mendapati seseorang yang terduduk di samping ruangan gawat darurat itu.
"Ayah..."
Melati memburu sang Ayah, lalu memeluknya dengan erat.
"Ayah, kenapa bisa begini? Apa yang sebenarnya terjadi?" Tanya Melati.
__ADS_1
Ayah Melati hanya bisa menangis, beliau memeluk sang anak dengan perasaan sedih.
"Semua... Semua terjadi begitu cepat. Hujan deras ketika kami akan berangkat ke rumahmu, Ibu meminta Pak sopir untuk menambah kecepatan mobil. Di tengah perjalanan, entah bagaimana ceritanya tiba-tiba saja ada pohon tumbang. Batangnya besar, dan menimpa tepat di atas posisi dimana Ibu duduk."
Ayah Melati berusaha kuat untuk menjelaskan kronologisnya kepada sang anak, walau dalam dirinya, ia masih trauma dengan kejadian itu.
Melati menangis, ia menangis sejadi-jadinya. Dion yang berada tepat di sampingnga, berusaha untuk menenangkan sang istri. Namun lagi-lagi menolak, ia mendorong kuat tubuh suaminya.
Ayah Melati yang melihat kejadian itu, sontak bertanya-tanya tentang apa yang terjadi pada anak juga menantunya.
"Tapi, Ayah baik-baik saja?" Tanya Melati sembari mengecek kondisi tubuh Ayahnya.
Ayah Melati mengangguk, "Ayah dan Pak Sopir hanya mendapat luka ringan," jawabnya.
Melati bersyukur, setidaknya ia merasa sedikit lega. Dan kini, ia tinggal menunggu hasil pemeriksaan sang Ibu.
Hampir setengah jam Melati dan yang lainnya menunggu di depan ruangan UGD, mereka menunggu dengan cemas.
Dan keluarlah dua Dokter yang menangani Ibu Melati, mereka memasang wajah yang lelah dan lesu.
"Dok, bagaimana keadaan istri saya?" Tanya Ayah Melati.
"Iya, Dok. Bagaimana keadaan Ibu saya?" Melati ikut bertanya.
Dua Dokter itu saling bertukar pandang, dan mereka jua menghela nafas berat.
"Maaf, Mbak, Pak, kami sudah berusaha sekuat tenaga. Namun, Tuhan berkehendak lain." Salah satu Dokter menjawab.
Melati dan Ayahnya terdiam, begitupun dengan Dion dan sang sopir. Mereka tengah mencerna jawaban yang di berikan oleh Dokter, dan mereka juga larut dalam pikirannya masing-masing.
"Ma-maksud Dokter apa? Jadi Ibu..." Suara Melati terhenti.
"Maaf, Mbak, Pak, pasien tidak tertolong." Dokter menjelaskan semuanya.
Melati terdiam, Ayah Melati yang sedari berusaha kuat, kini tak dapat lagi menahan tubuhnya. Beliau ambruk, dan juga tak sadarkan diri.
Melati tak dapat berbuat banyak, dua kabafr buruk ia dapatkan secara bersamaan, dan di hari yang sama.
Dion yang di bantu sopir keluarga mertuanya untuk menyadarkan Ayah Melati, Dion juga berusaha untuk menenangkan istrinya.
"Jangan sentuh aku!" Bentak Melati.
Dion terkejut, ia melepas seketika rengkuhan tangannya pada tubuh istrinya.
"Semua ini gara-gara kamu! Kalau saja kamu tak melakukan hal jahat itu padaku, mungkin Ibu tidak akan mengalami ini! Sekarang kamu puas, Mas? Puas kamu sudah menghancurkan hidupku? Puas kamu!" Suara Melati begitu tinggi, ia meluapkan segala emosinya di barengi tangisan yang pilu.
Dion tak dapat berbicara apapun, kejadian hari ini tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Hatinya pun hancur, melihat istrinya yang menangis histeris.
"Maafkan aku, Mel. Maafkan aku, aku tidak bermaksud menghancurkan hidupmu, aku tidak menginginkan semua ini terjadi."
Batin Dion begitu tersiksa, air matanya pun akhirnya meluncur dengan deras.
"Ibu... Jangan tinggalkan aku, Bu. Aku mohon, jangan tinggalkan aku. Aku membutuhkanmu, Bu. Tuhan... Kembalikan Ibu padaku, kembalikan dia Tuhan..." Teriakan pilu terus Melati ucapkan, ia meraung menangis sejadi-jadinya.
Kabut hitam menyelimuti hidup Melati hari itu, ia harus menerima dua kenyataan pedih sekaligus. Ia harus menerima kenyataan bahwa suaminya telah mengkhianatinya, dan ia juga harus menerima bahwa Tuhan mengambil seseorang yang teramat berharga dalam hidupnya. Bahkan untuk selamanya.
__ADS_1